
Dengan begitu terpaksa Deana akhirnya mau juga memenuhi undangan Lanang, walau dirinya sendiri tidak mengerti alasan pria tersebut memintanya.
Di depan rumah yang pernah dia tinggali itu, Deana menahan London yang hendak masuk. Ada perasaan tidak nyaman untuk kembali memasuki rumah dengan banyak kenangan tersebut.
"Kenapa?" Deana hanya menggeleng. Dia memperhatikan rumah yang terdengar ramai suara tamu undangan. "Lo enggak perlu takut. Gue enggak akan biarin orang-orang di sana sakiti lo!"
"Saya hanya merasa seharusnya kita enggak perlu datang ke sini!"
"Pasti banyak banget kenangan lo di rumah ini, kan?" Deana hanya mengangguk. "Sudahlah, lupakan saja. Ayo!" Dengan sedikit paksaan London berhasil membawa Deana kembali memasuki rumah tersebut.
Suasana di dalam rumah yang awalnya ramai oleh obrolan dan gelak tawa mereka, tiba-tiba menjadi hening. Semua mata tertuju kepada mereka setelah London menyapa mereka.
Deana mendesah pelan, dia merasa begitu tidak nyaman setelah menjadi pusat perhatian banyak orang di rumah tersebut. Beberapa tamu tidak dia kenali dan seorang pria yang pernah beberapa kali bertemu dengannya tersenyum kepadanya.
"Ayo!" London mengajak Deana menghampiri Lanang yang memperhatikan mereka dengan tatapan tidak suka. Tatapan pria tersebut tertuju kepada lengan Deana yang menggamit lengan London.
"Aku kira kamu enggak akan datang!" Lanang menghampiri mereka. Dia hanya menatap Deana dan mengabaikan London yang mengajaknya bersalaman.
Deana hanya tersenyum tipis lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia sama sekali tidak melihat keberadaan Siska dan Lisma di antara mereka. "Ibu sama Siska ke mana?"
"Ibu ada di dapur, kalau Siska dia sedang di kamar."
Deana hanya mengangguk. Dia memperhatikan seorang pria yang beberapa kali bertemu dengannya itu menghampiri mereka. "Kamu Deana, kan?" tanya pria tersebut yang terlihat penasaran. Mungkin karena penampilan Deana yang terlihat begitu berbeda, sehingga pria tersebut tidak mengenalinya.
"Iya!"
"Astaga, kamu ... cantik!" Pria tersebut menepuk pundak Lanang lalu seolah sedang menertawakan Lanang yang berwajah masam.
"Dia memang cantik!" London yang memilih diam sejak diabaikan oleh Lanang akhirnya bicara dan ucapannya itu berhasil membuat Deana tersipu.
Kapan lagi Deana akan dipuji cantik kalau tidak di depan Lanang. Deana tahu London mengatakannya untuk membuat Lanang cemburu.
"Kamu operasi plastik?" Tatapan pria tersebut yang memindai penampilan Deana dari atas sampai bawah membuatnya menanyakan hal yang tidak pernah Deana pikirkan sebelumnya.
"Maaf mungkin terlalu lancang, hanya saja penampilan kamu begitu berbeda. Jadi, bisa saja, kan?" Deana hanya membalas perkataan tersebut dengan tersenyum kecut. Dia melirik ke arah Lanang yang terus saja memperhatikan dirinya. Seolah ikut mengira kalau mantan istrinya itu melakukan operasi plastik.
"Dia hanya butuh perhatian dan dukungan. Penampilannya yang sekarang karena dia mendapatkan semua itu." London menyeringai, melirik Lanang yang tampak tidak nyaman.
__ADS_1
"Oh, ya. Kalian nikmati acaranya, ya!"
"Mas, tapi tumben kamu adakan acara di rumah. Ada apa?" Deana tentu saja penasaran. Selama ini dia tidak pernah menerima tamu dari rekan kerja Lanang. Dia pun tidak pernah ikut perkumpulan sebagai istri dosen.
Lanang selalu beralasan kalau semua itu akan membuat Deana kewalahan dan dia tidak mau itu, padahal hal yang sebenarnya karena Lanang malu.
"Dia baru saja ditunjuk sebagai kaprodi!" celetuk pria bertubuh kurus itu.
"Selamat, Mas. Saya tahu bagaimana kamu bekerja keras selama ini!" Dengan cepat London menggantikan tangan Deana yang hendak memberi selamat kepada lanang dengan menjabat tangannya.
"Terima kasih, De. Semua itu berkat doa kamu juga!" Dahi Deana berkerut, tidak menyangka Lanang akan dengan berani mengatakan hal seperti itu.
"Kamu melupakan wanita yang sekarang menjadi istrimu!"
"Mas, aku cari kamu dan ternyata kamu ada di sini!" Siska tiba-tiba saja datang dan langsung menggamit lengan Lanang. Dia menatap tidak suka kepada Deana. "Kamu undang dia, Mas?" tanya Siska sinis.
"Iya, sudahlah. Lebih baik kita temani mereka saja. Lihatlah mereka memperhatikan kita!" bisik Lanang dan menarik Siska menjauh dari mereka.
