
"Hachum," pertahanan rasa geli di hidungnya tidak bisa di tahan lagi. Vano dan Raizel segera menoleh ke arahnya dan dengan cepat melepas jaket mereka.
Tap... Vano lebih dulu meletakkan jaketnya di pundak Neva. Itu membuat Raizel frustasi, tapi kemudian dia meraih tangan Neva dan menarik kedalam pelukannya.
"Kau kedinginan?" ucapnya dengan memeluk Neva dan mengusap punggungnya. Neva menahan nafasnya. Raizel memeluknya?
Astaga... Vano melebarkan matanya melihat itu. Tangannya mengulur dan langsung menarik tangan Neva hingga terlepas dari pelukan Raizel.
"Jangan asal memeluknya Raizel," tegur Vano dengan tegas, matanya menatap Raizel dengan tajam. Dia tidak suka Neva dipeluk oleh laki-laki lain dan itu dilakukan didepan dirinya.
Raizel tersenyum sinis dan membalas tatapan mata tajam dari Vano.
"Kalian bukan pasangan bukan?" Tanyanya dengan nada perlawanan. Tangannya mengulur dan ingin meraih tangan sebelah Neva tetapi Vano dengan cepat menarik Neva menjauh dari Raizel dan menempatkan Neva dibelakangnya. Neva berada di belakang punggung Vano saat ini.
"Bukan urusan mu Raizel," jawab Vano.
"Tentu saja itu urusan ku. Aku menyukai dia, dan kau ada di antara kita. Aku menyukai dia dan kau om-om sebaiknya menyingkir," Raizel berucap dengan membalas tatapan mata Vano.
"Kalian bahas apa sih," Neva memegang lengan Vano dan berjalan ke sampingnya. Dia menempatkan dirinya di tengah di antara Raizel dan Vano. Tangannya melepaskan lengan Vano dan kemudian menguncupkan kedua telapak tangannya.
Raizel dan Vano memperhatikannya. Dia yang saat ini ada ditengah diantara mereka berdua, dia yang saat ini menunduk.
"Terima kasih untuk perasaan kalian pada ku. Kalian berdua tahu, jika setelah ini aku pergi,__"
"Aku__" Raizel memotong ucapannya tapi Neva langsung memotongnya lagi.
"Ku mohon dengarkan aku, Raizel," ucap Neva. Dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Raizel, menatapnya beberapa saat lalu beralih menoleh ke arah Vano, menatap wajahnya beberapa saat. Kemudian, dia menatap lurus ke depan.
"Aku pergi setelah ini. Terima kasih untuk waktu yang pernah kita lewati bersama dan aku minta maaf karena aku tidak ingin siapapun menunggu ku. Aku ingin sendiri," ucapnya perlahan dan teratur.
Raizel menghela nafasnya, begitu juga dengan Vano. Tidak ada yang gadis ini pilih, dia memilih untuk pergi.
Di lokasi yang sama, di tempat yang berbeda.
Di pinggir pantai malam hari, di pinggir pantai dengan anginnya yang menyentuh mesra, Leo masih mendekap Yuna dengan hangat. Pipinya menempel di pipi Yuna. Mata mereka tertuju pada bulan yang tertutup awan tipis dan terkadang pada bintang yang bersinar paling terang.
"Sayang," suara Yuna pelan memanggilnya.
"Hmmm," jawab Leo dengan suaranya yang khas.
"Disini... adalah tempat dimana kamu mengucapkan kata cinta pada ku untuk yang pertama kali. Disini, tempat dimana aku aku pertama kali berani menyentuh wajah mu. Wajah yang ku kagumi dari pertama kita menikah," ucap Yuna pelan tetapi jelas. Angin malam pantai yang sejuk membelai wajahnya. Leo mendengarkannya tetapi tidak berucap apa-apa. Jika sudah menyangkut sesuatu dimasa itu... dia akan merasa sangat bersalah. Dia yang menikahi Yuna tetapi tidak memberinya cinta. "Sayang," panggil Yuna lagi.
