
"Ibu sekarang berubah sikap sama Siska. Semua karena Ibu bilang kalau pernah lihat Siska pergi dengan pria tua!" Deana masih diam sembari memperhatikan Lanang yang bicara dengan tetap fokus menyetir.
Pria berpakaian rapi itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya, walau sejenak.
"Ibu bahkan memintaku untuk melakukan tes DNA terhadap anak di kandungan Siska karena ragu kalau anak itu anakku. Mana mungkin!" Lanang kini begitu emosi. Dia memegang kemudi dengan sangat kuat sampai-sampai urat-urat di tangannya terlihat jelas.
Deana hendak menyentuh pundak Lanang, tetapi dia mengurungkan niatnya itu dan memilih tetap menjadi pendengar.
"Kenapa diam saja?" Kali ini Lanang menoleh ke arah Deana yang menatap lurus ke depan. "Apa menurutmu aku menyedihkan?"
Tanpa ragu Deana mengangguk membuat Lanang makin kesal. Dia lantas mengerem mendadak, beruntung saja tidak ada kendaraan di belakang mobilnya. "Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Deana kesal. Beruntung saja dia menggunakan sabuk pengaman, jika tidak mungkin saja dia akan celaka.
"Kamu marah karena saya jawab jujur?" Lanang menghela napas pelan. Dia mengusap kasar wajahnya dan memukul kemudi beberapa kali. "Mas!" tegur Deana kesal. Dia sudah melepas sabuk pengamannya, seharusnya dia memang tidak pernah ikut dengan Lanang jika akhirnya pria itu membuat kesal.
"Maafkan aku, tolong jangan keluar. Aku akan antar kamu sampai hotel!" Deana menatap lekat mata Lanang yang memerah, dia menghela napas dan mengangguk. "Terima kasih!"
"Kamu benar-benar mencintai Siska?" tanya Deana saat mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang.
Pria tersebut mengangguk, Deana menghela napas pelan. "Kalau begitu yakinkan ibumu tentang Siska. Kalau perlu lakukan yang dia minta setelah Siska melahirkan!"
"Kamu yakin?"
"Kalau memang itu jalan satu-satunya untuk bisa membuat ibumu yakin!" jawab Deana tanpa menoleh ke arah Lanang. Dia tahu Lanang tersenyum kepadanya, tetapi dia memilih mengabaikan saja.
Kenyataan jika tidak pernah ada cinta untuknya benar-benar menyakitkan. Deana tidak pernah melihat Lanang sebegitu frustrasinya saat mereka bersama. Dia juga sadar jika Lanang selama ini memang tidak pernah benar-benar peduli dengannya.
"Hah, dia beruntung sekali!"
"Siska?"
__ADS_1
"Menurutmu siapa lagi? Tapi, Mas ... apa kamu enggak mau mencari tahu kebenaran yang dikatakan ibumu?" Deana enggan memberitahu tentang yang pernah dia lihat beberapa waktu lalu. Saat Siska dan seorang pria yang usianya terlalu tua untuknya itu keluar dari kamar hotel.
"Aku percaya dengannya. Walau gaya hidupnya memang tinggi, tapi dia bukan wanita yang gampangan!" Deana hanya mengangguk. "Saat kami bertemu kembali pun dia tetap seperti dulu, bahkan saat tidak sengaja kami melakukannya dan aku hendak bertanggung jawab, dia menolak!"
Deana merasakan nyeri di dadanya ketika mendengar ucapan Lanang yang tenang seakan tidak ada beban dan perasaan bersalah. "Enggak mau membuatnya menanggung malu, aku terus berusaha mengajaknya menikah dan akhirnya setelah perjuangan yang enggak gampang dia luluh juga!"
"Apa kalau saya enggak tahu tentang kebohonganmu, kamu akan tetap diam?"
"Mungkin!"
"Kenapa? Apa kamu merasa kasihan dengan saya?" Deana memalingkan wajah ke arah kaca pintu sampingnya. Dia tidak mau jika Lanang tahu dirinya menahan diri untuk tidak menangis.
"De ...!"
Deana lekas keluar dari mobil tanpa mengatakan apa pun. Mengabaikan Lanang yang memanggilnya.
