
Berulang kali Deana menghela napas, dia terus saja berwajah murung dan sama sekali tidak peduli dengan Alisa yang memilih ikut ke apartemen.
"Besok aku masih cuti, gimana kalau kita lari pagi!" Alisa duduk di depan Deana, dia menyerahkan jus jeruk untuk Deana. "Minumlah!"
Sesaat Deana menatap Alisa sebelum menerima gelas tersebut dan meminumnya sedikit. "Makasih, tapi besok saya kerja! Lagipula pekerjaan saya sudah seperti olahraga!" Deana meletakkan gelas di meja. Dia mengedarkan pandangan pada sekitarnya, ruangan yang luas itu begitu lengang.
"Kamu masih kepikiran London?"
"Kenapa semua orang mempermasalahkan berat badan, sih? Apa menjadi gemuk itu masalah?" tanya Deana serius. Mengetahui perasaan Deana yang sedang tidak baik-baik saja, Alisa mengusap pelan punggung tangannya.
"Kamu enggak perlu dengarkan ucapannya tadi. Dia cuma asal bilang!"
Deana menggeleng, tentu saja dia tahu London tidak asal mengatakannya. Sejak dahulu pun pria itu merundungnya karena satu hal, dirinya yang tidak seperti teman-temannya yang lain, memiliki tubuh ramping. "Aku sudah menuliskan resep menu untuk diet kamu setelah tadi kita lakukan pemeriksaan sebelum ke rumah London, aku harap kamu bisa jalaninya tanpa beban!"
"Apa berat? Saya belum pernah melakukannya?" Alisa tersenyum sembari menggeleng. "Baiklah, kamu temani saya, kan?"
"Tentu. Aku akan buat para pria itu menyesal sudah buat kamu menderita selama ini, tapi ingat satu hal kamu kurus bukan untuk menggaet pria karena itu bonus, tapi untuk hidup lebih sehat!"
***
Hari-hari yang Deana lalui terasa berat, meski sudah tiga minggu berlalu sejak percakapan dengan London. Alisa menurutnya lebih parah dari Lingga, wanita itu terus saja mengontrol Deana agar tidak kecolongan setelah bersusah payah mengatur pola makan dan jadwal olahraganya.
Mengurangi porsi makan dan mengganti menu makanan yang menurut Alisa menjadi lebih sehat benar-benar membuat nafsu makan Deana berkurang. Dia tidak berselera makan karena merasa makanannya kini begitu hambar. Belum lagi dirinya seakan sedang perang dingin dengan London, pria itu sudah tidak lagi bersembunyi dan beberapa kali datang ke hotel tempatnya bekerja.
Seperti kali ini, mereka bertemu di lift saat Deana sibuk dengan troli berisi selimut menuju ke lantai sepuluh. Mereka hanya berdua di ruangan sempit itu, tetapi sama sekali tidak ada yang berniat untuk menyapa.
__ADS_1
Deana sesekali melirik London yang asyik dengan ponselnya, sesekali berdeham dan menangkap basah dirinya. Namun, London sama sekali tidak bersuara.
"Permisi!" Deana memilih keluar lebih dulu, diikuti London yang ikut keluar juga. Saat dirinya akan beralih ke lorong sebelah kanan, langkahnya terhenti karena London memanggilnya.
"Lo marah sama gue?" Deana berbalik dan menatap lekat London yang berdiri tidak jauh darinya. Mata pria itu terlihat sekali naik turun memperhatikan dirinya yang bergeming dengan trolinya tanpa mengatakan apa pun. Reaksinya pun begitu datar dengan bibir terkatup rapat.
"Terserah, yang jelas gue lihat lo kurusan!" Deana menghela napas pelan, dia melihat dengan jelas London menarik sudut bibirnya sebelum berlalu pergi tanpa menunggu jawabannya. Pria itu kembali masuk ke lift sambil menerima panggilan dan menyebut nama wanita yang belum pernah didengarnya.
"Anggap saja karena saya ingin dengan cepat kamu memberi penjelasan tentang semuanya!" Saat akan mendorong kembali trolinya, dia dikejutkan dengan sosok wanita yang amat dikenalinya keluar dengan pria yang lebih tua.