"Hmmm," jawab Leo masih tidak membuka mulutnya.
"Apa kau bahagia hari ini?" Tanya Yuna. Dia masih bersandar di lengan Leo. Leo mencium pipinya lagi.
"Kenapa? Kau yang merencanakan ini?" Tanyanya. Yuna terkekeh dan mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Leo.
"Aku hanya ingin kau mulai terbuka pada orang lain, aku ingin kau memiliki teman yang asik. Teman yang menemani mu untuk tertawa," ucap Yuna menjelaskan maksudnya. Leo mengambil tangan Yuna yang berada di pipinya lalu membawa tangan itu kebibirnya. Dia mencium tangan halus itu dengan kasih yang begitu indah dari hatinya.
"Aku tidak membutuhkan siapapun. Aku hanya ingin kamu," ucapnya pelan sepenuh hati.
Yuna tersenyum, "Kau harus mengubah cara pandang mu itu Tuan suami," ucap Yuna. "Kau harus memiliki teman," lanjutnya.
"Aku tidak membutuhkan teman selama kau bersama ku," jawab Leo masih dengan pemikirannya.
"Itu yang harus kau ubah. Memiliki teman itu asik, kau harus mulai membuka diri untuk menerima teman dalam hidup mu," ucap Yuna lagi.
"Aku sudah memiliki semuanya. Aku memiliki mu Yuna," ucap Leo tepat di samping telinga Yuna. Dia mengeratkan pelukannya, "Teman... kau adalah teman ku. Sahabat, kau adalah sahabat ku. Berbagi tawa, aku berbagi tawa dengan mu. Berbagi cerita, aku bercerita dengan mu. Apalagi? Saling bertengkar? Hmmm kita sering bertengkar, kau bahkan sering mengomeli ku," lanjut Leo. Kini... Yuna yang diam. Dia tidak memberi jawaban. "Dengan bersama mu, aku telah merasa sempurna," tangannya berpindah ke perut Yuna dan mengusapnya dengan lembut dan penuh cinta. "Dengan bersama mu, aku telah memiliki segalanya dan aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Aku, kamu dan baby kita," Leo berucap dengan penuh perasaan. Suaranya yang serak dan lembut membuat Yuna kembali melankolis. Semilir angin yang sejuk malam ini turut membawa kesejukan dalam hati.
Yuna mengangkat kepalanya dari lengan Leo dan menoleh ke arahnya. Dia menatap wajah rupawan yang sangat dia cintai, mengusap pipinya dengan lembut.
"Aku mencintai mu, Leo," ucapnya sepenuh hati dengan debaran yang menggema di jantungnya. Dia jatuh cinta, berkali-kali jatuh cinta pada seseorang yang telah dia miliki, jatuh cinta dengan leluasa, jatuh cinta dengan semaunya. Cinta yang tak terukur dalam dirinya.
Leo menatap kedalam matanya, tangannya mengusap rambut Yuna dengan limpahan kasih. Dia menunduk dan mencium bibir Yuna. Tangannya yang satu memeluk Pinggang Yuna untuk lebih dekat dengannya dan bahkan tanpa jarak. Leo tidak memejamkan matanya, dalam ciumannya, dia menatap Yuna yang terpejam. Dia sangat mencintai gadis ini, dia mencintai Yuna istrinya. Hanya Yuna.
Aku sungguh tidak menginginkan siapapun di dunia ini selain dirimu. Teruslah bersamaku. Dalam istana yang ku persembahkan untuk mu. Kita akan menua disana. Aku tidak ingin seperti kisah-kisah yang melegenda itu, tidak ingin seperti Ramses ll yang ditinggal mati lebih dulu oleh Nevertari. Aku juga tidak ingin seperti Raja Shah Jahan yang di tinggal mati lebih dulu oleh Mumtaz Mahal. Aku ingin kamu selamanya dalam hidup ku dan bahkan kematian tidak bisa mengambil mu dari ku.
