
"Kejutan yang sangat mengerikan!" Deana sama sekali tidak mengerti kenapa London terlihat begitu terobsesi untuk menghancurkan Lanang, padahal jelas-jelas yang memiliki masalah dengan pria itu bukan London, tetapi dirinya.
Hanya saja London terlihat sekali memang ingin menghancurkannya. Deana sudah tidak tahan lagi melihat keangkuhan London, sehingga dia memutuskan untuk masuk ke kost, meninggalkan London dengan segala kebahagiaannya itu.
Baru saja masuk ke ruangan yang seukuran dengan kamarnya di apartemen London itu, Deana memilih kembali menemui pria tersebut. Ada hal mengganjal yang ingin dia tanyakan.
"Gue yakin lo bakal balik. Kenapa? Penasaran?" London dengan sikap menyebalkannya itu menyandarkan tubuhnya pada mobil. Dengan bersedekap, dia memperhatikan Deana yang tampak enggan menatapnya.
"Apa kamu memiliki dendam sama Mas Lanang?"
"Kenapa tanya begitu?" London menegakkan tubuhnya. Dia menghampiri Deana, untuk melihat jelas wajah Deana yang terus saja mengabaikannya, London memegang kepala Deana dan memaksa wanita tersebut menatapnya.
"Gue paling enggak suka kalau orang yang gue suka menderita karena orang lain. Siapa pun orang itu, bakal gue buat dia menderita!" mata Deana membelalak setelah mendengarnya, dia sangat tidak menyangka London akan mengatakan hal seperti itu tanpa ragu, setelah sebelumnya pria tersebut terus saja menghindari untuk menjawab. "Gue memang suka sama lo sejak dulu, semua hal yang gue lakukan ke lo semuanya biar gue bisa terus lihat lo dan sayangnya lo terlalu bego untuk itu!"
Deana mencoba melepaskan diri dari London, tetapi pria tersebut menahannya. London malah memeluknya dengan menyuruh Deana mendengarkan irama detak jantungnya.
"Ah, sialan lo!" Deana mendorong tubuh London setelah berhasil menginjak kaki dengan ujung hak heels yang dia pakai.
"Kamu kira saya bakal percaya?" Deana mengabaikan London yang mengaduh kesakitan. "Yang kamu lakukan selama ini bukan karena perasaan suka, tapi karena kamu suka merundung orang lain. Lagipula saya tahu kamu paling enggak suka dengan wanita bertubuh besar!" Puas mengatakannya, tanpa memedulikan teriakan London yang terus memanggilnya, Deana memutuskan untuk pergi.
***
"Mau apa lo ke sini?" Deana menggulir bola matanya, mengabaikan London yang menatapnya tidak suka. "Mau minta maaf karena semalam? Sudah gue maafin, asal lo ...."
"Saya ke sini mau ambil barang yang ketinggalan! Boleh masuk?" Tanpa mengatakan apa pun lagi, London menggeser tubuhnya dari ambang pintu agar Deana masuk.
__ADS_1
Pria tersebut hanya memperhatikan Deana yang langsung pergi ke kamarnya. Dia memilih untuk melanjutkan sarapan yang tertunda.
"Lo enggak ikut sarapan?" tanya London kepada Deana yang keluar dari kamar. Deana hanya melirik London yang sedang menikmati sarapannya. Ada keinginan untuk ikut bergabung, tetapi dia masih kesal karena kejadian semalam.
Deana hanya menggeleng, dia memilih mengabaikan pria tersebut. Namun, akhirnya memilih menghampiri pria tersebut. "Lo mau gabung?"
"Bukan itu!"
"Lantas?" tanya London sambil mengunyah sosis gorengnya.
"Untuk kejadian semalam saya minta maaf. Saya ... saya kesal karena kamu sudah jahat sama Mas Lanang dan karena kamu sudah bohong!"
London mengerutkan alisnya, menatap Deana lekat. "Bohong? Gue bohong tentang apa?"
Deana menggeleng. Malas untuk mengatakannya. "Lo kira gue bohong soal perasaan gue ke lo?"
