Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Ada yang Mengganggu Pikiranmu?


__ADS_3

"Ada yang ganggu pikiranmu?" Laras memperhatikan wajah murung Deana yang saat ini sedang menjenguknya di rumah sakit. Sudah dua hari ini dia dirawat karena tipus. "Oh, kamu enggak ada kawan di tempat kerja makanya murung begini?"


Deana hanya tersenyum kecut. Sejak pagi perasaannya menjadi tidak tenang, dia tidak datang ke persidangan perceraiannya dengan Lanang dan sampai sekarang pria yang kini telah menjadi mantan suaminya itu sama sekali belum menghubungi, padahal Lanang sudah janji akan menghubunginya setelah semua diputuskan.


"Loh, sekarang malah menghela napas. Kamu ada masalah apa, De?"


Bukan memberi jawaban, Deana malah bangkit berdiri dari duduknya. Dia mengambil tasnya yang dia taruh di sofa. "Mbak, cepat sembuh. Maaf saya harus pulang sekarang!"


"Buru-buru banget?" Deana hanya mengangguk dan keluar dari ruang rawat tersebut. Dia memutuskan untuk bertemu dengan Lanang, menagih janji pria itu. Namun, saat baru saja berbelok ke lorong sebelah kiri menuju lift, Deana melihat sosok Lanang keluar dari lift. Tampak kusut dan seperti sedang mengalami masalah besar.


Penasaran dengan yang terjadi kepada pria tersebut, Deana menghampiri untuk menyapanya. "Mas!" Pria yang berjalan dengan wajah lelah itu terlihat terkejut.


"Apa yang kamu lakukan di rumah sakit?"


Lanang menghela napas pelan. Dia merapikan rambutnya yang berantakan saat menyadari tatapan Deana tertuju pada rambutnya tersebut. "Seharusnya aku yang tanya gitu. Apa yang kamu lakukan di rumah sakit? Enggak mungkin kamu tahu kalau Ibu dirawat, kan?"


"Ibu dirawat? Kenapa?" Deana terkejut mendengar ucapan Lanang. Pria tersebut menatap curiga kepada Deana seolah tidak percaya dengan reaksinya barusan. "Mas, Ibu kenapa?"


Lanang menepis tangan Deana dengan kasar dan hampir saja membuat Deana terjatuh. "Pertanyaan itu seakan kamu peduli dengan Ibu!"


Mendengar tuduhan Lanang membuat Deana jengah. "Harusnya memang saya enggak perlu tanya dan saya sadar kalau kamu memang bukan orang yang baik!"


Ucapan Deana berhasil membuat Lanang menggeram marah. Pria tersebut menatapnya tajam, dengan alis yang menurun dan miring ke dalam membentuk kerutan. Tanpa peduli dengan sekitarnya, Lanang mencengkeram kuat lengan Deana. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Lihatlah, hanya satu kalimat saja sudah bisa membuatmu marah. Saya menjadi penasaran hal apa lagi yang selama ini kamu sembunyikan!" Deana menantang Lanang dengan membalas tatapan pria tersebut. Tepi bibirnya berkedut.


"Sial!" Kesal karena perlawanan Deana membuat Lanang melepaskannya. Dia menyugar rambutnya dengan kasar, terlihat urat-urat di wajahnya yang memerah. "Ibu ... Dia masuk rumah sakit karena wanita idi*t itu dipenjara!"


Deana mengerutkan dahinya sejenak. "Kakakmu sendiri kamu katakan seperti itu?"


Lanang lagi-lagi menepis tangan Deana yang menepuk pundaknya. "Kamu dan dia sama saja. Sama-sama memalukan. Lihatlah tubuhmu yang ... astaga, beruntung hari ini aku terbebas dari wanita seperti kamu."


Deana menggigit bibir bawahnya kuat, merasa terhina dengan ucapan Lanang yang merendahkannya itu. Dia memilih diam memperhatikan saat pria itu pergi menjauh.


***


Deana hanya duduk diam di atas matras. Malam ini dirinya tidak melakukan kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya bersama dengan Lingga, kali ini selama satu jam dia hanya diam menyimak curhatan hati Lingga yang patah hati dan pikirannya yang terus mengenai kalimat demi kalimat dari Lanang.


