
"Hai, Deana. Masih ingat denganku?" Deana tidak menyangka jika tamunya di pagi hari sepupu dari London yang pernah merawatnya saat sakit dulu.
Deana mengangguk dan tersenyum canggung saat Alisa meraih tangannya. "Apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat. Oh, ayo masuk!" Deana menarik tangan Alisa memasuki apartemen. Dia benar-benar canggung kepada tamunya itu, Alisa terus memperhatikan dirinya dengan senyum yang tidak memudar.
"Hei, ayolah. Santai saja!"
"Ah, iya."
"Terakhir kali kita bertemu di rumahmu, kan? Jujur aku tuh enggak sangka banget kalau London, eh, siapa? Bujang, ya?" Alisa lantas tertawa saat Deana mengiyakannya. "Sumpah, dia jadi bulan-bulanan keluarga di rumah karena panggilan itu."
"Benarkah?" Deana tidak menyangka dan kini merasa alasan London pergi tanpa memberinya kabar karena kesal. "Apa kamu tahu kalau London ada di Singapura?"
Tawa Alisa seketika menghilang berganti dengan tatapan bingung, kedua alisnya tertarik ke atas. "Dia di Singapura?" Deana mengangguk. "Kamu kata siapa? Dia ada di sini!"
"Di sini?" Alisa mengangguk. Deana memperhatikan Alisa yang tengah sibuk mencari sesuatu di tasnya. "Tapi Lucas yang bilang kalau dia di Singapura untuk beberapa waktu!"
"Lihat saja isi pesannya. Dia yang minta aku untuk bantu kamu!" Deana menerima ponsel dari Alisa dan terhenyak saat membaca pesan antara Alisa dan London. Dia sejenak menatap Alisa lalu kembali menggulir layar ponsel tersebut untuk membaca pesan di sana.
"Hah, jadi dia bohong?"
Alisa mengangguk, dia merasa kasihan melihat Deana yang terlihat begitu terkejut dan beberapa kali menghela napas pelan. "Ah, jangan dipikirkan. Aku bakal bantu kamu sesuai permintaan dia karena Lingga yang memilih mengakhiri kontraknya!"
Deana terdiam, menundukkan kepalanya sambil menekuri pinggiran meja di depannya itu. Dia sama sekali tidak menyangka jika London sampai berbohong untuk menghindarinya.
"Kenapa kamu menuruti dia?"
"Karena uang!" Deana terkejut karena jawaban dari Alisa. Dia mengerutkan dahinya lalu mengangguk pelan, tetapi dibuat bingung karena tawa wanita di sampingnya itu. "Astaga, aku cuma becanda. Aku seorang dokter dan beberapa kali aku menangani orang-orang yang ingin jadi kurus, tapi salah melakukan diet atau ada juga yang dia berharap dengan olahraga berlebihan akan buatnya kurus, padahal enggak begitu caranya. Olahraga itu bukan buat orang jadi kurus, tapi sehat."
"Apa itu alasan saya susah kurus, hanya turun beberapa kilo saja dan sudah tidak turun lagi walau sering olahraga sampai tubuh pegal-pegal."
Alisa menggeleng, merasa miris mendengar ucapan Deana. Dia mengusap pundak Deana sejenak. "Kamu tenang saja, aku akan bantu kamu untuk mencapai berat badan ideal, tapi ingat satu hal, setelah kamu berhasil nantinya jangan mudah terpengaruh sama rayuan laki-laki."
"Kenapa begitu?"
Alisa menepuk pundak Deana pelan dan berkata, "Karena kamu cantik!" Deana memperhatikan Alisa yang tersenyum begitu manis untuknya pagi itu. Dia mengangguk sebagai jawaban setuju. "Jadi kamu setuju!"
__ADS_1
"Iya. Tapi bisakah saya meminta satu hal!"
"Apa?"
"Apa kamu bisa antar saya temui London? Saya mau menanyakan alasan dia menghindari saya!" Alisa terlihat ragu untuk menjawab, tetapi akhirnya dia memilih setuju.
***
Deana menatap takjub rumah mewah di depan matanya itu, rumah mewah itu bahkan memiliki garasi mobil yang luas. Dia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada rumah mewah yang dilihatnya dari jarak begitu dekat.
"Yuk!" Deana menoleh ke sisi kirinya saat Alisa menepuknya. Dia mengangguk dan mengekori Alisa yang berjalan dengan santai menuju ke pintu utama.
"Aku enggak bilang kalau ke sini, dia pasti terkejut lihat aku bawa kamu!" Alisa menghentikan langkahnya. "De, nanti aku langsung masuk ke dalam, kamu kutinggal berdua sama London enggak masalah, kan?"
"Tentu!"
"Yuk!" Sekali lagi dia mengajak Deana untuk melangkah makin mendekat. Alisa memencet bel berulang kali, terlihat tidak sabaran.
Deana sudah begitu menanti dengan perasaan campur aduk pintu dibuka dan dia akan bertemu dengan London. Namun, dirinya dibuat terkejut dengan kehadiran Lucas di belakang mereka.
"London ke mana? Dia enggak pergi ke mana-mana, kan?" tanya Alisa kesal.
