
"Apa kamu akan tetap diam saja, Mas?" Deana sudah mulai kesal setelah setengah jam mereka duduk berdua di cafe, tetapi Lanang sama sekali belum bicara alasannya mengajak Deana bertemu.
Deana menghela napas pelan, dia memperhatikan Lanang yang terlihat tampak berbeda. Penampilannya tidak terawat, pria yang dulu selalu dikagumi oleh Deana karena kerapiannya itu dalam beberapa hari tampak berbeda.
"Kamu lupa mencukur kumismu, Mas?"
Lanang hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jelas sekali dipaksakan. Lagi dan lagi pria tersebut menyesap kopinya yang mulai mendingin. "Kayaknya kamu memang belum siap cerita, kalau begitu saya akan kembali ke hotel!"
Baru juga Deana mengangkat bokongnya menjauhi kursi, pria tersebut menahan pergelangan tangan Deana. Terpaksa Deana kembali duduk. "Aku akan bicara!" Lanang menghela napas pelan.
"Kenapa diam lagi, Mas? Kamu mau mempermainkan saya?" Kali ini Deana sudah tidak tahan lagi.
"Aku memutuskan berhenti menjadi dosen, De!" Deana terhenyak. Dia memperhatikan Lanang dengan saksama. Pria tersebut terlihat begitu menyedihkan.
"Kenapa? Apa yang terjadi sampai kamu melakukannya?" Deana kini menjadi tertarik untuk mengetahui alasan Lanang melakukannya.
Dia tahu Lanang begitu mencintai pekerjaannya, terbukti walau masih terbilang muda, Lanang sudah bisa membuktikan dengan pengangkatan beberapa waktu lalu.
"Apa karena kejadian waktu itu?" Lanang mengangguk. "Sudah saya duga."
"Pria itu ternyata hebat sekali, De. Dia enggak main-main mencintai kamu!" Lanang memegang kuat cangkir kopinya, jika saja cangkir tersebut terbuat dari plastik sudah dipastikan akan memuntahkan isinya.
Deana memilih untuk diam, meski dia penasaran dan gelisah menunggu Lanang yang terdiam beberapa saat itu.
"Lihatlah aku sekarang, aku tidak lebih hanya menjadi seorang pria pengangguran, De! Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya untuk menghancurkan diriku."
"Mas!"
Lanang menatap Deana dengan penuh amarah. "Kamu tahu, pengangkatan itu hanya permainannya saja!" Lanang tersenyum getir menatap Deana yang terkejut. "Dia sengaja ingin mempermainkan aku, De. Kamu tahu, dia punya pengaruh di kampus tempatku mengajar itu. Ah, sial!"
Lanang yang begitu emosi langsung saja menghabiskan kopinya. Dia menaruh cangkir tersebut dengan kasar. "Aku cuma mau bilang sama kamu, selamat kamu sudah berhasil membuatku hancur. Wanita yang aku cinta ternyata mendua dan karirku hancur!"
__ADS_1
"Mas ...."
"Seharusnya sejak awal kita enggak pernah bertemu. Seharusnya aku memang menolak perjodohan kita itu, kan?" Lanang terkekeh getir lalu memilih pergi begitu saja meninggalkan Deana yang terpaku.
Deana menunduk menekuri pinggiran meja sebari meremat rok yang dikenakannya. Dia sama sekali tidak menyangka dengan semua yang terjadi, dengan perbuatan London kepada Lanang.
Walau Lanang tidak menyalahkan dirinya atas keterpurukan yang dialami, tetapi secara tidak langsung semua ucapannya itu berhasil membuat Deana merasa dirinyalah penyebab semua yang terjadi.
***
Setelah satu jam menunggu London di depan pintu apartemennya dan tidak ada yang membukakan, Deana memilih menyerah. Dia memilih pulang dengan banyak tanya di benaknya. Namun, saat hendak membuka pintu rumahnya, dia dikejutkan dengan sapaan dari seseorang yang seharian ini tidak menghubunginya sama sekali.
Deana berbalik, dia mendengkus kesal melihat London yang merentangkan tangan seolah sedang menantinya datang dan memeluk.
