Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Tidak Perlu Pikirkan Orang Lain!


__ADS_3

Di ambang pintu, Deana menghempaskan dengan sedikit kasar tangan Ami yang menariknya untuk keluar dari kamar hotel. Dia tidak tahu alasan wanita yang selalu dengan terang-terangan tidak menyukainya itu melakukan hal tersebut tiba-tiba.


Wajah Ami terlihat merah padam dengan mata menatap tajam kepadanya. "Ikut aku atau kamu akan tahu akibatnya!"


Deana mendorong tubuh Ami sampai menabrak pintu saat wanita itu kembali akan menarik Deana. Terlihat sekali dada Ami naik turun dengan cepat karena penolakan dari Deana lalu tanpa aba-aba dan begitu cepat tangan wanita tersebut menampar wajah Deana.


"Itu akibatnya karena kamu menolak!" Deana mengusap wajahnya yang terasa sakit akibat tamparan keras tersebut. Dia menatap tajam hendak membalas tamparan tersebut, tetapi berusaha ditahannya. "Siapa kamu sampai bisa gantikan posisi Bu Vero jadi supervisor?"


Mata Deana membeliak tajam dengan bibir terbuka sedikit karena terkejut setelah mendengar ucapan Ami. Dia sama sekali tidak mengerti tentang yang baru saja didengarnya itu. "Jangan pura-pura enggak tahu, ya. Kamu pasti ada main sama pemilik perusahaan ini, kan? Kamu pasti rayu Pak London, kan?"


Deana dengan pikiran yang kacau karena tuduhan asal dari Ami itu hanya menggeleng. "Sejak awal aku sudah curiga sama kamu semenjak lihat kamu dekat sama Pak Lucas wakil sekaligus sepupu dari Pak London itu."


"Sepupu?" cicit Deana makin terkejut dengan fakta yang didengarnya.


Ami mengangguk, memperhatikan dengan heran reaksi Deana yang terlihat begitu terkejut. "Kamu ...."


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tatapan mereka beralih ke arah di mana wanita yang bernama Vero itu berdiri. Wajahnya begitu tegas dan terlihat menakutkan jika tanpa senyuman.


Vero mendekati mereka, memperhatikan dengan curiga Ami dan Deana bergantian. Tatapannya tertuju kepada Ami yang terlihat panik dan hendak pergi, tetapi ditahannya. "Apa yang kalian lakukan? Kamu Ami, kenapa ada di sini? Kamu harusnya ada di lantai atas, kan?"


"Ah, iya, Bu, maaf!" Tanpa menunggu jawaban dari Vero, Ami memilih pergi meninggalkan mereka. Sebelum itu, dia melirik sinis ke arah Deana yang terlihat masih terkejut.


"Deana, kenapa melamun? Ayo bekerja sebelum ada penghuni baru di kamar ini!"


"Apa yang saya dengar tadi benar, Bu?" Vero mengerutkan dahinya, menatap Deana bingung. "Ami memberitahu saya kalau saya diangkat jadi supervisor menggantikan Ibu!" Deana menghela napas pelan, dia merasa bersalah karena tiba-tiba menggantikan posisi wanita di depannya itu.


Vero tersenyum lalu menepuk pundak Deana pelan. "Oh, kamu sudah dengar, ya?" Deana hanya mengangguk saja. "Sekarang kamu kerjakan pekerjaan kamu dulu, setelah istirahat kita bicarakan ini!"

__ADS_1


"Apa Bu Vero enggak sedih? Pekerjaan Ibu tiba-tiba saja digantikan dengan saya?"


"Kamu tuh bilang apa, sih? Ya, enggak sama sekali. Ini malah yang kutunggu!" Wanita itu terkekeh pelan lalu mendelik tajam saat melihat pipi sebelah kanan Deana masih terlihat memerah karena tamparan Ami tadi. Dengan cepat Deana menutupi pipinya dengan tangan. "Ami yang lakukan?"


"Iya, Bu!" Deana menjawab jujur, meski akhirnya dia melihat wanita tersebut menggeram kesal. "Dia sepertinya salah paham dengan saya yang menggantikan posisi Bu Vero!"


