
"Lo masak sebanyak ini buat siapa? Enggak mungkin lo masak semua ini dan suruh gue habisin, kan?" London memilih duduk, memperhatikan Deana yang hanya diam saja tanpa berminat untuk menyela ucapannya.
"Lo marah sama gue?"
"Saya ke kamar. Selamat makan!" Deana tidak memedulikan London dan pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar yang bernuansa putih itu, Deana menangis. Meratapi nasibnya yang benar-benar buruk dan merasa hancur karena ucapan mertuanya itu.
"Ada tamu!" Deana menoleh, dia menatap London yang berdiri di ambang pintu kamarnya. "Lo mau ke mana?"
Dahi Deana berkerut dalam, merasa bingung dengan pertanyaan London barusan. Apalagi saat pria tersebut mendekat lalu duduk di hadapannya, menghapus air matanya. "Lo mau keluar dengan keadaan begini? Mau buat gue dituduh udah buat lo sampai nangis sesegukan begini?"
Deana menunduk, tetapi dengan cepat London membuat Deana menatapnya kembali. "Ada tamu dan lo malah diam terus di sini?" Satu alis London terangkat saat tatapan Deana malah mengunci tatapannya. "Mau gue cium?"
"Ish!" Kesal dengan candaan London yang tidak tepat waktu itu, Deana mendorong tubuh London dan hampir terjengkang. Deana tidak peduli, dia memilih pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"Lo enggak tanya siapa tamu lo?" London memperhatikan Deana yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. "Ah, sudahlah. Lo juga bakal tahu!" Pria itu lekas pergi begitu saja, membuat Deana yang sebenarnya penasaran makin menjadi penasaran.
Wanita itu memutuskan keluar, melihat heran London yang sedang menikmati makan malamnya. Bukannya pergi ke ruang tamu, Deana malah menghampiri London. "Tamu lo bukan di sini!"
"Apa dia tamu saya?"
"Heem!"
"Siapa?" London yang sedang menyantap makan malamnya merasa terusik, dia meletakkan dengan sedikit kasar sendoknya. Menatap tajam ke arah Deana yang tidak bergeming. "Baiklah, saya akan temui dia!"
Dengan ragu Deana melangkah menuju ke ruang tamu, perasaannya begitu tidak tenang. Makin dekat dengan sosok yang menunggunya, Deana merasa sesak seakan ada yang menghimpitnya.
Dia tidak pernah merasakan sepanik ini sebelumnya hanya untuk bertemu dengan seseorang yang sedang menunggunya. Namun, kali ini dia merasa ada sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
Langkah Deana terhenti, saat melihat sosok yang sore tadi ingin ditemuinya. Sosok yang kini berkali-kali berhasil menyakiti.
"De!" Deana tersenyum tipis, mendengar sapaan lembut yang masuk ke telinganya dari pria tampan tersebut. Sapaan yang selama tiga tahun ke belakang selalu dirindukan.
Pria itu mendekat, menghampiri Deana yang memilih diam di tempat dengan tepi-tepi bibirnya yang berkedut.
"Ini!" Deana menatap pria di hadapannya itu lalu beralih kepada map yang disodorkan kepadanya. "Tanda tangani dan kita selesaikan semuanya!" ucap pria tersebut dengan begitu tenang.
Saat Deana tidak juga menerimanya, pria tersebut memaksa Deana untuk mengambilnya. "Lakukan sekarang, De!"
Deana menatap manik mata yang terlihat gelisah itu. "Buka dan tanda tangan. Aku enggak bisa lama-lama di sini, Siska menunggu di mobil!"
Mata Deana berkaca-kaca saat membuka isi map di tangannya itu. "Gugatan perceraian?" gumam Deana lirih, pria di hadapannya hanya menatap Deana tanpa memberi jawaban.
"Mas, benarkah kamu melakukan ini? Apa sama sekali enggak ada perasaan apa pun untuk saya?" Tanpa sadar tangan Deana meremat berkas di tangannya, sudah ada tanda tangan Lanang di sana dan tinggal menunggu tanda tangannya saja. "Saya cinta sama kamu, Mas. Sungguh! Saya sudah memaafkan kebohongan yang kamu lakukan dan enggak masalah kalau rumah itu untuk Siska, tapi bisakah kita tetap bersama?"
