
Vano melangkah menyusuri setiap jalan lampion tetapi dia belum bisa menemukan Neva. Kemana larinya gadis itu? Dia hanya melepaskannya sebentar dan si gadis dengan cepat menghilang dari pandangannya.
Vano mengambil ponsel dari sakunya. Dia membuat panggilan pada Neva. Satu kali panggilan itu tidak terjawab, dua kali...
"Kau dimana?" tanya Vano setelah Neva menerima panggilan telfonnya.
"Emm, aku... aku pulang lebih dulu Kak, maaf," jawabnya bergetar. Jantungnya berdebar kencang tidak karuan, dia ingin berteriak jika mengingat tabrakan yang baru saja terjadi.
"Kau pulang?" tanya Vano untuk meyakinkan.
"Iya," jawab Neva singkat. Vano tidak percaya itu, dia mendengar suara bising yang sama dari panggilan telfonnya, itu berarti Neva masih berada di sekitar sini.
"Okey, apa supir menjemput mu? Atau kau berjalan kaki?" dia masih terus berjalan dan memutar matanya untuk mencari gadis itu.
"Emmm," Neva mencari jawaban karena sebelum ke festival ini, Vano lebih dulu menyuruh supir Neva untuk kembali. "Menumpang taksi," jawabnya. Tidak ada jawaban dari sebrang sana, namun panggilannya tidak terputus, Neva menunggu beberapa menit tapi tetap tidak ada suara, lalu ia mencoba mengeceknya ulang dan memang masih terhubung.
"Kak...," panggilannya sedikit ragu.
"Ya?" jawab suara di seberang sana. Neva menyunggingkan bibirnya. Ternyata memang masih menyambung. "Jadi... kau naik taksi untuk pulang?"
"Huum, iya, karena pasti lama jika aku menunggu supir."
"Kenapa buru-buru kembali?"
__ADS_1
Neva memejamkan matanya untuk pertanyaan satu ini. Kenapa? Ah, adegan tabrakan yang memalukan, bagaimana bagian ini bisa menyentuhnya? Neva memegang dadanya dengan ragu. Benar-benar memalukan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Karena... aku... ummm... tiba-tiba kebelet," dia mencari beberapa alasan dan itu yang terpilih keluar dari mulutnya.
Lalu kembali hening. Saat ini, terdengar pengumuman dari pengeras suara di lokasi festival lampion. Mereka mengumumkan bahwa sebentar lagi air mancur menari akan segera di mulai, bagi pengunjung yang ingin menyaksikannya di sarankan untuk mendekat ke pusat festifal yang berada ditengah-tengah taman bunga lampion dan di depan kastil lampion.
Vano bisa mendengar dengan sangat jelas pengumuman yang juga memantul dari ponselnya, itu berarti memang Neva masih di sini. Dia kembali melangkah dan masih menajamkan penglihatannya.
Tak lama... terdengar sebuah lagu klasik yang di putar dengan keras lalu disusul dengan keindahan air mancur yang berwarna-warni, air itu meliuk seolah mengikuti irama klasik yang menyejukkan hati, iramanya begitu mendayu membuat beberapa pasangan saling bergandengan tangan, saling memeluk pinggang, saling menatap, dan saling tersenyum bahagia ditemani alunan musik klasik dan tarian indah air mancur warna warni.
Neva sedikit keluar dari persembunyiannya. Ia menyaksikan air mancur menari itu... begitu indah, matanya menatap beberapa pasangan yang saling bergandengan. Dia memperhatikan ponselnya... masih terhubung. Bibirnya tersenyum dan mendekap ponsel itu. Ia berdiri tepat di depan kastil lampion.
Setelah lagu klasik selesai, kini berganti dengan lagu yang ceria. Tarian air mancur semakin lincah, warna-warnanya berubah-ubah.
"Near, far, wherever you are. I believe that the heart does go on."*
Air mancur yang berada di tengah memancar dengan sangat tinggi. Angin membawa cipratan airnya membelai wajah Neva... lembut dan sejuk. Neva memejamkan matanya. Hatinya terasa begitu indah, bayang seseorang itu menghampiri matanya, bayangan seseorang itu menyejukkan hatinya. Ia membuka matanya dan langsung tersenyum indah. Dalam tarian air mancur itu ada potongan adegan ketika Jack melukis Rose dengan memakai kalungnya 'Heart of the Ocean' dan kemudian potongan adegan ketika Jack dan Rose berlari dengan berpegang tangan.
Jantungnya semakin berdebar hebat ketika sebuah tangan merangkul pundaknya dengan lembut. Ia mendongak dan menatap pemilik tangan lembut ini. Vano.
Vano tidak membalas tatapan matanya, ia menyaksikan keindahan air mancur menari itu dan potongan-potongan adegan romantis Jack dan Rose.
Neva mengigit bibir bawahnya dan tersenyum dalam diam. Ia ikut menyaksikan keindahan air mancur.
__ADS_1
"You're here, there's nothing i fear and i know that my heart will go on. We'll stay forever this way, you are safe in my heart. And my heart will go on and on," (Kau di sisiku, tak ada lagi yang ku takutkan. Dan aku tahu hati ku akan bertahan. Kita akan selamanya seperti ini, kau aman didalam hati ku. Dan hatiku akan terus bertahan)*
Bibir mereka mengikuti lirik lagu romantis itu, dengan degupan jantung yang seirama, dengan sentuhan lembut yang menjalar pada hati yang merekah.
Air mancur tertinggi itu kembali memancar. Dalam tarian air mancur itu ada gambar potongan adegan ketika Jack dan Rose berdiri di ujung kapal dan berciuman. Sungguh indah.
"Jadi... mana taksi mu?" Vano terkekeh meledeknya.
"Kau..." Neva memukul dadanya dengan malu. Tangan sebelah Vano mengulur dan menyentuh wajahnya.
"Pipi mu basah...," ucapnya. Ibu jarinya mengusap pipi Neva dengan lembut.
"Hmm? Iya... terkena cipratan air mancur," jawabnya sangat grogi. Wajah Vano begitu dekat dengannya. Ibu jari halusnya terus mengusap pipi Neva dengan lembut. Ia menyusupkan jari-jari yang lain kedalam rambut Neva, matanya menatap kedalam mata gadis cantik ini, ia mendekatkan wajahnya. Neva berkedip dengan cepat, degupan pada jantungnya melebihi genderang. Hembusan lembut nafas Vano mengenai wajahnya. Hidung mereka bertemu...
Dan dering ponsel milik Vano mengacaukan segalanya. Vano menarik tangannya dan mengambil ponsel di sakunya.
"Arnis calling."
____
*My Heart Will Go On_Celine Dion
JANGAN ADA YANG NYONTEK ATAU PLAGIAT TULISAN INI. DARI AWAL SAMPAI AKHIR. ATAU AKAN KUCABIK-CABIK HINGGA HANCUR.
__ADS_1