Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Dia Pacar Saya!


__ADS_3

Wanita tersebut tidak menyangka jika saat ini di hadapannya bukan hanya satu orang yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dua orang dewasa dan seorang wanita cantik menatapnya tidak suka.


Perlahan, Deana mengeratkan genggaman tangannya dengan London. Perasaan cemas dan tidak nyaman berada di tempat baru dengan orang-orang yang baru ditemuinya, membuat tidak tenang. Jika saja bisa, Deana memilih untuk pulang.


"Ayo, gue kenalin lo ke mereka," bisik London yang makin membuat Deana merasa cemas. Dia menahan London yang hendak beranjak. Pria itu melirik ke arahnya dengan heran. "Kenapa?"


"Bukannya kata kamu cuma ayahmu saja? Lantas mereka semua?" Deana ikut-ikutan berbisik, tatapannya tertuju kepada keempat orang yang hanya diam memperhatikan dengan tatapan yang semuanya membuat takut. "Wanita itu juga, kenapa dia lihatin saya seolah saya musuhnya?"


London tersenyum tipis, terlihat dari ekor mata Deana. Wanita itu menghela napas pelan sambil tetap mempertahankan senyumnya. Rasanya kedua pipinya mulai sakit karena dipaksakan tersenyum kepada orang-orang yang enggan membalas senyumnya itu.


"Ayolah, lo enggak perlu pedulikan mereka!"


Deana mengalah, dia menurut saat London menariknya. Namun, langkah mereka terhenti dan genggaman tangan mereka terlepas saat wanita yang sedari tadi diam, menghampiri lalu menarik London. "Kamu enggak tanya kapan aku balik dari Singapura?"


Deana terdiam, memperhatikan wanita yang sedang bergelayut manja begitu menyebalkan. Wanita itu melirik sinis kepada Deana lalu menarik tangan London untuk menghampiri tiga orang paruh baya yang sudah duduk di masing-masing kursi meja makan.


"Kamu duduk di sini, ya. Aku di samping kamu!"


"Dia kenapa malah tinggalin saya?" Deana bingung sendiri. Perlahan dia menghampiri mereka, senyumnya terus mengembang walau rasanya menjemukan.


"Lo duduk di sini!" Wanita yang lebih kurus dari Deana hampir saja mendudukkan tubuhnya ke kursi, tetapi tidak jadi saat London menaruh tangannya di kursi tersebut. "Lo ngapain di sana? Buruan duduk di sini!"


"Ah, iya!" Deana menjadi tidak enak hati kepada wanita muda tersebut yang mendengkus kesal lalu pindah duduk. Ketiga orang dewasa itu masih saja diam memantau kami bertiga.


"Dia pacar saya. Namanya Deana!" Baru saja duduk dan belum sepenuhnya merasakan empuknya kursi tersebut, Deana dibuat terkejut dengan pengakuan mendadak London. Pria itu bicara begitu tenang sambil menatapnya dengan tersenyum manis.


"Saya?" London mengangguk. Deana lantas mengedarkan pandangannya kepada keempat orang yang masih belum bersuara itu lalu kembali menatap London yang masih mempertahankan dirinya.


"Padahal malam ini kita mau bahas pernikahan kamu sama Mia, Don!"


Wanita bernama Mia itu mengangguk lesu. "Maaf, Om, tapi dari awal saya memang tidak pernah mau menikah dengan Mia!" Kali ini London mengenggam erat tangan Deana dan memperlihatkan kepada mereka.

__ADS_1


"Kenapa? Aku kurang baik apa?"


"Lo itu cuma gue anggap sebagai adik. Lagipula bukannya lo punya pacar? Kenapa malah mau saja dipaksa nikah?" Mia yang tampak sedih itu terlihat gelagapan, dia lalu menggeleng.


"London, Sudah kupastikan kalau Mia sudah putus sama pacarnya. Benarkan, Mia?"


"Iya, Om." Mia duduk di samping pria paruh baya yang dipanggil om oleh London itu menatap London lekat. Dia mengabaikan genggaman tangan keduanya. "Aku sudah mulai cinta sama kamu!"


"Lo seyakin itu? Bukannya lo sudah janji enggak akan paksa gue nikah sama lo? Lupa?"