"Tenang saja, sebentar lagi kejutannya akan datang!" London tersenyum sambil memperhatikan mereka yang kini melupakan keberadaan Deana dan dirinya.
"Sebenarnya apa yang mau kamu lakukan?"
London mendengkus pelan. Dia melepaskan tangan Deana dan mendorongnya pelan. "Sana. Mungkin lo bakal bisa ngobrol sama teman-teman mantan suami lo. Selama ini lo enggak pernah ketemu mereka, kan?"
"Kamu ambil saja sendiri!"
"De, ayolah. Gue mau sapa para tamu biar akrab dan mungkin saja gue bisa jadi dosen tamu di kampus mereka!" London bicara dengan berbisik. Dia lekas pergi meninggalkan Deana dan membaur bersama dengan para tamu yang sebenarnya tidak banyak itu. Hanya ada sekitar lima belas orang saja.
Deana akhirnya memilih mengambilkan minuman untuk London. Namun, saat itu dia malah bertemu dengan Lisma. Wanita paruh baya itu terlihat kurus.
"Kamu datang ke sini?" Deana merasa tidak tenang. Dia takut kalau Lisma akan membuat masalah kepadanya karena mengira alasan Alumi dipenjara karena kesaksiannya. Namun, Lisma malah memeluknya.
"Bu!" Deana dibuat terkejut. Dia bertatapan dengan Siska yang menatapnya tidak suka, tetapi wanita itu masih mengobrol dengan rekan kerja Lanang.
"Maafkan, Ibu. Ibu tahu sudah salah karena selama ini terlalu melukai hatimu!" Lisma melepaskan pelukannya. Dia kini menangis dan karena tidak mau menjadi pusat perhatian banyak orang, Deana membawa Lisma ke dapur karena jarak mereka lebih dekat ke sana.
"Bu, ada apa?"
__ADS_1
"Ibu sudah mendapatkan hukuman karena kejahatan Ibu selama ini. Alumi dipenjara dan ada seseorang yang memberitahu Ibu kalau Siska selingkuh."
Deana merasa kasihan kepada Lisma, walau selama ini dia terus saja disakiti. "Ibu melihatnya sendiri?"
Lisma mengangguk. "Pria itu membawa Ibu melihat kelakuan Siska, Ibu juga sudah bilang sama Lanang dan dia tahu!"
"Bu ...." Perkataan Deana terhenti saat mendengar keributan di ruang tamu.
Merasa penasaran dengan yang sedang terjadi, dia keluar meninggalkan Lisma.
"Pria itu?" Deana melihat seorang pria paruh baya yang pernah dilihatnya bersama dengan Siska datang. Pria itu menjadi pusat perhatian para tamu dengan Siska yang terlihat di antara pria tersebut dan Lanang.
"Apa ini kejutan yang dikatakan Bujang?" gumam Deana saat melihat London yang memilih duduk santai di sofa dan menonton ketegangan yang terjadi.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Siska sambil mendorong pria paruh baya itu untuk keluar.
"Aku datang untuk menyelamatkan kamu. Aku tahu kalau kamu enggak bahagia di sini karena pria itu tahu anak yang kamu kandung itu bukan anaknya!"
Siska menepis tangan pria paruh baya itu. Dia meraih tangan Lanang, tetapi dengan cepat ditepisnya. Lanang juga dengan tega mendorong Siska sampai hampir terjatuh. "Pergilah, kamu sudah mengacaukan semuanya!"
"Mas, aku enggak mau pergi. Ini rumahku juga!"
"Ayo kita pergi dari sini. Sudah kukatakan aku akan menikahimu walau sebagai istri kedua."
"Setelah kamu membuatku malu di hadapan semua rekan-rekan kerjaku, kamu kira aku akan menahanmu?" Siska tetap kukuh menolak pergi, dia bahkan sampai berlutut di hadapan Lanang.
"Mas, aku enggak mau pergi dari sini. Aku bukan Deana yang bisa kamu usir begitu saja!" Lanang mengabaikan Siska. Dia terlihat begitu terluka dengan mata yang berkaca-kaca tidak sengaja dia bertemu tatap dengan Deana yang menyaksikan semuanya.
"Apa kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan denganku, Mas? Kamu terus saja mengejarku dan memintaku menikah denganmu!" Lanang tetap tidak memedulikan ucapkan Siska tersebut.
"Ayo, jangan merendahkan dirimu di depannya begitu!" Pria paruh baya itu membantu Siska berdiri. Dia membawa Siska keluar dari rumah mengabaikan tatapan dari tamu yang menjadi saksi pertengkaran mereka. Namun, langkahnya terhenti kala Lanang memanggilnya.
Siska lekas menghampiri Lanang dengan senyum mengembang. "Mas, kamu mau terima aku lagi, kan?"
"Bukan itu. Aku akan tetap ceraikan kamu. Aku memanggilmu cuma mau memberitahu kalau rumah Deana yang kuberikan untukmu, aku ambil kembali dan akan kuberikan kembali kepada Deana."
"Mas!" Siska terlihat tampak kecewa. Dia menolaknya.
__ADS_1
"Kamu enggak perlu lakukan itu, Mas. Saya sudah mengikhlaskan rumah itu untuk kalian!" Deana dan London menghampiri mereka di teras rumah.