
"Kamu pasti beruntung sekali punya pacar sebaik London!" ucap wanita yang berprofesi sebagai dokter itu saat sedang memeriksa Deana. "London kelihatan sayang dan peduli banget, enggak kayak dia ke wanita itu!"
Deana terkejut mendengarnya, dia melirik pria yang berdiri di belakang dokter wanita tersebut dan diam saja. "Bujang?"
"Hah, siapa Bujang?" Deana berdeham lalu melirik ke arah London yang menaikkan satu alisnya. Menatap Deana kesal. Dokter tersebut menoleh dan ikut menatap London. "Kamu Bujang?"
"Iya, namanya bagus Bujang, kan? Kalau London aneh!" celetuk Deana dan berhasil membuat dokter cantik itu tertawa geli. Dia hanya menggeleng melihat ekspresi kesal London yang memilih keluar dari kamar meninggalkan mereka berdua.
"Terima kasih, Dok!"
"Sama-sama. Kamu bisa panggil Alisa saja. Oh, ya, aku ini sepupunya London!"
"Oh, ya? Tapi kok enggak mirip?" Deana mengusap bagian lengannya yang menjadi tempat jarum infus menyiksanya itu. Terlihat bengkak dan memerah. "Kamu kelihatan kalau punya darah campuran, beda sama dia!"
"Benarkah?" Deana mengangguk, memperhatikan Alisa yang sudah akan bersiap untuk pergi. "Oh, ya, aku harap kamu habiskan semua obatnya biar cepat sembuh!"
Deana mengangguk, tatapannya tertuju pada wajah cantik Alisa. "Kenapa?"
"Apa saya bisa secantik kamu?" Alisa mengerutkan dahinya, bingung lalu tertawa kecil dan mengangguk.
"Padahal kamu cantik, asal percaya diri!" Alisa bicara dengan begitu lembut. Dia mengusap pundak Deana dan pamit pergi karena masih ada urusan.
"Apa lo harus sebut nama panggilan itu di depan sepupu gue?" Deana terhenyak karena tidak menyangka London akan kembali ke kamarnya. Pria tersebut terlihat begitu kesal, melipat rapi lengan kemejanya sampai siku dan memilih duduk di sofa.
"Kamu kenapa masih di sini?"
"Kenapa? Lo mau gue pergi?" Deana mengangguk, dia memang ingin sendiri. Sayang, sejak kemarin dirinya tidak diberi kesempatan untuk itu. "Gue akan tetap ada di sini sampai lo tidur!"
London melirik arlojinya. "Masih ada waktu satu jam sebelum gue pergi ke Singapura!" Pria itu menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri sambil bersandar di sofa. Mengabaikan Deana yang merasa jengah melihat tingkah pria tersebut.
Deana merasa gelisah, bagaimana dia bisa tidur jika ada pria yang sedang mengawasinya. Walau London tidak terus menatapnya, dia yakin di balik ponselnya, pria itu sedang memperhatikan. Deana memilih menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, tetapi karena merasa sesak dia membuka selimut itu dan memilih tidur menyamping, membelakangi London.
"Jang, kamu pergi saja. Saya enggak bisa tidur kalau ada kamu!" usir Deana kesal. Namun, karena tidak mendengar pergerakan apa pun dia memilih bangun dan menatap London yang masih begitu santai memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar mau tunggu sampai saya tidur?" Tidak ada jawaban. Deana merasa kesal lalu memilih merangkak turun, karena buru-buru membuat kakinya terpeleset dan akhirnya terjatuh.
Deana mendongak, menatap kesal London yang tertawa melihatnya terjatuh. Tidak seperti yang sering dia lihat di tivi-tivi jika ada wanita jatuh, maka pria yang berada di dekatnya akan dengan sigap menolong. Terkadang mereka saling tatap lama, tetapi angannya itu tidak terjadi karena pria di dekatnya itu malah tertawa mengejek.
"Mau gue bantu?"
"Enggak perlu!" Deana dengan cepat berusaha berdiri, mengabaikan uluran tangan London untuknya. Deana melangkah pergi keluar dari kamarnya tanpa peduli dengan tatapan heran London.
"Siapa kamu?" Deana tentu saja terkejut karena ada satu lagi pria di rumahnya. Pria yang hanya duduk diam di ruang tamu.
"Selamat siang, Nona!" sapa pria itu ramah. Deana masih bergeming di tempat lalu beralih ke arah London yang menghampirinya.
"Dia asisten gue." Deana menelengkan kepalanya ke arah pria yang ternyata asisten London. Mengerutkan keningnya lalu menghela napas pelan. "Lo mau ke mana?"
"Bukan urusan kamu, yang jelas kamu sama asistenmu itu harus pergi dari rumah saya."
"Pak, sudah waktunya kita pergi ke bandara!"
