
"Gimana? Apa pakaiannya masih belum rapi?" Deana memperhatikan London yang diam saja sambil memperhatikan kemeja yang digantung setelah selesai disetrika. Pria itu diam saja, mengamati dengan serius dan berhasil membuat Deana penasaran.
Selama ini Deana selalu mendapat pujian dari ayahnya dan Lanang, mereka memuji jika dirinya begitu telaten dalam menyetrika pakaian sampai begitu tapi dan tidak ada bagian yang terlewat. Namun, kali ini dia tidak berharap London akan memberinya pujian itu. Dia hanya ingin London bereaksi seperti biasanya, daripada yang saat ini dilihatnya karena terlalu mengerikan.
Pria itu beralih menatap Deana yang menanti jawabannya, tatapan mereka bersirobok. Deana dapat melihat pantulan dirinya dari mata berwarna cokelat gelap milik London. Sebelum sempat Deana bertanya, London memilih pergi keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga menuju ke lantai satu apartemennya.
"Apa dia enggak suka sama hasilnya? Tahu begini saya tolak saja permintaannya tadi!" Deana mendengkus kesal memperhatikan punggung London yang berjalan menjauh.
Wanita itu kesal karena reaksi London. Malas memikirkannya lagi, Deana memilih menyusul London. Sebelum itu, dia kembali menatap kemeja yang beberapa menit lalu dia setrika atas paksaan dari London. Pria itu mengatakan jika besok dia harus bertemu dengan orang penting dan harus memakai pakaian yang rapi.
"Huh, harusnya dia pakai jasa laundry saja seperti biasa!" Deana menatap sayang kemeja berwarna gelap itu dan berlalu keluar dari kamar luas tersebut.
Samar-samar Deana mendengar suara wanita yang sedang bicara. Merasa penasaran siapa yang bertamu malam hari, Deana lekas menuju ke ruang tamu. Dia dibuat terkejut melihat Lingga yang sedang bicara dengan London.
Masalahnya bukan karena wanita itu terlihat begitu akrab dengan London, tetapi sikap Lingga yang terlihat sekali sedang mencari perhatian London.
"Dia datang!" Kedua orang yang sedang berdiri itu beralih ke arah Deana, dengan perasaan canggung perlahan Deana mendekat dan berdiri di samping London. Menatap pria tersebut mencari jawaban. "Kalau begitu gue pergi dulu!"
"Tunggu! Jadi kamu enggak temani kita di sini?" Lingga menahan London yang akan pergi dengan mencekal pergelangan tangannya.
"Gue ada urusan penting dan lagipula urusan lo sama dia, bukan gue!" Tatapan London beralih pada Deana. "Jadi, bisa lo lepasin gue sekarang?" Lingga cengar-cengir mendapatkan tatapan tidak suka dari London, dengan berat hati dia melepaskannya dan membiarkan London beranjak pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.
"Apa malam ini kita akan langsung mulai?" tanya Deana kepada Lingga yang sedang memperhatikan sekeliling apartemen berlantai dua itu.
__ADS_1
Lingga beralih menatap Deana lekat, menghampirinya dan berdiri dengan jarak yang begitu dekat. Wanita itu memperhatikan wajah lalu ke seluruh tubuh Deana. "Bukan kita, tapi kamu!" bisik Lingga dengan seringai tipis yang membuat perasaan Deana menjadi tidak nyaman, apalagi saat wanita itu tanpa bertanya berjalan menuju ke lantai dua di mana hanya ada kamar London dan ruang kerja pria itu.
"Kita lakukan di sini saja!"
"Kenapa enggak di bawah?"
Lingga menyipitkan mata dengan dahi berkerut dalam. Berjalan menghampiri Deana yang berdiri di dekat tangga. "Tapi si Bule bilangnya kita pakai saja lantai atas. Dia yang kasih izin!" Lingga tersenyum tipis.
"Untuk pertama, kita kembali ke ruang tamu dan aku akan jelaskan apa-apa saja yang nantinya akan kamu lakukan!" Tanpa menunggu jawaban apa pun, Lingga berjalan menuruni anak tangga menuju ke lantai satu dan lagi-lagi Deana terpaksa mengikutinya.
***
"Semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Deana sambil menuangkan air minum untuk London. Dia diam-diam tersenyum puas melihat London mengenakan kemeja yang disetrikanya semalam.