"Hah, anak itu memang senang sekali buat ulah. Kamu enggak perlu dipikirkan karena semua ini sudah diatur!"


"Maksudnya, Bu?"


"Nanti saja. Sekarang kamu bekerja dulu!" Dengan terpaksa Deana menurut, meski hatinya benar-benar diselimuti rasa penasaran tentang apa yang terjadi sebenarnya.


***


"Kamu tenang saja, sebenarnya aku yang merekomendasikan kamu sama Pak Lucas saat dia tanya kemarin!"


"Kenapa saya, Bu? Ada Mbak Laras atau yang lainnya?" Pada akhirnya Deana tidak betah untuk menahan diri tidak bertanya.


"Karena aku percaya denganmu. Masalah kenapa aku enggak pilih yang lain saat diberi kesempatan untuk menentukan itu karena aku tahu kamu wanita seperti apa!" Wanita itu tersenyum tipis sambil menikmati nasi uduknya.


Deana menaikkan satu alisnya, masih betul-betul merasa heran dengan ucapan Vero yang tidak bisa dia terima dengan mudah. Selama ini, mereka tidak cukup akrab untuk sekadar bicara basa-basi, bahkan beberapa kali Vero mengabaikannya saat mereka berpapasan.


"Oh, ya, kamu tenang saja. Kamu masih ada waktu satu minggu belajar sebelum aku naik jabatan dan pindah."


Deana menghela napas pelan. Dia merasa percuma untuk curiga. "Baiklah, Bu!"


Entah sejak apa ada orang yang memperhatikan kami yang berada di pantry. Vero menatap sekilas kepada pria yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar lalu tanpa menghabiskan makan siangnya memilih pergi.

__ADS_1


Vero merapikan bungkus nasi Padang yang belum habis karena masih dimakan separuhnya dan dibuang ke tempat sampah. "Saya permisi!"


"Kamu ngapain di situ?" tanya Deana ketus kepada Lucas yang hanya berdiri dengan kedua tangan berada di saku celananya. Pria tersebut tanpa dua kali diminta memilih mendekati Deana. Menarik kursi di samping Deana dan duduk di sana.


"Apa semua ini ulahmu atau ulah Bujang?" Deana dengan cepat mengubah posisi duduknya jadi menghadap Lucas.


Lucas hanya menaikkan satu alisnya tanpa membuka bibirnya yang masih terkatup rapat itu, membuat Deana mendesah kesal. "Pasti ulah kalian, kan? Enggak mungkin kalau Bu Vero yang akan pindah bekerja memilih saya jadi penggantinya. Kenapa enggak buka lowongan saja atau ambil pekerja yang lebih profesional?"


Deana menahan Lucas yang baru membuka sedikit bibirnya dengan telapak tangan. Dia masih belum selesai bertanya dan tidak ingin dipotong ucapannya oleh pria di hadapannya itu. "Satu lagi, apa kamu benar-benar sepupu Bujang?"


Lucas menurunkan tangan Deana dan meletakkannya di meja. Dia melirik sekilas ke kotak bekal Deana yang berisi salad. "Kamu sudah bekerja keras selama beberapa hari ini dan sudah pantas mendapatkan semuanya. Tidak perlu pikirkan orang lain!"


"Tapi ...."


"Ah, ya, saya dan London memang sepupu. Akhirnya kamu tahu lebih cepat juga!"


"Jadi benar?"


Lucas berdeham. Dia menarik kotak bekal yang masih tersisa banyak itu.


Deana mendengkus kesal lalu menarik kembali kotak bekalnya. Jika saja bukan karena Alisa sudah tidak sanggup dirinya hanya memakan makanan yang selama ini tidak pernah dia suka dan selalu hindari. "Saya diet, kamu pasti tahu itu!"


"Tentu. Baiklah, selamat makan!"


"Apa London masih enggak mau kembali ke apartemen? Saya enggak nyaman kalau tinggal di tempat orang lain, sedangkan yang punya enggak ada di sana!"


Lucas yang sudah berdiri itu hanya tersenyum tipis lalu memilih pergi begitu saja meninggalkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2