Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 357_Bunga Desember


__ADS_3

"Sungguh kau telah siap menikah dengan Vano?" tanya Mama pada Neva pada percakapan pagi ini. Neva tersenyum malu diseberang sana.


Kemudian dia mengangguk, "Umm, iya Ma," jawab Neva pelan.


"Keputusan yang bagus sayang," puji Mama. Beliau mendukung keputusan yang diambil putrinya. Beliau bahkan menyakinkan Neva bahwa keputusan yang ia ambil sangat tepat.


"Bagaimana keadaan Kak Lee Ma?"


"Kak Lee semakin baik. Mungkin minggu depan bisa operasi lanjutan," jawab Mama. "Kemudian, jika itu berhasil, dia bisa menjalani perawatan di rumah dan bahkan bisa kembali ke tanah air dan melanjutkan terapi disana," jelas Mama. Neva tersenyum bahagia dan mengucap syukur mendengar itu.


Setelah berbincang beberapa menit, Mama mengakhiri panggilannya.


Sementara Yuna dan Leo berada di taman belakang rumah. Mereka berdua duduk di bangku di bawah pohon rindang. Sedangkan Baby Arai asik memainkan mainannya di stroller disamping Leo.


Jika biasanya Leo yang membacakan buku, kali ini Yuna yang membacakan untuknya. Leo tidur di paha Yuna sambil mendengarkan sebuah novel roman yang tengah Yuna baca.


"Apa perawat sudah memeriksamu sore ini Lee?" tanya Mama setelah beliau ikut bergabung bersama Yuna dan Leo. Beliau berniat mengambil Baby Arai.


"Sudah," jawab Leo.


Mama mengangguk mendengar jawab Leo, kemudian beliau meminta izin untuk membawa Baby Arai jalan-jalan sore.


"Kisah cinta yang benar-benar romantis," ujar Yuna mengomentari kisah novel yang ia baca.


"Aku lebih romantis dari peran laki-laki dalam novel yang kau baca," jawab Leo dengan PeDe. Yuna terkekeh. Dia mengesampingkan bukunya dan menatap Leo yang tidur di pahanya.


"Hu'um, kau sangat romantis," jawab Yuna menatapnya.



"Hahaaaa," Leo yang terkekeh kali ini. Dia mengangkat tangannya dan mencubit gemas pipi Yuna. "Tidak, aku tidak romantis. Aku tidak bisa merayu, aku tidak bisa menggombal dan lagi ... aku tidak bisa puitis," ucap Leo.

__ADS_1


"Hmmm romantis itu bukan hanya tentang gombalan dan kata puitis. Itu hanya romantis dari bibir saja, tetapi kau ... romantis dalam setiap tindakanmu," jawab Yuna. Dia meletakkan bukunya dan kemudian mengusap rambut Leo dengan kasih. "Kau yang memanjakan ku adalah sisi romantis mu yang mungkin tidak semua lelaki miliki," lanjut Yuna. Leo tersenyum, tangannya berpindah dari pipi menuju tengkuknya. Membuat tarikan halus disana, itu membuat Yuna menunduk dan Leo langsung menyambutnya. Menyambut dengan kecupan mesra di bibirnya.


"I love you," ucap Leo setelah menyudahi ciumannya.


"Love you too," jawab Yuna dengan senyum.


"Maaf membuat mu menunda untuk pulang kampung," ucap Leo. Tangannya dengan lembut meletakkan rambut Yuna ditelinga.


"Tidak apa-apa," jawab Yuna. Leo tersenyum mendengar jawaban Yuna. Dia tahu jika Yuna pasti akan menjawab seperti itu. "Tidak apa-apa." Wanita ini memiliki kesabaran dan rasa memaafkan yang begitu banyak. Dia selalu legowo pada apa yang tidak sesuai dengan keinginannya dan harapannya.


"Ayah dan nenek hampir setiap hari melakukan panggilan video, itu sudah cukup," lanjut Yuna. "Yang terpenting adalah kau harus segera sembuh dan sehat kembali seperti semula."


"Hu'um. Aku pasti," jawab Leo dengan keyakinan.


_________


Hari demi hari dan minggu telah terlewati, hujan mulai menyapa bumi. Bunga-bunga Desember mulai bermekaran dengan indah.



Kondisi Leo membaik. Tiga hari lagi jadwal operasi lanjutan bisa dilakukan. Ungkapan syukur dan do'a masih menggenggam dalam hati.


Sementara disana ... di Ibu Kota.


Vano dan Neva telah menyiapkan semuanya untuk berkunjung sekaligus berlibur ke Negara A. Mereka akan menghabiskan akhir tahun disana.


"Aku tidak sabar lagi untuk segera kesan," seru Neva. Saat ini, mereka tengah berada ditaman dilantai dua rumah Vano. Mereka duduk di ayunan.


"Dimana nanti aku tinggal? Apa aku harus tinggal di hotel dan kau dirumahmu?" tanya Vano pura-pura sedih. Tangannya menyusup kebelakang dan memeluk pinggang Neva.


Neva menoleh kearahnya, "Aku sudah meminta izin Papa untuk memperbolehkan mu tinggal dirumah," katanya.

__ADS_1


"Di acc sama Papa atau tidak?"


"Tentu saja acc," jawab Neva dengan senyum lebar.


"Aaahhh syukurlah," ucap Vano.


"Kata Papa, kau tinggal di rumah samping bareng asisten rumah tangga," ucap Neva berbohong, ucapan yang membuat Vano melebarkan matanya.


"Astaga ...."


"Hhahaaa," Neva tertawa kecil.


"Apa kau tega sayang? Rayu Papa untuk memperolehkanku tinggal satu kamar denganmu," gurau Vano. Dan Neva langsung mencubit pinggangnya. "Hhaaa ampun," teriak Vano kegelian.


_______________


Di negara A pada sore hari.


Baby Arai tidur lelap diatas ranjang di kamar daddy-nya.



"Sayang, aku mandi dulu," ucap Yuna. Leo mengangguk. Leo tengah duduk di sofa menyaksikan pasar saham lewat televisi. Dia begitu serius, menyaksikan pasar saham dan kemudian membahas bisnis dengan Joe lewat ponsel. Kemudian, dia juga membahasnya dengan asisten Dion. Hingga sebuah suara imut membuatnya menoleh. Baby Arai yang terbangun dari tidurnya dan sudah merayap diujung ranjang. Mata Leo terbelalak dengan degupan jantung yang cepat. Ponsel ditangannya jatuh begitu saja, dia segera berlari saat tangan dan kepala anaknya sudah berada di ujung. Tinggi ranjang itu empat puluh lima centimeter.


Leo dengan gerakan cepat menyambar tubuh anaknya agar tidak terjatuh ke lantai.


____________


Catatan penulis πŸ₯°


Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih udah begitu sabar menunggu kelanjutan kisah ini πŸ₯°πŸ™ Padamu... luv luv.

__ADS_1


Maaf kalau ada Typo-typo ya. πŸ™ Mohon dikoreksi


__ADS_2