
"Bukankah ini sudah begitu lama? Dua tahun, kan?" Deana mengangguk, dia hanya memperhatikan jalanan yang lumayan macet dengan cemas.
"Apa enggak ada jalan pintas biar kita cepat sampai?" Deana begitu risau, mereka sudah telat sekitar dua puluh menit dan jarak mereka kini ke tempat tujuan masih jauh. "Kenapa enggak ada kendaraan yang bergerak?" Deana menurunkan kaca dan melongok keluar. Dia melihat jalanan benar-benar macet, suara klakson bersahutan dan sedang gerimis.
Wanita itu memilih menaikkan kacanya kembali, dia menyandarkan tubuhnya sambil mendesah kesal. "De, tenanglah. Mereka pasti menunggu kita!" Deana hanya melirik saat Lucas menyentuh tangannya. "Akhirnya, kita bisa bergerak juga!"
Deana menghela napas lega saat kendaraan di depan mereka bergerak perlahan. Dia begitu merinding saat melewati mobil dan motor yang ringsek parah, serta darah tercecer di jalanan. "Ternyata ada kecelakaan!"
"Hah, semoga mereka selamat!"
"De, apa kamu sudah siap?" Deana hanya mengangguk, dia terlihat gugup dengan tangan saling meremas. Lucas yang melihatnya hanya menghela napas pelan dan fokus ke jalanan.
"Apa dia masih sama? Sudah dua tahun dan saya takut kalau dia sudah melupakan saya, Apa menurutmu dia akan berubah?"
"Kita lihat saja nanti. Gimanapun dia sudah selama itu meninggalkanmu. Apa yang akan kamu katakan pertama kali nanti?" Lucas menoleh memperhatikan Deana yang tidak menggubris pertanyaannya. "De, percaya saja dia tidak akan berubah!"
"Semoga!"
Lucas tidak lagi mengajak Deana bicara, dia melajukan mobilnya makin cepat agar mereka segera sampai dan benar saja, saat mereka sampai di rumah mewah itu, orang yang mereka nanti sudah sampai.
"Kenapa tidak keluar?" Deana hanya menunduk sembari memegangi sabuk pengamannya. "Ayolah, bukankah tadi kamu begitu semangat!"
Lucas melepaskan sabuk pengaman Deana, mengabaikan tatapan tidak suka wanita tersebut dan memilih keluar. "Ayo, dia pasti menunggu kita!"
Deana menatap lekat Lucas yang sudah membukakan pintu untuknya. Dia masih saja ragu untuk keluar dari mobil dan menghampiri seseorang yang telah meninggalkannya begitu saja. "Kamu duluan saja!"
"Tidak. Ayo!" Lucas memaksa Deana keluar dari mobil, dia bahkan menyuruh Deana menggandeng lengannya. "Lebih baik?" Mereka saling tatap beberapa saat sebelum akhirnya melangkah memasuki rumah yang terdengar gelak tawa di sana.
__ADS_1
Deana makin gugup, dia sampai mencengkeram erat pergelangan tangan Lucas dengan satu tangannya lagi. Kegugupannya itu sampai membuatnya tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan yang dikatakan Lucas.
"Malam!" Suara tawa mereka seketika menghilang, berganti dengan tatapan dari semua yang ada di sana kepada mereka berdua.
"London," cicit Deana saat tatapannya bertemu dengan London. Pria tersebut terlihat berbeda dari yang terakhir kali mereka bersama. Namun, cepat-cepat Deana memalingkan mukanya. Dia merasa gugup saat bertemu dengan pria tersebut, walau sebenarnya sangat ingin.
"Ayo!" Deana hanya mengangguk saat Lucas mengajaknya ikut bergabung bersama mereka. Di sana mereka kembali bercengkerama, tetapi hanya London dan Deana yang diam.
"Jadi, kapan kalian akan menyusul Alisa?" Pertanyaan pria yang merupakan ayahnya London membuat Deana terkejut, dia melirik London yang terlihat acuh dengan menghabiskan minumannya, seolah tidak peduli dengan pertanyaan barusan.
"Biarkan Alisa dulu, Om. Kita gampang!"
***
"Di mana Lucas? Kenapa dia enggak ada di sini?" Deana hanya menggeleng, dia sejak tadi hanya diam dan masih tetap diam saat mereka hanya berdua saat ini di ruang makan.
