Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Saya Jamin Anda Tidak Akan Menyesal


__ADS_3

"Jadi bukan kamu orangnya?" tanya Lingga—wanita berpakaian seksi itu—menatap London dengan penuh minat dan saat tatapannya beralih pada Deana yang duduk di samping London, wanita itu menatapnya kesal.


Deana meringis, dia merasa risih dengan tatapan wanita yang duduk di hadapannya itu. Hanya terhalang oleh meja. Senyumnya yang dia paksa muncul sama sekali tidak disambut baik, Lingga malah lebih senang memandangi wajah tampan London yang menatapnya diam dengan kaki kiri bertumpu di kaki kanannya dan tangan yang dilipat di depan dada.


Lingga tidak ragu menggoda London dengan mengedipkan mata dan menggigit bibirnya sensual, membuat Deana merasa mual dan ingin beranjak pergi. Sayang, London yang tahu Deana akan beranjak meninggalkan mereka, menahan tangannya untuk tetap berada di sisinya.


"Saya mau buatkan minum buat tamu kamu," bisik Deana, dia membalas tatapan Lingga yang memperhatikannya curiga dengan senyum canggung.


"Tetap di sini sampai Lucas sampai," balas London membisikkannya kepada Deana.


Deana cemberut dan terpaksa menurut. Dia terpaksa harus menerima tatapan Lingga yang sama sekali tidak menyukainya itu saat melihat tangannya digenggam oleh London.


"Ekhm, apa enggak ada minuman?"


Deana melirik London yang tampak santai dan hanya memperhatikan Lingga dan membuat wanita itu salah tingkah. Deana mencoba menahan senyumnya saat melihat wajah semu merah milik Lingga yang coba disembunyikan itu.


"Ah, Anda benar. Saya sampai lupa membuatkan minum!" London menoleh ke arah Deana dengan tatapan matanya yang tajam dan Deana mengabaikannya. "Sebentar akan saya buatkan!"


Dengan satu tarikan cepat, Deana bisa melepaskan tangannya dari genggaman London dan pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"Tunggu!" Deana menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menatap Lingga. "Buatkan saja jus jeruk, tanpa gula dan esnya sedikit saja!" Lingga tersenyum malu-malu kepada London yang mendelik kesal kepadanya.


"Ah, baiklah. Tuan mau saya buatkan sekalian?" tanya Deana kepada London yang menggeram kesal karena lagi-lagi dia harus mendengar sapaan itu dari mulut Deana.


"Enggak! Buatkan untuk tamu kita saja!" jawab London, dia menatap kesal kepada Deana yang menahan tawanya.


"Baiklah!" Deana lekas pergi ke dapur membuatkan minuman untuk tamu mereka.


Deana sama sekali tidak menyangka jika Lingga memperkenalkan diri sebagai instruktur yoga yang terkenal dan diminta datang oleh Lucas untuk mengajarinya. Dia sama sekali tidak tahu kenapa harus melakukan yoga, apalagi dengan wanita yang terlihat sekali tidak suka kepadanya.


Saat sedang menuangkan minuman yang dibuatnya ke gelas, Deana dikejutkan dengan kehadiran London. Pria tersebut tiba-tiba saja bersuara dan membuatnya hampir menjatuhkan benda di tangannya.


"Astaga, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa enggak di ruang tamu sama tamu?" tanya Deana kesal. Dia mengelap meja yang terkena air jus jeruk dan mengabaikan London yang hanya diam memperhatikan dirinya bekerja. "Kamu balik saja ke depan, saya akan bawakan minuman ini!"

__ADS_1


"Lo yang buat gue harus ke sini jemput lo!" Deana menatap London bingung. Tidak tahu kenapa London sampai terlihat marah karena dirinya pergi ke dapur meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"Tapi saya cuma pergi lima menit saja!"


"Tetap saja, dekat dengan wanita begitu buat gue sesak!"


"Kenapa? Padahal dia cantik loh," goda Deana. Dia tahu London tidak tahan dengan godaan yang Lingga berikan, pria itu bahkan sejak awal setelah Lingga memaksanya untuk berpelukan dan cipika-cipiki sudah begitu panik. Namun, berusaha untuk bersikap tenang.


"Lo!"


"Udah! Sekarang kita ke depan. Kasihan tamunya sendirian!" Tanpa peduli dengan kekesalan London, Deana membawa minuman yang diminta Lingga. Dia meninggalkan London yang masih bertahan di dapur.


"Pria tadi mana?" tanya Lingga saat Deana datang.


Deana melirik Lucas yang sudah datang dan duduk di tempatnya tadi duduk. Dia tersenyum tipis membalas tatapan Lucas kepadanya.


"Tuan ada di belakang, sebentar lagi dia menyusul. Silakan diminum!" Deana meletakkan gelas jusnya di meja dan dengan cepat Lingga meminumnya.


