Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 171_Permintaan


__ADS_3

Setelah selesai menjalankan pemeriksaan kandungan.


Leo dengan senyum mengembang dan kebahagiaan yang melimpah membukakan pintu mobil untuk istrinya. Kemudian, dia berlari kecil dan segera menyusul masuk kedalam mobil. Yuna sedang melakukan chat pada Adel saat ini. Leo mendekat ke arahnya dan memakaikan sabuk pengaman untuk Yuna.


"Terima kasih, sayang," ucap Yuna tanpa meninggalkan matanya dari ponsel ditangannya.


Leo menatapnya dari samping.


"Sayang," panggilannya pelan.


"Hmm?" Yuna langsung merespon dan menoleh kearahnya. Sepasang bola matanya menatap wajah Leo dengan bulat.


"Tutup mata mu," pintanya.


"Apa? Kenapa?" tanyanya sedikit ragu, namun dengan patuh dia segera menutup kedua matanya. Kelopak mata indah itu tertutup dengan sangat sempurna, ia menghadap kearah suaminya.



Tangan Leo mengulur dan dengan hati-hati mengambil sesuatu yang terjatuh di bawah mata Yuna.


"Sudah," ucapnya.


"Sudah?" tanyanya dan kembali membuka mata.


"Bulu mata mu jatuh," ucap Leo. Jarinya memperlihatkan satu bulu mata yang terjatuh. Yuna tersenyum dan meninju bahunya.


"Kau mengecewakan ku, Tuan suami. Ku pikir aku akan mendapat hadiah hahaaaa...," Yuna tertawa dan memasukkan ponselnya kembali kedalam tas.


"Kau mau apa Nyonya?" tanya Leo.


"Ummm, akan ku pikirkan nanti," jawabnya. Leo mengangguk.

__ADS_1


Pelan, mobil Leo melaju menuju rumah Mama. Dia memikirkan keinginan Yuna, ia berharap semoga keinginan itu tidak aneh dan sulit. Lebih baik mahal tapi gampang untuk di dapatkan dari pada murah namun sangat sulit untuk mendapatkannya. Tapi... berapa ukuran mahal dan murah yang diterapkan Tuan muda ini?


Tangan sebelahnya melepaskan stirnya dan dengan hati-hati ia meletakkan telapak tangannya diperut Yuna. Mengusapnya dengan lembut dan melimpahkan cinta dalam hatinya. Sudat bibir Yuna terangkat dan melengkung dengan sempurna, dia merasa sangat bahagia. Tangannya mengulur dan mengusap pipi Leo dengan manis, dan dengan sedikit mencubitnya.


"Kenapa mencubit ku?"


"Tidak ada, hanya ingin mencubit mu saja," jawabnya dan kembali mengusap pipi yang menjadi merah itu.


"Apa ini bagian dari keinginan baby kita?" tanya Leo.


Yuna tertawa renyah mendengar pertanyaan itu.


"Tidak," jawabnya. Jari-jarinya membuat cubitan-cubitan di pipi Leo, lagi dan lagi. Leo tertawa dan membiarkannya namun kemudian tangannya meluncur dan berpindah diatas paha Yuna, lalu bergerak keatas. Dengan cepat, Yuna menarik tangannya yang masih berada di pipi Leo dan langsung menangkap tangan nakal Tuan suami. Dia menoleh kearah Leo dengan melotot.


"Apa?" Leo terkekeh karena tatapan galak Nyonya padanya.


"Singkirkan tangan mu."


"Tidak," Leo menjawab dengan masih berusaha menggerakkan tangannya keatas. "Kau suka bermain-main di pipiku bukan? Jadi... biarkan aku bermain-main disini."


"Au... au... ampun Nyonya."


Sepanjang perjalanan mereka saling tertawa dan menggoda satu sama lain. Hingga mobil Leo masuk kedalam halaman rumah orangtuanya. Leo segera melepas sabuk pengamannya, dan beranjak untuk turun.


"Sayang," tangan Yuna menahannya.


"Ya?"


"Aku ingin hadiah ku, sekarang," Yuna menatap Leo dengan sebuah harapan dihatinya.


"Katakan," ucap Leo. Mata indah itu saling menyapa. Tatapan mata Yuna padanya membuatnya mengerti, bahwa hadiah yang akan di minta Yuna padanya bukanlah sebuah makanan atau barang. Yuna hampir tidak pernah meminta barang padanya.

__ADS_1


Tangan Yuna mengulur dan dengan sangat lembut, ia meletakkan telapak tangannya di dada Leo. Tangan Leo terangkat dan menggenggam tangannya.



Apakah ada yang lebih indah dari perasaan mencintai dan dicintai?


"Sayang, kau percaya padaku bukan?" tanya Yuna pelan namun jelas. Kornea matanya tak lepas dari pandangan indah itu, mata mereka masih saling menyapa.


Leo mengangguk. "Iya," jawabnya. Jemarinya sedikit lebih erat lagi mengenggam telapak tangan Yuna yang berada di dadanya.


"Aku ingin kau memberikan restu mu pada Neva," Yuna mengucapkan permintaannya. Dia gelisah dan khawatir dengan permintaannya ini. Ia takut, Leo akan kehilangan mood setelah mendengar permintaannya, ia takut Leo akan diam setelah ini. Jantung Yuna berdetak cepat ketika menyampaikan permintaan ini.


Tangan kiri Leo terangkat dan menyentuh rambut Yuna, mengusapnya pelan.


"Baik," ucapnya menyetujui dengan seuntai senyum dibibirnya. Dia telah memikirkannya berkali-kali, ribuan detik dia habiskan untuk berusaha berdamai dengan apa yang telah terjadi.


Jawaban yang Leo berikan membuat Yuna merasa lega. Leo membenci Vano karena dirinya, dia yang dulu tidak bisa menjaga hatinya. Dia yang akhirnya tergoda akan kelembutan dan perhatian Vano padanya. Ia tidak ingin Neva yang menjadi korban masa lalunya dengan Vano. Dia juga tidak ingin Vano kembali patah hati. Vano tidak salah, dia yang selalu datang pada pada Vano, iya... ini adalah salahnya. Ia ingin Neva dan Vano bahagia.


"Nyonya...," tangan Leo berpindah kepipinya, mengusapnya dengan lembut. Matanya menatap Yuna dengan sangat teduh dan hangat. Semua itu sudah berlalu, kita adalah hari ini dan masa depan. Kita hanya bisa menoleh dan menengok sebentar tentang masa itu namun tidak untuk menapakinya kembali.


"Jangan khawatirkan apapun sayang. Teruslah bahagia," lanjutnya. Sebab akibat adalah hukum alam... lakukan yang terbaik hari ini, agar tidak menyesalinya dimasa depan.


___


CP


Terima kasih untuk kesetiaannya sahabat semua.


Terima kasih juga untuk pengertian dan dukungannya.πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜


Kalian luar biasa πŸ‘πŸ™

__ADS_1



Bang Lee... ngintip dikit πŸ˜ŽπŸ’˜


__ADS_2