Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Balas Dendam, Nih?


__ADS_3

London tidak sekejam itu, setelah seratus meter Deana jalan kaki karena kesusahan mencari angkutan, pria itu menyuruhnya masuk.


London cukup kewalahan saat Deana menolak, tentu saja dia marah dan kesal karena London mengingkari ucapannya sendiri. Namun, dengan sedikit ancaman membuat Deana luluh juga.


"Sepertinya dia memang harus berolahraga. Lo lihat sendiri, kan, gimana dia sudah kelelahan tadi, padahal baru jalan beberapa meter."


"Apa yang harus saya lakukan, Pak?"


London terdiam, memperhatikan Deana yang sedang bekerja. Dia menyeringai sebelum memberi instruksi kepada Lucas. "Lo kasih aturan mulai sekarang kalau pekerja housekeeping dilarang menggunakan lift atau eskalator."


"Apa itu tidak berlebihan, Pak?" Lucas menatap ke layar monitor, melihat Deana yang sedang membersihkan kamar hotel. Ada rasa bersalah, tetapi dia tidak bisa melawan atasannya itu.


"Apa lo terlalu dangkal mengartikan ucapan gue? Lo harus buat seakan-akan mereka dilarang, tapi sebenarnya itu cuma buat dia saja!"


Lucas mengangguk paham. Sekali lagi dia menatap layar monitor di depannya itu lalu melirik London yang begitu menikmati tontonannya. "Kalau begitu saya permisi untuk melakukan pekerjaan itu."


London mengangguk, tidak mengalihkan pandangannya ke layar tersebut. "Lo harus merasakan apa yang gue rasakan dulu!"


London mencondongkan tubuhnya lalu menumpuk kedua tangannya di meja. Memperhatikan Deana yang terlihat mulai luwes dengan pekerjaannya itu. "Gue akan buat lo ingat apa yang pernah lo perbuat dulu!"


***


"De, kamu sudah bisa aku lepas. Jadi mulai sekarang kamu kerja sendiri. Sudah tahu bagiannya, kan?" Deana mengangguk paham. Ada keraguan di dalam dirinya jika dia sudah bisa bekerja sendiri, sedangkan trainer yang lain, mereka akan didampingi oleh senior selama seminggu penuh dan dia hanya dua hari. Itu pun tidak penuh.


"Baiklah, Mbak. Akan saya coba!"


Laras menyeruput teh hangatnya. Dia memperhatikan wajah khawatir Deana yang kentara lalu menyentuh tangan Deana. "Jangan panik, aku yakin kamu enggak akan melakukan hal yang ceroboh. Pekerjaanmu juga hanya membersihkan kamar dan membuatnya menjadi nyaman digunakan!"


Deana mengangguk. Dia menggigit bibir bawahnya, bahkan kakinya di bawah meja tidak bisa tenang. Pekerjaannya memang sudah biasa dia lakukan di rumah, tetapi tetap saja pekerjaannya itu merupakan pekerjaan pertama yang dia lakukan untuk dapat dinikmati banyak orang.


"Sudah waktunya kerja lagi, De! Yuk!" Deana mengekori Laras meninggalkan pantry. Dia memperhatikan Laras yang berbelok ke arah kiri, memasuki ruangan sebelum tubuhnya menghilang.

__ADS_1


"Kamu bisa, De!" Deana melangkah dengan semangat menuju ke tempatnya bekerja. Namun, dia cukup terkejut saat seorang rekannya yang sesama trainer menarik tangannya kasar dan melarangnya memasuki lift.


"Kenapa saya tidak tahu peraturan itu. Sejak kapan peraturan itu dilakukan?" tanya Deana heran. Wanita yang usianya lebih muda darinya itu terlihat tidak menyukainya, mengambil ponsel dan memperlihatkan foto kepadanya.


"Peraturanannya baru saja diberlakukan. Sudahlah, sekarang kamu naik lewat tangga darurat saja!"


Deana meringis. Mana mungkin dia menggunakan tangga darurat menuju ke lantai tempatnya bekerja. Itu akan membutuhkan waktu lama. "Kenapa? Kamu keberatan?"


"Bukan begitu, hanya saja kenapa peraturan itu mempersulit kita?"


"Mana aku tahu. Kalau kamu mau protes, protes saja sama pemiliknya. Dia yang punya hak untuk itu!" Wanita yang sejak tadi berkata ketus itu memilih pergi meninggalkan Deana yang masih tidak percaya dengan peraturan tersebut.


"Oh, ya, aku penasaran dari tadi!" Wanita itu kembali, menelisik Deana yang kebingungan dengan tingkahnya.


"Tentang apa?"


"Aku memang baru di sini, tapi aku tahu rupa pemilik hotel tempat kita bekerja. Kamu sama dia ada hubungan apa sampai bisa satu mobil sama dia!"