"Kenapa? Lo enggak bisa tidur karena gue belum balik?" Deana berdecak sebal karena jawaban dari London dan juga tatapannya yang jelas-jelas sedang menggoda.
"Memang kamu tahu saya tidur jam berapa?" Deana menatap London curiga, apalagi saat pria itu mengangguk santai. "Jangan bilang kamu masuk ke kamar saya dan ...."
"Itu salah satu keteledoran lo yang enggak kunci pintu."
"Bujang!" geram Deana. Dia menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri karena tidak ingin marah-marah untuk saat ini. Ada hal yang lebih penting dan ingin segera dia bahas dengan pria tersebut.
"Gue cuma cek lo dan enggak ada niatan buat lakuin yang buruk-buruk. Jadi, lo enggak perlu berlebihan begitu!"
__ADS_1
Deana mengibaskan tangannya. "Terserah kamu. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu!" London yang sedang mengunyah sarapannya menatap Deana begitu antusias. "Sepertinya kamu enggak perlu bayar Lingga untuk bantu saya, oh, maksudnya Mbak Lingga karena percuma!"
London mengerutkan dahinya, dia memilih minum terlebih dahulu sebelum bertanya alasan Deana mengatakan seperti itu. "Dia memberi banyak sekali aturan dan saya merasa tidak sanggup untuk melakukannya!"
"Lo mau nyerah?"
Deana menatap heran London yang terlihat emosional. Dia mendengkus pelan lalu memilih menyuap makanannya. "Apa lo mau terus-terusan dihina sama pria itu dan keluarganya? Lo mau dipandang sebelah mata sama semua orang karena penampilan tubuh lo itu?" Kali ini suara London sedikit meninggi dan tatapan yang membuat tidak nyaman. Pria itu sampai menggeser piring makannya, mengabaikan makanan yang masih belum habis.
"Kenapa kamu berpikir semua orang memandang saya sebelah mata saja? Apa salah dengan wanita bertubuh seperti saya?" balas Deana kesal. Dia tidak suka dengan ucapan London barusan. Walau selama ini lebih banyak orang yang mengejeknya, tetapi dia berusaha untuk menerima semua yang dia punya sesuai nasihat ayahnya.
"Bukan begitu," ucap London dengan pelan, dia merasa bersalah karena perkataannya yang telah menyinggung perasaan Deana. Dia mencoba meraih tangan Deana, tetapi wanita tersebut dengan cepat menghindari.
"De, gue tahu ucapan gue tadi nyakitin perasaan lo. Tapi bukan begitu maksud gue!"
Deana mengangguk. "Gue cuma mau semua orang enggak lihat lo dengan tatapan yang buat lo akhirnya minder. Gue enggak mau pria itu hina lo terus!"
"Saya tahu! Maaf saya terlalu emosi hari ini!" Deana mencoba untuk tenang. "Bisakah saya memikirkannya? Saya takut kalau akan mengecewakan kamu. Kamu sudah baik sama saya, memberi pekerjaan di sini dan di hotel, memberi saya tempat tinggal, dan sekarang ... sekarang kamu juga memikirkan tentang penampilan saya."
"Lo mau tahu alasannya?"
Deana mengangguk dengan begitu antusias. Dia memang ingin tahu alasan kenapa London yang dahulu selalu merundung dan sampai mengatakan membencinya itu tiba-tiba datang dengan memberi banyak sekali pertolongan. "Tentu, apa alasannya?"
"Enggak sekarang. Gue akan kasih tahu lo alasannya setelah lo berhasil dengan program yang dibuat Lingga." Deana cemberut karena jawaban London tidak seperti harapannya. "Gue janji, tapi sebelum itu lo harus selesaikan apa yang sudah lo terima diawal. Lingga akan bantu lo dan gue yakin lo bisa! Selama itu lo bisa gunakan ruangan di samping kamar gue. Ruangan itu kosong dan sebenarnya bukan ruang kerja." London tersenyum manis, senyum yang begitu tulus dan berhasil mengikis keraguan Deana untuk akhirnya memilih setuju.
__ADS_1
"Kamu yakin saya bisa?"
"Gue yakin lo bisa!" Deana terharu dengan keyakinan London kepada dirinya, tetapi perasaan itu hilang dalam sekejap dan berganti kekesalan setelah mendengar jawaban London berikutnya. "Jangan tatap gue gitu atau lo akan jatuh cinta!"