
Selama dua hari ini Deana tidak keluar dari rumahnya. Dia mengabaikan keadaan dirinya yang berantakan karena selama dua hari ini hanya mengurung diri di kamar dan menangis, bahkan sama sekali tidak ada keinginan untuk mandi.
Air matanya sudah tidak keluar lagi, matanya terasa perih karena terlalu sering menangis. Dia menatap malas dan kesal sampah tisu yang berserakan di lantai kamarnya.
Atensinya teralihkan karena mendengar suara ketukan pintu yang terdengar tidak sabaran, dengan malas dan tanpa membenahi penampilan Deana beranjak keluar kamar, meski dengan keadaan tubuh yang gemetar karena tidak makan.
Tubuh Deana seketika terhempas ke lantai setelah berhasil membukakan pintu, tubuhnya terasa sakit, dalam keadaannya yang benar-benar kacau itu, sayup-sayup dia mendengar suara pria yang dua hari ini tidak dilihatnya itu.
"De, bangun. Astaga, tolong bantu!"
***
Entah berapa lama Deana tidak sadarkan diri, ketika dia sadar lengannya sudah terpasang infus, di sisi kirinya itu dia melihat sosok pria menyebalkan sedang duduk santai sambil menatapnya horor.
"Kamu ngapain ke sini?" Deana bergerak begitu cepat, membuat kepalanya terasa sakit.
"Lo benar-benar sinting. Ngapain enggak makan dua hari?" Deana mendengkus kesal, memalingkan wajahnya ke arah lain dan membiarkan pria yang tidak dia harapkan datang itu membantunya duduk.
"Lo mau mati?"
"Bukan urusan kamu! Lagipula bagaimana kamu tahu kalau saya sudah tidak makan dua hari?" tanya Deana lemah. Dia terkejut saat melihat keadaan kamarnya sudah bersih, tidak ada lagi tisu yang berserakan di lantai. Dia menatap pria tersebut heran.
"Lo kira gue yang bersihkan kamar lo? Ogah!" London menegakkan duduknya, merapikan kemejanya yang tampak sedikit kusut.
Deana mendengkus kembali, emosinya benar-benar diuji ketika bersama dengan London. "Terus siapa yang bersihkan kalau bukan kamu, Jang?"
"Jin. Persis kayak gue suruh jin buat tarik lo ke sini!" Pria itu menyeringai saat Deana menatapnya tanpa minat.
Deana tidak menggubris ucapannya itu. Kini dia malah melamun dan kembali menangis, membuat London kelimpungan. "Lo marah karena gue bilang jin yang lakuin semuanya? Lo enggak berharap gue yang lakuin, kan?"
"Enggak. Saya tahu pasti kamu yang lakuin!"
__ADS_1
"Bukan gue!"
Deana hanya menggeleng, menatap London sesaat lalu menunduk. Tangisannya sudah tidak dapat tertahan lagi, dia lemah ketika mengingat betapa kejamnya ucapan Lanang saat itu. "Lo lapar?"
"Kenapa kamu enggak biarkan saja saya? Lebih baik saya mati saja!"
"Sinting!" London berdecak sebal. Dia bangkit berdiri dan keluar begitu saja, membuat Deana kebingungan. Namun, hanya dalam hitungan menit pria tersebut kembali datang dan membawa kotak makanan. "Gue tahu lo pasti lapar, nutrisi dari infus enggak buat lo kenyang. Sekarang lo makan dulu, habis itu lo boleh berpikir mati lagi!"
Deana bungkam, memperhatikan London dengan telaten membuka kotak makan tersebut yang ternyata bubur ayam. "Gue enggak kasih racun apa pun, jadi makan saja dengan tenang!" Deana menolak saat London hendak menyuapnya.
"Saya tidak lapar!"
"Lo kira gue anak kecil yang bisa dibohongin? Sekarang lo makan setelah itu lo gue kasih kebebasan mau lakuin apa pun itu!"
Deana menatap London lekat lalu dengan malas membuka mulutnya. Dia menerima suapan dari pria yang tidak pernah terpikirkan olehnya akan bersikap baik kepadanya. Selama ini, London, pria yang ingin dia habisi dengan tangannya sendiri. Pria bermulut pedas itu selalu berkata dengan begitu menyakitkan.
"Satu suapan lagi!" Deana menggeleng, sudah tidak sanggup menerima makanan. Sejak tadi London terus saja membujuknya dengan mengatakan satu suapan lagi, tetapi dia terus dipaksa menghabiskan bubur ayam tersebut.