"Astaga, maafkan saya! Mari saya bantu!" Deana mengulurkan tangannya, tetapi wanita tersebut menepisnya dan bangun sendiri.


"Kamu sengaja, ya!"


Deana menggeleng. Berusaha untuk tetap tenang saat wanita di hadapannya itu begitu marah kepadanya. "Hah, kamu itu benar-benar menyebalkan, pantas saja kamu dibuat susah begini!"


Dahi Deana berkerut mendengarnya, satu alisnya terangkat. Dia hendak bertanya alasan rekannya itu bicara begitu, tetapi sebelum mulutnya terbuka, wanita cantik berlesung pipi itu memilih pergi meninggalkannya.


"Pasti sakit sekali, dia sampai jalannya pincang begitu." Deana memperhatikan langkah rekannya yang sedikit kesusahan.


Deana menghela napas pelan dan tidak berlama-lama berada di tempat. Dia memutuskan untuk kembali ke lantai sepuluh di mana dirinya akan kembali bekerja, dia harus menaiki banyak anak tangga dari lantai tiga.


"Saya harus bicara sama Bujang nanti. Dia enggak bisa seenaknya begini! Gimana caranya membawa barang-barang kalau tanpa menggunakan lift atau eskalator?" Langkah Deana melemah setelah menaiki puluhan anak tangga dan sampai di lantai delapan. Dia mendongak menatap anak tangga yang masih banyak, merasa sudah tidak sanggup lagi untuk melangkah.

__ADS_1


Deana memilih duduk di anak tangga, menyeka keringatnya yang tidak berhenti keluar. Di saat itu juga dia merasakan asin karena air matanya yang ikut-ikutan keluar tanpa permisi.


Dia menangis, meratapi nasibnya yang terasa tidak adil dan dia menyakini satu hal, semua itu karena dirinya yang tidak cantik.


"Lo mau gue hukum lebih parah, De? Sekarang bangun dan kembali kerja!" Deana terkejut, dia mencari keberadaan London di sekitarnya, tetapi tidak menemukan pria itu.


Menyadari jika dirinya halusinasi, Deana memilih berdiri dan kembali menapaki anak tangga.


Deana cukup terkejut saat melihat Laras sudah berada di lantai sepuluh. Tidak mungkin Laras mendahuluinya, sedangkan tadi Laras memasuki ruangan.


"Mbak Laras tadi enggak mungkin pakai lift atau eskalator, kan? Tadi Ami memberitahu kalau ada larangan bagi kita menggunakannya. Jadi, gimana Mbak Laras bisa sampai di sini lebih dulu?" Deana memperhatikan dengan curiga Laras yang tidak kelelahan seperti dirinya. Pakaiannya tidak basah karena keringat, begitu juga dengan riasan di wajahnya yang tidak luntur.


Laras meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu dan membuat Deana merasa curiga. "De, tadi kamu pakai tangga darurat itu?"


Deana mengangguk, dia mencoba memijat betisnya karena merasakan kakinya begitu sakit. "Sebenarnya, De!" Deana mencoba berdiri, menatap Laras yang menatapnya kasihan.


"Ada apa, Mbak? Apa sebenarnya saya sedang dikerjai sama pemilik hotel ini?" Laras terlihat ragu dan mengangguk. "Jadi benar dugaan saya. Tidak mungkin kita dipersulit!"


Setelah istirahat di lantai delapan itu, Deana menyadari jika dirinya telah dikerjai. Selama berada di tangga darurat, tidak satu pun pekerja yang Deana temui.


Dengan kesusahan Deana melangkah pergi meninggalkan Laras yang memanggilnya. Dia akan menemui London, meski tidak tahu pria itu ada di mana. Namun, langkahnya harus terhenti saat melihat Lucas berjalan ke arahnya.


"Di mana atasan kamu itu?" tanya Deana kesal. Dia mencari keberadaan London, tetapi tidak terlihat di mana pun.


"Pak London tidak ada di sini, De! Dia ada di tempatnya!"


"Di mana?" Deana mulai tersulut emosi melihat Lucas yang begitu tenang. Dia tidak terima karena telah dikerjai sebegitu buruk kepada London sejak pagi. Dia akan membuat London merasakan akibatnya.


"Apa yang akan kamu lakukan dengannya? Sekarang lebih baik, bekerjalah karena saat ini bukan waktunya kamu untuk pergi ke sana kemari mencari orang!"


Deana mendengkus kesal, mengabaikan Lucas dan pergi. Sayang, Deana merasa tubuhnya sempoyongan, pandangannya pun menjadi buram, padahal dia sedang melihat Lanang berjalan ke arahnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mas Lanang?" Tubuhnya ambruk tepat di saat pria yang namanya dipanggil itu berdiri di hadapannya.


__ADS_2