
Ada yang bilang lebih baik kita bersama dengan orang yang mencintai kita, daripada kita yang mencintai orang tersebut karena bisa saja mereka terpaksa menerima. Namun, bukankah sama saja?
Dicintai atau mencintai tetap saja harapan untuk saling mencintai itu ada?
Setelah mengetahui semua tentang perasaan pria yang menjadi masa terkelam dalam hidupnya di masa remaja, setelah dicintai dengan begitu dalam, luka di hati Deana tidaklah membuatnya bisa dengan mudah membuka kembali hatinya.
"Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari saya." Deana tahu pria yang duduk di sampingnya itu pasti terluka. Setelah perjalanan yang hanya diisi dengan suara radio itu, akhirnya dia membuka suara.
"Lo enggak perlu buru-buru terima gue kalau memang lo belum siap, tapi biarin gue tetap di sisi lo. Tunjukkan perasaan gue ke lo!" London menatap Deana lekat, tatapan penuh harapan itu membuat Deana tidak tega.
"Maaf! Saya enggak tahu akan seberapa lama luka ini sembuh dan saya enggak mau kalau kamu terlalu lama menunggu karena tentunya akan banyak hal yang kamu lewatkan nantinya!" Deana menarik tangannya dari genggaman London dan keluar dari mobil.
Dia melangkah menjauh tanpa menoleh. Meninggalkan London yang terpaku menatap kepergiannya memasuki rumah.
"Semua keperluan gue sudah siap, kan?" Setelah tidak lagi melihat Deana, London segera menghubungi seseorang. Dia berencana akan pergi ke Singapura untuk menyelesaikan urusannya di sana.
Jika saja Deana menerimanya malam ini, London berniat akan membawanya bersama. Namun, penolakan deana membuatnya harus pergi sendiri.
__ADS_1
Di dalam rumah, Deana memilih mengurung diri di kamarnya. Dia terduduk di kasur dengan memeluk lututnya. Menjadikan lututnya untuk menyangga kepala.
Dia menghela napas panjang, satu tangannya menyentuh map yang berisi surat pengunduran diri. Deana sudah memantapkan diri untuk mengundurkan diri dan berencana menjauh dari London. Dia sama sekali tidak tahu kalau ternyata pria tersebut memilih pergi besok pagi-pagi sekali.
"Saya memang enggak tahu diri, ya!" Deana menyembunyikan wajahnya sesaat sebelum dia beranjak turun dari ranjang saat mendengar suara mobil London yang menjauh.
"Dia pergi!" gumam Deana saat mengintip dari jendela mobil London yang perlahan menjauh.
"Enggak masalah, De, ini lebih baik daripada dia terluka karena kamu!"
***
Deana sengaja meminta Lucas untuk menemuinya sembari mereka makan siang di restoran hotel.
Lucas memperhatikan map di meja dan beralih menatap Deana dengan tatapan curiga. "Saya bingung mau menyerahkannya ke siapa. Kamu tahu, tadi surat pengunduran diri saya ditolak!"
Deana menyerahkan map tersebut kepada Lucas. "Jadi saya memberikannya sama kamu. London seperti enggak mau lagi ketemu saya!"
__ADS_1
Dahi Lucas berkerut dalam, dia hanya diam memperhatikan Deana yang sedang bicara tanpa menyentuh sama sekali surat pengunduran tersebut. "Sebenarnya ini pertama kalinya saya menuliskan surat seperti ini, jadi untuk terlihat formal saya melakukannya. Apa salah?"
Lucas menggeleng. Dia membuka map tersebut dan mengambil surat pengunduran diri tersebut tanpa membacanya. "Kenapa kamu melakukannya?"
"Apa?"
Lucas memperlihatkan surat tersebut. "London pasti akan makin kecewa tentunya kalau kamu memilih pergi!"
Deana hanya mengangguk. "Baiklah, itu sudah jadi keputusan kamu! Sekarang apa yang akan kamu lakukan setelah berhenti bekerja?"
"Entahlah!"
Lucas menghela napas, dia terlihat tampak ragu untuk bicara sampai Deana menyadari itu. "Ada apa? Ada yang mau kamu sampaikan?"
"Saya tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi London mengubah jadwal pemberangkatannya menjadi subuh tadi, padahal seharusnya besok!" Deana mengerutkan dahinya mendengar ucapan Lucas. "Dia mengatakan akan mengajakmu untuk ikut, tetapi tidak jadi. Jadi, pasti ada sesuatu di antara kalian, kan?"
"Dia pergi ke mana?" tanya Deana penasaran. Selama seminggu mereka bersama setelah keluar dari rumah sakit, London sama sekali tidak pernah menyinggung tentang keinginan mengajaknya pergi.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu, toh kamu melakukan semua ini juga untuk menghindari dia!" Lucas memasukkan surat tersebut ke saku jas yang dikenakannya. Dia lalu menyesap kopinya yang telah dingin karena terlalu lama diabaikan.