***
"Ale terima kasih sudah mau melakukan pekerjaanmu!" Deana mengembangkan senyum kepada pria yang usianya lebih tua dua tahun darinya itu.
Awalnya dia memanggil dengan panggilan "Bang" di depan namanya, tetapi pria berperawakan kurung dengan rambut cepak itu menolaknya. Dia meminta untuk dipanggil nama saja karena merasa mereka seusia.
Pria itu merapikan rambutnya dan hanya mengangguk, sama sekali tidak membalas senyum Deana dan masih tidak bisa ramah kembali kepada Deana. "Saya tahu kamu sama seperti yang lain, tapi sungguh kalau boleh memilih saya ingin tetap seperti dulu saja!"
Deana membuang napas kasar, dia tersenyum getir membalas tatapan Ale. "Sudahlah, lagipula ini bukan kamu yang minta!" Deana hanya mengangguk. "Tapi bisakah aku meminta tolong?"
"Apa?"
Pria tersebut menatap lekat Deana lalu mendudukkan bokongnya di kursi. "Aku dan semua tahu kedekatanmu dengan Pak London dan Pak Lucas. Bisakah kamu meminta mereka menaikkan juga jabatanku? Pindah di hotel yang lain juga enggak masalah, kalau kamu mau membantu, aku janji akan tutup mulut dan akan melakukan apa pun untukmu!"
__ADS_1
Deana mengerutkan dahinya, dia menggeleng membuat Ale berdecak sebal. Pria tersebut kembali berdiri dan berkacak pinggang. "Sudahlah, memang benar semua orang enggak ada yang suka denganmu!"
"Lagipula apa yang mereka lihat darimu itu? Aku yakin pasti mereka mengeluarkan uang banyak untuk wajahmu yang sekarang jadi bagus itu, kan?"
"Ale ...."
"Apa yang kamu kasih dengan mereka? Tubuhmu yang sekarang sem*k itu? Andai aku wanita, seharusnya bisa kurayu mereka juga!" Tatapan pria tersebut membuat Deana tidak nyaman. Tidak tahan mendengar ucapan pria tersebut, Deana memilih pergi meninggalkannya di salah satu kamar hotel yang baru dibersihkan.
Langkah Deana terhenti saat melihat London yang menghampirinya. Pria itu lalu meraih tangan Deana. "Ada apa?"
Deana hanya menggeleng. Dia menarik tangannya lalu menoleh ke belakang dan melihat Ale keluar dengan gugup ketika melihat London.
"Siang, Pak!" London hanya diam saja dan terus memperhatikan Ale yang memilih pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa ini? Mereka masih saja marah sama kamu?" Deana menggeleng. Menghindari tatapan London. "Lo tenang saja, gue sudah urus semuanya dan gue jamin mereka enggak akan lagi tentang lo. Siapa pun yang bekerja di sini mereka akan hormati lo!"
Kedua alis Deana berkerut dan hampir bertaut. Dia mendengkus kesal saat tanpa bisa menghindar London sudah mengacak rambutnya. "Huh. Apa yang kamu lakukan?"
"Buat lo nyaman kerja di sini!"
"Terserah kamu saja!"
London melirik arlojinya sejenak. "Sudah hampir lewat waktu istirahat. Lo pasti belum makan, kan? Gue ke sini mau ajak lo makan siang bareng, ayo!"
Deana menahan London yang hendak pergi. Dia menggigit bibir bawahnya dan membasahi bibirnya. Merasa gugup untuk mengatakan sesuatu kepada pria tersebut. "Ada apa? Lo kalau mau bicara bisa di mobil. Gue lapar!" London menarik tangan Deana untuk mengikutinya. Namun, lagi-lagi Deana menahannya.
"Tawaran kamu semalam masih berlaku?"
Semenjak London memperhatikan Deana dengan berpikir tentang tawaran apa yang dia katakan semalam. "Oh, lo akhirnya memilih untuk membalas perbuatan mantan lo itu?"
__ADS_1
"Iya!"
"Itu bagus. Artinya lo harus buat dia cemburu dan merasakan rasa sakit yang sudah lo terima. Karena lo setuju, artinya sekarang kita sudah jadi kekasih!" Deana melongo mendengar ucapan yang keluar dari bibir London. Pria itu mengedipkan matanya dan kembali menarik tangan Deana.