Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 122_Aku bukan Yuna yang dulu


__ADS_3

***@***


Yuna baru saja keluar dari tempat pemakaman. Dia baru saja mengunjungi pusara Ibunya. Langkahnya terhenti ketika dia melihat seseorang yang sangat dia kenal. Seseorang itu berdiri dan menatap lurus kearahnya, meskipun dari jarak yang lumayan jauh namun mata itu tetap saja terlihat indah, pandangan itu tetap saja indah. Pandang mata itu adalah milik Leo. Yuna menarik nafasnya dan kembali melangkah, seolah tidak melihat siapapun. Dia berjalan dengan menunduk.


Sudut bibir Leo terangkat membentuk senyuman, hatinya terasa sejuk. Dia sangat bahagia melihat Yuna, ia ingin segera memeluk gadis yang sangat ia rindukan. Namun, melihat ekspresi Yuna membuat dirinya menahan untuk melakukan itu. Yuna berjalan dengan menunduk. Leo berjalan menyusulnya, membawa penyesalan dalam hatinya, membawa rindu dan cinta yang mendalam dari hatinya.


"Yuna...," suara seraknya memanggil dengan lembut ketika dia telah sampai di depan Yuna. Mereka saling berhadapan, namun Yuna menunduk.


"Selamat sore Tuan muda Leo," sapanya ramah. Dia membungkukkan badannya memberi salam. Leo sangat sedih mendengar sapaannya itu, mereka menjadi sangat jauh, dia menjadi sangat asing. Dia menatap Yuna dengan sayu, dia melangkah satu langkah lagi untuk lebih dekat dengan Yuna namun Yuna segera mundur.


"Sayang, ku mohon maafkan aku, mari kita bicara."


"Tidak ada yang harus di bicarakan. Permisi." Yuna segera melangkah dan Leo segera memblokir jalannya. Yuna berusaha mati-matian untuk pergi dari Leo dan Leo berusaha menahannya. Dia terus memohon untuk bicara dengan Yuna, namun Yuna terus menolaknya. Tidak ada pilihan lain selain memaksanya, kemudian, dia langsung menangkap tangannya, dan menggendong paksa Yuna dan membuatnya masuk ke dalam mobil.


"Kau mau membawa ku kemana?" Yuna bertanya dengan sinis tanpa menoleh ke arah Leo. Leo diam tidak memberi jawaban, perasaannya sangat kacau. Dia menyetir mobilnya dengan gila, ia menerobos rambu dengan sengaja, dan hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di tempat yang dia tuju. Hotel.


"Ngapain membawa ku kesini?"


"Kau hanya memiliki dua pilihan. Ikut aku masuk baik-baik, atau aku akan memaksa mu," Leo menatap tajam Yuna yang berpaling.


"Kau pikir aku takut dengan ancaman mu?" jawab Yuna masih sinis. Leo tidak ada niat untuk berdebat lagi, dia segera membuka pintu mobil dan mengangkat Yuna dari tempatnya, dia menggendong paksa Yuna untuk masuk kedalam.


"Kau ********... turunkan aku," Yuna berteriak. Namun, Leo tidak mau mendengarnya dia terus membawa Yuna masuk. Dia menurunkan Yuna ketika dia sudah berada di dalam lift.


"Aku minta maaf, jika aku pernah menyinggung mu Tuan muda. Maaf aku tidak bisa ikut dengan mu, jadi biarkan aku pergi," Yuna menunduk. Dia benci Leo, sangat benci, dia tidak ingin melihat wajahnya.


Leo dengan pandang sedih terus menatapnya. Di lantai 25 mereka sampai dan Leo langsung menggendongnya lagi dengan paksa, pemberontakan Yuna tidak berarti apa-apa padanya, dia membuka pintu salah satu kamar yang sudah dia pesan, membawa Yuna masuk ke dalam dan segera menutup pintu. Dia menurunkan Yuna, kemudian mendorongnya ke dinding, ia menahan dengan kedua tangannya dan langsung mencium bibir Yuna. Dia sangat rindu gadis ini, dia sangat rindu istrinya, sangat-sangat rindu.

__ADS_1


Plak... Yuna menamparnya setelah dia menyudahi ciumannya. Yuna menatapnya dengan tajam, dia merasa sangat marah.


"Leo... kau harus dengar ini. Aku bukan lagi Yuna yang begitu mencintai mu, aku bukan lagi Yuna yang begitu tergila-gila pada mu, aku bukan lagi Yuna yang bermurah hati selalu memaafkan mu, aku bukan lagi Yuna yang kau kenal, aku membenci mu Leo," ucapnya tak melepas pandangannya dari Leo. Leo kembali menangkapnya dan kembali menciumnya, kali ini Leo tak memberinya kesempatan untuk menghindar, dia segera memeluknya.


"Aku merindukan mu," Leo berbisik pelan, suaranya sangat dalam. Yuna tersenyum sinis dalam pelukannya.


"Hah... Apa kau mabuk saat ini?? Kau merindukan mantan pacar mu itu bukan? Apa saat ini kau sedang berhalusinasi? Apa kau membayangkan dirinya dalam diri ku?" Yuna menjawab dengan marah, dia berusaha berontak dari pelukan Leo.