Deana menangis dan berharap Lanang akan merasa kasihan lalu membatalkan rencananya itu. "De, sadar!" Suara Lanang meninggi. Pria itu terlihat begitu kesal lalu memegang kedua pundak Deana kuat. "Aku enggak pernah cinta sama kamu. Sudah banyak luka yang aku dan keluargaku beri untukmu, jadi mari berpisah!"
"Kamu akan menyesal kalau menolak melakukannya!" Lanang marah. Mendorong kuat tubuh Deana. "Akan aku tunggu sampai besok, jangan membuatku marah, De!" Pria itu memilih pergi begitu saja. Mengabaikan Deana yang terduduk di lantai dan menangis sesegukan.
"Pakai ini buat tanda tangan!" London memberikan pena kepada Deana. Wanita itu hanya menatap London yang berdiri di dekatnya itu dengan kesal lalu menggeleng. "Apa lo akan tetap keras kepala? Suami lo sama sekali enggak peduli sama lo. Kalau dia memang cinta sama lo, dia enggak akan mendua!" Kali ini London berjongkok di depan Deana, memaksa wanita tersebut menerima pena itu.
"Kenapa kamu begitu memaksa saya melakukannya?"
London mengangkat kedua bahunya. Dia menghela napas pelan lalu berdiri dan pergi meninggalkan Deana yang masih bergeming.
"Benarkah ini yang terbaik?"
***
__ADS_1
"Kali ini gue yang buat sarapan. Lo harus berterima kasih sama gue!" Deana tidak memedulikan ucapan London. Dia memaksakan tubuhnya duduk dan menikmati sarapan yang sudah dibuat.
"Lo sudah tanda tangan?" Deana mengangguk. "Itu bagus!"
Tangan Deana memegang kuat sendok di tangannya, dia menatap London yang terlihat begitu santai dan tidak merasa bersalah karena ucapannya. "Kenapa?"
"Harusnya saya yang tanya kenapa! Kenapa kamu kelihatan bahagia saat temanmu dalam masalah?"
London mengerut dahinya lalu tersenyum tipis. "Apa lo sekarang anggap gue teman? Bukan musuh?"
Deana mendengkus kesal. Dia sedang tidak ingin bercanda. "Gue cuma yakin kalau seharusnya lo dan suami lo itu berpisah. De, harusnya lo sadar pria yang berani mendua, berarti dia bukan orang yang setia. Apa lo yakin kalau selama ini dia selalu menjaga nama baik lo?"
"Maksudnya?"
"Lo benar-benar merasa kalau dia enggak pernah mempermalukan lo?"
"Saya tahu Mas Lanang. Dia bukan orang yang suka membicarakan orang lain!"
"Seyakin itu?" Deana mengangguk malas. "Gue enggak sangka masih ada orang yang berpikiran baik ke orang yang jelas-jelas sudah menyakiti. Sudahlah, lebih baik kita sarapan, lo harus kerja dan jangan sampai kayak kemarin!"
Deana mendelik kesal. Hampir saja dia melempar sendok ke wajah London. "Bukannya saya begitu karena kamu. Apa masalah kamu sama saya sampai mengerjai saya?"
"Lo benar-benar enggak sadar?" Deana menggeleng, merasa bingung sendiri dan merasa tidak nyaman dengan tatapan London. "Lo itu sudah waktunya membakar lemak di tubuh, untuk itu gue berbaik hati membantu lo olahraga."
"Tapi bukan begitu caranya. Kemarin sangat menyiksa karena baru pertama kali menaiki anak tangga sebanyak itu!"
London tidak menggubris ucapan Deana. Dia memilih menikmati sarapannya yang dia buat sendiri. "Sebenarnya saya penasaran, dari mana Mas Lanang tahu kalau saya tinggal di sini? Kamu yang kasih tahu?"
"Menurut lo?"
__ADS_1
"Jadi kamu, tapi kenapa?"