"Setelah apa yang kamu lakukan sama saya selama ini, kamu kira saya percaya? Kamu merundung saya di sekolah dan hampir buat saya memilih menyerah!" Dada Deana naik turun. Dia menjadi begitu emosi dan memilih untuk meredamnya dengan menghela napas perlahan, sedangkan London hanya diam memperhatikan. "Bahkan saya tahu kalau saya bukan tipe kamu, jadi semua yang kamu katakan semalam itu bohong!"
London dengan santai menghampiri Deana. Dia berdiri begitu dekat dengan Deana dan memegang kedua bahunya. "Gue sudah bilang semua yang gue lakukan biar bisa dekat sama lo dan soal lo bukan tipe gue dan buat lo hampir menyerah dalam hidup, gue minta maaf."
Deana menunduk, tidak kuasa menahan diri untuk terus menatap mata London. "Asal lo tahu, saat gue dengar lo nikah, gue berusaha untuk baik-baik saja walau gue terluka karena merasa telat untuk jujur sama lo!" Deana mengangkat wajahnya dan kembali menatap London. Dari sorot matanya, Deana dapat merasakan kalau yang dikatakan London itu benar.
"Gue berharap lo bahagia, tapi ternyata lo enggak bahagia dan itu yang buat gue marah sama mantan lo itu. Gue selidiki semua tentang kalian dan gue akhirnya tahu kebusukan mantan suami lo!"
London mengabaikan ringisan Deana karena dia yang mencengkeram bahu Deana kuat. "Kalau lo kira gue bohong, terserah. Yang jelas, gue akan bantu lo untuk dapatkan semua hak lo yang direbut sama dia!"
__ADS_1
"Jang!" London melepaskan Deana dan kembali ke meja makan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa lagi di antara mereka. Dia memilih mengabaikan Deana yang memperhatikan dirinya dengan perasaan bersalah.
"Maaf sudah salah paham," cicit Deana. Dia mencengkeram erat tali tasnya. "Saya enggak bisa balas perasaan kamu setelah apa yang terjadi sama saya!"
London tersenyum tipis dan mengangguk, seolah ucapan Deana bukan masalah besar untuknya. "Dan terima kasih karena kamu mau bantu saya! Permisi!"
Deana memilih pergi meninggalkan London dengan perasaan yang kacau. Dia ingin menangis untuk melegakan dadanya yang terasa sesak, tetapi air matanya sama sekali tidak mau keluar.
"Bisa-bisanya dia jujur di saat keadaan sudah begini!" Deana merutuki semua pengakuan London.
"De, kamu di sini. Sudah bertemu London?" t
"Kamu mau ketemu sama London?" tanya Deana kepada Lucas yang baru saja keluar dari lift dengan tatapan curiga.
"Iya."
"Dia ada di dalam, sedang sarapan!"
Lucas melirik tas yang dibawa oleh Deana sebelum akhirnya memilih meninggalkan Deana yang bergeming di depan lift. "Kenapa enggak masuk?"
"Lucas, apa saya boleh tanya sesuatu?" Pria dengan rambut klimisnya itu hanya mengangguk saja. "Apa kamu tahu yang dilakukan London sama Mas lanang?"
"Tentu. Apa yang dia lakukan saya pasti tahu. Apa semua ini tentang kejadian semalam?" Deana hanya mengangguk. "Sebenarnya sangat disayangkan, rekan kerja Lanang tahu tentang keburukan istrinya. Saat ini pria tersebut pasti menjadi buah bibir mereka!"
"Iya. Saya kasihan kalau karena kejadian semalam Mas Lanang akan mengalami kesulitan!"
__ADS_1
"Seharusnya kamu tidak perlu memikirkan dia, karena selama ini pun dia sama sekali tidak peduli denganmu. Yang ada di depan temannya, dia selalu menghinamu!"
Deana memicingkan matanya sehingga memperlihatkan kerutan di sekitar matanya. "Apa yang terjadi semalam rasanya belum sebanding dengan yang dia lakukan di belakang kamu!"