Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Semua Karena Permohonan Lucas


__ADS_3

Lanang memang tidak punya perasaan. Dia benar-benar tega kepada Deana. Pria itu dengan santainya mengatakan kalau rumah milik orang tua Deana itu sudah dia berikan kepada Siska, parahnya lagi pria itu mengusir Deana malam itu juga.


Deana bergeming di depan rumah orang tuanya, rumah yang pernah dibeli oleh Lanang untuk membayar kepada rentenir dan kembalikan kepada Deana dengan dijadikan mahar itu. Entah berapa kali Deana menyeka air matanya yang sama sekali tidak mau diajak bekerja sama.


"Ayah, Ibu, maafkan, De!" gumam Deana lirih. Merasa pegal karena lama berdiri di depan rumah tersebut, dia memutuskan untuk pergi walau tidak tahu tujuannya.


Deana sebenarnya bisa saja menginap di rumah Yumi untuk semalam, tetapi dia tahu Heru tidak pernah menyukainya. Terlebih pria berpostur tubuh subur itu selalu saja mengejeknya jika ada kesempatan.


Dia menyusuri jalanan yang begitu sepi, padahal biasanya di pos ronda yang letaknya tidak jauh dari rumah Deana itu, banyak pemuda yang berada di sana. Namun, kali ini dia sama sekali tidak melihat mereka.


Langkahnya makin terasa berat karena barang yang dibawanya dan juga telah berjalan cukup jauh dari rumah, melewati persimpangan jalan menuju ke jalan raya


Lagi-lagi Deana memilih mengistirahatkan tubuhnya di emperan toko sembako yang tidak buka. Dia kembali menangis, mengabaikan setiap pejalan kaki yang lewat memperhatikan dengan heran.


"Nona!" Deana mendongakkan kepala, menyeka air matanya untuk melihat dengan jelas siapa orang yang berada di depannya saat ini.


"Kamu?" Deana memicingkan mata, pria jangkung yang berdiri di depannya itu menyodorkan tas miliknya. "Makasih!" Deana memeluk tasnya begitu erat. Tas lusuh pemberian dari ayahnya itu menjadi harta paling berharga saat ini dia punya.


Deana kembali menangis, bahkan sampai sesegukan. Dia tidak peduli dengan pria yang masih setia berada di sisinya itu.


Lucas baru saja selesai bicara dengan London di telepon, dia hanya bisa menghela napas pelan saat melihat Deana yang masih betah menangis sambil memeluk tasnya itu.


"Nona ...."


Deana tidak menggubris panggilan Lucas. Pria itu menjadi waswas saat beberapa orang memperhatikan mereka dengan curiga. "Nona, sebaiknya kita pergi dari sini!"


Deana mengangkat wajahnya. Dia menyeka air matanya yang membasahi wajahnya itu lalu berdiri, meski dengan sempoyongan. "Jangan panggil saya Nona. Saya bukan tuan kamu!"


Deana cukup sabar selama ini mendengar Lucas terus saja memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Terlalu berlebihan untuknya yang hanya orang biasa.


"Baiklah, tapi Anda mau ke mana?" Deana menggeleng. Dia tidak tahu akan ke mana karena tidak ada tempat yang bisa dia tuju. "Kalau begitu Anda ikut saya saja!"

__ADS_1


Deana memicingkan mata, menatap Lucas curiga. Dia lalu mundur beberapa langkah sebab merasa takut Lucas akan melakukan hal buruk kepadanya.


"Anda takut?"


"Enggak!" jawab Deana cepat. "Buat apa saya takut sama kamu. Toh kalau kamu berani macam-macam, saya tinggal teriak!"


Lucas hanya mengangguk, sedikit menarik tepi-tepi bibirnya karena jawaban Deana tersebut. "Anda benar. Lagipula Anda tidak perlu takut, saya tidak tertarik untuk melakukan hal buruk kepada Anda."


"Kenapa? Karena saya miskin? Atau karena saya enggak cantik?"


Dengan ekspresi yang selalu datar, Lucas hanya menggeleng. Dia beralih mengambil tas besar milik Deana dan memasukkannya ke mobil. "Saya akan antar Anda ke suatu tempat!"


"Hah? Ke mana?" Bukan memberi jawaban atas kebingungan Deana, pria tersebut membuka pintu mobilnya dan menyuruh untuk masuk. "Apa ... oh, iya, iya." Deana hendak bertanya, tetapi melihat tatapan Lucas yang tidak ingin dibantah Deana memutuskan untuk menurut.


