Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 126_Dua Nyonya


__ADS_3

Siang hari di Ibu kota. Dua Nyonya bertemu di sebuah restoran lokal.


"Anak gadis mu sudah besar say...,"


"Haha, iya, tapi dia masih saja bandel."


"Ma...," si anak memprotes Mamanya karena disebut bandel di depan orang lain. Sang Mama hanya tertawa kecil mendengar protes putrinya.


"Lama tidak berjumpa, banyak sekali yang berubah ya...,"


"Kau sangat sibuk, hingga kau tidak punya waktu hanya sekedar minum teh dengan ku."


Dan basa-basi ala Nyonya-nyonya berlanjut. Si gadis bandel bosan mendengarnya, dia meminta izin untuk keluar dan mencari angin segar.


"Semester berapa Neva say?" Nyonya cantik barpipi tirus bertanya setelah gadis bandel keluar.


"Sebentar lagi wisuda, ini semester terakhirnya."


"Wah... wah, aku jadi punya ide dengan anak-anak kita."


"Haha... jangan bercanda. Jaman sekarang tidak ada perjodohan. Aku menyerahkan perasaan dan pernikahan sepenuhnya pada anak-anak."


"Aishh... tidak ada salahnya kita mencoba. Aku akan mengubungi putra ku."


"Jangan paksakan jika mereka tidak cocok, say."


"Iya, kau tenang saja."


Kemudian, Nyonya cantik berpipi tirus segera menghubungi putranya. "Sayang... bisa jemput Mama?" ucapnya setelah panggilannya tersambung. Dia menyebutkan alamat dimana dia berada. Lima belas menit kemudian, sang putra datang dan memberi salam pada keduanya. Tepat saat itu juga Neva datang menghampiri Mamanya. Wajahnya terkejut melihat laki-laki yang berdiri di samping meja Mamanya, tapi dia segera menguasai keterkejutannya dan segera memberi salam, ia sedikit membungkukkan badannya.


"Selamat siang, Tuan muda Vano," ucapnya sopan. Didikan Mamanya selalu dia terapkan, meskipun dia suka iseng dan bandel dengan orang tua dan Kakaknya tapi dia sangat sopan pada orang lain.


"Uhhh... manisnya. Apa kalian saling mengenal?" tanya Nyonya cantik Mahaeswara dengan senyum mengembang.


"Pernah bertemu sekali. Dia adik teman... uhum bukan, dia adik kenalan ku." jawab Vano.


"Bagus, duduklah," Nyonya Mahaeswara menpersilahkan mereka berdua. Dua Nyonya itu duduk secara berdampingan. Jadi... Neva dan Vano, mau tidak mau harus duduk berdampingan.


Vano dengan elegan mempersilahkan Neva duduk terlebih dahulu, baru kemudian dia. Sebenarnya ini adalah hal yang wajar yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki, namun, ini menjadi sangat manis dalam padangan dua Nyonya itu.

__ADS_1


Neva dan Vano, duduk dengan berdampingan. Nyonya Mahaeswara segera mengarahkan kamera... Ckrikk... sempurna.


"Ma...," Vano segera memprotesnya. Dia melihat gelagat tidak baik dari Mamanya. Mamanya ini adalah salah satu Mama yang iseng dan sering bertanya 'Kapan nikah?' "Ma... mari pulang," ucap Vano.


"Kenapa buru-buru sayang, kau baru saja sampai," jawab Nyonya Mahaeswara pada putranya.


"Ma... Neva ada tugas, ayo kita pulang," kini Neva yang meminta mamanya pulang. Neva juga mencium sesuatu yang tidak beres.


"Vano baru saja sampai sayang, tidak sopan jika kita langsung pulang."


Jawaban dua Nyonya ini langsung membuat Vano dan Neva saling menoleh dan berpandangan, mereka memberi isyarat bahwa Mama mereka rencanakan sesuatu.


