
Beruntung saja London datang tepat waktu, pria itu menarik Lanang menjauh dari Deana dan mendorongnya sampai terjerembab ke lantai.
Lanang langsung mengaduh kesakitan karena bokongnya dengan keras mengenai lantai yang dingin itu, sedangkan London terlihat sekali sedang menahan emosinya sampai wajahnya memerah.
"Mas, saya bantu!" Deana mengabaikan London dan membantu Lanang, tentu saja hal itu membuat London kesal.
Belum juga Lanang berdiri, Deana menariknya menjauh. "Gue enggak kasih izin lo bantu dia!"
"Kamu kenapa?" tanya Deana tidak suka.
Lanang memperhatikan mereka dengan kesal lalu berdiri sendiri. Dia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Aku yang salah. Dia pasti cemburu!"
Ucapan Lanang membuat Deana bingung. Dia memperhatikan London yang memalingkan wajahnya ke arah lain. "Mas, lebih baik kamu pergi saja!"
"Baiklah, sepertinya aku akan temui kamu nanti lagi!" Lanang melirik London yang memilih diam dan enggan menatapnya. Dia lekas pergi meninggalkan mereka, tetapi kembali lagi saat London hendak membuka ucapan kepada Deana.
"De, bisakah kamu menjenguk Ibu?"
"Saya enggak janji, Mas." Deana menahan London yang hendak protes. "Ada lagi yang mau kamu bicarakan?"
"Enggak ada. Kalau begitu aku pergi dulu, ada seminar yang harus kudatangi!" Deana sudah tidak lagi menanggapi ucapan Lanang dan menarik London masuk ke apartemen. Dia menutup pintunya.
Saat London hendak protes, dengan cepat Deana menutup mulut London dengan telapak tangannya. "Kalau kamu cuma mau ngomel, lebih baik jangan bicara. Saya malas dengarnya."
"Lo larang gue ngomel, tapi lo biarin dia sentuh lo?" London berhasil melepaskan diri, bukan hal sulit untuknya melakukan hal tersebut.
"Apa lagi yang bisa saya lakukan? Dia tiba-tiba saja datang!"
"Lo bisa usir dia!"
Deana memperhatikan London curiga dan teringat ucapan Lanang beberapa waktu lalu. "Kamu enggak lagi cemburu, kan? Saya memang setuju untuk membalas perbuatan Mas Lanang karena saya tahu kamu enggak mungkin suka dengan saya!"
London mengerutkan dahinya. Dia terlihat makin kesal lalu pergi ke dapur begitu saja. Meninggalkan Deana yang kebingungan dengan tingkahnya itu.
Deana memilih menunggu London di ruang tamu, sembari menunggu dia terus saja memperhatikan ponsel London yang tergeletak di meja. Ada keinginan untuk memeriksanya, tetapi rasa takut lebih besar dirasakan Deana. Hingga saat London datang kembali pun, dia hanya berani menatap ponsel tersebut.
"Kenapa lama?"
London hanya menatap Deana sekilas tanpa mengatakan apa pun lagi. Dia mengambil ponselnya dan keluar diikuti Deana.
__ADS_1
"Jang, ayolah kenapa kamu kayak anak kecil begini!"
London sama sekali enggak peduli yang dikatakan Deana. Dia mengabaikan Deana yang terus mengekorinya memasuki lift.
***
Deana baru saja tiba di hotel dan sudah ada Laras yang menunggunya di lobi hotel. Wanita itu tampak gelisah dan saat melihat Deana dia lekas menghampirinya.
"De, maafin Mbak, ya!" Belum juga Deana bicara, Laras sudah memeluknya. "De, kita benar-benar dibutakan dengan hasutan Ami yang kesal karena kamu sekarang menjadi atasan kita!"
Laras menunduk, tidak berani menatap Deana sama sekali.
"Saya enggak masalah, Mbak. Terima kasih karena sudah kembali seperti Mbak Laras yang saya kenal!" Deana menghela napas lega. Dia tersenyum saat Laras menatapnya.
"Kamu memang pantas mendapatkan pekerjaan ini, De, dan eem ... aku harap Pak London enggak pecat aku juga seperti Ami!"
Deana terkejut mendengarnya, sama sekali tidak menyangka. "Ami? Kenapa?"
Laras menghela napas panjang. "Pak London tahu kalau Ami menentang keras penunjukkan kamu sebagai pengganti Bu Vero, padahal Pak London sendiri yang melakukannya."
"Hah? Jadi bukan Bu Vero?" Laras hanya menggeleng dan menatap Deana dengan tatapan bingung. "Astaga."
"Aku juga baru tahu, De."
