
Deana sendiri, benar-benar merasa sendiri saat berkali-kali pertanyaan yang sama ditanyakan dan dia masih memilih untuk menutup rapat mulutnya. Bukan karena dia ingin melindungi Alumi, tetapi saat ini dia dihinggapi rasa takut. Perasaan yang bertahun-tahun ingin dia hilangkan dan ternyata tidak bisa.
"Kita bicara santai saja, kamu tidak perlu tegang karena di sini kamu hanya salah satu saksi dari kasus pembunuhan di hotel tempatmu bekerja!" Wanita berseragam itu kembali mengumbar senyum untuk Deana yang begitu sulit berucap.
Di pangkuannya, jemari Deana saling bertautan, meremas karena gugup. Pertanyaan dan tatapan tajam kala itu membuatnya merasa pusing. "Minumlah, sepertinya kamu sedang tidak sehat!"
Deana hanya mengangguk, menerima kembali air mineral yang berhasil membuat mualnya makin menjadi. "Sepertinya dia sedang tidak sehat. Bisakah dilanjutkan besok saja? Lagipula rekannya sudah diperiksa, setidaknya pernyataan rekannya sudah cukup untuk kelengkapan berkas perkara ini!"
Deana menoleh, dia merasa lega saat Lucas kembali setelah beberapa saat memilih menerima panggilan. Pria itu membalas tatapan Deana dengan senyuman tipis.
Wanita bernama Putu itu menghela napas, menatap Deana lekat sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah, saya harap besok Anda siap datang kembali ke sini untuk bisa memberi keterangan!"
Deana mengangguk, merasa menyesal karena menyiakan kesempatan selama dua jam. "Terima kasih!" Lucas mengangguk dan mengajak Deana untuk pergi.
Dengan tubuh gemetar Deana mengekori Lucas yang berjalan di depannya. Dia menunduk, sama sekali tidak berani untuk melihat sekitarnya. Perasaan takut akan kejadian di masa lalu benar-benar menghantuinya saat ini.
"Deana, dengar!" Tanpa sengaja Deana menabrak dada Lucas yang tiba-tiba berbalik menghadapnya.
Deana menatap Lucas yang menatapnya kesal. "Maaf!"
"Tidak masalah. Saya hanya mau bicara, kamu belum makan, kak?" Deana menggeleng. Pria itu melirik arloji di pergelangan tangan kirinya lalu kembali menatap Deana. "Sebelum kembali, kita makan malam dulu!"
"Deana!" Deana menelengkan kepala memperhatikan ke sisi sebelah kanan di belakang Lucas sebelum pria tersebut menggeser tubuhnya. "Syukurlah kamu sudah selesai. Kamu enggak kesulitan jawab pertanyaan dari penyidik, kan?" tanya Laras yang terlihat begitu lega.
Deana melirik ke arah Lucas yang diam saja lalu menggeleng. "Kenapa?" tanya Laras bingung. Dia mengerutkan dahinya samar sambil meraih tangan Deana yang terasa dingin.
"Saya gugup, Mbak!"
__ADS_1
Laras mengangguk paham. "Enggak apa-apa. Pasti kalau pertama diinterogasi akan gitu, aku juga dulu gitu dan karena sudah pernah jadi tadi aku bisa jawab semua dengan lancar. Lagipula kita di sini hanya dimintai keterangan!"
"Kita akan pergi sekarang. Apa mau ikut gabung?" Laras beralih pada Lucas yang sejak tadi diabaikannya.
"Tidak, Pak. Suami saya sudah menjemput. Saya masih di sini untuk memastikan keadaan Deana." Laras memeluk Deana sesaat. "Aku pulang dulu."
Deana hanya mengangguk mengantar kepergian Laras. "Kita pergi sekarang?"
"Iya!" Deana kembali mengekori Lucas. Dia memilih bungkam selama di perjalanan sampai di tempat makan yang letaknya tidak jauh dari apartemen.
"Terima kasih karena kamu mau menemani saya tadi. Dan maaf karena saya enggak bisa jawab satu pun pertanyaan dari petugas!" Deana merasa bersalah. Tentu saja. Dia telah menyiakan waktu dua jam begitu saja. Namun, semua itu ada alasannya.
"Apa saya boleh tahu alasan kamu melakukannya?" Lucas seperti biasa, duduk tegak dan menatap lurus ke arah Deana yang memilih diam sambil menggigit bibir bawahnya.
"Sebenarnya saya ada perasaan takut!" Lucas mengerutkan alisnya, terlihat sekali dia penasaran dengan jawaban Deana. Namun, memilih untuk tidak menyela. "Dulu, ibu saya meninggal karena dibunuh dan orang yang pertama kali menemukannya saya. Saat itu, polisi mencecar banyak sekali pertanyaan dan membuat saya pusing. Akhirnya saya pingsan. Sejak itu, saya merasa takut jika berada di dekat mereka."