"Oh, astaga, apa akan diabaikan?" Deana menghampiri London sembari memberi cubitan di pinggang pria tersebut. "Ampun, De. Ada apa lo sampai siksa gue?"
Deana lekas berhenti saat London meminta berhenti karena sakit. Dia menatap lekat London yang masih meringis lalu memeluknya. "De ...."
"Ini pertama kalinya gue dapat pelukan sehangat ini."
"London lepaskan, saya mau bicara!"
Terpaksa London melepaskan pelukannya. Tanpa memberi kesempatan Deana bicara, dia mengajak Deana masuk rumah.
"Sekarang lo bicara saja. Ada apa?"
"Apa yang kamu lakukan sama Mas Lanang?" London menaikkan satu alisnya, dia merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa. "Siang tadi dia bicara semuanya. Kenapa kamu sampai tega melakukan hal itu?"
"Katakan yang jelas, De, apa yang sudah gue lakuin lagi ke dia?"
Deana mendesah pelan, mencoba tetap tenang. "Mengangkat itu, kamu yang melakukannya?"
__ADS_1
London seketika menghentikan aktivitasnya yang sedang melipat lengan kemejanya. Dia membalas tatapan Deana lalu berdeham. "Kenapa harus sejauh itu?"
"Apa lo lupa yang gue bilang? Gue rasa lo enggak lupa dan seharusnya lo enggak menyalahkan gue karena semua itu karena yang gue lakukan demi lo. Gue benar-benar enggak tahan lihat lo yang seolah enggan membalas perbuatan sialannya itu!" London menjadi emosi.
"Saya enggak menyalahkan kamu dan merasa beruntung karena ada kamu yang selalu ada buat saya, tapi saya hanya merasa kamu tidak seharusnya melukainya seburuk itu!"
London memilih pindah duduk jadi di sebelah Deana. Mereka saling bertatapan lalu tanpa diduga sama sekali oleh Deana jika London akan menyentil dahinya.
"Gue enggak akan pernah kasih ampun orang-orang yang sudah menyakiti lo atau siapa pun yang harus gue lindungi!"
Deana menatap ke dalam mata London, dia melihat pupil mata pria tersebut membesar dan dapat melihat bayangan dirinya di sana. "Apa kamu benar-benar memiliki perasaan itu?"
"Meragukannya?"
Deana mengangguk. Tentu saja dia akan ragu tentang perasaan London yang kini terang-terangan diungkapkan. Selama ini dia memendam kebencian kepada pria tersebut setelah yang diperbuatnya di masa lalu. "Apa yang harus gue lakuin biar lo enggak ragu dan mau terima gue? Gue harap kita bisa bersama, tanpa terbebani dengan bayangan masa lalu lo itu!"
"Enggak ada!" Deana memberi jarak yang jelas untuk mereka. "Kamu enggak perlu lakukan apa pun lagi, cukup semua yang kamu lakukan selama ini. Sekarang biarkan saya menjalankan sendiri takdir saya, tanpa bantuan kamu!"
***
Setelah satu jam kepergian London dari rumahnya, Deana masih termenung di ruang tamu. Dia sama sekali tidak menyangka akan melihat tatapan London yang terluka karena keputusannya itu.
Deana baru tersadar dari lamunannya saat seseorang mengetuk pintu rumahnya.
"Boleh masuk?" Deana hanya mengangguk, mempersilakan tamunya itu masuk dan duduk di tempat London tadi duduk.
"Ada apa? Apa kamu datang disuruh London?"
"Apa dia ke sini tadi?" Deana mengangguk. "Sudah saya duga. Dia sesenang itu sampai langsung datang kemari setelah semua persiapan selesai."
Deana mengerutkan dahinya, menatap bingung tamunya tersebut. "Dia sudah mempersiapkan tempat yang spesial untuk menyatakan perasaannya sama kamu. Ah, maaf, seharusnya saya tidak memberitahu kamu, biar dia yang katakan langsung!"
__ADS_1
"Enggak masalah. Hanya saja, saya sudah berhasil melukainya tadi!" ucap Deana dengan perasaan bersalah setelah mendengarnya.