
"Selamat malam, Nona!" Deana terkejut saat melihat Lucas berdiri di depan rumahnya sambil menenteng satu paper bag di tangan kanannya. "Untuk Anda. Besok datanglah ke hotel untuk melalukan wawancara!"
Deana menerima paper bag tersebut, mengintipnya dan menatap Lucas curiga. "Pakaian?"
"Rok dan flatshoes juga. Saya membelinya sesuai ukuran Anda!" Mata Deana membulat sempurna mendengar ucapan lugas dari Lucas. Pria itu bisa-bisanya begitu tenang bicara mengenai hal yang menurut Deana sensitif.
"Kamu kenapa belikan saya pakaian? Dan wawancara itu, memang saya pernah kirim lamaran?"
"Anggap saja semua yang Anda terima karena kebaikan Pak London!"
Deana berdecak sebal. Dia mengangguk malas lalu kembali mengintip isi paper bag tersebut. "Tapi hotel mana yang harus saja datangi? Bukannya cabang hotel Utama itu banyak?"
Lucas melirik Deana sekilas lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tidak lama ponsel Deana bergetar, dia menerima sebuah pesan dari nomor asing. "Sudah saya kirimkan alamatnya, saya harap Anda tidak terlambat untuk datang karena kami tidak mentolerir orang yang tidak tepat waktu!"
Deana menatap kesal Lucas yang sama sekali tidak menatap ke arahnya. "Kalau begitu saya permisi!"
"Aneh banget, kenapa juga Bujang sampai baik hati mau tolong saya? Padahal selama ini, kan, dia ...." Deana menutup mulutnya. Dia mengingat-ingat sesuatu lalu segera masuk rumah, tidak peduli saat Lucas sedang memperhatikannya dari dalam mobil.
"Jangan bilang kalau dia pernah melakukan kejahatan dan semua ini untuk menebusnya!" Deana masuk ke kamar, terduduk lemas di sofa kamarnya itu sambil memeluk paper bag erat-erat. "Tapi, kejahatan apa yang dia lakukan?"
Deana melipat bibirnya, mencoba mengingat kejahatan apa saja yang telah London lalukan dan dia malah mengingat semua kejahatan pria itu di masa lalu. "Apa artinya dia menyesal?" Deana mengeluarkan isi paper bag. Dia terkejut saat melihat isinya. "Ternyata pria itu beli sesuai dengan ukuran saya. Tapi gimana bisa?"
***
__ADS_1
Deana masih betah berdiri di depan cermin full body miliknya untuk memperhatikan penampilannya yang sempurna. Beruntung karena skincare yang diberikan Yumi kepadanya membuat jerawatnya kempes dan mengering. Namun, Deana merasa sayang dengan pakaian yang dia yakin harganya mahal itu, tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya saat ini.
Pakaian mahal yang dikenakannya terlihat seperti pakaian murahan saat dikenakan oleh pemilik tubuh jumbo sepertinya. Dia menghela napas pelan, menyayangkan tubuhnya yang tidak selangsing Yumi, Alisa, apalagi Siska.
"Sayang Sekali!" keluhnya. "Astaga, sudah hampir telat!" Deana lekas mengambil tasnya dan berangkat kerja. Dia mengabaikan saat Yumi memanggilnya, padahal menawarkan tumpangan karena akan mengantar putrinya ke TK.
Beruntung Deana tidak perlu terlalu jauh pergi ke jalan raya untuk menunggu angkot yang lewat, sekitar lima menit berjalan kaki dari rumahnya, ada salah satu tetangganya yang memberi tumpangan dan beruntungnya lagi tetangganya itu akan pergi juga ke tempat di mana Deana akan melangsungkan sesi wawancara.
"Jadi kamu mau kerja di sana, De?"
Beruntung saja Deana masih bisa mendengar ucapan pria yang sedang menyetir motornya itu, karena angin dan laju motor yang lumayan kencang membuat Deana terkadang tidak menangkap suara pria tersebut. Akhirnya dia memilih memajukan kepalanya sampai di samping kepala pria tersebut, mengabaikan aroma tidak sedap pada helm yang dikenakan.
"Iya, Mas!" jawab Deana dengan suara yang sengaja dia keraskan agar terdengar.
