Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Membakar Lemak di Tubuh Dengan Olahraga


__ADS_3

"Harusnya lo berterima kasih sama gue yang mau tampung lo, bahkan kasih makan." London menarik kursi dan duduk di hadapan Deana yang sedang menyantap makanannya dengan lahap.


wanita bertubuh subur itu, seakan tidak peduli dengan sekitarnya. Dia sama sekali tidak menghiraukan London yang terus menatapnya heran. Sesekali menggeleng kepala melihat tingkah makannya yang buru-buru.


Satu alis London terangkat saat melihat Deana menggeser mangkuk bekas makannya, wanita itu tanpa malu bersendawa keras. "Gue kayaknya tahu alasan suami lo sampai selingkuh!"


Gerakan tangan Deana terhenti, wanita tersebut menatap London yang sedang mencondongkan tubuh ke arahnya dengan rasa penasaran. "Lo enggak sadar kalau tingkah lo barusan buat orang-orang di sekitar jadi enggak betah lama-lama dekat lo?"


"Memang saya kenapa?" Pertanyaan polos Deana berhasil membuat London frustrasi. Pria itu menegakkan tubuhnya lalu menunjuk ke wajah Deana. "Kamu marah sama saya?"


"Sumpah, gue nyesel banget pernah apresiasi kepintaran lo dulu waktu sekolah, ternyata lo lebih beg* dari yang gue kira!" London mengambil mangkuk kotor bekas makan Deana dan membawanya ke dapur.


London menaruh dengan kasar mangkuk tersebut ke wastafel lalu menatap dengan begitu kesal beda tidak berdosa itu. "Salah apa gue sampai harus berurusan sama gajah itu?" gumam London yang sebenarnya sama sekali tidak berarti apa-apa.


Namun, pria tersebut cukup terkejut sampai tidak sanggup untuk mendekati Deana yang saat ini kembali menangis. Wanita itu menunduk sambil terisak.


Menyesal dengan sikap dan ucapannya yang keterlaluan, London mendekati Deana dan mengusap punggungnya yang bergetar karena isakannya. "De, gue ...."


"Makasih karena kamu sudah sadarkan saya, Jang. Kamu benar, mana ada orang yang betah sama orang kayak saya!" Deana mengangkat wajahnya, menatap London yang terlihat begitu bersalah.


Pria itu berdeham lalu mengangguk dan kembali duduk di tempatnya semula. "Apa saya enggak pantas dicintai, Jang?"


"Kata siapa?"


"Kamu!"


London melongo karena tuduhan wanita di hadapannya barusan. Dia tidak pernah mengatakan kalau wanita itu tidak pantas dicintai. London mengacak rambutnya ketika sadar ucapannya telah menyinggung parah Deana.


"Sorry, maksud gue bukan gitu. Gue cuma heran kenapa lo bisa-bisanya biasa saja sendawa di depan gue!"

__ADS_1


"Maaf!" Deana menyeka air matanya dan bangkit berdiri.


London hanya memperhatikan langkah Deana yang menjauh dan saat melihat wanita itu membawa tasnya, dengan cepat London menghampiri lalu merebutnya. "Mau ke mana lo?"


"Pergi!" Deana mencoba merebut tas miliknya, sayang London sudah lebih dulu menjauhkan benda itu.


"Gue enggak usir lo!" London menarik tangan Deana, meski dengan kesusahan menuju ke kamar tamu yang letaknya berada di samping ruang makan. "Malam ini lo tidur di sini. Enggak usah ada pikiran mau pergi, karena gue tahu lo enggak punya tujuan!"


Deana masih bergeming di depan pintu kamar tamu itu. Dia menatap London dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kamu baik? Kamu kasihan sama saya?" London hanya berdeham dan mendorong tubuh Deana agar masuk ke dalam.


"Karena gue lagi baik sama lo, jangan buat gue marah."


***


"Semoga dia suka sama masakannya!" Deana menatap dengan perasaan puas dan lega karena masakan yang dia buat sudah terhidang semua di meja makan.