"Ma... aku masih banyak kerjaan di kantor, jadi mungkin seharusnya kita kembali dulu," Vano mencoba membujuk Mamanya.


"Kau terlalu fokus dengan kantor sayang. Saat ini... jangan pikirkan pekerjaan mu. Bagaimana dengan gadis cantik di sebelah mu?"


Neva langsung terbatuk mendengar ucapan Nyonya Mahaeaswara.


"Apa makasud Mama?" Vano menatap Mamanya, dan berharap sang Mama tidak merencanakan apapun.


"Kau belum punya pacar bukan? Dan Neva juga belum punya pacar. Bagaimana jika kalian berkencan?"


"TIDAK," ucap mereka kompak lagi.


"Ma... yang benar saja, aku tidak mungkin kencan dengan anak kecil," Vano menatap Mamanya dengan frustasi.


"Benar...," Neva menambahkan. Dia menatap Mamanya yang sedari tadi senyum-senyum.


"Ma... aku tidak mungkin kencan dengan paman-paman," lanjut Neva sambil sedikit melirik Vano.


"Heii, yang benar saja. Kenapa kau menyebut ku paman?"


"Kau menyebut ku anak kecil, kalau aku tidak memanggil mu paman, lalu apa lagi?"


"Aku masih muda, okey."


"Tapi, kau pantas ku panggil paman."


"Hei, aku bahkan seumuran dengan Kakak mu."

__ADS_1


"Tapi Kakak ku sangat tampan dan sangat imut."


"Cih. Aku bahkan lebih tampan dari dia,"


"Ya ampuuun... kau narsis Tuan muda. Kau memuji diri mu sendiri, itu menggelikan."


"Kau anak kecil, tapi mulut mu sangat cerewet...,"


"Aahhh, ya ampuun... kalian lucu banget, Mama suka," Nyonya Mahaeswara berkomentar dan kemudian toss dengan Nyonya Nugraha.


"Sepertinya, anak kita cocok," Nyonya Nugraha menambahkan. Dia tidak pernah melihat putrinya bertengkar dengan laki-laki selain pada Kakaknya Leo. Terhadap Dimas, dia sangat sopan dan tidak pernah memperlihatkan sisi cerewetnya.


"Ma... aku permisi dulu, Vano tunggu Mama di mobil. Permisi tante, Vano duluan," ucap Vano dan segera melangkah pergi.


Kemudian, Neva juga berdiri.


"Ma... ayo pulang. Neva duluan ke mobil. Selamat siang tante...," ucap Neva dan segera melangkah pergi.


"Sepertinya kita harus berusaha lebih keras lagi say."


"Haha, iya. Vano sangat tampan dan humoris, sepertinya cocok dengan karakter Neva yang sedikit bandel."


"Haha... mari bekerja sama, calon besan."


"Baiklah...," mereka berdua berjabat tangan.


Neva berjalan dengan cepat hingga tanpa sadar, dia telah menyusul Vano yang berjalan terlebih dahulu. Dia segera mengurangi irama langkahnya.


Sadar ada Neva di belakangnya, Vano segera menghentikan langkahnya.


"Kau membuntuti ku?" ucapnya tanpa menoleh.


"GeEr," Neva menjawab dengan tawa kecil sedikit meledek Vano. Neva tetap berjalan dan berhenti tepat di sebelah Vano. "Tuh...," dia menunjuk sebuah mobil berwarna putih yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Vano menyembunyikan senyumnya karena dia terlalu keGeEran.


"Sepertinya kening mu sudah membaik," ucap Vano tanpa menoleh, pandangan tetap melihat kedepan.


"Hu'um...," Neva mengangguk. "Terima kasih sudah memperhatikan kening ku, Tuan muda Vano," lanjut Neva. Tangannya terangkat dan menyentuh keningnya sendiri dengan senyum tertahan di bibirnya.

__ADS_1


***@***


__ADS_2