Awan tipis mulai memudar, lengkung rembulan mulai terlihat meski masih samar. Sinarnya mengintip dan malu untuk menyapa dua insan yang saling terpaut. Bibir itu masih terus menciumnya, seakan dia masih sangat haus, dia masih terus menciumnya seakan dia tidak akan melepasnya.
Bayangan dua insan itu sangat indah, dengan pantulan cahaya kuning rembulan dan lampu yang menyala dengan redup.
Disana... dari jarak yang lumayan jauh. Tiga anak manusia menyaksikan dengan membeku. Tanpa sadar, mereka menelan ludahnya.
Tangan Vano terangkat dan menutup mata Neva. Sementara tangan Raizel meraih tangan Neva dan menggenggamnya. Namun Neva segera menariknya, dia tidak ingin memberi harapan pada siapapun.
__ADS_1
"Kak Vano, apa kau menyaksikan mereka berdua?" Tanya Neva yang matanya terhalang oleh telapak tangan Vano.
"Tidak, aku menunduk," jawab Vano.
"Kau, Raizel?" Tanya Neva pada Raizel.
"Tidak, aku memejamkan mata ku," jawab Raizel, "Tapi sedikit mengintipnya, hahaa," lanjutnya. Vano segera mengangkat wajahnya dan memukul kepala belakang Raizel.
"Kau anak kecil, tidak sopan," ucap Vano. Raizel menoleh ke arah Vano dan mengusap kepalanya bekas pukulan dari Vano.
"Om, bukan aku yang tidak sopan. Mereka berciuman di pinggir pantai dan ada kita disini," kata Raizel memberi alasan.
"Mereka yang membayar tempat ini, kita hanya menumpang," jawab Vano.
"Hahaa... iya. Aku lupa," ujar Raizel dengan tawa kecil.
"Apa mereka masih berciuman? Kenapa masih menutup mata ku?" Tanya Neva. Vano menoleh ke arah dua insan itu dan saat ini mereka tengah berpelukan.
"Sudah," jawab Vano dan menarik tangannya. Neva melihat ke arah dua insan yang tengah berpelukan, dia tersenyum dengan bahagia. Vano mengangkat tangannya dan mengusap punggung Neva pelan.
"Mereka berdua saling mencintai, mereka berdua sangat bahagia. Dan kau juga harus bahagia," ucap Vano. Neva membawa pandangannya pada Vano, dia menatap Vano dari samping. Dan Vano menoleh untuk membalas tatapannya. Dia mengangguk, "Ya, kau juga harus bahagia," ujarnya. Neva tersenyum dan kembali memperhatikan kearah Leo dan Yuna. Saat ini mereka tengah tertawa, entah apa yang mereka ceritakan. Yuna selalu bisa membuat Leo tertawa. Neva tersenyum lebar melihat itu.
Kemudian, mereka bertiga duduk di atas pasir dan menatap ombak kecil yang tenang.
"Kenapa kau memilih melanjutkan kuliah di luar negeri?" Tanya Raizel pada Neva.
"Hmm? Kenapa??" Neva memicingkan matanya sejenak, "Aku ingin punya banyak pengalaman saja," jawabnya.
Beberapa menit kemudian. Leo dan Yuna berjalan menghampiri mereka.
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Yuna. Mereka bertiga menoleh dengan serempak.
"Hmmm, sudah," jawab Neva. Lalu mereka berdiri. "Kakak sudah mau kembali?" Tanyanya.
"Ya," jawab Leo.
"Leo, aku akan mengantarnya pulang," ujar Vano.
"Tidak, aku yang akan mengantarnya," sahut Raizel tak mau kalah.
"Jadi, biar aku yang mengantarnya," jawab Raizel.
"Aku yang akan mengantarnya Raizel."
"Aku yang akan mengantarnya Tuan muda Vano." Mereka saling berebut.