Buru-buru Deana menunduk dan berpaling untuk menyembunyikan wajahnya saat mereka berjalan dengan begitu mesra melewatinya. Beruntung saja wanita tersebut tidak melihatnya karena terus saja sibuk dengan pria yang berjalan bersamanya itu dengan begitu manja.
Setelah mereka melewatinya, dengan perlahan Deana menoleh ke arah mereka memperhatikan mereka yang berjalan menuju ke arah lift. "Apa yang terjadi? Kenapa dia ... Astaga, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?"
Deana benar-benar tidak habis pikir, dia tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya.
***
Deana tidak peduli dengan tatapan tidak suka Lanang kepadanya. Dia mendekap erat bingkai foto keluarganya yang tertinggal di rumah Lanang.
Setelah memberitahu akan ke rumah mantan suaminya itu untuk mengambil foto yang tertinggal, dengan cepat Lanang melarangnya dan malah menyuruh untuk menunggu di taman kompleks dekat rumahnya.
Tidak mau membuat keributan akhirnya Deana memilih menurut, walau harus menunggu Lanang cukup lama dan hampir saja menyerah lalu pergi ke rumah pria tersebut.
Deana memasukkan kembali bingkai foto tersebut ke dalam paper bag, dia menatap lekat Lanang yang saat ini memilih duduk di bangku kayu panjang. "Terima kasih, Mas! Saya takut kamu enggak jadi datang!"
__ADS_1
Lanang hanya mengangguk. Kedua tangannya memegang pinggiran di bawah bangku dengan kepala mendongak menatap bintang. Terlihat sekali wajah lelah pria tersebut. Jika saja mereka masih menjadi suami istri dan jika saja Deana masih mengira Lanang mencintainya, dia akan duduk di samping pria tersebut dan menghiburnya seperti dulu.
Sayangnya semua tidak lagi sama, dia hanya memperhatikan sesaat wajah pria tersebut dan memilih untuk beranjak pergi.
"Ah, ya, Mas, apa Siska tadi siang di rumah?" Baru dua langkah menjauh, Deana mengingat kejadian siang tadi di hotel, penasaran dengan kehidupan mantan suaminya itu, Deana memilih bertanya.
Lanang masih dengan posisinya, pria tersebut menatap Deana tajam dengan kerutan pada kedua alisnya. Pria tersebut lalu menghela napas dan berdiri membuat Deana harus mendongak untuk bisa menatapnya. "Apa urusannya denganmu dia ada di rumah atau enggak? Lagipula sejak kemarin dia belum pulang!"
"Apa kamu kelihatan lesu karena itu?"
"Maksudmu?" Deana menggeleng. Dia memilih untuk tidak bertanya lebih, tidak mau terlalu dalam mengetahui apa yang terjadi. "Terserahmu saja."
"Gimana keadaan Ibu?"
"Dia baik, Siska merawatnya dengan baik. Dia wanita yang memang tepat buatku, kamu tahu? semenjak sama dia, aku makin semangat kerja dan efeknya mahasiswaku menjadi lebih menyenangkan!"
"Itu bagus!"
"Kulihat kamu kurusan? Diet?" Lanang berjalan mendekati Deana, memegang kedua pundaknya dan mendekatkan bibirnya pada telinga Deana untuk berbisik, "Kamu begini karena aku? Ingat, jangan harap aku tertarik sama kamu dan akhirnya menyesal lalu ajak balikan!"
Pria jangkung tersebut menyeringai sebelum menjauhkan diri. Dia melirik ke arah tangan Deana yang mengepal erat dengan mata membeliak tajam menatapnya. "Ah, dengan penerangan yang kurang terang ini aku bisa lihat kalau wajahmu sekarang sudah bersih dari jerawat. Kamu benar-benar merawatnya sekarang."
"Karena saya baru sadar kalau saya harus merawat diri."
Lanang berdecak sebal, terlihat kecewa. "Kamu benar dan harusnya sejak dulu jadi aku enggak perlu mengejar-ngejar Siska dan memintanya menikah denganku!"
__ADS_1
Deana mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka jika Lanang tanpa diminta memberitahu alasan menikah kembali dan memberitahunya jika pria tersebut memang bukan pria yang baik untuknya. "Akhirnya kamu jujur juga, Mas."
"Aku merasa kalau pria pemilik hotel itu menyukaimu!"