Mengetahui Deana terus memperhatikan dirinya, London mengangkat sebelah alisnya dan mengambil minuman di tangan Deana dan meminumnya. "Kenapa menatap begitu? Ada yang aneh sama penampilanku, ya?"
"Sudah!"
London mendengkus kesal saat Deana memilih memalingkan wajahnya, dia meraih tangan Deana dan menaruh di dadanya. Dia menatap lekat Deana yang terlihat terkejut karena tindakannya barusan. "Apa kamu enggak merasakannya?"
"Apa?" tanya Deana gugup. Deana berusaha menarik tangannya, tetapi London menahannya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Apa kamu enggak bisa merasakannya?" tanya London kembali. "Kamu enggak bisa merasakannya? Jantungku berdetak cepat sekali di dekat kamu, perasaan ini masih sama, De, tapi kamu sudah dengan Lucas!"
Deana terkejut mendengar ucapan London. Dia lekas menarik tangannya di saat pria tersebut lengah.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan? Apa sebenarnya kamu menolakku saat itu karena Lucas? Kamu lebih memilih dia daripada aku?"
"London ...." Deana menatap nanar London yang memilih pergi meninggalkannya saat Alisa menghampiri mereka.
"Kalian bertengkar?" Deana dengan cepat berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan tersenyum kepada Alisa. "Dia sejak tadi terus saja tanya tentang kamu, sampai pegal telingaku dengarnya. Tapi kenapa sekarang dia malah kelihatan kayak marah?"
"Sa, dia cuma salah paham saja!" Dahi Alisa berkerut dalam karena tidak mengerti maksud Deana bicara begitu. "Kamu ingat pertanyaan tadi saat saya dan Lucas baru datang?"
"Tentu!"
Deana menghela napas pelan sebelum kembali bicara, "Dia mengira saya dan Lucas ada hubungan. Apalagi sejak tadi, Lucas terus saja menggenggam tangan saya, walau saya tahu dia melakukan itu untuk mengetes London."
Alisa langsung tertawa pelan setelah mendengarnya. "Terus kenapa kamu kelihatan cemas begini? Kamu merasa cemas karena dia salah paham?" Alisa menggoda Deana yang menjadi salah tingkah.
"De, aku dan Lucas tahu betul gimana kamu selama dua tahun ini tanpa dia. Mungkin awalnya kamu menolak dia, tapi aku tahu kok dan rasanya wajar kalau saat itu kamu menolak."
Deana menunduk, menggigit bibirnya karena merasa gugup. "De, sekarang saatnya kamu kasih tahu perasaan kamu sama dia!" Deana mengangkat wajahnya dan menatap lekat Alisa yang sedang mencoba meyakinkannya.
"Kenapa?"
"Lihatlah, apa kamu kira saya bisa memberitahu perasaan saya sekarang saat dia sedang bersama Mia?" Deana menunjuk ke arah London dan Mia yang sedang bicara.
"Mia? Sejak kapan dia datang? Bukankah aku enggak undang dia?" Alisa begitu tidak suka dengan kehadiran Mia yang tidak diundangnya. Saat hendak menghampiri mereka, Deana menahannya. "De, aku harus tahu dia mau apa datang ke acara keluarga ini. Kamu tahu, kan, kalau yang diundang cuma kamu saja?" Deana mengangguk dan terus memperhatikan mereka yang tampak tidak canggung. Seperti sudah lama akrab.
"Alisa, keluarga Yogi sudah mau pulang. Ayo ke depan dan antar mereka pulang!" Wanita paruh baya yang merupakan ibu Alisa menghampiri mereka, tanpa memedulikan Deana dia menarik tangan putrinya pergi ke depan.
"Kamu pasti terkejut kenapa aku bisa di sini, kan?" Mia ternyata sudah selesai bicara dengan London yang sekarang entah berada di mana. Wanita itu menghampiri Deana. "Sama sepertimu, aku juga diundang!"
__ADS_1
"Permisi!"
Langkah Deana terhenti saat Mia mengatakan sesuatu tentang London. "Kamu ingat kalau aku sudah menyerahkan London sama kamu? Tapi sekarang enggak lagi karena aku mau menikah sama dia. Jadi, sebelum kalian banyak bicara, jauhi dia!"