Kali ini tatapan London terlihat meneduhkan. Pria itu menatap Deana dengan sorot mata menenangkan, senyuman manis terukir di bibirnya yang berwarna merah alami itu.
"Kamu kenapa baik sama saya?" tanya Deana setelah berhasil menelan makanannya. "Kita enggak pernah bertemu setelah perpisahan sekolah, tapi kenapa kamu bisa tahu masalah hidup saya?"
pria itu terdiam, mengambil ponselnya di saku celana. "Gue terima dulu panggilan ini!" Sebelum keluar dari kamar, London kembali tersenyum manis untuk Deana dan yang mengejutkan pria itu mengusap lembut rambut Deana.
Pantas dan wajar bagi Deana merasa heran sekaligus curiga akan sikap London. Pria itu tiba-tiba datang dan bersikap baik kepadanya. Pria itu seperti sudah mencari tahu tentang kehidupannya sebelum memberanikan diri muncul.
"De, gue harus pergi. Lo tenang saja, gue sudah suruh tetangga lo itu untuk jaga lo di sini!" Tidak memberi kesempatan Deana untuk bicara, London sudah keluar lebih dulu sambil membawa bekas makanan.
"Seharusnya dia kasih minum dulu!" keluh Deana sambil mengusap lehernya.
***
__ADS_1
"Aku sama sekali enggak tahu kalau kamu ada di rumah loh, De. Ya, maklum saja, beberapa hari ini aku lagi di rumah mertua!" Yumi menyesal, memperhatikan wajah pucat Deana dan selang infus. "Kamu enggak apa-apa, kan, De?"
"Mbak Yumi pulang saja, kasihan Sifa sama Mas Heru kalau Mbak di sini. Saya baik-baik saja!" Deana berusaha meyakinkan Yumi jika dirinya baik-baik saja, meski dirinya memang sedang tidak baik-baik saja.
Deana hanya ingin sendiri, kembali meratapi kemalangan dirinya yang telah ditipu selama tiga tahun pernikahan dengan Lanang. Pria yang dia kira setia, ternyata mendua.
"Mas Heru sama Sifa lagi di rumah ibu mertuaku, De. Kamu tenang saja!"
Deana menghela napas pelan. Dia memilih untuk tidak memaksa Yumi pergi karena percuma saja. "De, maaf banget, tapi kenapa Mbak lihat jerawat kamu makin banyak? Kamu stres parah nikah sama Lanang?"
Deana terdiam, menatap Yumi lekat lalu tersenyum tipis. "Harusnya kamu bisa jaga diri, De!" Yumi mengusap lengan Deana kasihan. "Tapi ya, aku malah setuju kalau kamu sama pria itu. Duh, ganteng loh, De, daripada Lanang."
"Masih gantengan Mas Lanang, Mbak. Tapi ...."
"Lanang selingkuh?" Dahi Deana berkerut, satu alisnya terangkat menatap wajah kesal Yumi. "Aku yakin kalau sebenarnya waktu itu Lanang bawa selingkuhannya! Harusnya aku pergoki dia sambil bawa warga biar digerebek sekalian!"
"Istrinya, Mbak!"
Yumi terlihat makin terkejut, tidak menyangka.
Deana terkekeh pelan, bukan merasa lucu karena ekspresi Yumi yang terkejut, tetapi karena lagi-lagi dia merasa dibohongi dan dipermainkan.
"Lanang enggak bisa lihat apa, ya? Dia sampai duain istri sebaik kamu demi wanita lain?" Yumi terlihat begitu kesal, menggeram sampai tidak sadar meremat lengan Deana.
"Mbak ...."
"Aku yakin Lanang itu buta, makanya dia sampai tega duain kamu!" Yumi makin kuat meremat lengan Deana, sampai membuat wanita yang sedang lemas itu meringis sakit. "Aku ... oh, astaga. Maaf, De, aku enggak tahu!"
Sadar akan tindakannya itu Yumi meringis memperhatikan Deana yang kesakitan. "Tapi tetap saja, Lanang itu sinting dan buta. Dia bisa-bisanya sakiti istri sebaik kamu!"
"Tapi saya enggak cantik, Mbak!" Yumi menghela napas dan mengangguk setuju. "Istrinya yang sekarang cantik dan enggak akan mempermalukan dia kalau dibawa ke tempat umum! Beda sama saya!"
__ADS_1