
Deana terbangun saat wajahnya basah karena ada yang memercikkan air ke wajahnya. Dia membuka mata, perlahan karena lampu menyilaukan.
Deana merasa asing saat matanya mulai bisa menyesuaikan cahaya lampu, dia terbangun dan berada di ruangan yang luas. Kasur empuk dan saat menoleh di sisi kirinya, Deana terkejut saat melihat pria yang ingin dia temui tadi berdiri di sana. Menatapnya dengan ekspresi yang menyebalkan.
Dengan cepat Deana bangun, mengabaikan pusing dan tubuhnya yang pegal-pegal. "Kamu ngapain di sini?" tanya Deana sambil menunjuk wajah pria yang bersikap angkuh itu.
"Lo mau ngapain?" London mundur sambil mengambil gelas yang sudah dia letakkan di nakas samping ranjang. "Mendekat gue siram lo!"
Deana mendengkus kesal karena ancaman dari pria tersebut. "Lagipula lo harusnya bersyukur karena gue kasih izin lo tidur di salah satu kamar di hotel ini!"
Dahi Deana berkerut, dia memperhatikan sekelilingnya dan menghela napas pelan. Tatapannya beralih kembali pada pria yang masih bersikap waspada. "Tadi saya lihat Mas Lanang, di mana dia, Jang?"
Kali ini London yang mengerutkan dahinya, bingung dengan ucapan Deana. Dia menyerahkan gelas yang masih ada airnya itu kepada Deana dan memilih duduk di sofa. "Lo lihat suami lo di mana?"
"Tadi sebelum saya pingsan!"
"Lo yakin lihat dia?" Deana mengangguk, merasa kesal karena pertanyaan London terdengar seperti meragukan penglihatannya. "Lo salah lihat. Kalau enggak percaya lo bisa tanya sama Lucas atau teman lo!"
"Jadi, saya salah lihat?" gumam Deana pelan, dia mengabaikan saat London memperhatikannya dalam diam. Deana menatap tajam kepada London yang masih tidak mengalihkan pandangan kepadanya. "Kamu kapan datang?"
"Sejak lo mulai ambruk. Astaga, untung saja lo enggak tindih tubuh gue, bisa-bisa tubuh ini remuk!" Deana mendengkus kesal lalu melempar bantal dan tepat mengenai wajah tampan itu. "Sialan!"
"Itu balasan karena kamu sudah buat saya pingsan!"
London menaikkan satu alisnya lalu tertawa keras. "Kenapa ketawa? Ada yang lucu?"
"Sekarang lo bisa rasakan apa yang pernah gue rasa?" Pria itu memangku bantal yang tadi dilempar Deana. Menatap lekat mata Deana yang berusaha menghindarinya.
"Apa maksudnya? Memang apa yang pernah saya lakukan sampai kamu tega lakukan itu?"
"Lo mau tahu?" Deana mengangguk. Dia menanti apa yang akan dikatakan oleh London, tetapi pria tersebut memilih berdiri dan melempar bantal di tangannya dan tepat mengenai Deana. "Lo harus pikir sendiri."
Pria itu pergi, meninggalkan Deana yang masih kebingungan dan tidak lama Laras datang dengan wajah yang khawatir. "De, syukurlah kamu sudah sadar!"
"Mbak Laras apa yang terjadi sama saya tadi?"
"Kamu lupa?" Deana mengangguk, dia memperhatikan Laras yang memilih duduk di sampingnya. "Kamu pingsan waktu mau pergi cari Pak London!"
__ADS_1
"Kalau itu saya ingat, lalu siapa yang bawa saya ke sini?"
Laras menghela napas pelan lalu mendekatkan wajahnya ke belakang telinga. "Kamu digendong Pak London!"
Mata Deana membesar mendengar bisikan dari Laras. Dia menggeleng tidak percaya. Tentu saja.
Lagipula dia tahu bobot tubuhnya sendiri dan rasanya satu orang menggendongnya pasti akan kesusahan. "Kamu pasti enggak percaya, tapi memang itu yang terjadi. Pak London sampai larang Pak Lucas untuk bantu!" Laras menghela napas pelan. Mengambil gelas yang masih dipegang Deana dan meminum airnya. "Yang aku lihat Pak London berusaha sekuat mungkin untuk bawa kamu sendirian. Dia bahkan memaksa untuk menggunakan kamar ini buat kamu, padahal jam tiga kamar ini sudah akan diisi!"
"Jadi ...."
"Kamu tenang saja, tadi Pak London bilang sama aku kalau kamu bisa pakai kamar ini sampai jam kerja selesai!"
"Terus orang yang akan tempati kamar ini gimana? Enggak mungkin dibatalkan, kan?"
Laras menggeleng, dia tersenyum penuh arti kepada Deana yang sedang panik. "Dia dialihkan ke kamar yang lain!"
"Benarkah?"