Deana tersenyum masam. "Saya terlalu takut!"
"Tentu. Kalau kamu takut untuk kembali ke sana, saya akan minta penyidik tadi untuk datang ke apartemen." Deana melebarkan matanya. Dia menggeleng dengan cepat. "Jangan khawatir, akan saya temani. Sesuai perintah London untuk selalu ada di dekat kamu. Akan saya lakukan!"
"Bujang tahu masalah ini?"
"Tentu! Dia pasti tahu dan harus tahu tentang masalah ini!" Lucas menjauhkan tangannya dan tidak lama pesanan mereka datang. "Mungkin juga mantan kakak iparmu akan dijadikan tersangka karena dia satu-satunya orang yang bersama korban di kamar itu!"
Tepat setelah pramusaji pergi, Lucas bicara seperti itu dan lagi-lagi berhasil membuat Deana terkejut. Tangannya yang akan mengambil gelas, tertahan. "Identitas teman korban tentu saya terekam di cctv dan saat itu kalian sempat bicara, kan?"
"Iya. Apa saya bisa juga dijadikan tersangka?"
__ADS_1
Lucas mengerutkan dahinya. Dia menggeleng. "Kenapa? Tentu saja tidak. Seperti yang saya katakan tadi. Semua yang terjadi tadi terekam di cctv, selain kejadian di kamar." Pria itu menyuap steiknya. Menikmati makan malamnya yang sudah kemalaman. "Tidak makan?"
"Bisakah status praduga tersangka itu terhapus? Maksudnya bisakah Kak Alumi tidak ditahan?" Lucas mengangguk. "Caranya?"
"Polisi yang akan mengungkapnya. Kalau memang dia tidak bersalah, tentu dia tidak akan dipenjara!"
"Saya hanya takut kalau keterangan yang akan saya sampaikan membuatnya tersudutkan." Deana memegang gelas dengan erat. "Saya enggak mau karena saya, dia mengalami seperti yang terjadi dengan ayah." Deana tersenyum tipis membalas tatapan bingung Lucas kepadanya. "Setelah saya pingsan, polisi masih terus mencecar pertanyaan dan entah apa yang saya katakan sampai polisi menetapkan ayah sebagai tersangka walau satu minggu kemudian ayah dibebaskan karena enggak terbukti bersalah."
"Tenanglah, kali ini tidak akan ada kesalahan. Saya akan temani kamu agar kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi!"
***
Deana dibuat terkejut dengan kehadiran Lanang di apartemen London saat dirinya membuka pintu akan pergi bekerja. Pria itu berpenampilan seperti biasanya, rapi dan wangi. Hanya saja terlihat rambut-rambut halus di dagunya yang sebelum itu tidak pernah dia biarkan tumbuh. Pria itu menatap Deana sesaat sebelum meminta agar mereka bisa bicara sebentar.
"Apa yang mau kamu bicarakan, Mas? Tentang perceraian kita?"
"Bukan! Aku ke sini memintamu untuk memberi keterangan yang bisa membebaskan Kak Alumi dari tuduhan pembunuhan pria itu!" ucap Lanang dengan suara yang terdengar sedang menahan marah. "Apa kamu tahu kalau pagi ini Kak Alumi diminta untuk datang ke kantor polisi karena kasus di hotel tempatmu bekerja itu?"
Deana melirik ke arah tangan Lanang yang menggenggam erat. "Polisi bekerja dengan cepat ternyata dan kenapa kamu menyangka saya akan memberi kesaksian yang memberatkan dia?"
"Bisa saja, kan? Aku tahu gimana bencinya kamu sama keluargaku dan bisa saja kamu dendam lalu menjadikan kejadian ini sebagai salah satu alasan untuk membalas dendam."
Deana mendengkus kesal. Dia sudah merasa kasihan terhadap kejadian yang menimpa Alumi, tetapi mendengar ucapan Lanang yang menyudutkan dan tatapan pria itu yang membuatnya tidak nyaman, membuat Deana memilih untuk bersikap tegas.
"Saya bukan kamu, Mas. Walau saya harus membalas semua perbuatan kalian, bukan dengan cara seperti yang kamu tuduhkan itu." Deana berdiri dan kembali bicara, "Lebih baik kamu keluar dari sini. Masalah apa yang akan saya katakan kepada penyidik itu urusan saya dan saya jamin pernyataan saya itu sesuai fakta!"
Lanang menggeram dengan tangan mengepal, wajahnya memerah menahan marah karena tidak menyangka dengan perlawanan Deana kepadanya. Padahal selama ini wanita di hadapannya itu selalu terlihat lemah dan berharap perlindungan. "Pergilah, Mas!"
__ADS_1