"Sayang... aku merindukan mu," Leo berbisik lagi. "Aku sangat merindukan mu...," suara rindunya sangat lirih. "Aku merindukan mu Yuna," Leo terus berbisik, namun itu tidak mampu mengobati rasa rindunya pada gadis ini. Rasa rindu yang membuatnya hampir gila. Dia terus mendekap Yuna dan tidak memberi kesempatan sedikitpun pada Yuna untuk melepasnya.


"Kenapa kau kesini?"


"Karena aku merindukan mu."


"Cih."


"Tidak ada yang harus ku bicarakan dengan mu Tuan muda Leo. Aku bukan siapa-siapa untuk mu," Cupp... Leo mencium bibirnya lagi. Leo sangat benci Yuna berbica seperti itu.


"Sayang... ku mohon," pintanya dengan tulus. Yuna mengambil nafasnya dalam dan akhirnya dia menyetujuinya. Dia juga tidak ingin berlama-lama dengan Leo, semakin cepat di bicarakan maka akan semakin cepat untuk selesai. Dia sudah menyiapkan hati dari pertama dia memutuskan untuk pergi dari Leo, dia sudah menerima kekalahannya.


Mereka duduk bersebelahan. Yuna menjauhkan dirinya dari Leo.


"Apa yang ingin kau katakan Tuan muda?" suara Yuna dingin. Dia menatap kedepan, dia berada di lantai 25 dan dia hanya bisa menyaksikan langit, awan dan burung yang sesekali terbang melewati jendela kacanya.


Leo menelan ludahnya, ia memperhatikan Yuna dengan sangat sedih, dia tahu dia sangat bersalah. Dia berdiri dan beralih di depan Yuna, dia berlutut dan meraih tangan Yuna, mengenggamnya dengan hangat. Matanya menatap Yuna dengan penyesalan yang mendalam.


"Apa yang kau lakukan," Yuna mencoba menarik tangannya. Namun, Leo mengenggamnya dengan erat.

__ADS_1


"Sayang, aku minta maaf pada mu," ucapnya dari hati dengan tulus.


"Maaf untuk apa? Kau sama sekali tidak bersalah."


"Aku bersalah. Aku bahkan ingin kau memaki ku, meluapkan semua emosi mu pada ku. Aku sangat bersalah, aku terlalu sering mengabaikan mu, aku terlalu sering menyakiti mu. Sayang, aku minta maaf."


Yuna memalingkan wajahnya. 'Menyakiti ku? Mengabaikan ku? Dia hanya mencoba untuk merayu ku bukan? Di bawah purnama sempurna, dia bahkan berjanji pada ku tapi kenyataannya apa? Aku tidak bisa lagi percaya padanya, aku tidak bisa lagi percaya dengan perasaannya pada ku, aku tidak ingin memberi harapan semu pada hati ku.'


"Baik, aku memaafkan mu Leo," ucapnya singkat dan segera berdiri. "Segera urus perceraian kita, dan kau akan segera terbebas dari ku. Kau bisa dengan cepat kembali pada Kiara," dia menepis tangan Leo yang masih mengenggam tangannya. Dia segera berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, dia menahan isak.


"Kau sungguh tidak mencintai ku lagi?" Leo menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh Yuna segera menjawabnya.


"Aku sudah mengatakannya dari tadi, bahwa aku bukan lagi Yuna yang mencintai mu."


"Jadi, apa kau bahagia jika kita berpisah? Apa seseorang telah menunggu mu? Apa sekarang kalian sedang berencana untuk bersama?"


Yuna segera berbalik dan langsung menampar wajah Leo dengan keras.


"Siapa yang kau maksud?"


"Siapa lagi? Kekasih yang kau temui diam-diam di belakang ku."


Plak... Yuna kembali menamparnya. "Tutup mulut mu Leo. Kau sangat egois, kau ********," Yuna menunjuknya tepat di depan wajahnya. "Kau tidak pernah memikirkan perasaan ku, kau tidak pernah memikirkan hati ku, kau tidak pernah memikirkan kekhawatiran ku, kau tidak pernah memikirkan ketakutan ku, kau tidak pernah memikirkan kesedihan ku, dan kau... tidak pernah mengerti tangis ku. Kau selalu saja menyakiti ku, membuat ku patah hati," Yuna menatapnya dengan tajam dan air mata menetes, dia tidak mampu untuk membendungnya lagi. Leo segera meraih pipinya dan berusaha mengusap air matanya, namun Yuna segera menepis tangannya.


"Jangan menyentuh ku. Kau tahu apa tentang ku? Kau perduli apa pada ku? Kau hanya mampu memberi ku harapan palsu, kau hanya mampu memberi ku janji palsu. Niat awal mu untuk menikahi ku sudah salah, seharusnya aku sadar dari awal dan tidak akan pernah mencintai mu. Aku yang bodoh... kenapa aku malah jatuh cinta pada mu."


Mata Leo berkaca-kaca dan dengan cepat air mata itu jatuh. Dia sangat bersalah...

__ADS_1


__ADS_2