"De, maaf. Untuk ucapanku tadi sebenarnya itu hanya permintaan Pak Lucas, aku disuruh mengatakannya dan ternyata tadi Pak Lucas membatalkan."
"Perkataan yang mana, Mbak?"
"Pasti karena Bujang!"
"Bujang siapa, De?"
Deana meringis, dia memukul bibirnya pelan karena sudah menyebut nama julukan untuk London. "Ah, itu, maksud saya Pak London!" Laras mengangguk.
***
Pulang kerja Deana memilih kembali ke rumah Lanang. Dia ingin bertemu dengan pria itu lagi dan berusaha meyakinkan jika mereka masih bisa mempertahankan pernikahan.
Deana mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat itu, dia tidak bisa lagi langsung masuk seperti sebelumnya karena dirinya sudah memutuskan keluar.
"Eh, Deana. Kamu ngapain ke sini?" Deana tersenyum senang melihat Alumi yang membukakan pintu. "Cari Lanang?"
"Apa Mas Lanang ada, Kak?"
__ADS_1
"Lanang sama Siska lagi pergi ke luar kota beberapa hari." Alumi menarik tangan Deana masuk ke rumah, tetapi saat dirinya menyuruh Deana duduk Lisma datang dan melarang.
"Siapa yang suruh kamu bawa dia masuk?" Suara Lisma berhasil membuat Alumi kaget dan Deana cemas. Wanita baya itu menarik tangan Alumi untuk menjauh dari Deana. "Bukankah kamu sudah keluar dari rumah ini? Kenapa sekarang kembali ke sini?"
"Bu, saya ke sini untuk bertemu Mas Lanang!"
"Apa Alumi enggak kasih tahu kalau dia dan istrinya pergi?"
Deana mengangguk, menunduk karena merasa takut dengan tatapan mengerikan Lisma kepadanya. "Pergilah. Sudah enggak ada tempat lagi buatmu di rumah ini semenjak kamu memutuskan pergi!" Deana menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak menangis.
"Bu, saya minta maaf. Saya enggak bermaksud pergi begitu saja, semua terjadi karena ...." Deana tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Kamu merasa iri sama Siska yang lebih cantik dan bisa merawat diri. Lebih penting lagi dia enggak mandul kayak kamu!"
Deana merasa luka di hatinya seperti baru saja ditaburi garam dan membuat perih. Dia tidak dapat menahan air matanya untuk keluar. "Ibu benar, kan?"
"Apa Ibu tahu alasan saya belum juga hamil sampai sekarang?" Deana memberanikan diri menatap mata Lisma dengan tegas, hal yang tidak pernah dia lalu sebelumnya.
"Karena kamu mandul!"
"Ibu salah! Saya enggak mandul, tapi karena Mas Lanang ...." Deana menggigit bibirnya, mencoba untuk tetap tenang, meski tubuhnya terasa lunglai. "dia bilang trauma setelah apa yang pernah dia lihat!"
"Memang Lanang lihat apa, De?" Alumi menyentuh lengan Deana, merasa penasaran dengan yang dikatakan Deana.
"Mas Lanang memergoki almarhum bapak sedang berselingkuh dan mereka sedang bergumul di kasur! Mas Lanang selalu menolak karena merasa takut dan cemas tiap kali akan melakukannya, jadi gimana saya bisa hamil?"
Lisma menepuk tangan, tertawa karena merasa lucu ucapan Deana dan membuat wanita yang masih menjadi menantunya itu kebingungan. "Kamu kira Ibu akan percaya? Kalau Lanang memang trauma, gimana Siska hamil?"
"Yang dikatakan Ibu benar, De. Sudah sadar saja kalau Lanang memang enggak cinta sama kamu makanya dia sampai bohongi kamu selama ini!" Lisma setuju dengan ucapan putrinya itu, tidak seperti biasanya yang selalu lamban dalam berpikir. Kali ini putri sulungnya itu bisa diandalkan.
"Aku benar, kan, Bu?"
"Tentu! Ibu juga beruntung karena Lanang enggak menghamili kamu, kalau sampai kalian punya anak, entah akan seperti apa anak kalian nanti!" Tatapan Lisma memindai tubuh dan penampilan Deana yang sama sekali tidak menarik.
Deana terpojok, tidak mendapat dukungan dari siapa pun dan dia menyadari itu sejak awal. Hanya saja dia tidak menyangka jika mertuanya memang benar-benar tidak menyukainya, dia kira selama ini Lisma tidak menyukainya karena belum bisa memberi cucu.
"Permisi!" Deana memilih pergi meninggalkan dua wanita beda generasi itu yang sedang menertawakan nasibnya yang malang. Berhasil dibohongi selama tiga tahun pernikahan.
__ADS_1
Wanita itu sampai tidak menyadari jika ada mobil yang terus mengikutinya secara perlahan.