Setelah kepergian Laras, Deana mencoba menghubungi London. Namun, beberapa kali dia menghubunginya, London sama sekali tidak merespons.
"Kenapa dia melakukannya?" gumam Deana kesal. Dia merasa sudah dipermainkan oleh London dan sama sekali enggak curiga karena mengira memang Vero lah yang memintanya.
"Harusnya saya enggak begitu saja percaya. Ini terlalu aneh jika dipikirkan kembali!"
"Apanya yang aneh?" Deana terhenyak, dia berbalik dan bertatapan dengan Lucas yang menatapnya heran. "Kenapa diam?"
"Kamu tumben di sini?"
Bukannya menjawab pertanyaan, Deana malah ikut memberi pertanyaan. Dia mendengkus kesal saat menyadari Lucas bisa saja tahu tentang keputusan London itu. "Saya sudah tahu semuanya!" ucap Deana kesal.
"Tentang?"
"Kalau Bujang yang telah memilih saya menggantikan Bu Vero, tapi kenapa?" tanya Deana bingung.
__ADS_1
"Tanyakan saja dengannya. Saya ke sini karena ada urusan dengan manajer hotel itu!"
"Tapi dia sama sekali enggak mau menerima panggilan saya." Deana menahan Lucas hanya untuk tahu alasan London melakukannya.
Lucas menghela napas pelan. Dia mengambil ponsel di sakunya untuk mengecek sesuatu dan kembali memasukkannya. "Tanyakan saja dengannya langsung. Saya buru-buru, permisi!"
Deana berdecak sebal sembari memperhatikan Lucas yang berjalan menjauhinya. Lucas ternyata lebih menyebalkan dari London.
"Apa kamu sibuk?" Lagi-lagi Deana dibuat terkejut saat melihat pria dengan postur menjulang tinggi yang mirip sekali dengan London itu berdiri di hadapannya.
Tatapannya begitu tegas dan membuat nyali Deana ciut. "Om, ada yang bisa saya bantu?" Deana merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya bertanya hal seperti itu.
Pria paruh baya di hadapannya itu berdeham dan terus menatapnya lekat. "Ada yang ingin dibicarakan. Apa kamu ada waktu?"
"Ah, ya, ada! Eem, kita bicara di restoran hotel saja!" Pria itu tidak merespons ucapan Deana dan masih saja menatapnya sebelum memutuskan melangkah menjauh meninggalkan Deana yang memilih mengikutinya.
Mereka memasuki lift menuju ke restoran hotel. Selama di dalam lift, Deana sama sekali tidak tahu harus melakukan apa. Dia yang berdiri di belakang pria paruh baya itu hanya berani sesekali memperhatikan punggung tegapnya dan menunduk.
Tidak ada pembicaraan sama sekali.
Deana merasa sesak di dalam lift walau hanya berdua saja dan berharap mereka cepat sampai.
"Ayo!" Ajakan tersebut berhasil membuat Deana terkejut. Dia kira ayah London itu akan tetap diam, tetapi saat lift terbuka dia mengajaknya untuk keluar.
Mereka memilih duduk di dekat jendela, menjauh dari para pengunjung yang sedang sarapan agar percakapan mereka tidak terganggu.
Deana merasa tidak nyaman karena terus diperhatikan. Dia akhirnya memilih menunduk dengan jemari saling bertautan.
"Apa duduk bersama membuatmu cemas?"
Deana mengangkat wajahnya dan menggeleng. "Maaf," cicitnya.
"Tidak masalah! Bagaimana hubungan kalian?"
Deana langsung mengangguk, bingung harus menjawab apa. Otaknya sedang tidak bisa bekerja dengan baik saat ini.
Pria itu tahu kegugupan Deana dan terkekeh pelan. "Jangan takut. Saya ke sini hanya ingin bertemu kamu saja." Dia menghela napas pelan. "Sebenarnya saya berat menerima kamu, tapi London ternyata benar-benar menyukai kamu dan saya tidak bisa menolaknya!"
"Kenapa tatapan kamu seolah terkejut? Apa kamu tidak tahu kalau anak saya menyukai kamu?" Deana menggeleng. "Kami bertengkar hebat semalam karena dia terlalu kukuh mempertahankan kamu, sedangkan saya menginginkan Mia menjadi istrinya!"
__ADS_1
Deana mengigit bibir bawahnya. Dia tidak menyangka kalau London akan melakukan hal seperti itu, keterkejutan tentang London yang menyukainya tidak lebih besar dari terkejut mendengar pertengkaran mereka.
"Walau begitu saya akan tetap menerima setiap keputusan London. Saya mau kamu menjaganya dan jangan menyakitinya!"