
Disana, seseorang yang mendapatkan titah langsung menuju pada seseorang yang masih berdiri di depan gerbang. Dia dengan sopan memberi tahu seseorang itu untuk meninggalkan kediaman bossnya.
"Siapa kau berani mengusirku?" kata seseorang itu dengan tidak suka. Tatapan matanya penuh kebencian pada orang yang menyuruhnya pergi.
"Ini adalah perintah Nona, silahkan kembali atau aku akan menggunakan cara kasar." ucap penjaga.
"Bilang pada majikan mu jika aku yang datang. Kiara, wanita yang majikan mu cintai sepanjang hidupnya. Siapa yang menyuruhmu mengusir ku? Apakah wanita murahan itu? Cih," jawabnya.
"Ini perintah langsung dari Tuan muda," jawab penjaga. Mereka berdua bertukar kata dan berdebat dengan alot.
Tidak ingin berlama-lama, penjaga akhirnya keluar gerbang untuk mengusir Kiara dengan paksa. Kiara berontak dengan sekuat tenaganya. Dia harus bisa bertemu dengan Leo, harus bisa. Batinnya dalam hati. Dia terus berontak dan berteriak.
"Sepertinya ada sesuatu yang penting," ujar Yuna setelah melihat pemberontakan Kiara pada penjaga. Dia berdiri di samping Leo. Melihat layar kecil itu.
"Aku tidak perduli," Leo menjawab dengan tak acuh. Dia membalik badan dan menuju ranjangnya. Dengan pelan, ia menidurkan anaknya di atas ranjang bersamanya. Sementara Yuna masih memperhatikan layar kecil yang menempel di dinding. Tak lama, dia juga membalik badan lalu menyusul Leo.
Yuna menarik pelan bangku dan duduk di samping ranjangnya. Dia duduk tepat di sebelah Leo. Posisi Leo yang miring dan menghadap ke Baby Arai membuat ia membelakangi Yuna.
"Aku tahu tentang berita itu," kata Yuna pelan.
"Berita apa?"
"Kau menghancurkan perusahaan keluarga Kiara," Yuna menjawab dengan rendah.
"Bukankah itu pantas?" sahut Leo. Yuna mengangguk menyetujui, mengingat bahwa keluarga itu pernah menggunakan Kiara untuk mengambil data rahasia perusahaan milik keluarga Nugraha.
"Apa yang akan terjadi jika perusahaan mereka hancur?" tanya Yuna.
"Mereka tidak akan memiliki apa-apa lagi, mereka bahkan akan menanggung hutang yang begitu banyak. Heh, mungkin akan berakhir di rumah kontrakan," jawab Leo. Yuna mengangguk.
"Bagaimana dengan mu? Ummm ini bukan tentang keluarganya tapi tentang dia. Hanya dia," ujar Yuna. Dia tahu bagaimana dulu Leo begitu mencintai gadis itu, bagaimana Leo mengasihani gadis itu. Jika nanti gadis masa lalu Leo terpuruk, bagaimana jika rasa kasihan dalam hati Leo kembali muncul.
"Dia? Aku tidak perduli," jawab Leo yakin. Kemudian, dia membalik badannya dan menatap Yuna. "Kenapa?" tanyanya. Dia mengulurkan tangan dan meraih tangan Yuna.
"Ummm, tidak ada," jawab Yuna dengan gelengan pelan. Leo membawa tangan Yuna pada bibirnya. Menciumnya dengan lembut.
"Sini," Leo menggeser tidurnya. Dia meminta Yuna untuk naik ke atas ranjang bersamanya.
Pelan, Yuna naik ke atas ranjang. Dia merebahkan dirinya tepat disamping Baby Arai. Dia memiringkan tubuhnya untuk mengusap tangan mungil anaknya. Leo memeluknya dari belakang, menundukkan kepalanya dan mencium pundak Yuna.
__ADS_1
"Tidak perlu berpikir yang macam-macam," Leo berkata dengan masih menempelkan bibirnya di pundak Yuna. Pundak halus nan mulus yang tidak terbungkus kain apapun. Yuna menggunakan piyama tanpa lengan, hanya ada tali tipis yang terikat di lehernya.
"Jika melihat dia, ada sesuatu yang begitu menyakiti hatiku. Bahkan ada ketakutan dalam diri ku. Aku takut kehilanganmu, aku takut kau meninggalkanku. Untuk dia," ujar Yuna dengan pelan. Tangan Leo mendekapnya. "Bayangan malam dimana kau lebih memilih untuk pergi menemui dia lalu meninggalkan ku. Seolah berputar dalam ingatanku," lanjutnya.
"Itu aku yang dulu Yuna," jawab Leo. Dia menyesal telah memilih pilihan itu. Meninggalkan Yuna lalu memilih menemui Kiara. "Jangan takutkan apapun," Leo melepaskan tangannya dari pinggang Yuna lalu beralih untuk ikut menggenggam tangan Baby Arai. Tangan mereka bertiga bersatu, saling menggenggam. "Aku hanya mencintai mu, Yuna," bisik Leo ditelinga istrinya. Bisikan lembut penuh kasih. Menghapus ketakutan Yuna dan menggantinya dengan kasih yang luar biasa.
______
Hari yang berada, di kantor Vano.
