Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Bertemu Alumi


__ADS_3

Setidaknya Lingga terlihat berbeda, dia tidak lagi menatap Deana seperti awal pertemuan mereka. Wanita itu menjadi begitu ramah, bahkan kesalahan yang Deana lakukan saja hanya dia tertawai.


"Kamu tahu? Kamu itu wanita paling beruntung yang pernah kutemui!" Deana membuka mata, menatap wanita yang berada di hadapannya itu. Dia heran dengan ucapan Lingga tersebut. "Tutup matamu, siapa yang suruh kamu buka?"


Lingga menghela napas pelan dan membuka mata. Dia menatap kesal Deana yang tidak menuruti perintahnya. "Kamu harus tenang, kenapa malah berwajah tegang begitu?"


"Maaf!"


Lingga tersenyum tipis, dia berganti posisi dengan duduk bersila. "Kamu heran kenapa aku bilang kamu wanita paling beruntung?"


Deana dengan ragu mengangguk. Dia memperhatikan dengan saksama Lingga yang terkekeh pelan. "Kamu itu wanita paling beruntung karena ada pria yang peduli sama kamu." Wanita itu beranjak berdiri, meninggalkan Deana yang hanya diam memperhatikan langkahnya menjauh, keluar dari ruangan yang digunakan khusus untuk mereka latihan.


Penasaran dengan yang akan dilakukan Lingga, Deana memutuskan keluar. Dia tidak sengaja melihat Lingga sedang bicara santai dengan Lucas di bawah tangga.


Wanita itu merasa heran karena Lingga sama sekali tidak malu dengan pakaiannya yang ketat dan membentuk lekuk tubuh itu berdiri di depan pria. Dirinya saja karena malu memilih menggunakan celana kulot dan kaus oblong, meski harus mendengar dengkusan kasar dari Lingga.


Tidak mau mengganggu pembicaraan mereka, Deana memutuskan untuk kembali ke ruangan. Namun, dia dikejutkan dengan London yang keluar dari kamarnya.


Deana berhenti sejenak, membalas tatapan London dan tersenyum tipis sebelum beranjak masuk. Namun, saat tangannya sudah bersiap menekan kenop pintu, London menyebut namanya.


"Ya? Kenapa?" Deana menjadi gusar melihat London yang mendekat. Pria itu tanpa senyum sama sekali menyerahkan sapu tangan untuknya.


"Malam ini gue akan pergi ke Singapura untuk beberapa waktu. Jadi lo bisa tenang karena enggak ada yang ganggu!" Tangan Deana menggantung, dia mengurungkan niat untuk menerima sapu tangan itu dan menatap London heran.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Enggak tiba-tiba. Gue memang sebenarnya sering ke sana karena ada urusan. Lagipula bukannya lo harusnya senang karena enggak ada gue?" Deana mendengkus lalu mengangguk. "Sudah gue duga. Ambil sapu tangan ini buat lap keringat lo!"


"Makasih!" London hanya mengangguk, dia mengacak rambut Deana dan segera pergi meninggalkannya tanpa menoleh sama sekali.

__ADS_1


Deana hanya bergeming, memperhatikan langkah London menuruni anak tangga dengan tangan meremas sapu tangan.


***


"Kamu enggak ikut Bujang ke Singapura?" tanya Deana kepada Lucas yang datang dan meminta dibuatkan sarapan.


Lucas yang masih menikmati sarapannya itu mengangkat wajah dan menatap Deana sejenak. Hanya dua detik saja sebelum dia kembali menikmati sarapannya itu. "Dia memang ada urusan apa ke Singapura mendadak? Apa karena enggak nyaman saya di sini? Harusnya dia bilang biar saya bisa cari kontrakan sendiri!"


"Dia pergi ke Singapura bukan karena kamu. Dia memang sering ke sana karena ada pekerjaan penting di sana!"


"Benarkah?"


Lucas mengangguk, dia menyudahi sarapannya dengan menghabiskan teh pahit yang dibuatkan oleh Deana. "Terima kasih untuk sarapannya!" Pria itu berdiri, merapikan pakaiannya yang sebenarnya sama sekali tidak berantakan itu. "Kamu bisa gunakan semua fasilitas yang ada di sini sesukamu. Itu yang dikatakan London."


Deana mengerutkan alisnya. "Memang berapa lama dia di Singapura?"


"Kenapa saya? Apa dia terganggu?"