"Tuh dengar sendiri, kan, sana pergi dan kamu enggak perlu pedulikan saya!"
Deana hanya berdeham. Dia begitu tidak nyaman dengan tatapan dan perhatian London kepadanya. "Lusa datanglah untuk interview!"
"Hah?"
"Gue pergi!" Deana yang sedang bingung itu dibuat terkejut saat London dengan tidak sopannya menyentil dahi Deana. Pria itu menyeringai menyebalkan dan keluar rumah begitu saja.
"Dia suruh datang ke mana? Interview apa?" Deana dibuat bingung sendiri dengan sikap London yang menurutnya begitu aneh. Malas memikirkannya, Deana memilih menutup pintu dan lekas kembali ke kamar. Tubuhnya masih terasa lemas dan dia butuh banyak istirahat.
***
Sedari keluar dari rumah Deana, London terus saja senyum-senyum sendiri. Mengabaikan asistennya yang sesekali melirik dari kaca spion kecil di tengah.
Sesekali London menggelengkan kepala dan tersenyum. Dia mengusap dagunya sambil memandangi jalanan lewat kaca jendela dengan senyum yang tidak pernah surut.
__ADS_1
Saat tidak sengaja bertemu tatap dengan asistennya yang sedang memperhatikan dirinya lewat spion, London berdeham lalu duduk tegak. "Lo sudah tahu, kan, posisi yang cocok buat dia apa?"
Pria yang duduk di samping sopir itu mengangguk. "Gue harap dia bisa jadi wanita mandiri atau seenggaknya dia bisa balas dendam sama suaminya itu!"
"Tapi, Pak, bagaimana pendapat karyawan nanti saat melihat penampilan Nona Deana?"
London tampak berpikir lalu menyeringai. "Kalau gitu lo kasih dia pekerjaan yang sesuai dengannya! Lo tahu maksud gue, kan?"
"Apa tidak berlebihan, Pak? Bukankah seharusnya kita ...."
London menggeleng. "Pekerjaan itu gue rasa memang pantas buat dia, apalagi dia sudah punya banyak pengalaman."
"Baik, Pak!" Pria tersebut sebenarnya ragu untuk menyetujui usulan pekerjaan untuk Deana nantinya, tetapi akhirnya dia hanya bisa menurut saja dan menanti bagaimana reaksi wanita itu.
London merogoh ponselnya. Mengerutkan dahinya melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Sebelum menerima panggilan tersebut dirinya berdeham untuk mengurangi kegugupannya.
"Kenapa?" London terlihat tidak suka bicara dengan seseorang yang terlebih dahulu menghubunginya itu. Dia menutup mata sejenak sambil memijat pelipisnya. Tanpa mengatakan apa pun lagi, London memilih mengakhiri percakapan tersebut begitu saja.
"Lucas, kenapa Mia bisa tahu kalau gue bakal ke Singapura, hah?" London terlihat begitu kesal. Dia menatap tajam asistennya itu yang terlihat tetap tenang. "Lo kasih tahu dia?"
"Bukan saya, Pak. Lagipula saya tidak pernah bertemu lagi dengan Nona Mia sejak dari acara pertunangan itu. Saya ...."
London mengibaskan tangannya, menyuruh asistennya diam. Dia begitu kesal saat mendengar jika wanita yang dijodohkan paksa dengannya itu sudah berada di Singapura dan sedang menunggunya di sana.
"Apa perlu saya batalkan pemberangkatannya, Pak?"
"Enggak perlu. Gue memang harus ketemu sama dia dan pertegas semuanya!"
"Baik, Pak!" London tidak menanggapinya. Dia memilih memperhatikan jalanan yang terlihat tampak macet.
"Sial, dasar wanita matre. Gue bakal buat dia sendiri yang batalkan rencana pernikahan konyol ini. Gue enggak sudi nikah sama wanita kayak dia!" London menatap Lucas yang sedang memperhatikannya dari spion. Dia berdeham sebelum bicara, "Rekaman itu sudah lo kirim ke email gue?"
"Sudah, Pak!"
__ADS_1
"Bagus, gue bakal buat wanita itu memilih pergi daripada terus keras kepala meminta dinikahi!" London kali ini menyeringai. Lucas yang melihatnya hanya diam saja, dia tahu bagaimana atasannya itu. London akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan orang yang mengganggu jalannya. Seperti kali ini, Lucas yakin jika nantinya Mia akan menyesal dengan kelakuannya sendiri dan meraung-raung meminta agar London tetap mau melanjutkan pernikahan mereka mengingat perusahaan keluarga Mia yang sedang dalam keterpurukan dan butuh sokongan dana besar.
"Hah, wanita itu benar-benar menarik!" Lucas dan sopir yang sejak tadi diam mendengarkan ucapan mereka di mobil saling lirik karena London kini kembali senyum-senyum lagi.