Deana menghela napas pelan, dia mengubah posisi duduknya dengan meluruskan kakinya karena terasa pegal terus bersila. "Menurutmu aku harus gimana?"


"Ma–" Belum juga Deana bicara, Lingga menutup mulut Deana dengan telapak tangannya. Dia menggeleng dan kembali menangis kencang. "Mbak, saya akan ambilkan minum!"


Wanita tersebut lekas pergi meninggalkan Lingga yang tidak peduli dengan ucapannya. Dia menghela napas lega telah terbebas dari bebannya selama di dekat Lingga.


"Huh, kapan kamu kembali?" Deana menatap sendu pintu kamar London di depannya itu. Dia menghela napas pelan, memperhatikan tubuhnya yang masih gemuk. "Mungkinkah setelah saya menjadi wanita bertubuh langsing kamu baru kembali?" Dia melangkah mendekati pintu kamar berwarna cokelat itu. Memegang gagang pintu hendak membukanya, tetapi diurungkan. "Baiklah, saya akan menjadi kurus dan menagih janjimu!"


Deana membulatkan tekadnya. Dia memutuskan tidak masuk ke kamar London dan pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.

__ADS_1


"De, aku dengar dari Lucas kamu sudah menikah. Kenapa tinggal dengan pria lain?" Lingga menghampirinya, membiarkan wajahnya basah oleh air mata.


"Mbak, ngagetin!" Hampir saja gelas di tangan jatuh karena Lingga yang datang tiba-tiba.


"Makasih!" Lingga mengambil gelas di tangan Deana dan memilih duduk di kursi meja makan. "Jangan berdiri di situ, duduk di sini dan kita cerita!"


"Mbak, soal tadi saya minta maaf. Saya enggak bisa jawab pertanyaan Mbak Lingga!"


"Enggak masalah!" Lingga meminum habis air dinginnya dan meletakkan dengan kasar gelas yang telah tandas isinya itu di meja lalu menyeka kasar air matanya. "Sekarang kamu jawab saja pertanyaanku. Kenapa kamu bisa tinggal di apartemen ini?"


"Apa mereka enggak kasih tahu?" Lingga menggeleng. Dia memutuskan soal mendengarkan dengan melipat kedua tangannya di atas meja dan tubuh condong ke arah Deana.


"Sebenarnya aku di sini kerja, Mbak. Dan aku baru saja bercerai!" Deana tidak nyaman dengan tatapan Lingga kepadanya, dia memilih untuk mengalihkan pandangan ke arah lain. "Anggap saja pemilik apartemen ini berbaik hati menolong wanita malang ini!"


"Kasihan sekali pria itu!" Deana menatap heran Lingga yang saat ini menjadikan kepalanya beban di atas tangannya. Tangisnya kembali pecah membuat Deana kebingungan sendiri. "Aku kira awalnya kamu itu kakaknya si pria bule itu, tapi ... Lihat wajah kalian yang enggak mirip aku jadi curiga!" Lingga menegakkan tubuhnya dan menyeka air matanya. "Makanya aku paksa Lucas bicara siapa kamu sebenarnya."


"Mbak ...."


"De, nasib kita sama!"


"Sama? Mbak Lingga juga bercerai, tapi bukannya Mbak belum menikah, ya?"


"Aku belum nikah, yang aku maksud sama itu karena kita sama-sama disakiti sama pria. De, aku kayaknya memilih untuk enggak lanjut lagi, deh!"

__ADS_1


"Hah, maksudnya gimana, Mbak? Jangan buat saya bingung dengan ucapan Mbak ini!" Lingga menggeleng dan memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa memberi penjelasan tentang ucapannya yang tidak Deana pahami.


Tidak ingin terjadi apa-apa dengan Lingga yang pergi begitu saja dengan menangis, membuat Deana memutuskan menghubungi Lucas meminta bantuan, tetapi tetap saja seharian ini Lucas sama sekali tidak muncul. Nomor ponsel pria tersebut pun tidak aktif. "Sebenarnya ada apa sama orang-orang hari ini? Kenapa mereka semua membingungkan?"


__ADS_2