
Deana sudah selesai bersiap untuk pergi menemui London. Namun, sebelum Lucas datang menjemputnya, Lanang lebih dulu tiba. Pria itu dengan sedikit paksaan dan ancaman meminta Deana ikut dengannya.
Deana tidak sempat menghubungi Lucas karena Lanang mengambil tasnya. Pria itu terlihat begitu berbeda, tampak frustrasi.
"Mas kamu bawa saya ke mana?" Lanang mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membuat Deana ketakutan. Pria tersebut pun tidak menjawab pertanyaan Deana dan terus saja fokus menyetir.
"Mas, pelan-pelan. Saya belum mau mati!"
"Kamu enggak akan mati sekarang, De. Tenang saja!"
"Iya, tapi kita mau ke mana?"
Lanang kembali diam. Dia malah menambah kecepatannya, sama sekali tidak peduli dengan ketakutan Deana.
Merasa takut dan cemas membuat Deana terus berdoa dalam hati dan memejamkan mata. Dia baru membuka mata saat merasakan mobil yang ditumpanginya itu berhenti.
Deana menoleh ke arah Lanang yang terdiam, menatap ke depan dengan sorot mata tajam. Dia ikut beralih menatap ke depan dan ternyata mereka berada di area danau.
"Kenapa kamu bawa saya ke sini?" tanya Deana yang kebingungan.
Bukannya menjawab, Lanang malah memilih keluar. Dia lekas membuka pintu untuk Deana dan menyuruh keluar juga.
"Kenapa kita ke sini, Mas?" tanya Deana cemas. Suasananya begitu sunyi dan gelap, penerangan hanya dari lampu mobil saja.
"Kenapa kamu bisa bahagia, sedangkan aku enggak, De? Kamu pasti sengaja menghancurkan hidupku karena sakit hati, kan?"
Deana mendengkus kesal. Dia memperhatikan Lanang yang tampak begitu memprihatinkan dengan tidak suka. "Kamu menuduh saya penyebab kehancuran kamu ini, Mas?"
"Siapa lagi? Musuhku cuma kamu!"
"Musuh? Jadi kamu menganggapku musuh, Mas?" tanya Deana terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Lanang akan mengatakan seperti itu. "Saya memang membenci kamu, tapi saya enggak pernah berpikir menjadikan kamu musuh, Mas!"
Deana benar-benar kecewa. Pria yang pernah dicintainya mengatakan hal yang menyakitkan. Dia hanya diam memperhatikan saat Lanang berteriak frustasi sembari menjambak rambutnya.
__ADS_1
"Kamu tahu, pria itu sudah menghancurkan hidupku. Dia membuatku enggak bisa mengajar lagi dan semua itu karena kamu!" Deana tersenyum sinis. Dia memilih pergi meninggalkan Lanang, mengambil tasnya yang tergeletak di kursi penumpang bagian belakang.
Deana memilih mengabaikan pria yang lagi-lagi memberinya luka itu. Memang seharusnya mereka tidak pernah bertemu dan dia mencintainya atau seharusnya Deana lebih menghancurkan hidup Lanang dengan tangannya sendiri, walau lewat bantuan London.
"Deana, mau ke mana kamu?" Teriakan Lanang sama sekali tidak dipedulikan oleh Deana. Dalam kegelapan dan hanya dibantu dengan cahaya dari ponsel, dia terus berjalan meninggalkan pria tersebut.
"Saya harus segera menemui London. Dia pasti cemas!" Deana berjalan dengan buru-buru saat menoleh ke belakang dan melihat mobil Lanang melaju menghampirinya.
"Kenapa sinyalnya enggak ada di sini?" Mobil makin dekat membuat Deana waswas, dia akhirnya berlari dengan kesusahan karena heels yang dikenakannya.
Sementara itu, di cafe yang sudah disewa London untuk makan berdua dengan Deana selama beberapa jam, terlihat sekali pria tersebut khawatir.
Lucas baru saja datang tanpa membawa Deana dan memberitahu kalau Deana tidak ada di rumahnya.
"Lo enggak tahu dia ke mana?"
"Tetangganya bilang lihat Lanang datang jemput dia!" Ucapan Lucas berhasil membuat London makin tidak tenang. "Pria itu menarik Deana untuk ikut. Gue yakin dia memaksa Deana!"
