Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Ternyata Pas di Kamu!


__ADS_3

"Jadi tugasmu selesai?" Deana mengulangi kembali pertanyaannya. Dia tahu Alisa pasti bosan dengan pertanyaan yang sudah empat kali ditanyakan dalam waktu sehari, tetapi dia tidak peduli karena terus merasa gelisah.


"Apa kamu yakin? Gimana kalau kebiasaan buruk saya kambuh? Malas cuci muka tiap mau tidur atau makan ...." Deana menghela napas pelan, tidak melanjutkan kembali ucapannya. Dia merasa kesal karena Alisa malah menanggapi kecemasannya dengan santai.


"Kamu itu kenapa, sih? Kamu gugup karena misiku selesai dan London balik ke sini atau karena besok kamu sudah resmi gantikan Bu Vero?"


Deana menggeleng, mengabaikan Alisa yang memperhatikannya heran. "Oh, iya. Besok jam satu siang pesawatku berangkat, jadi bisa enggak kalau besok pagi buat sarapan nasi goreng cumi?"


"Kamu yakin?" Alisa hanya mengangguk sambil memasukkan potongan buah apel ke mulutnya. Dia terlihat begitu menikmati potongan buah segar yang menjadi camilan favoritnya.


"Sesekali makan yang berat di pagi hari bolehlah!" Alisa mengedipkan matanya sebelum akhirnya sibuk dengan ponselnya yang berkedip beberapa sebelum suara nada dering dari lagu band rock terkenal memenuhi penjuru ruangan.


Wanita itu dengan garpu di tangan melangkah menjauh, meninggalkan Deana seorang diri dengan sepiring potong buah yang sudah menjadi makanan hariannya.


"Bagaimana bisa saya yang enggak suka makan buah jadi terbiasa begini?" gumam Deana perlahan sambil mengunyah potongan buah kiwi. Beberapa kali dia menghela napas sambil memperhatikan Alisa yang bicara dengan serius dan sesekali melirik ke arahnya.


"Apa yang dia bicarakan? Kenapa sering lihat ke sini?" Bagian di antara kedua alisnya berkerut sesaat dan dia memilih pergi ke dapur, melewati Alisa. Di saat itu tidak sengaja Deana mendengar Alisa menyebut namanya. Namun, Deana memilih untuk abai saja dan berlalu ke dapur.


"De, kamu tadi dengar pembicaraanku?" Deana yang baru saja menghidupkan keran di wastafel kembali mematikannya dan berbalik menatap heran Alisa dengan senyum canggung wanita itu. "Hah, tadi sebenarnya yang telpon London."


"Ada apa?" Alisa hanya menggeleng dan pergi ke arah kulkas untuk mengambil air dingin di sana. "Saya tadi enggak sengaja dengar kamu sebut nama saya. Apa yang kamu sama Bujang bicarakan?"


"Enggak ada, cuma bahas sesuatu tentang apartemen ini. Ah, lebih baik dia aja deh yang jelasin!" Deana mengerutkan dahinya melihat Alisa hanya memegang botol air minum dan kembali memasukkannya. "Aku mau ke kamar dulu, ya. Mau persiapkan untuk besok!"


***


Deana berhasil mencekal pergelangan tangan Laras yang terus saja menghindarinya. Dia sebenarnya sudah menduga jika pengangkatan dirinya menggantikan Vero akan membuat beberapa orang atau seluruh karyawan membicarakannya. Belum ada satu tahun bekerja, tetapi dengan mudahnya dia sudah bisa berganti posisi.


Begitu juga dengan Laras, semenjak pengumuman itu diberitahukan wanita yang selalu menemaninya itu memilih menjaga jarak. Menjauh dan enggan untuk menatapnya walau sedetik pun. Seperti kali ini yang selalu berusaha menghindari tatapan Deana dengan melihat ke lain tempat.

__ADS_1


"Mau apa lagi, De? Aku sudah kasih selamat buat kamu dan kenapa kamu masih cegah aku pergi?"


"Mbak, saya di depan kamu, bukan di samping kamu!"


Laras mendengkus kesal lalu menatap tajam kepada Deana. Dia menarik tangannya dengan kasar seakan Deana akan tetap menahannya, padahal tanpa diminta pun Deana akan melepaskannya setelah memastikan wanita di depannya itu tidak kabur-kaburan lagi.