Semalam dia menyadari jika tidak seharusnya dia melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan di depan orang lain, bersendawa. Untuk menebus kesalahannya dan sebagai ucapan terima kasih karena telah ditampung, Deana memutuskan untuk membuat sarapan.


"Iya, saya harap kamu suka!" Bukan hanya memasak saja, Deana bahkan melayani London seperti saat dia melayani Lanang. Wanita tersebut mengambilkan makanan untuk London dengan penuh kehati-hatian.


"Gimana, enak?"


"Gue enggak tahu kalau lo pintar masak. Tahu begini semalam lo masak sendiri saja!" Deana memanyunkan bibirnya sejenak lalu tersenyum manis kepada pria yang sedang menyantap dengan lahap sarapannya itu.


"Untuk yang semalam, saya minta maaf. Kamu benar, seharusnya saya menjaga sikap. Seharusnya saya enggak bersendawa di depan orang lain!"


London yang sedang menguyah makanan itu menatap Deana lamat lalu mengangguk saja. "Oh, ya. Nanti sepulang kerja saya mau cari tempat tinggal. Tapi untuk sementara saya titip tas di sini dulu, ya!"


"Lo enggak perlu lakuin itu!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Gue pikir mending gue pekerjaaan lo di sini juga. Seenggaknya kalau gue pengin makan makanan lo, gue enggak perlu bingung!"


Deana terhenyak mendengar ucapan yang mengalir lancar dari mulut pria tersebut. Dia terdiam, tidak mengiyakan atau menolaknya karena tidak tahu pria tersebut hanya becanda atau tidak.


Tidak mendapat respons apa pun dari Deana membuat London kesal, dia mengerutkan dahinya saat melihat Deana yang malah menatapnya sambil melamun itu. "Lo ngapain tatap gue gitu? Suka?"


"Hah? Enggak!" Deana menjadi salah tingkah karena tuduhan London barusan. "Eh, kamu makannya sudah?"


"Gue sudah kenyang. Lo kasih makan gue enggak kira-kira!" London beranjak pergi ke kamarnya, meninggalkan Deana yang termenung memperhatikan makanan yang tersisa sedikit, tidak menyangka London memakan makanannya dengan lahap.


"Lo masih mau melamun di sana? Enggak kerja?" London melirik arlojinya di pergelangan tangan kirinya. "Satu jam lagi waktu lo masuk kerja!"


Deana terkejut dan menyadari jika dirinya hampir terlambat. Melihat London yang sudah akan pergi, dia akhirnya meminta London memberinya tumpangan.


"Gue tunggu lo sepuluh menit saja. Lebih dari itu, jangan harap gue masih tunggu!" London segera keluar dari apartemen tanpa menunggu respons dari Deana.


Deana dengan cepat membereskan makanan di meja dan pergi ke kamarnya untuk mengambil tas, sayang sesampainya di lobi Deana tidak melihat London di mana pun. Saat bertanya kepada security dirinya baru tahu kalau London sudah pergi dua menit lalu di saat dirinya masih di lift.


"Dia jahat banget, kenapa enggak sabaran, sih?" Deana segera menghubungi London, tetapi kekesalannya makin memuncak saat London dengan santainya mengatakan jika dirinya malas menunggu dan menyuruh Deana untuk memesan taksi saja.


"Tahu begini harusnya dia enggak kasih harapan!" Tidak mau terlambat di hari keduanya kerja, Deana gegas mencari taksi untuk pergi ke hotel.


Tidak menemukan taksi ataupun angkutan umum yang lewat, Deana memilih berjalan kaki hingga menemukan angkutan umum.


Di saat Deana sedang dikejar waktu untuk sampai ke hotel, London yang ternyata masih berada di area apartemen itu memperhatikan Deana dari dalam mobil dengan tawa puas melihat kepayahan wanita tersebut karena susah mendapatkan taksi, bahkan ojek saja tidak ada yang lewat.


"Pak, bagaimana kalau dia terlambat sampai ke tempat kerja karena tidak ada angkutan umum?"

__ADS_1


"Biarkan saja deh. Lagipula dengan gitu dia bisa olahraga! Kasihan lemak-lemak di tubuhnya kelamaan ditimbun."


__ADS_2