"Kalau jadinya begini, lebih baik kita enggak ke sini. Kita pulang saja. London, Tante kecewa sama kamu yang enggak hargai kami!" Wanita paruh baya dengan penampilan begitu elegan itu tersinggung dengan perkataan dan tingkah London. Dia menarik Mia yang masih ingin bertahan dengan kasar diikuti pria paruh baya.


London terlihat begitu tenang, dia lalu melepaskan genggaman tangannya kepada Deana.


Di saat itu Deana sadar kalau London hanya menggunakan dirinya untuk membuat mereka bertiga pergi.


"Kamu ini kenapa harus begitu keras sama mereka?" tanya pria paruh baya yang ternyata ayah kandung London itu dengan kesal. Pria tersebut sama sekali tidak menatap Deana. "Kamu bisa mengatakannya setelah kita selesai makan malam!"


"Makanlah, Nak. Jangan pedulikan dia!" Deana mengangguk, tetapi dia dibuat bingung saat ayah London memilih pergi.


"Kenapa kamu bersikap begitu?" Deana tidak peduli bertanya saat London hendak menyuapkan makanannya. Pria itu mendengkus kesal lalu menaruh sendok dengan kasar.


"Biar dia tahu diri!"


"Tapi terlalu kasar, Jang! Lagipula tadi kamu bilang saya pacar kamu? Yang benar saja!"


"Lo tersinggung?"


"Kalau iya? Saya baru saja bercerai, memikirkan untuk menjalin hubungan saja enggak pernah dan tiba-tiba kamu malah jadikan saya alat untuk buat wanita itu sedih!" Deana meneguk jus jeruk di dekatnya beberapa tegukan dan hanya tersisa sedikit.


"Lo bukan alat!"

__ADS_1


"Kalau bukan, yang tadi apa?"


"Pengakuan!" London kini menatap Deana lekat. Di depan makanan yang terhidang di meja makan, London yang tidak pernah terlihat serius di mata Deana kini terlihat menjadi menakutkan.


Senyum pria berambut ikal itu menjadi menakutkan, apalagi saat tiba-tiba saja tangannya kembali mengenggam tangan Deana. "Jang, kamu enggak kesurupan, kan?" tanya Deana cemas.


Wanita tersebut menarik tangannya kasar lalu memilih berdiri. Dia hendak pergi, tetapi menahan diri sejenak dan menatap lekat London. "Lihat tubuh saya. Bukannya kamu enggak suka dengan perempuan bertubuh berisi seperti saya?"


Tidak ada jawaban apa pun dari bibir London. Pria itu hanya diam memperhatikan Deana. "Ah, sudahlah. Lagipula saya enggak berselera untuk makan malam di sini. Terlalu kejam saya makan di sini setelah menyakiti wanita lain. Permisi!"


Di beranda rumah London yang luas itu, langkah Deana terhenti saat bertemu dengan Lucas. Pria tersebut tersenyum hangat, menyapanya dengan ramah.


"Apa makan malam kalian sudah selesai?" Lucas melirik arlojinya, terlihat jelas dahinya yang tiba-tiba saja berkerut dalam lalu menatap Deana heran. "Masih jam delapan kurang."


"Saya enggak tahu. Tanya saja sama bos kamu. Maksud saya sepupu kamu!" Deana melangkah pergi meninggalkan Lucas yang hendak bicara kembali.


Keluar dari gerbang besar rumah orang tua London, Deana beruntung sekali langsung bertemu dengan taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.


Deana menghentikan taksi tersebut dan saat akan masuk, seseorang yang Deana bisa kenali dari aroma parfumnya itu menarik tangan Deana kasar. "Pak, enggak jadi. Silakan pergi!"


"Saya mau pulang!"


"Maaf, ya, Pak!"


"Bujang!"


Pria tersebut tidak peduli dengan pekikan suara Deana. Dia menutup pintu keras dan melambaikan tangan saat taksi melaju menjauh.


"Lo tunggu di sini. Ingat, jangan ke mana-mana atau gue bakal buat lo nyesel!"


Tanpa peduli dan menunggu jawaban Deana, London melangkah masuk ke area rumahnya. Namun, beberapa detik kemudian dia kembali untuk memastikan kalau Deana tidak akan pergi. "Kalau lo selangkah saja pergi, gue pastikan lo enggak akan tahu alasan selama ini gue mau bantu lo!"

__ADS_1


__ADS_2