
"Terima kasih untuk semalam!" Deana mengatakannya setelah London keluar dari kamar mandi. Pria tersebut baru saja bangun dan terkejut melihat Deana yang diam memperhatikannya.
London hanya mengangguk sembari menghampiri Deana. Dia memilih duduk di kursi samping ranjang Deana. "Lo enggak perlu berterima kasih!"
"Kenapa? Kamu yang sudah tolong saya, kan?"
"Kenapa lo pilih pergi sama pria itu? Apa lo sama sekali enggak peduli sama gue?" London mengabaikan pertanyaan Deana dan balik bertanya. "Gue ...." Pria tersebut berhenti bicara saat Deana meraih tangannya dan mengenggamnya erat.
"Kenapa kamu harus melakukan semua itu, sih? Kamu sampai memberikan begitu saja sesuatu yang berharga cuma untuk menghancurkan Mas Lanang!" Deana menghela napas pelan, dia melepaskan tangan London.
Sejak mendengarkan penjelasan Lucas tentang London yang memberikan hotel begitu saja kepada seseorang demi bisa menghancurkan Lanang, Deana menjadi tidak tenang dan merasa bersalah.
"Semuanya impas! Gue melakukan hal yang benar, pria yang sudah menyakiti wanita tidak pantas untuk bahagia!"
"Begitu juga kamu?" London tanpa ragu mengangguk.
"Gue juga. Gue nyesel sudah berbuat buruk sama lo dulu dan sekarang gue bakal pertanggung jawabkan semuanya!"
Deana mendengkus pelan. Dia memukul lengan London saking kesal. "Astaga, tenaga lo kuat banget, padahal masih sakit!"
"Jangan melakukan hal seperti itu lagi, sudah cukup Mas Lanang menderita. Dia diselingkuhi dan sekarang dia kehilangan pekerjaannya juga!" pinta Deana penuh permohonan, meski Lanang telah menyakiti dengan melihatnya menderita dia sungguh menjadi tidak tega.
"Lo minta gitu bukan karena masih cinta sama dia, kan?" London menatap Deana curiga, ada perasaan waswas jika jawaban Deana ternyata iya.
***
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kamu?" Pagi-pagi sekali Lucas sudah datang ke rumah sakit hanya untuk membawa pakaian ganti untuk London.
"Saya sudah membaik, dokter juga mengatakan kalau besok saya sudah bisa pulang!" Lucas hanya mengangguk, dia memperhatikan seisi kamar Deana yang luas karena London meminta agar Deana dirawat di ruangan VIP. "Apa semalam tidurmu nyenyak?"
"Tentu, London terus melotot ke arah saya agar saya cepat tidur! Dia seperti seorang ibu yang memastikan anaknya tidur!"
"Benarkah? Sepertinya karena dia sangat mencintai kamu, padahal saya tahu dia orang yang sama sekali tidak peduli dengan orang lain, tapi denganmu dia berbeda!"
Senyum di wajah Deana seketika menghilang, dia hanya mengangguk dan memilih untuk mengganti topik pembicaraan mereka. "Apa saya masih bisa bekerja di hotel?"
"Tentu. Kamu tidak perlu cemas, semua sudah diselesaikan!"
"Lo masih di sini?" Suasana hening di ruangan yang luas itu tiba-tiba berubah menjadi berisik setelah London keluar dari kamar mandi dan langsung melemparkan paper bag berisi pakaiannya ke Lucas. Beruntung saja Lucas dengan sigap menangkapnya.
"Kalau begitu saya pergi!" Deana hanya mengangguk, dia merasa kasihan saat melihat Lucas yang memilih diam saja dengan perlakuan dari London tersebut.
"Kenapa kamu sekasar itu sama Lucas, padahal kalian sepupu dan bekerja di tempat yang sama!"
Setelah kepergian Lucas, Deana protes kepada London karena sikapnya itu. Namun, pria yang sedang diajaknya bicara malah terlihat santai dan seolah tidak mendengarkannya. "London ...."
"Gue punya alasan marah sama dia begitu!"
"Apa?"
"Dia sudah lancang kasih tahu lo tentang yang gue lakuin ke mantan lo itu."
__ADS_1
Deana hendak membalas ucapan pria tersebut, tetapi tidak jadi. Dia hanya diam memperhatikan London yang kini sibuk dengan laptop yang tadi dibawakan oleh Lucas juga.
"London!" Pria tersebut hanya berdeham tanpa mengalihkan pandangannya. "Apa kamu enggak lapar?"
"Lo lapar?" tanya London, dia memperhatikan Deana sejenak lalu kembali ke laptopnya. "Gue enggak lapar. Ada pekerjaan yang harus gue lakuin!"
"Baiklah!" Deana melirik makanan yang dibawakan Lucas di nakas. Dia menghela napas dan memilih untuk memejamkan matanya.
***
"Sepertinya ada yang mau lo bicarakan? Apa lo mau makanan ini juga?" Deana menggeleng. Dia masih saja memperhatikan London yang sedang memakan makanan yang pastinya telah dingin karena terlalu lama diabaikan.
Pria itu baru makan pagi sekaligus makan siang di jam dua siang, setelah sebelumnya begitu fokus di depan layar laptop.
"Apa kamu sebenarnya memang jarang sarapan?"
London menyudahi makan pagi dan siangnya itu, dia menghampiri Deana dan duduk di kursi. "Sebenarnya apa yang mau lo bicarakan?"
"Enggak ada, saya cuma penasaran apa perut kamu enggak bermasalah kalau melewatkan sarapan. Selama ini yang saya tahu kamu selalu meminta saya membuatkan sarapan, kan?"
"Untuk itu lo harus kembali sehat dan biarkan makanan untuk gue biar bisa makan pagi!" Deana menjadi salah tingkah saat London merapikan rambutnya, dalam jarak yang begitu dekat, Deana dapat melihat dengan jelas bagaimana tampannya pria tersebut.
"Apa artinya kamu setiap pagi akan datang ke rumah?" Satu alis London terangkat, dia menatap lekat Deana lalu mengangguk.
"Lo keberatan?"
__ADS_1