Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Tamu Malam Itu


__ADS_3

Deana tidak menyangka Lanang datang menghampirinya di saat jam kerja, pria itu memperhatikan penampilan Deana dengan seragam kerjanya sebelum fokus pada berkas di tangan istrinya itu.


"Apa sudah kamu tanda tangani?"


Deana menyembunyikan berkas tersebut di belakang tubuhnya, dia memperhatikan Lanang yang menghindari tatapan matanya. "Jawab pertanyaan saya, Mas, apa benar kamu enggak pernah mencintai saya? Sedetik pun?" Deana menatap Lanang penuh harap, saat tatapan pria itu menguncinya, tepi-tepi sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas. Namun, lengkungan kecil ke atas itu seketika berubah menjadi decak kekesalan saat Lanang berhasil mengambil berkas tersebut.


"Apa kamu enggak bosan menanyakan hal yang sama terus? Kamu harusnya sadar kalau selama ini aku memang enggak pernah cinta sama kamu!" Pria itu membuka map dan tersenyum puas saat melihat tanda tangan Deana di sana.


"Apa sekali pun enggak pernah? Lalu kenapa selama ini kamu selalu baik? Kamu selalu menghibur saat Ibu dan Kak Alumi membuatku sedih?"


Lanang berdecak sebal. Dia memukul kepala Deana dengan map di tangannya itu. "Karena aku kasihan. Apa kamu enggak sadar, dengan fisik yang enggak menarik begini, menurutmu aku bernafsu untuk menggaulimu?" Tatapan Lanang kali ini benar-benar sama seperti tatapan orang-orang kepadanya. Menatapnya seakan dirinya seonggok benda tidak berguna.


"Jadi benar, karena saya yang gemuk dan enggak menarik?"


"Bukan itu saja. Selama tiga tahun ini, kamu sama sekali enggak pernah bisa belajar dan terus berharap aku memahamimu, sedangkan kamu sama sekali enggak peduli dengan perasaanku!"


Deana menghela napas pelan. Mengangguk lemah lalu memilih berbalik badan sebelum matanya yang berkaca-kaca tidak dapat dibendung lagi untuk menangis. Tatapan terkejutnya kini tertuju pada London yang berjalan menghampiri mereka. Pria itu menarik pelan tangan Deana dan memeluknya, mengabaikan saat Deana memberontak. "Jangan bergerak atau gue akan buat lo makin menderita," bisik London dan berhasil membuat Deana terdiam. Membiarkan London memeluknya, meski merasa tidak nyaman.


"Bukankah urusan kalian selesai? Lebih baik Anda keluar dari sini dan urusi istri Anda!" London membalas tatapan Lanang yang terkejut karena tindakannya itu dengan menyeringai tipis.


Lanang berdeham lalu beranjak meninggalkan mereka. "Sebentar!" Langkah Lanang berhenti, kembali berbalik menatap London yang sudah melepaskan pelukannya pada Deana. "Saya harap jangan pernah temui Deana lagi dan jangan pernah bermimpi bisa bersamanya lagi!"


Lanang mengerutkan dahinya, tatapannya beralih pada Deana yang berdiri memunggunginya. "Apa maksud Anda?"


London terkekeh pelan lalu menatap Lanang dengan tatapan tajam dan wajah datarnya. "Saya akan mengubah wanita yang Anda campakkan itu sampai membuat Anda merasa menyesal meninggalkannya!"


"Anda yakin bisa melakukannya? Padahal sejak dulu dia sama sekali tidak pernah peduli dengan tubuh dan wajahnya yang sama sekali tidak menarik itu!" ejek Lanang.


London kesal, dia mendekati Lanang dengan tangan mengepal kuat. Siap untuk menghajar Lanang jika saja Lucas yang berada di belakang London tidak mencegahnya. "Anda akan tahu seberapa buruknya dia!"

__ADS_1


Deana hanya diam mendengarkan perkataan Lanang yang benar-benar menyakitkan untuknya. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menangis. "Anda seorang pendidik, tetapi ucapan Anda sama sekali tidak mencerminkan hal itu! Pergilah dan jangan pernah menginjakkan kaki di hotel ini atau hotel milik saya yang lainnya!"


"Baiklah!" London melarang Lanang mendekat kepada Deana. "Aku harap kamu enggak perlu datang ke pengadilan biar semua berjalan dengan cepat!"


"Gimana, sekarang lo tahu seberapa buruknya dia buat lo?" Deana mengangguk pelan lalu menatap London lekat. "Mau bilang terima kasih?"


"Kenapa kamu mau membantu saya berubah?"


"Karena lo berhak." London beralih kepada Lucas yang memilih diam menyimak mereka saja. "Lo sudah temukan orangnya?"


"Sudah, Pak. Besok dia akan datang!"


