Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Terima Kasih Karena Sudah Kembali


__ADS_3

Deana bekerja dengan tidak tenang. Dia masih saja kepikiran tentang kejadian tadi, entah karena tenaganya yang terlalu besar saat mendorong London atau pria tersebut yang tidak seimbang sampai terjatuh dengan suara keras.


Dia terus saja mengetuk penanya di meja, mengabaikan laporan yang harus dikerjakannya menganggur dengan layar komputer yang menyala.


"Kamu masih saja melamun, De?" Deana hanya menghela napas pelan. Dia menelungkupkan kepalanya di atas tangan yang menumpuk di meja. "De, kalau sakit mending kamu izin saja. Laporanmu biar aku ambil alih!"


Sontak Deana mengangkat wajahnya dan menatap rekan kerjanya itu. "Kamu yakin?"


"Iya. Lagipula aku sudah enggak ada kerjaan yang urgent, kok. Tenang saja!" imbuh wanita berambut sepinggang itu.


Deana menghela napas lega dan langsung memeluk rekannya itu senang. "Makasih, banyak, Jil. Tapi, kamu yakin enggak masalah?" Deana masih dengan posisi memeluk temannya itu dan mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap wajah yang sedang menunduk.


"Iya. Lagipula kamu malah lebih sering bantu aku, kan?" Deana mengangguk senang. Dia langsung berdiri dan membereskan barangnya. "Pulang dan istirahat, ya. Buruan, mumpung Pak Andreas lagi enggak masuk kerja kali ini." Mereka tertawa kecil bersama sebelum Deana memutuskan pulang.


Beruntung saja Deana tidak kesulitan mencari taksi, dia lekas pergi ke rumah London untuk mengetahui keadaan pria tersebut.


Tadi jelas sekali London mengerang kesakitan dengan memegangi pinggangnya. Deana begitu gelisah, dia sampai tidak sadar telah mengigit kuku ibu jarinya.


"Pak, lebih ngebut, ya!" Pria paruh baya dengan kumis melintang itu hanya melirik Deana dari kaca spion kecil dan mengangguk.


Beberapa menit kemudian, Deana telah sampai di depan kediaman pria tersebut. Tepatnya di depan pintu apartemen London.


Beberapa kali memencet bel dan tidak ada respons, Deana akhirnya memilih mengetuk pintu. Sayangnya saat ketukan kedua bertepatan dengan pintu yang dibuka, beruntung saja tangannya itu tidak mengenai dahi pria yang saat ini menatapnya heran.


"Oh, hai. Saya ke sini mau tahu keadaan kamu!" ucap Deana dengan senyum canggung. London hanya mengangkat sebelah alisnya. "Kamu sehat?"

__ADS_1


"Menurutmu?" Deana memperhatikan keadaan London dan mengangguk. "Pinggang gue sakit banget!"


"Maaf," cicit Deana tidak nyaman dengan tatapan lekat London.


"Siapa di sana?" Deana terkejut saat mendengar suara wanita dari dalam apartemen. Saat dia hendak melongok untuk melihat siapa wanita tersebut, dengan cepat London keluar dan menutup pintu.


"Ada apa?"


"Gue udah baik-baik saja. Lo sekarang boleh pulang!"


"Kamu kenapa gugup?" Deana masih mempertahankan diri saat London memaksanya pergi. "Apa di dalam itu Mia?" London tidak menjawab.


"London, ada tamu?" Pintu dibuka dan seorang wanita keluar dari sana. Deana yang hendak melihat wanita tersebut terhalang oleh tubuh London. "London, siapa, sih, tamunya?"


Mata Deana seketika membelalak karena dibuat terkejut dengan tindakan London yang menangkup dan mengecup bibirnya. Hal pertama yang dilakukan pria tersebut kepadanya selama mereka saling mengenal.


"Apa yang kamu lakukan?" Deana mengusap bibirnya, wajahnya memerah karena malu dengan tindakan mereka barusan, walau yang London lakukan hanya menempelkan saja bibir mereka. "Kamu keterlaluan!"


Kesal bercampur marah membuat Deana memutuskan pergi. Dia benar-benar tidak menyangka dengan yang dilakukan London. "Ada apa lagi?" Deana mengerutkan dahinya saat London menahan pintu lift dan ikut masuk ke sana.


Pria tersebut seolah tidak pernah melakukan apa pun dan memilih berdiri di samping Deana. "Aku akan antar kamu pulang?"


"Enggak perlu!"


London tidak menjawab. Dia kini malah sedang sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Penasaran dengan yang dilakukan London, Deana melirik pria tersebut. "Mia sudah pulang. Mungkin nanti kita akan bertemu dia di lobi!"


"Dia pasti sakit hati lihat apa yang baru saja kita lakukan!" ucap Deana sambil menunduk.


"Biar dia sadar kalau aku enggak pernah ada perasaan apa pun dengannya!" London menarik tangan Deana keluar dari lift.


***


"Kenapa kamu bawa saya ke sini?" Bukannya mengantar pulang, London malah membawa Deana pergi ke sekolah mereka dulu.


"Kamu enggak suka?"


"Banyak kenangan buruk di sini, buat apa saya menyukainya?" Deana terus saja memandangi gedung sekolahan mereka dulu. Mereka berdua masih berada di dalam mobil yang terparkir di seberang sekolah. Sudah banyak sekali yang berubah, cat temboknya saja seperti masih baru.


"Dulu, di sana aku sering perhatian kamu yang suka sekali duduk di pinggiran lapangan basket!" Deana mengikuti arah telunjuk London. Dia menoleh dengan heran. "Ya, di lantai dua itu. Kamu enggak tahu?"


"Mana saya tahu!" Buru-buru Deana memalingkan wajah saat bayangan tadi teringat kembali. Sangat memalukan dengan yang mereka lakukan.


"Kamu mau apa?" Deana terkejut saat London meraih tangan kirinya dan langsung menyematkan cincin di jari manisnya begitu saja. "Ini?"


"Seharusnya sejak dua tahun lalu cincin itu melingkar di jari manismu, tapi penolakanmu membuatku urung melakukannya!" Deana menatap London dengan nanar. Dia dapat melihat ketulusan di mata pria tersebut. "Aku harap, kamu enggak lagi memiliki kenangan buruk di sekolah ini."


"Tapi gimana dengan Mia dan Lucas?"


"Kenapa mengurusi mereka? Lagipula kamu enggak ada hubungan apa pun dengan Lucas, begitu juga aku."

__ADS_1


Deana terus saja memandangi cincin dengan permata di tengahnya itu. Dia sama sekali tidak menyangka akan secepat ini mendapatkannya. "Terima kasih karena sudah kembali dan tetap mencintaiku!"


__ADS_2