Pria itu mengangguk dan tersenyum tipis, Deana melihatnya dari kaca spion. "Kalau enggak salah di sana lagi butuh bagian akuntan, kamu lulusan ekonomi, kan? Pasti kamu keterimalah jadi akuntan di sana!" Deana hanya tersenyum saja. Dia tidak terlalu berharap untuk bisa bekerja di sana karena belum memiliki pengalaman pekerjaan. Dia datang hanya untuk menghargai London yang telah berbaik hati membantunya mencari pekerjaan.
Deana melangkah memasuki hotel tersebut, menghampiri seorang wanita cantik yang berada di balik meja panjang resepsionis. Wanita yang tersenyum ramah itu memperhatikan dengan heran saat Deana menanyakan tentang ruangan untuk wawancaranya.
***
Deana tidak habis pikir. Dia diterima kerja di hotel tersebut dan harusnya hal itu bagus, tetapi pekerjaan yang diterimanya dan alasan dirinya ditempatkan di bagian itu yang membuatnya kesal.
Deana melirik seorang wanita yang begitu beruntung bisa bekerja di bagian akuntan, meski dirinya hanya lulusan SMK dan ikut kursus. Berbeda dengannya yang kuliah dan lulus cumlaude, meski jurusan kuliah dan pekerjaan yang sempat dia harapkan berbeda.
__ADS_1
"Bersyukur, De, bersyukur!" Deana mengusap dada, mencoba menenangkan diri dan tidak mau mengeluh. Bagaimanapun dia telah menerima pekerjaan itu, dia tidak mau membuat London merasa tidak dihargai karena penolakannya.
Tidak jauh darinya, London memperhatikan Deana. Diam-diam dia menikmati setiap reaksi yang Deana lakukan tanpa sadar. Dia menyeringai tipis lalu mengajak Lucas yang setia di sampingnya itu pergi. Dia harus meninjau hotel lainnya lagi.
Deana menyusuri lorong hotel di lantai tiga itu menuju ke lift. Berada sendirian di lift, membuat Deana kembali melamun karena memikirkan tentang Lanang. Pria itu sama sekali tidak menghubunginya. Dia berharap Lanang membatalkan rencana perceraian mereka dan meminta untuk kembali bersama.
Sepertinya angan Deana sudah melambung begitu tinggi, saat dirinya keluar dari lift di lobi hotel. Dirinya melihat Lanang berjalan tergesa-gesa menuju ke arahnya.
Deana berusaha untuk menghindar, tidak siap untuk bertemu Lanang dengan penampilan yang terlihat berbeda. Namun, terlambat karena salah satu rekan suaminya itu melihatnya dan memberitahu Lanang.
Deana tersenyum canggung, memberanikan diri menghampiri Lanang yang menatapnya tanpa minat. "Mas Lanang ngapain ke sini?"
"Ada seminar di sini!" jawab Lanang singkat. Pria itu memperlihatkan penampilan Deana yang terlihat berbeda, lalu memicingkan mata saat melihat jerawat di wajah Deana yang mengering. "Kamu berubah!"
Menyadari maksud Lanang, Deana menyentuh wajahnya dan tersenyum malu-malu. "Ternyata saya cocok pakai skincare yang dikasih Mbak Yumi, Mas!" Lanang tidak menggubris dan mengajak rekannya itu pergi.
Deana memperhatikan dengan kecewa tingkah Lanang yang berubah drastis, kekecewaan itu makin terasa dan menyakitkan saat mendengar ucapan keduanya yang berjalan menjauh menuju ke lift.
"Bini kamu kayaknya cuma butuh modal deh biar jadi cantik! Jangan pelit-pelitlah, Nang!" Rekan Lanang itu menoleh ke arah Deana dan tersenyum canggung. Nyatanya selama ini Lanang memang memberikan uang untuk Deana pas-pasan. Uang yang hanya cukup untuk urusan dapur saja.
"Wanita gemuk dan jerawatan begitu apa menariknya? Yang ada hanya memalukan."
"Nyatanya kamu jadi suaminya sudah tiga tahun!"
__ADS_1
"Terpaksa!"
"Enggak cinta, dong!" Lanang tidak menjawab dan hanya berdeham.