"Pulang dengan ku," ucap Leo singkat dan langsung membalik badan. Dia memeluk pinggang Yuna.
Neva tertawa kecil lalu melihat Vano dan Raizel dengan bergantian.
"Apa kalian tidak berniat merayu kakak ku?" ujar Neva dengan bercanda.
"Sepertinya aku akan mati muda jika setiap hari bertemu dengan Tuan muda Leo. Dia menyeramkan," jawab Raizel.
"Dia akan mencoret ku dari daftar calon adik ipar jika aku mengucapkan satu kata lagi," sahut Vano. Dan mereka berdua kalah untuk bisa mengantar Neva.
Mereka bertiga berjalan bersama keluar dari restoran.
"Selamat malam, Kak Vano, Raizel," ucap Neva pamit pada Vano dan Raizel.
"Vano, Raizel, terima kasih sudah datang," Ucap Yuna. Kedatangan Vano paling tidak sedikit merubah hubungan Leo dan Vano. Paling tidak, mereka berdua kembali bertemu. Dan pertemuan malam ini, tidak setegang pertemuan malam itu yang berakhir dengan kecemburuan Leo.
"Sama-sama, Yuna. Terima kasih untuk undangannya," jawab Vano bersahabat. "Selamat malam, Tuan muda Leo," ucapnya pada Leo dengan sedikit membungkukkan badannya. Dan Raizel melakukan hal yang sama. Leo mengangguk sebagai tanggapan tetapi kali ini dengan senyum.
Sejujurnya itu karena Yuna mengancamnya. Tuan suami tidak akan mendapatkan ciuman jika dia mengangguk tanpa senyum.
Kemudian, mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Mereka bertiga duduk di bangku penumpang dengan Yuna yang berada di tengah.
"Bye...," ucap Neva melambai sebelum mobil benar-benar melaju. Vano dan Raizel membalas lambaiannya.
"Apa kau puas Nyonya?" Tanya Leo setelah mobil meninggalkan area.
"Hmm, kau sangat manis melakukan itu," jawab Yuna mencubit pipinya dengan gemas.
"Kau harus memberi ku bonus," ucap Leo.
__ADS_1
"Hahaa... kau mau apa sayang," jawab Yuna. Dan Leo langsung mengigit lehernya.
"Astaga... apa kalian tidak melihat ku?" Neva memprotesnya dan melempar bantal leher pada Kakaknya. "Aku menyesal bergabung bersama kalian. Memuakkan," lanjutnya. Yuna tertawa terbahak-bahak mendengar omelan Neva.
"Hentikan," Yuna mendorong kepala Leo untuk menjauh dari lehernya.
"Aaaa... kalian membuatku frustasi, sungguh memuakkan," omel Neva lagi.
"Kau harus mengomeli kakak mu. Dia yang mesum," jawab Yuna dengan tawa.
"Ya, aku mengomeli kalian berdua," Neva langsung berpindah ditengah dengan memaksa. Yuna dengan senang hati menggeser duduknya. Dia sangat suka mengerjai Leo.
"Apa-apaan kau gadis kecil," ucap Leo memukul bahu Neva pelan, "Sayang, kenapa kau mau bergeser," Leo memprotes Yuna.
"Diamlah Kakak jelek. Ini lebih baik, agar aku bisa menjaga kesucian mataku," ucap Neva. "Kau tidak tahu tempat," lanjutnya dan semakin membuat jarak Leo dan Yuna semakin jauh. Kini... Neva yang memeluk Yuna dan mengusap perutnya lembut.
"Diam di situ kau Kakak," ucapnya dengan mengulurkan tangannya untuk membuat Leo diam ditempatnya.
Yuna menjulurkan lidahnya, "Weeekk," katanya tanpa suara. Dan dijawab Leo dengan tatapan mata yang seolah bilang, 'Aku akan memakan mu nanti.'
****@****
Malam yang sama di tempat lain.