"Dia di dalam!" Lucas melirik ke arah Deana yang menatapnya tajam meminta penjelasan lalu beralih pada Alisa. "Gue bawa kunci rumah!"
Alisa berdecak sebal, dia menarik paksa tangan Lucas untuk mendekat dan membukakan pintu. Mengabaikan tatapan bingung Deana melihat keakraban mereka.
"Kamu duduk saja dulu, saya akan panggilkan Pak London!" Deana hanya mengangguk patuh saat Lucas mengajak mereka masuk. Pria itu terlihat begitu santai melangkah menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.
"De, aku ke dapur, ya, buat minuman. Kamu tunggu di sini saja dulu!"
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa rumah sebesar ini kayak enggak berpenghuni? Apa Bujang tinggal sendiri?" gumam Deana sambil memperhatikan sekitarnya. Rumah yang terlihat begitu luas dan mewah dengan perabotan yang begitu estetik.
Melihat lukisan berukuran besar itu membuat Deana tergerak untuk mendekatinya. Dia bangun dan hendak melihat lukisan tersebut lebih dekat, tetapi perhatiannya teralihkan ke arah pintu.
Deana bergeming sesaat lalu tanpa sadar menyebut nama pria yang sedang ingin ditemuinya itu. "Ngapain lo ke sini?"
"Ternyata benar kamu enggak di Singapura?" London berjalan santai mendekati Deana yang terus memperhatikannya, pria itu mengerutkan alisnya lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang empuk.
__ADS_1
"Siapa yang bilang? Lucas?" Deana mengangguk. "Dia bohong! Dia yang paksa gue untuk tinggal di sini daripada apartemen gue sendiri!"
Deana mengerutkan dahinya, perkataan London membuatnya bingung. Tatapannya teralihkan pada sosok Lucas yang berjalan santai ke arah mereka. "Lo tanya saja sama dia!"
"Jadi benar yang Bujang katakan?" Deana menoleh sekilas ke arah London yang berdecak sebal lalu kembali menatap Lucas yang terlihat bingung, meski akhirnya dia mengangguk. "Kenapa?"
"Karena saya tahu kamu dan Pak London selalu bertengkar, jadi untuk itu saya memintanya tinggal di rumahnya yang lain!"
"Dengar sendiri, kan?" London bangkit berdiri, menghampiri Deana dan meraih tangannya. "Siapa yang bawa lo ke sini? Dia?" Tunjuk London ke arah Lucas.
"Alisa, saya minta dia untuk diajak ke sini karena saya mau bicara sama kamu!"
"Oh, ya? Kalau gitu kita bicara jangan di sini!" Tanpa menunggu persetujuan dari Deana, London menarik tangan Deana, melewati Lucas yang diam memperhatikan mereka menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.
London mengajaknya memasuki sebuah kamar yang luas dan berhasil membuat Deana menghentikan langkahnya. Dia berdecak kagum dengan interior di kamar tersebut dan mengabaikan London yang berdecak sebal.
"Lo mau coba rasain empuknya kasur itu?" Deana melirik ke arah London dan menggeleng. Dia tidak mau mengiyakan, meski sebenarnya ingin merasakan duduk di kasur berukuran besar itu. Dia yakin lima orang bisa muat tidur di kasur yang luas tersebut.
"Kalau gitu ikut gue, kita ke balkon!" London tanpa perasaan menarik Deana menuju ke balkon. Pria tersebut memilih duduk di kursi sofa dan membiarkan Deana berdiri. "Jadi, apa yang mau lo bicarakan sama gue?"
"Kamu bohong, kan, saat bilang Lucas yang menyuruhmu?" London menyipitkan matanya dan membuat sekitarnya berkerut, dia mendesah pelan dan memilih bangkit berdiri.
"Terus apa mau lo?"
"Kenapa? Apa kamu sebegitu enggak sukanya sama wanita gemuk?" London menatap Deana tanpa minat lalu memilih berjalan ke pinggiran balkon. "Saya membaca pesanmu dengan Alisa. Kamu memintanya membantu saya untuk diet karena kamu enggak suka wanita gemuk! Apa sebegitu buruknya wanita yang gemuk? Kalau memang iya, kenapa kamu harus hadir lagi di hidup saya yang memiliki tubuh gemuk dan enggak menarik ini?"
London terdiam, dia terkejut melihat mata Deana yang berkaca-kaca, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue memang enggak suka wanita gemuk, mereka sama sekali enggak menarik dan cuma menyakiti mata!"
London hendak mendekat saat air mata Deana sudah tidak dapat lagi ditahan, dia ingin membantu menghapus air mata Deana. Namun memilih untuk menahan diri.
"Apa sebegitu buruknya wanita gemuk?" tanya Deana dengan tangan mengepal erat.
London berdeham. "Seharusnya lo sadar alasan dikhianati itu apa. Semua karena suami lo itu enggak tertarik sama tubuh gemuk lo!"
"Kamu benar. Tapi apa alasan kamu mau bantu saya?"
"Gue akan kasih tahu lo alasannya, sekarang lo lakuin saja semuanya!" Setelah mengatakannya London memilih meninggalkan Deana begitu saja di balkon.
__ADS_1