Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Rumahku, Rumahku ... Rumahmu?


__ADS_3

"Saya perhatikan Nona menikmati pekerjaan ini!" Deana mendengkus kesal, malas sekali bicara dengan pria yang selalu bersikap tenang itu. "Sebenarnya saya ke sini untuk memberikan ini!"


Dahi Deana berkerut melihat amplop cokelat yang diletakkan di meja dan digeser ke arahnya. Deana menatap Lucas heran, pria itu hanya diam dan menyuruh Deana mengambil amplop itu lewat gerakan mata.


"Kamu kasih saya uang?" celetuk Deana asal. Dia membuka amplop tersebut dan melihat isinya. Ada kekecewaan karena candaan yang sebenarnya tidak ada lucunya itu hanya impiannya saja, dia kembali mengerutkan dahinya karena ternyata isi dari amplop cokelat itu beberapa foto.


Mata Deana membulat sempurna melihat beberapa foto itu, tangannya gemetar dan foto-foto itu terjatuh di meja. Dengan cepat Lucas memunguti dan memasukkannya lagi ke dalam amplop.


"Maaf saya terpaksa lakukan ini!" Deana tidak menggubris ucapan Lucas, dia terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Tatapannya tertuju ke arah toko di mana dia melihat Lanang dan Siska masuk.


"Saya hanya ingin meyakinkan Anda untuk tidak ragu bercerai dari suami Anda!" Deana kesal, dia menatap Lucas tajam dan dengan cepat dirinya berdiri. Pergi begitu saja mengabaikan pria tersebut.


Deana tidak terima dengan apa yang Lucas katakan, tidak seharusnya orang asing ikut campur dalam kehidupannya. Dengan tergesa Deana pergi ke tempat di mana suami dan istrinya itu berada, dia berdiri di samping mobil Lanang. Memperhatikan mobil itu dengan hati yang pilu.


"Apa yang kamu lakukan?" Deana berbalik, menatap wanita yang berjalan dengan begitu anggun ke arahnya. Wanita yang berhasil merusak pernikahan impiannya itu.


Pandangan Deana teralihkan pada Lanang yang berjalan menyusul wanitanya. Menatap Deana tanpa minat lalu dengan sengaja memeluk pinggang istrinya posesif.


"Astaga, buat kaget!" Lanang tersenyum tipis lalu tanpa merasa sungkan dia mencium pelipis wanita cantik itu. Pria itu menatap Deana yang terus memperhatikan mereka dengan tangan mengepal kuat.


Deana berdecih, dia marah dan muak melihat tingkah pria yang masih menjadi suaminya itu lalu menendang ban mobil dengan kuat sebelum pergi. Deana mengabaikan seruan Siska yang kesal karena ulahnya.


Bukannya kembali ke tempatnya makan siang tadi atau ke hotel, Deana memutuskan pulang. Naasnya, dia lupa kalau uangnya berada di tas yang masih berada di loker.


Tidak memiliki uang membuat Deana memilih terus berjalan kaki menuju ke rumah yang jaraknya lumayan jauh. Keringat mengucur deras, pakaiannya sudah basah dan tidak ada siapa pun yang bisa dia mintai tolong memberinya tumpangan.


Di saat lelah sudah tidak dapat lagi dia tahan, Deana memilih berisitirahat sejenak di emperan toko yang tidak buka. Dia duduk selonjoran sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.


Suara klakson mobil membuat Deana yang sedang menangis itu mendongakkan kepala, memperhatikan mobil berwarna putih yang berhenti di depannya. Saat kaca mobil bagian belakang itu diturunkan, dia dapat melihat siapa orang yang berada di dalamnya.

__ADS_1


Sungguh, kekesalan Deana makin meningkat ketika tahu siapa orang di dalam mobil itu yang memberinya senyuman mengejek. Dengan sedikit kesusahan Deana bangkit berdiri, menghampiri pria di dalam mobil tersebut.


"Padahal gue mau kasih lo recehan, tapi kayaknya yang lo butuhin sekarang tisu deh!" Deana menatap kesal pria yang saat ini sedang tertawa puas itu. Dia memperhatikan gerakan tangan pria itu yang menyodorkan tisu kepadanya.


"Kamu ngikutin saya?"


"Buat apa? Enggak penting banget gue lakuin itu! Lagian kenapa di jam kerja begini lo malah keluyuran?" Pria tersebut memicingkan mata, menatap curiga kepada Deana yang tidak seharusnya berkeliaran di jalanan. "Lo ...."


"Untuk hari ini, kasih saya kelonggaran untuk enggak kerja sampai selesai!" Deana sedikit memelas, meski kesal kepada pria tersebut dia sadar kesalahannya yang telah pergi di jam kerja.


"Oke, tapi jangan sampai besok lo kayak gini lagi karena gue bakal kasih hukuman yang lebih berat!" Deana mengerutkan dahinya, dia tidak paham hukuman apa yang dimaksud pria tersebut.


"Hukuman yang lebih berat?" Pria itu hanya berdeham. "Apa artinya sekarang kamu lagi kasih saya hukuman?"