"Tenangkan diri. Gue yakin Deana baik-baik saja!" London mendorong kesal Lucas sampai hampir terjatuh.
"Lo bisa-bisanya suruh gue tenang. Pria itu enggak waras, dia bisa saja berbuat nekat!"
Lucas mengepalkan tangannya. Dia menahan kekesalannya karena amarah London tersebut. "Hah, gue bakal benar-benar buat pria itu makin menderita kalau dia macam-macam sama Deana!"
"Mau ke mana lo?" Seruan Lucas sama sekali tidak digubris oleh London. Pria tersebut tanpa Lucas ketahui berhasil mengambil kunci mobil di saku jas dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
***
Lucas menghela napas pelan. Dia memperhatikan wajah yang tampak nyaman dalam tidurnya. Dia tidak menyangka dengan yang terjadi beberapa jam lalu.
"Lucas!" Panggilan itu membuatnya tersadar dari lamunan.
"Kamu sudah sadar, De!"
__ADS_1
"Sadar? Memang apa yang terjadi?" tanya Deana Bingung. Dahinya berkerut dalam memperhatikan Lucas.
"Kamu ditemukan tergeletak di jalanan sama London. Lihatlah dia sampai tertidur di sofa karena tunggu kamu semalaman!"
Deana melirik ke arah sofa. London tidur dengan posisi duduk dan kepala menyandar ke sandaran. Mulutnya sedikit terbuka, membuat deana tertawa kecil. "Dia pasti kecapean, ya?"
"Ya. Dia emosi karena kamu tidak datang dan saat melihatmu dia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya." Deana terus saja memperhatikan London yang sedang mendengkur. "Dia melarang perawat untuk menyentuh kamu, bahkan dokter pun dia larang!"
Deana menatap Lucas terkejut. Dia masih tidak percaya sepenuhnya ucapan tersebut. "Dia lakukan semua itu karena benar-benar mencintaimu, De!"
Deana menghela napas pelan. "Benarkah? Apa itu alasan dia sampai tega menghukum Mas Lanang sebegitu parahnya?"
"Saya bisa menjamin dia memang mencintaimu. Demi membalas semua perbuatan Lanang, London yang dibutakan cinta itu rela memberikan satu hotel yang baru selesai direnovasi kepada seseorang!"
"Apa?" Deana terkejut. Dia hendak bangun dan merasa kesakitan pada tubuhnya.
"Jangan bergerak. Saya akan panggilan dokter untuk periksa keadaan kamu!" Deana menahan Lucas. Dia tidak butuh dokter saat ini karena yang dia butuhkan penjelasan Lucas barusan.
"Katakan, apa maksudnya tadi? Dia benar-benar melakukannya?"
Lucas tersenyum. Dia melepaskan tangan Deana yang memegang pergelangan tangannya. "Kamu bisa tanya sendiri dengannya. Sekarang saya akan pergi meninggalkan kamu untuk memanggil dokter!"
Deana terus saja memperhatikan London yang tidak dengan nyenyak. Dia tidak menyangka ada orang yang benar-benar melakukan sesuatu yang merugi demi dirinya.
"Selamat pagi, syukurlah Anda sudah sadar!" Seorang dokter muda dan perawat datang ke ruang rawat Deana.
Dokter muda itu terus saja tersenyum dan melirik ke arah London yang masih mendengkur. "Pacar Anda benar-benar berbahaya. Jika saja saya tidak bisa menyelamatkan nyawa Anda, bisa dipastikan saya akan tiada!" Dokter muda itu dan perawat terkekeh pelan.
Deana hanya diam saja, memperhatikan London dan membiarkan dokter tersebut memeriksanya. "Kondisi Anda sudah stabil. Dia pasti lelah setelah membuat keributan semalam!"
Deana beralih menatap dokter tersebut yang sedang memperhatikan London lalu tersenyum kepadanya. "Kalau kami permisi!"
"Terima kasih, Dok!" Dokter muda tersebut hanya mengangguk dan pergi, membuatnya hanya kembali berdua dengan London yang sama sekali tidak terganggu dengan suara-suara di sekitarnya.
__ADS_1