Di dalam mobil yang begitu sunyi, Deana sesekali melirik ke arah Lucas yang menyetir dengan tenang. "Kenapa Anda terus melihat ke arah saya? Apa ada yang mau ditanyakan?"


Deana mengangguk, tetapi bibirnya masih saja terkatup rapat. Bingung untuk memulai dari mana. "Katakan saja!" Lucas kembali bicara setelah cukup lama menunggu Deana. Dia melirik Deana yang malah kelihatan resah.


"Nona!"


"Tapi tolong jangan panggil saya begitu." Deana bicara dengan suara lirih, penuh harapan Lucas mau mendengarkan.


"Baiklah!"


"Sebenarnya kamu mau bawa saya ke mana?" Lucas hanya melirik dan tersenyum tipis, tanpa memberi jawaban apa pun. "Rahasia?" Pria itu mengangguk.


"Hah. Okelah, terserah kamu saja. Tapi yang ini saya harap kamu bisa jawab!" Lagi, pria itu memberi reaksi seperti biasanya, Deana yang sedang lara ati makin menjadi kesal karena ulah pria tersebut.


"Saya tidak janji akan menjawab!"


"Bodo, deh. Begini saja, karena saya sedang kesal saya cuma mau bilang kamu itu bukan robot, jadi tolong kalau bicara yang normal saja. Enggak perlu formal begitu, capek tau dengarnya!" Lucas menoleh untuk dapat menatap Deana beberapa detik, dia cukup terkejut ketika Deana yang tiba-tiba saja bicara dengan intonasi meninggi.

__ADS_1


"Paham, kan?" tanya Deana dengan napas ngos-ngosan.


***


"Kamu ngapain suruh Lucas bawa saya ke sini?" Deana tidak menyangka jika Lucas akan membawanya ke apartemen London. Kali ini dia dengan jeli memperhatikan lingkungan di area gedung apartemen London yang ternyata merupakan apartemen yang elite, berbeda saat awal dirinya datang yang sama sekali tidak menyadari hal itu.


"Sebenarnya gue males tampung lo di sini, cuma Lucas yang mohon sama gue. Dia enggak tega lihat lo nangis di jalanan kayak pengemis!" Deana melotot mendengar jawaban London yang sama sekali tidak bisa direm. Dia mengambil bantal di sofa dan melemparkan ke arah pria tersebut. Beruntung saja London dengan cepat menghindari bantal itu yang mendarat di lantai.


"Tega banget kamu samain saya sama pengemis!"


London menaikkan satu alisnya memperhatikan Deana yang kembali terlihat sedih, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. "Padahal saya nangis juga karena ulah dia!"


"Suami lo?" Deana mengangguk. Dia menunduk dan benar-benar menangis saat ini.


London menghela napas pelan, merasa kasihan kepada Deana, dia perlahan mendekat dan duduk di sampingnya. London dengan ragu menepuk pelan pundak Deana. "Buat apa lo tangisin pria macam dia? Lo enggak seharusnya buang-buang air mata lo itu buat dia!"


"Tapi saya cinta sama dia!"


London berdecih mendengar jawaban Deana itu, dia memilih menggeser tubuhnya menjauh. "Lo bisa-bisanya cinta sama orang yang enggak bisa hargai lo? Apa lo masih buta setelah gue suruh Lucas kasih lihat foto-foto mesra mereka?"


Deana menatap London dengan ekspresi terkejut. Tidak menyangka jika Lucas melakukan hal itu atas perintah London. "Jadi kamu ...."


"Gue kasihan saja sama lo, jadi gue bantu lo untuk kumpulkan bukti."


"Si*lan!" Tanpa London duga, Deana malah mengamuk. Wanita tersebut melompat ke tubuh London dan menjambak rambut pria itu.


"Akh, lepas, gajah!" Deana tidak peduli, dia terus menghajar London. Tidak peduli dengan erangan kesakitan yang pria tersebut rasakan, kali ini Deana ingin melampiaskan kekesalannya. Bukan hanya menjambak rambut pria tersebut, dia juga memukuli tubuh London dengan bantal. "Kenapa?"


London terkejut ketika serangan dari Deana berhenti dan wanita tersebut menjauh darinya. London menatap heran saat Deana terduduk di sampingnya sambil menangis. "Gue cuma bantu lo dan enggak bermaksud buat lo makin sedih!"


Deana menggeleng sambil memegangi perutnya. "Lo lapar?" Dengan polosnya Deana mengangguk dan berhasil membuat London tertawa renyah.

__ADS_1


__ADS_2