Vano disambut dengan karyawan yang berbaris dengan rapi. Paling depan adalah sekertaris Mayla, dia membawa buket bunga.
"Selamat untuk pertunangannya Direktur," ucap semua karyawan dengan kompak. Wajah mereka berseri, hati mereka turut bahagia dengan kebahagiaan bossnya. Sekertaris Mayla memberikan buket bunga ditangannya pada Vano.
"Terima kasih," ucap Vano setelah menerimanya. Lalu sekertaris Mayla dan security yang menerima buket bunga dari semua karyawan. Vano mengucapkan banyak terima kasih untuk perhatian karyawannya. Tentu, dia langsung memberikan pengumuman bahwa bulan ini mereka akan mendapatkan bonus.
Semua bersorak dan menambah rasa cinta pada bossnya.
Buket-buket bunga itu di letakkan di ruangan Vano. Sekertaris Mayla yang menatanya. Pukul sembilan pagi, dia ada jadwal meeting di luar.
___ Siang hari pukul 11.15 di kantor Vano. Neva turun dari mobilnya, dia mengendarai mobilnya sendiri. Mobil hadiah dari Nyonya Mahaeswara atas pertunangannya.
"Selamat siangan Nona Neva," mereka dengan senyum manis menyapa Neva dengan ramah. Resepsionis berponi langsung siap untuk mengantarnya.
"Siang," jawab Neva ramah. Resepsionis berponi memberi tahunya bahwa Sang Direktur sedang berada di luar. Neva mengangguk. Dia sudah tahu itu, Vano sudah memberitahu dirinya. Kemudian, resepsionis mengantarnya ke ruangan Vano.
Sebelum resepsionis itu pergi, Neva berpesan padanya agar tidak memberi tahu Vano tentang kedatangannya.
"Baik Nona," jawab resepsionis berponi. Kemudian dia kembali dan meninggalkan Neva sendiri di ruangan Vano.
Neva membawa cake tiramisu kesukaan Vano. Dia berdoa semoga Vano tidak makan siang di luar terlebih dahulu. Dia memperhatikan bunga-bunga yang tertata rapi di ruangan. Beberapa bunga juga ada dimeja depannya. Keningnya berkerut. Kemudian, ia memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh saat menunggu. Dia berbalas chat pada Lula.
Tiga puluh menit kemudian, pintu ruangan Vano terbuka pelan. Seseorang melangkah masuk ke dalam. Wajah lelah itu langsung tersenyum lebar saat matanya melihat ada seseorang yang tengah tersenyum menyambutnya. Seorang gadis yang membuat hatinya teduh.
"Selamat siang Direktur," sapa sang gadis. Vano segera melangkah menujunya lalu dia duduk di sofa tepat disamping sang gadis.
"Siang, sayang," jawabnya. "Sudah lama? Kenapa tidak mengabari ku jika kau kesini?"
__ADS_1
"Bukan surprise dong kalau aku bilang dulu," jawab Neva.
"Tapi seharusnya kau bilang dulu, bagaimana jika dari meeting luar aku tidak kembali ke kantor?" kata Vano.
"Aku sudah tanya jadwal mu pada sekertaris Mayla," jawab Neva. "Jadi aku tahu kau jadwal kantor mu."
Vano terkekeh, "Hhhh, ok, ok. Kau paling pintar," ucap Vano. Dia menyandarkan punggungnya di sofa. Tangannya mengulur dan menyentuh lengan Neva, menarik lengan Neva dengan lembut untuk mendekat. Dia memeluk gadisnya. "Dari mana kau dapatkan nomor Mayla?"
"Dari Mama Mahaeswara," jawab Neva. Kepalanya bersandar di dada Vano.
Dengan senyum Vano berkata, "Kau sudah akrab dengan Mama ternyata," dia bahagia Neva bisa cepat akrab dengan mamanya.
"Tentu saja," jawab Neva. "Beliau sangat baik."
"Mama suka kepo lho."
"Hahaaa bukankah dua Nyonya memang punya kekepoan tingkat tinggi," sahut Neva. Vano mengangguk dengan tawa kecil. "Dan berjuta ide."
"Hahaa iya benar, dua Nyonya sangat kompak," sambung Vano. "Kita harus memberi hadiah pada dua Nyonya untuk ide mereka yang cemerlang," tangan Vano mengusap lembut rambut Neva. Kemudian, meninggalkan kecupan di pucuk kepala Neva.
"Oh, iya. Sejak kapan toko bunga berpindah kesini?" tanya Neva mengomentari buket-buket bunga yang tertata rapi.
"Para karyawan yang memberikannya pada ku. Ucapan selamat atas pertunangan kita," jawab Vano. Neva mengangguk.
"Oh iya, aku membawakan mu, cake tiramisu."
Neva melepas pelukan Vano. Kemudian dia membuka cake tiramisu yang dia bawa.
_______
Catatan Penulis 🥰
Terima kasih udah dengan sabar menunggu kelanjutan kisah ini 🥰🙏
Nantikan Up selanjutnya Ya.
Jangan lupa jempolnya di goyang. Like komen ya kawan tersayang 🥰 Padamu luv luv.
Lanjuuut Kalian luar biasa.
__ADS_1
Bersambung ....