"Jangan pikirkan apa pun. Yang perlu kamu pikirkan hanya tentang apa yang sudah kamu mulai saat ini. Dan satu lagi, London meminta saya untuk mengingatkan agar kamu tidak perlu datang ke pengadilan. Semua itu agar proses perceraian kamu cepat selesai!" Lucas tersenyum tipis memperhatikan Deana yang melongo. Dia juga tidak segan mengacak rambut Deana.


"Astaga!" Tersadar karena tingkah Lucas yang tidak seperti biasanya, Deana langsung menepis tangan London dan memilih membersihkan bekas sarapan pria tersebut.


"Biarkan saya yang urus ini. Kamu segeralah bersiap karena kita akan pergi bekerja!"


"Tapi ...." Deana memilih menurut saat mendapatkan tatapan tajam dari Lucas yang membuatnya merasa takut. Dia dengan cepat pergi ke kamarnya untuk bersiap.


"Dia kenapa jadi beda? Enggak panggil Bujang dengan sapaan yang biasanya dan tadi ... astaga, apa yang dia lakukan?" Deana bergidik sendiri mengingat tingkah Lucas barusan; senyum dan sentuhan di rambutnya.


***

__ADS_1


Deana baru saja selesai dengan pekerjaannya, tetapi dia dibuat terkejut saat melihat Alumi keluar dari salah satu kamar dengan tubuh sempoyongan. Wanita itu berjalan dengan berpegangan pada tembok hotel.


Penasaran dengan yang terjadi kepada kakak iparnya itu, Deana menghampiri. Dia dengan tepat waktu berhasil meraih tangan Alumi saat akan terjatuh. "Kak, hati-hati!"


Awalnya Alumi mengangguk, tetapi saat melihat yang membantunya adalah Deana, dia dengan kasar mendorong tubuh Deana. "Astaga, pakaian apa yang kamu pakai ini?" Wanita yang sedang dalam pengaruh minuman dan penampilan yang berantakan itu memindai penampilan Deana yang terlihat berbeda. Dia tertawa dan langsung menutup mulutnya untuk meredam tawanya itu. "Kamu jadi pelayan? Astaga, lepas dari Lanang kamu tetap saja jadi pesuruh begini, De?" ejek Alumi sambil menepuk-nepuk wajah Deana.


"Kakak mabuk, ayo saya bantu!"


"Siapa yang mabuk? Aku?" Deana mengangguk, dia mencoba membantu Alumi yang tidak bisa tenang itu. "Aku tadi ... aku kenapa, ya?" Kini wanita tersebut malah menjadi bingung setelah memperhatikan sekitarnya sambil mengacak rambutnya. Dia lalu beralih menatap Deana dan menangis. "De, aku di mana?"


"Mbak di hotel. Ayo saya antar pulang!" Alumi lagi-lagi menolak saat Deana hendak membantunya. Dia memilih mengabaikan Deana dengan racauan yang tidak jelas.


Saat akan mengejar Alumi karena takut terjadi sesuatu kepada kakak iparnya itu, Laras memanggilnya dan menyuruhnya masuk ke kamar di mana Alumi tadi keluar.


Di atas kasur terdapat seorang pria tanpa busana yang tergeletak tidak sadarkan diri dengan pisau tertancap di perutnya dengan mulut menganga. Deana terkejut, tidak sanggup melihatnya, dia langsung keluar mencari keberadaan Alumi yang sudah tidak terlihat dan mengabaikan seruan Laras.


"Enggak mungkin kalau Kak Alumi pelakunya?" gumam Deana merasa panik. Dia baru sadar kalau ada sedikit noda darah di lengan seragamnya.


Deana mengabaikan saja beberapa orang yang bergegas ke kamar tersebut, dia mengabaikan Laras yang menarik kasar tangannya pergi.


"Sadar, De! Harusnya aku marah sama kamu karena kamu bukannya bantu aku panggil petugas malah pergi begitu saja!"


Laras menatap kesal Deana yang masih syok melihat banyaknya darah di kasur tadi dan juga kenyataan jika dia tahu siapa orang yang melakukannya. "Mbak apa pria tadi meninggal?"


"Mungkin. Aku yakin, wanita yang bicara sama kamu tadi pelakunya!" Laras menatapnya tajam.


"Mbak kenapa begitu yakin? Bisa saja ...."


"Kenapa enggak? Apa kamu kenal sama wanita tadi? Sepertinya kamu kenal." Deana menggigit bibirnya dan menunduk menyembunyikan kegugupannya. Dia merasa sedang diinterogasi oleh tatapan Laras kepadanya. Dia juga yakin kalau sebentar lagi mereka akan berurusan dengan polisi.

__ADS_1


__ADS_2