Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Cantik itu Tidak Harus Langsing


__ADS_3

Deana memasuki ruangan kamar hotel yang baru saja selesai dipakai pengunjung. Dia menghela napas pelan saat memperhatikan seisi ruangan yang tampak berantakan, terutama di bagian kasur.


Dia mengekori seniornya yang terus saja bicara cara kerja mereka. Memperhatikan dengan saksama dan terjun langsung melakukan pekerjaan yang ternyata melelahkan, tetapi menyenangkan baginya.


Pekerjaan yang dia lakukan kali ini sudah menjadi bagian dalam hidupnya selama tiga tahun lebih. Tinggal bersama mertua tanpa asisten rumah tangga membuat Deana terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah sendiri.


"Selesai dari sini kita ke ruangan sebelah." Deana mengangguk, dia menyeka keringatnya setelah selesai memasang sprei.


"Ada apa?" tanya Deana heran saat seniornya itu memperlihatkan dengan lekat dirinya. Sorot matanya seakan sedang memberi perbandingan. "Apa saya melakukan kesalahan?" Deana memperhatikan sekitarnya, dia melihat ruangan sudah rapi dan tidak ada barang yang berpindah tempat atau rusak.


"Enggak. Aku cuma menyayangkan saja!"


Dahi Deana berkerut, tetapi wanita di hadapannya itu mengalihkan pandangan dan menghindarinya. "Ah, sudah selesai sekarang kita pindah!" Tidak mau membuat kesal, Deana memilih menurut.


Dia memperhatikan sekali lagi, ada kepuasan telah melakukan pekerjaan pertamanya dengan baik.


Mereka memasuki kamar hotel yang lebih berantakan dari sebelumnya. Deana melirik seniornya yang terlihat tampak kesal sampai berdecak beberapa kali.


"Apa sering seperti ini?"


Wanita yang sedang berkacak pinggang itu tidak menghiraukan dan malah melepas flatshoes miliknya. "Jangan banyak tanya, kerjakan saja. Kamu harus bekerja lebih keras!" Wanita itu langsung pergi ke kamar mandi dan menyuruh Deana mengurus sendirian bagian kasur.


Deana terkejut saat melihat bercak merah pada bagian sprei yang berwarna putih itu, beberapa terdapat noda dengan aroma yang membuatnya mual. "Apa mereka baru melakukan malam pertama?" gumamnya sambil melepas sprei tersebut, mencoba mengabaikan yang dilihatnya.


Tangan Deana sedikit gemetar, meski belum pernah mengalaminya dia cukup paham bagaimana rasa sakit yang dialami oleh si wanita untuk pertama kalinya.


"De ...."


Deana segera meninggalkan pekerjaannya dan berlari ke arah kamar mandi saat seniornya berteriak memanggil. Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu, bibirnya terkatup rapat melihat pemandangan di depannya.


"Astaga, beginilah risiko pekerjaan kita. Menyebalkan sekali sama semua ini."

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Deana bingung.


"Mana aku tahu. Kamu urus semua ini, aku mau pergi dulu!" Deana ditinggalkan begitu saja dalam keadaan yang membuatnya merinding.


Kaca cermin retak dan ada banyak jejak darah, dengan ragu Deana memasuki ruangan tersebut. Dia menutup mulutnya dengan tangan saat melihat ke dalam bathtub yang juga terdapat darah dan beberapa helai rambut panjang.


"Mereka bertengkar sampai separah ini!" Deana merasa tidak sanggup melihat darah di mana-mana, dia tidak memiliki phobia darah, tetapi tetap saja merasa lemas dan ketakutan ketika melihat darah yang berceceran di mana-mana.


Deana gegas keluar dari kamar mandi saat mendengar suara beberapa orang yang masuk ke kamar hotel itu. Ada seniornya yang tadi meninggalkan dirinya seorang diri, supervisor mereka, dan dua orang security.


"Bu, saya ...."


"Kamu harus fokus, Deana. Sekarang kamu sama Laras lakukan pekerjaan kalian. Sisanya biar saya yang urus!" Wanita yang baru memasuki usia empat puluh tahun itu mengajak kedua petugas keamanan itu memasuki kamar mandi, sedangkan Laras menarik tangan Deana.


"Mereka mau ngapain, Mbak?"


"Kayaknya mau kumpulkan bukti-bukti untuk dilaporkan ke polisi deh," bisik Laras. "Tapi enggak tahu juga, sih, ya. Aku harapnya enggak. Males banget kalau sampai harus ditanya-tanya sama polisi. Ribet!"