"Mbak Laras marah sama saya?" Wanita itu mengerutkan alisnya lalu menggeleng. "Terus kenapa jadi ketus begini dan terus menghindar. Saya tahu ucapan selamat itu enggak tulus!"


"Baguslah kalau kamu tahu. Kamu sadar enggak, sih, De, kalau kamu itu kelihatan banget kerja di sini menggunakan koneksi pemiliknya?"


"Memang ada yang salah?"


"Banyak. Tapi yang jelas kali ini kamu itu benar-benar keterlaluan!"


Deana menghela napas pelan, mencoba untuk tetap tenang walau emosinya sudah ingin dia luapkan. "Asal Mbak tahu saja, bukan Pak London yang melakukannya, tetapi semua ini karena keputusan Bu Vero sendiri. Kalau enggak percaya tanya sama dia alasan memilih saya dibanding karyawannya yang lebih lama bekerja. Permisi!"


Langkah Deana tertahan saat melihat London berjalan menghampirinya. Dia mengira pria itu tidak akan datang hari ini karena akan mengantar Alisa, tetapi dia datang dan mengulurkan tangannya mengajak untuk bersalaman.


"Lo larang gue ke sini?" tanya London kesal. Deana hendak menjawab, tetapi dia tersadar ada Laras di belakang mereka lalu menoleh untuk memastikan dan merasa lega saat Laras sudah pergi. "Cari siapa lo?"


"Enggak ada. Kamu enggak antar Alisa pergi?"


"Sudah ada Lucas. Buat apa gue capek-capek antar dia juga?"


Deana ingin sekali memukul kepala pria di hadapannya itu, tetapi karena masih waras dia memilih menahan diri. "Nanti malam ikut gue!"


"Ke mana? Kenapa mendadak sekali?"


London melirik arlojinya dan berdecak sebal. "Masih ada beberapa jam sebelum gue jemput lo di apartemen dan lo bilang tiba-tiba?" Pria tersebut kembali berdecak.

__ADS_1


"Terserah kamu saja. Tapi kamu mau ajak saya ke mana?"


"Rahasia. Yang jelas lo pakai pakaian yang sudah gue ada di apartemen. Awas kalau lo enggak pakai!" Pria itu memberi ancaman kepada Deana dengan menodongkan jari telunjuk dan jempol seperti sebuah pistol ke dahi.


Dengan kesal Deana menepis kasar tangan London tersebut. "Terserah kamu. Yang jelas saya nanti malam mau bicara serius juga sama kamu."


"Apa?"


Deana menyeringai sebelum kembali membuat pria tersebut berdecak sebal. "Rahasia!"


"Lo balas ucapan gue?" London terlihat begitu kesal, tetapi Deana memilih mengabaikan dan meninggalkan begitu saja.


"Dia kenapa selalu kekanakan banget, sih?" gumam Deana memasuki lift. Dia merogoh saku roknya saat ponselnya bergetar. Dahinya berkerut dalam saat nama Lanang berada di layar ponselnya sedang memanggil.


Cukup lama Deana menahan jarinya untuk tidak menggeser icon berwarna hijau, dia merasa ragu menerimanya dan tepat saat dirinya berhasil meyakinkan diri untuk menerima panggilan tersebut, panggilan itu terhenti. Tidak berselang lama dirinya menerima pesan dari Lanang yang mengajaknya bertemu nanti malam.


***


Deana menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi bagian bahunya yang terekspos, dia berdecak sebal kepada pria yang berdecak sebal kepada pria yang berdiri di hadapannya itu. Menatapnya tanpa kedip.


"Kamu kenapa belikan pakaian kurang bahan begini, sih?" keluh Deana. Dia benar-benar tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakan dan merasa tidak percaya diri.


"Ternyata pas di kamu!"


"Apa saya bisa ganti pakaian saja? Saya benar-benar enggak nyaman karena belum pernah menggunakan pakaian begini!"


"Jangan! Kamu cantik dan cobalah untuk terbiasa, setidaknya malam ini saja!"


Deana menatap curiga pria di hadapannya itu. Seakan ada yang sedang direncanakan sampai memaksanya untuk memakai dress mahal dan kurang bahan itu. "Jangan berpikiran yang macam-macam. Gue mau ajak lo ketemu saja bokap gue!"

__ADS_1


"Hah?" Reaksi Deana yang benar-benar terkejut hanya ditanggapi dengan senyum canggung dan tarikan lembut untuk keluar dari apartemen.


__ADS_2