"Menurut lo?" Deana menggeleng, tidak tahu sama sekali maksudnya apa. "Lucas lo kasih dia tisu sama air mineral. Seenggaknya dia harus jalan dua kilometer lagi untuk sampai rumahnya!" Pria itu tidak lagi menatap ke arah Deana, tetapi Deana tahu jika pria tersebut sedang menyeringai licik kepadanya.


Belum sempat otak Deana bekerja cepat, pintu mobil di bagian depan terbuka. Lucas keluar dari mobil dan menyerahkan yang atasannya perintahkan.


Deana melongo, mencermati ucapan sederhana Lucas itu. Dia beralih melirik ke arah London yang sama sekali tidak menghiraukannya dan terlihat sibuk dengan ponsel yang menempel di telinganya. "Maksudnya?"


"Apa Anda tidak paham?" Deana menggeleng. Dia menatap dua benda di tangannya itu lalu menatap Lucas yang menghela napas pelan. "Ini hukuman yang Pak London maksud. Sebenarnya sejak Anda menghampiri kedua orang itu, kami sudah mengikuti Anda!"


"Hah?"


"Semangat, Nona. Oh, ya, besok jangan sampai tidak masuk kerja atau hukuman akan bertambah!" Lucas menepuk pundak Deana dan memutuskan kembali masuk ke mobil.


***


Deana menyumpahi jika hidup London tidak akan tenang setelah apa yang telah dilakukan kepadanya. Tubuh Deana benar-benar merasa sakit semua karena dia harus berjalan kaki untuk sampai rumahnya.

__ADS_1


Saat ini yang bisa dia lakukan hanya berbaring lemah di atas kasur, mengabaikan aroma tidak sedap dari tubuhnya. Dia memutuskan untuk tidak mandi dan akan langsung tidur saja. Namun, baru saja dia memejamkan mata, terdengar suara ketukan pintu.


Deana mengabaikannya ketika mendengar suara Yumi memanggil. Dia tidak ada tenaga hanya sekadar memberi jawaban, apalagi sampai berjalan untuk membukakan pintu dan suara tetangganya itu perlahan menjadi sayup-sayup yang membuatnya terlena sampai ke alam mimpi.


Baru saja menjelajahi alam mimpi yang menyenangkan itu, Deana merasa terganggu saat mendengar ketukan pintu yang begitu keras. Suara London terus memanggilnya tanpa henti, seolah tidak peduli jika suaranya serak atau ada tetangga yang terganggu.


Dengan terpaksa, tubuh lelah itu bergerak turun dari kasur dengan mata yang masih tidak ingin terbuka. Dengan sempoyongan Deana membuka pintu rumahnya, dahinya berkerut dalam saat melihat tamunya di waktu yang sudah petang itu. Entah sudah berapa lama dia tidur.


"Mas Lanang ... Siska? Kalian ngapain ke sini?" Deana bingung dan makin bingung saat melihat Siska yang menutup hidungnya dengan tangan dan tatapan risih Lanang kepadanya.


Menyadari apa yang sedang mereka perhatikan, Deana dengan cepat masuk ke rumah dan menutup pintunya. Dia gegas masuk ke kamar, berdiri di depan kaca dan meringis memperhatikan penampilannya yang kacau.


Tanpa peduli dengan tamunya itu, Deana memutuskan mandi. Dia ingin terlihat segar dan cantik ketika nanti menemui Lanang kembali.


Satu jam lamanya Deana mengabaikan tamunya yang masih betah berada di teras rumah. Dia melihat kedua orang itu begitu kesal. "Kalian masih di sini?"


"Apa yang kamu lakukan sampai buat kita menunggu lama? Memperbaiki penampilan?" tanya Lanang yang masuk tanpa memedulikan Deana.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Enggak mungkin mobilmu rusak, kan, Mas karena kejadian tadi?"


Siska mendengkus kesal. Dia menghampiri Deana dan mendorong tubuh gemuk itu. "Kamu ngapain di rumahku!"


"Rumah kamu?" tanya Deana bingung. Dia menatap ke arah Lanang yang seolah tidak peduli dengan tatapan penuh tanyanya itu. Pria tersebut memilih pergi ke dapur meninggalkan mereka berdua.


"Apa maksudnya rumah kamu? Ini rumah orang tua saya! Bahkan rumah ini mahar untuk saya dari Mas Lanang!"


"Oh, ya? Apa Lanang enggak bilang kalau rumah ini sudah jadi milikku?" Deana terdiam, tidak peduli dengan yang dikatakan Siska. "Mau ke mana kamu?"


Deana memilih menghampiri Lanang yang kembali dengan membawa minuman. Deana tahu minuman itu untuk siapa, dengan cepat dia mengambil gelas di tangan Lanang dan menyiramkan airnya ke wajah tampan tersebut.

__ADS_1


"Deana!"


"Apa maksud wanita itu kalau rumah ini punya dia, Mas? Kenapa bisa rumah yang kamu jadikan mahar buat saya, kamu kasih ke wanita lain?"


__ADS_2