***


"Minum, De. Kalau makan enggak minum yang ada seret tenggorokanmu!" Deana tersenyum tipis menanggapi ucapan Laras yang menyodorkan es teh kepadanya.


Saat ini dia dan Laras sedang makan siang bersama di sebuah warung makan yang lokasinya tidak jauh dari hotel. Kejadian yang cukup membuatnya takut itu sebenarnya membuat tidak berselera makan. Namun, Laras ternyata lebih keras kepala dan menyeretnya untuk ikut dengannya makan siang bersama.


"De, aku boleh tanya sesuatu?"


"Boleh, Mbak. Mau tanya apa?"


Laras meletakkan sendoknya, menatap Deana dengan tatapan kasihan. Dia menghela napas pelan. "Sebenarnya sejak awal ketemu kamu pagi tadi aku sedikit penasaran. Kemarin, aku enggak sengaja lihat kamu ngobrol sama pria tampan gitu, terus wajah kamu sedih. Kalau boleh tahu dia siapa?"


Deana mengerutkan dahinya, mencoba mengingat siapa orang yang bicara dengannya kemarin. "Apa dia suami kamu?"

__ADS_1


Deana menghela napas, tidak menyangka jika yang dimaksud Laras suaminya. "Benar, De?"


"Iya, Mbak. Kayaknya, sih, bakal jadi mantan!" Deana menunduk, menyembunyikan kesedihannya. Mengingat tentang pernikahannya yang sudah berada di ambang kehancuran membuatnya kembali ingin menangis.


"Mantan?" Laras menyentuh tangan Deana. "Kamu yang sabar, ya. Aku enggak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi aku paham apa yang kamu rasakan karena aku pernah ada di posisi kamu!"


Deana menatap Laras yang sedang tersenyum kepadanya, senyum yang menyimpan luka.


"Hah, dulu aku pernah nikah sama pria yang enggak bisa bersyukur, De. Cuma setahun aja pernikahan kita." Laras terkekeh pelan. Menyuap makanannya lagi.


Deana memperhatikan Laras dengan saksama. Melihat seniornya yang sedang memendam luka membuat Deana sadar jika dirinya tidak sendiri. "Mantan suamiku selingkuh cuma karena aku jadi gemuk setelah melahirkan. Sinting, kan?"


"Apa wanita gemuk itu enggak berhak dicintai, Mbak?"


"Kenapa kamu tanya gitu?"


Deana meringis. Mengingat setiap ucapan yang keluar dari mulut Lanang. Pria yang menjadi cinta pertamanya itu. "Percaya deh, dulu aku juga berpikir begitu, De. Tapi setelah ketemu sama suamiku yang sekarang, aku sadar bukan salah kita jadi gemuk atau enggak menarik lagi, tapi salah pasangan kita yang enggak bisa bersyukur."


Deana terdiam. Tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Dia memilih untuk menikmati makan siangnya yang terasa makin hambar.


"Aku yakin suatu saat kamu bakal ketemu sama pria yang akan terima kamu apa adanya atau bahkan nantinya dia yang akan temani kamu sampai kamu berhasil jadi versi terbaik kamu!"


"Jadi langsing kayak Mbak Laras?"


Wanita berlesung pipi itu tertawa renyah karena pertanyaan polos yang Deana katakan. "Mungkin, tapi cantik enggak harus langsing kok. Cantik itu kalau kamu bisa menerima dirimu apa adanya dan percaya diri."


Deana mengangguk senang, dia tidak menyangka akan bertemu dengan rekan kerja yang positif dengannya. Tadi pagi-pagi saat baru saja sampai di tempat kerjanya, beberapa orang memperhatikan dirinya dengan tatapan tidak menyenangkan dan sangat mengganggu. Namun, bertemu dengan Laras perasaan itu perlahan menghilang dan berubah menjadi rasa syukur.


"De, aku ke toko samping dulu, ya. Ada yang mau kubeli!"


Deana hanya menanggapi dengan anggukan. Dia masih mencoba menikmati makan siangnya sampai seleranya itu benar-benar hilang ketika melihat Lanang menggandeng tangan Siska memasuki sebuah toko.

__ADS_1


"Mereka bahagia, sedangkan saya tidak!" Buru-buru Deana memalingkan wajah saat seseorang menghampirinya.


__ADS_2