London mengangguk, dia menatap Deana yang menatap curiga kepadanya. Pria itu seolah tidak peduli dengan kecurigaan Deana dan hanya menyeringai tipis sebelum pergi meninggalkan Deana sendiri.


"Wah, enggak nyangka banget deh. Orang kayak kamu dengan tubuh yang sama sekali enggak menarik bisa buat dua orang pria bertengkar!" Ami datang menghampiri Deana, bertepuk tangan untuk mengejeknya.


"Saya tidak tahu!"


"Bohong!" Ami menghela napas pelan setelah membentak Deana sampai membuatnya terkejut. Dia tersenyum paksa lalu mencengkeram kuat kedua bahu Deana. "Kamu pasti guna-guna Pak London, kan?"


Deana yang awalnya masih sedih mendengar tuduhan tidak masuk akal rekan kerjanya itu membuatnya tertawa. Dia menepis tangan Ami dan menyeka air matanya yang keluar bersamaan dengan tawa yang tidak bisa tertahan. "Menurutmu apa dia tampan?" Ami mengangguk, meski bingung dengan sikap Deana yang berbeda.


"Kamu benar, dia tampan. Sayang, di balik itu dia jahat!" Deana membuang napas kasar. Mengingat keusilan London membuatnya kesal sendiri. "Dan kamu pikir saya melakukan guna-guna? Konyol!"


Deana memilih pergi meninggalkan Ami begitu saja, mengabaikan Ami yang menggerutu kesal karena tidak berhasil membuat Deana makin kesal. "Dia memang aneh!"


***


Dua hari sejak kejadian di hotel siang itu, Deana tidak lagi membicarakan tentang Lanang dan terlihat ceria. Seperti tidak ada lagi beban yang dia pikirkan, mengabaikan saat beberapa kali London meledeknya dengan mengatakan jika dirinya akan menjadi janda.

__ADS_1


Malam itu, Deana membuat makanan yang London minta. Walau makanan itu baru pertama dia buat, ternyata berhasil membuat London bungkam setelah mengejek dan terus menggoda Deana jika tidak akan bisa membuatnya.


"Sekarang kamu tahu, kan, kenapa saya selalu dipuji oleh guru saat sekolah? Karena saya pintar!"


London hanya menganggukkan kepalanya mendengarkan kalimat Deana yang terus membanggakan diri sambil menikmati makan malamnya itu.


"Oh, ya, saya berniat membuat bolu setelah ini. Apa boleh? Saya berjanji kepada Mbak Laras untuk membawakannya besok!"


London menatap Deana dengan kerutan di dahinya dan membuat kedua alisnya hampir bertaut. Dia tidak mengunyah makanan yang baru saja dia masukkan ke mulut. "Enggak boleh, ya?" tanya Deana dengan raut wajah sedih.


Buru-buru London mengunyah dan menelan makannya sampai hampir tersedak. Dengan cepat Deana bangun dari duduknya dan berlari ke belakang tubuh London, mengusap punggung pria itu. "Kalau makan pelan-pelan saja! Minumlah!"


"Kenapa lo kira gue larang?" London segera menurut yang diperintahkan oleh Deana, setelah merasa lega dia memilih menanyakan alasan Deana mengira dirinya akan memberi larangan.


"Kan, kamu sukanya begitu. Melarang apa yang mau saya kerjakan dan memaksa saya mengerjakan yang kamu minta tanpa peduli saya bersedia atau enggak!"


"Jadi kamu kasih izin?" London mengangguk saja dan kembali menikmati makan malamnya.


"Makasih, akan saya berikan sisanya nanti buat kamu!"


"Sisa?" London tidak suka mendengar ucapan Deana itu. "Buat yang banyak dan gue mau yang utuh, bukan sisa!"


"Hih, iya, iya, Tuan!" ejek Deana dan berhasil membuat London kesal. Dia sudah melarang Deana memanggilnya tuan saat berdua di apartemen, tetapi Deana abaikan.


Deana terkekeh pelan melihat kekesalan London karena dirinya yang tidak peduli dengan larangan tersebut. Bagi Deana membalas kejahilan London setidaknya mengurangi atau malah membuatnya lupa kesedihan yang dia rasakan. Namun, semuanya harus terjeda saat seseorang mengetuk pintu berkali-kali dengan tidak sabaran. "Jangan marah. Ada tamu, saya akan bukakan!"


Deana mengira jika Lucas yang datang ke apartemen, meski ragu karena Lucas biasanya akan langsung masuk saja ke apartemen dan ternyata Deana terkejut karena ternyata tamu yang datang seorang wanita berpakaian begitu seksi dan menggunakan riasan menor.


Deana mempersilakan wanita itu masuk mengira dia tamu London setelah menyebut nama London. Hal yang tidak Deana duga, London bisa mempunyai kenalan wanita yang usianya lebih tua dari mereka dan terlihat begitu agresif.

__ADS_1


__ADS_2