Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Keputusan Mutlak


__ADS_3

"Saya sudah menyelesaikan semuanya, jadi kamu tidak perlu ke kantor polisi!" Deana mengangguk, dia memang tidak berharap untuk kembali pergi ke tempat yang membuatnya memiliki trauma berat, walau terakhir kali pergi ke sana semua ketakutannya tidak terjadi.


"Kakak iparmu sekarang sudah ditetapkan menjadi tersangka!" Kali ini Deana dibuat terkejut. Dia sama sekali tidak terpikir untuk menanyakannya. Potongan somay yang hampir masuk ke mulutnya itu kembali mendarat di piring, dia menatap Lucas yang juga menatapnya. "Apa kamu menyesal?"


"Enggak. Hanya saja saya enggak menyangka kalau Kak Alumi berani melakukannya." Dia menghela napas pelan lalu melirik ke piring somaynya. "Berapa lama dia akan dipenjara?"


"Kenapa tidak bertanya saja dengan suamimu?" Deana mencebik kesal. Dia menggeleng dan memilih memakan somaynya yang tertunda. "Besok keputusan tentang perceraian kalian. Apa kamu akan datang?"


"Apa harus?" tanya Deana sedih. Dia sama sekali tidak menyangka jika dalam hitungan jam akan berubah status menjadi seorang janda. Impiannya menikah sekali seumur hidup dengan pria yang dicintai ternyata tidak terjadi.


"Saya akan temani kalau kamu mau datang?" Deana memilih diam dan kembali memasukkan somay ke mulutnya. Dia mengunyah dengan perlahan, pikirannya kembali kacau.


Beberapa hari Deana berhasil melupakan permasalahannya dengan Lanang karena aktivitasnya yang padat bersama Lingga. Namun, perkataan Lucas baru saja membuatnya kembali tidak bersemangat dan sedih.


"Baiklah, saya tidak bisa memaksa kamu." Deana mengangguk dan tersenyum masam. "Sepertinya kamu berhasil menurunkan berat badan dan yah ... Lingga sepertinya berhasil membuatnya merawat wajah juga!"


Deana menyentuh wajahnya. "Kamu benar. Tapi, apa semua ini benar? Untuk apa saya melakukan semua ini?"


"Kamu menyesal melakukannya?"


"Sedikit!"


Lucas menyangga kepalanya, menatap Deana yang sedang mengunyah somaynya lekat. Dia kembali menegakkan tubuhnya dan berkata, "Memang disayangkan di saat kamu akan menjadi wanita yang cantik seperti diidamkan pria itu, kalian sudah tidak lagi bersama. Tapi kenapa tidak berpikir jika mungkin ada orang yang sebenarnya memiliki perasaan denganmu? Dengan begitu pikiran menyesal atau tidak berguna, tidak akan ada lagi." Pria tersebut menyerahkan tisu kepada Deana untuk membersihkan sudut bibirnya yang terdapat kecap.


"Siapa?"


Lucas tidak menjawab dan hanya menarik sudut bibirnya sedikit, membuat Deana mengerutkan dahinya. Melirik ke arlojinya lalu berdiri. "Sudah malam dan saya harus pergi, habiskan makananmu!"


Deana hanya diam sambil memperhatikan Lucas yang pergi meninggalkannya seorang diri di apartemen yang luas itu.

__ADS_1


"Benarkah yang dia katakan? Tapi siapa?" Wanita tersebut menggelengkan kepala untuk menepis pikiran anehnya yang tiba-tiba saja datang dan kembali menikmati somay sampai habis.


"Hah, ternyata sudah hampir dua bulan dia enggak ada di sini! Bahkan enggak pernah kasih kabar!" Deana beranjak pergi ke dapur dan meletakkan piring di wastafel.


Baru saja dirinya menghidupkan keran, terdengar suara bel berbunyi. Deana terdiam sesaat, dia tidak memiliki teman yang bisa disuruhnya datang atau janji untuk bertemu.


"Mungkinkah dia?" Deana menjadi bersemangat dan tanpa sadar tepi-tepi bibirnya tertarik sampai membuat lengkungan ke atas. Dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, Deana gegas pergi untuk mengetahui siapa yang bertamu.


Deana terdiam ketika baru saja membuka pintu, sama sekali tidak menyangka jika tamunya bukan orang yang dipikirkan. "Kamu? Mau apa ke sini?"


"Kenapa wajahmu gugup begitu? Kamu enggak suka?" Deana menahan pria di hadapannya itu yang memaksa masuk, dia tidak akan mengizinkan Lanang masuk begitu saja ke apartemen. "Apa pria itu di dalam?"


"Pergilah. Kenapa kamu ke sini?"