"Sepertinya yang saya katakan saat itu. Kamu dipekerjakan oleh Pak London untuk membantu Nona Deana berubah. Gaji kamu akan ditambah jika kamu bisa membuatnya belajar tentang merias dan merawat wajahnya!"


"Jang, ah, maksud saya Tuan apa maksud semua ini?" Deana tidak mengerti, dia ingin ada penjelasan dari semua yang baru saja didengarnya itu. Namun, dirinya kembali diabaikan oleh London dan juga Lucas.


"Duduklah!" Dengan terpaksa Deana menuruti perintah London yang menyuruhnya duduk.


"Benarkah gajinya akan ditambah?" tanya Lingga senang.


"Tentu. Buat dia berubah dalam waktu singkat!" ucap London yang melirik ke arah Deana sesaat. "Kalau enggak bisa lo lakuin, gue enggak akan kasih apa yang lo butuhkan."


"Kalau berhasil, apa hadiahnya?" tanya Lingga antusias.


"Lo akan gue kasih bonus, bahkan gue akan ...."


"Oke juga, selain bonus aku mau kita makan malam romantis. Gimana?" Lingga menyodorkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan dengan senyum mengembang. Dia tidak peduli dengan wajah terkejut London.

__ADS_1


"Oke, setuju!" Lingga menoleh ke arah Deana yang tersenyum penuh kepadanya lalu mengangguk, meski terlihat sekali dia tidak suka sambil menarik tangannya yang diabaikan oleh London, bahkan Lucas pun enggan menjabat tangannya.


"Gue enggak setuju!" tolak London.


"Kenapa begitu?" tanya Deana kesal.


"Gue enggak mau makan malam sama orang yang bukan siapa-siapa gue. Lagipula gue yang bayar dia, jadi dia harus nurut apa pun yang akan gue kasih!"


"Enggak bisa gitu. Kalau kamu memang suruh dia ubah saya dalam waktu singkat, jadi kamu harus setuju sama permintaannya karena itu juga syarat saya kalau kamu mau saya mengikutinya!" jawab Deana dengan senyum mengejek penuh kemenangan.


"Oke, gue setuju asal lo harus lakuin tugas lo dengan baik. Buat dia berubah dan kalau bisa buat semua orang pangling sama perubahannya."


"Tentu. Kamu enggak perlu ragu sama aku, Say." Lingga mengedipkan matanya. "Aku pastikan dalam waktu singkat dia akan berubah seperti yang kamu minta." Lingga bicara dengan penuh rasa percaya diri. "Ah, pasti menyenangkan makan malam romantis dengan pria tampan!"


Mendengar ucapan terakhir Lingga membuat Deana merasa mual. Dia tidak percaya ada wanita yang memuji London tampan.


"Baiklah, karena semua sudah setuju, mulai besok kamu sudah bisa mengerjakan tugasmu. Sekarang, silakan pulang!" usir Lucas. Pria itu sejak tadi memilih menjadi mendengar dan pengamat atas percakapan ketiga orang di sekitarnya.


Lingga memutuskan pergi tanpa meminum jus yang sudah dibuatkan. Setelah wanita itu pergi, London yang sejak tadi menahan kesal melampiaskan kekesalannya kepada Lucas dengan memukuli tubuh asistennya itu dengan bantal.


"Lo kenapa bisa pilih orang kayak dia, hah?"


"Maaf, Pak, dia orang yang menurut saya tepat untuk membantu Deana, dia punya banyak keahlian, meski pekerjaan utamanya seorang instruktur yoga. Saya jamin Anda tidak akan menyesal!"


London berdeham lalu melirik ke arah Deana yang diam saja. Dia mengangguk. "Pergilah. Gue mau istirahat!" London mengibaskan tangannya mengusir Lucas dari apartemen.


"Saya pergi, Pak. Selamat malam!" Lucas segera keluar dari apartemen, tidak lupa dia menutup pintu dan meninggalkan dua orang yang memilih bungkam.


"Lo ...!"


"Saya mau istirahat!" Deana lekas bangkit berdiri dan pergi meninggalkan London yang menatapnya bingung. Sikap Deana seketika Lang berubah.


"Lo enggak jadi buat bolu?" Suara teriakan London tidak dihiraukan oleh Deana yang sudah masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Wanita itu merasa sesak dan ingin menangis sendirian di kamar, dia tidak menyangka ada orang yang mengasihaninya sampai melakukan banyak hal dengan mendatangkan seseorang. Deana makin tidak menyangka jika orang itu adalah pria yang selama ini selalu mengajaknya adu mulut dan sangat menyebalkan.


"Kenapa dia baik banget? Apa benar dia pernah melakukan kesalahan fatal dan sekarang mau menebusnya?"


__ADS_2