"Laki-laki itu boleh memiliki dua pendamping, memiliki dua cincin. Dua? Hahaa bahkan empat juga boleh," ujar sang Papa dengan senyum misterius menatap putrinya.
"Apa maksud Papa?" Tanya Alea menyelidik.
"Ya... gadis itu menjadi istri Lee sekarang, itu karena dia beruntung. Kau tidak kalah cantik dari dia, kau juga seharusnya bisa mendapatkan Lee."
"Mendapatkan Tuan Muda Lee? Aku?" Alea menunjuk dirinya sendiri. Dia menggeleng. "Aku tidak ingin merusak rumah tangga seseorang Pa. Aku tidak mau menyakiti hati teman ku," jawab Alea. Mana ada perempuan yang mau diduakan? Yuna pasti akan sangat membencinya. Dia menggeleng. Terkadang dia bisa berpikir dengan jernih tetapi terkadang perasaannya membuat otaknya kacau dan tumbuh rasa iri pada Yuna.
"Apanya yang merusak. Mereka masih tetap bersama," ujar Papa Alea. Dia begitu mendambakan bisa berbesanan dengan Tuan besar Nugraha.
"Maksud Papa... Aku menjadi istri ke dua?" Tanya Alea. Dia menatap Papanya.
"Ya," jawab Papa Alea dengan anggukan. "Itu tidak menghancurkan rumah tangga mereka bukan?"
"Tidak Papa. Tidak ada wanita yang mau di duakan. Aku tidak ingin menyakiti Yuna," jawab Alea.
"Kau memilih menyakiti perasaan mu sendiri?"
"Ini sudah biasa untuk ku Pa. Semenjak kasus Papa mencuat dan Papa di penjara. Apa Papa tahu bagaimana rasanya hampir setiap detik di cemooh orang? Papa tidak tahu bukan? Perasaan ku selalu tersiksa, aku bahkan tidak tahu caranya untuk tersenyum__"
"Kenapa kau membawa masalah itu lagi. Ini tentang cinta mu pada Lee," Papanya menyela.
"Papa berniat membuat ku dicemooh lagi? Menjadi istri kedua Tuan muda Lee? Ohh, ayo lah Pa, hentikan mimpi mu yang tinggi itu," ucap Alea.
"Bagaimana jika Lee yang menginginkan mu?" Papa Alea menatap kedalam mata Putrinya. Dia ingin Putrinya menjadi Nyonya muda keluarga Nugraha.
"Apa maksud Papa? Tuan muda Lee menginginkan ku?" Alea membalas tatapan mata Papanya. Kopi hitam itu masih sedikit mengeluarkan asap. Papa Alea menyesapnya terlebih dahulu sebelum memberi jawaban.
"Ya, bagaimana jika Leo J itu yang menginginkan mu. Laki-laki di dunia ini sama. Mereka menginginkan banyak wanita. Apalagi Lee yang memiliki banyak harta, pasti dia mendamba banyak wanita disisinya," Jawabannya meyakinkan Alea.
Alea mengalihkan pandangannya. Tuan muda Lee menginginkannya?? Dia mengingat ucapan Yuna, bahwa... Leo tidak pernah mengucapkan terima kasih pada seseorang tetapi Leo melakukan itu padanya. Ucapan cinta malam itu... apakah sungguh tidak sengaja? Atau sengaja sebagai kode. Dia menggeleng tetapi tersenyum. Dia tidak bisa berpikir jernih dengan debaran di jantungnya.
"Besok acara wisuda Neva, kau harus dandan yang cantik. Dan Papa akan membicarakan ini dengan Nugraha," ucap Papa. "Dia teman yang baik, dia pasti akan membantu."
____
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Kyaaa... masih bau-bau amukan Readers.
Thor kabuuuurr lagi takut jantungan.
Pliss kondisikan ya kesayangannya Thor... πππ€π€
Luv luv.
Like koment, Mmmuuuchh. π
Masih bersambung yess...
Cling... Thor menghilang... π
__ADS_1