"Menurutmu?" Satu alis pria tersebut naik, menatap Deana yang terlihat begitu gugup. "Apa yang kamu sembunyikan?"


"Enggak ada apa pun. Pergilah!"


"Mas, lepas!" Deana mencoba melawan, tetapi Lanang makin kuat mencengkeramnya. "Kamu kenapa begini, Mas?"


Mata Deana sudah berkaca-kaca, merasakan sakit pada lengannya dan kini pada rahangnya karena dijepit kuat pria di hadapannya itu. "Apa kamu sama sekali enggak merasa bersalah?"


Deana terus memberontak dengan memukul lengan Lanang, tetapi sama sekali tidak berimbas apa pun. "Kenapa kamu membuat kesaksian yang mengakibatkan Kak Alumi dipenjara?" Pria itu bicara dengan begitu dekat, Deana merasa geli karena napas Lanang mengenai wajahnya. Dia sampai memejamkan mata dan berharap ada yang datang menolongnya.


"Kenapa menangis? Kamu sedih karena aku bersikap kasar?" Deana membuka mata, menatap tajam kepada Lanang yang sudah melepasnya dan menjauh. Pria itu tersenyum mengejek kepadanya.


"Kenapa kamu kira karena saya Kak Alumi dipenjara? Itu kesalahannya sendiri!"


"Kamu ...." Lanang menahan amarah karena keberanian Deana kepadanya. Pria itu akan menampar wajah Deana, tetapi dia urungkan. Tangannya yang sudah terayun hanya menggantung di udara sesaat.

__ADS_1


"Hah. Baiklah, sebenarnya aku juga enggak peduli dengannya!" Pria tersebut menyugar rambutnya dan kembali bicara. "Aku ke sini cuma mau mengingatkan kalau besok keputusan perceraian kita. Aku ke sini mau mengembalikan ini!"


Dengan ragu Deana menerima cincin yang dikeluarkan Lanang dari saku celananya. "Ambillah!"


Deana memperhatikan cincin perak yang tampak asing baginya itu. "Itu cincin pemberian ayahmu. Dia memberikannya untukku sebagai menantu, tapi karena sebentar lagi kita bercerai, aku memilih mengembalikannya!"


"Aku enggak mau ada satu pun barangmu di sekitarku."


Deana menyerahkan cincin tersebut kepada Lanang kembali. "Ambil saja. Barang itu sudah diberikan Ayah, jadi saya enggak punya hak menyimpannya!"


"Berikan saja sama pemilik apartemen ini!" Lanang mengabaikan cincin tersebut dan membuat Deana memilih mengenggam cincin tersebut begitu erat.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Lanang memilih pergi menjauh. Di depan lift yang masih tertutup pria itu menerima panggilan. Terlihat begitu cemas, sampai-sampai urat-urat di tangannya terlihat karena mengenggam ponsel dengan kuat.


Deana melihatnya dengan jelas, dia ingin menghampiri Lanang dan bertanya. Namun tidak memiliki keberanian untuk melakukannya dan memilih masuk ke apartemen.


***


"Apa Anda sama sekali tidak mau menemuinya, Pak? Dia terlihat begitu rapuh!"


Pria yang sedang berolahraga dengan menggunakan treadmill itu tampak santai dan sama sekali tidak mengurangi kecepatannya. "Besok sidang putusan perceraiannya. Sebentar lagi dia akan berstatus sendiri."


Pria yang sedang berolahraga itu turun dari treadmill dan mengambil handuk kecil dari pria yang memilih duduk di sofa. "Kenapa lo masih pakai bahasa formal di luar jam kerja?" Pria tersebut berdecih sebal lalu melempar handuk tersebut ke wajah lawannya dan pergi ke dapur.


"Sialan! Kalau lo enggak mau gue pakai bahasa formal jangan terus sembunyi! Temui dia dan tanggung jawab." Pria tersebut menghela napas kasar lalu mengekori pria yang diajaknya bicara itu. "Don, ayolah. Sudah cukup lo sembunyi!"


"Oh, ayolah. Lo tahu gue paling enggak suka lihat cewek gemuk dan lo suruh gue balik di saat dia masih dengan tubuhnya itu?"


"Astaga, yang benar saja! Kasihan sekali nasibnya, disukai pria kayak lo yang doyan wanita seksi! Kalau memang lo suka sama wanita bertubuh seksi, kenapa enggak sama Mia saja?"

__ADS_1


London hanya mengangkat kedua bahunya, tidak peduli dengan ucapan sepupunya itu. Dia memilih menghilangkan dahaganya dengan meminum air dingin. "Gue akan pulang setelah dia kurus! Titik."


__ADS_2