Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Sulit Membuka Hati


__ADS_3

"Ikut gue!" Setelah beberapa hari mereka tidak pernah bertemu dan saling sapa, sore itu London menariknya keluar dari lift dan mengabaikan beberapa pasang mata yang memperhatikannya heran.


"London, kita mau ke mana?" Langkah pria bertubuh tinggi dengan rambut ikal yang dibiarkan memanjang itu berhenti. Dia menaikkan satu alisnya. "Kamu tiba-tiba tarik tangan saya begitu, kenapa?"


"Coba sekali lagi lo panggil gue?" London menahan diri untuk tidak tersenyum saking senangnya Deana memanggil namanya dengan benar.


"Apa?" tanya Deana jengah. Dia tahu apa yang London inginkan, tetapi rasanya dia jengah mengulangnya. "Yang ... tadi?" London hanya mengangguk dan sekarang senyumnya sudah tidak lagi bisa dia tahan.


"Setelah beberapa hari kita enggak ketemu, sekarang lo panggil nama gue dengan benar!"


"Saya tahu kamu enggak suka dengan panggilan yang biasanya, jadi ...." Mata Deana membelalak saking terkejutnya dengan perlakuan tiba-tiba London di lobi hotel.


Pria tersebut mengacak rambut Deana dan mencubit pipinya gemas. "Astaga, sakit!" Bukannya meminta maaf, London malah tertawa renyah dan membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka memperhatikan.


"Sumpah lo lucu banget dan sudah lama gue pengin cubit pipi penuh lo itu!" Deana hanya memberengut kesal lalu tersenyum tipis. "Masih mau di sini dan dilihat orang-orang atau ikut gue tanpa banyak tanya?"


Deana memperhatikan sekitar mereka dan merasa malu. "Kenapa juga kamu lakuin itu di sini?"


"Sudahlah, ayo. Gue mau kasih kejutan lagi buat lo dan gue yakini lo pasti bakal senang sampai peluk erat gue!"


London mengerutkan hidungnya dan mengangguk untuk menggoda Deana yang sedang menatapnya dengan mata menyipit.


"Menyebalkan!"


"Gue memang pria tampan."


Deana tidak lagi menimpali ucapan London. Dia membiarkan saja pria tersebut mengenggam tangannya sampai ke mobil yang terparkir.


"Lucas enggak ikut?"


***


Deana benar-benar dibuat bingung kepada London saat mobil memasuki area perumahannya. Dia masih belum mengerti kenapa London membawanya ke daerah di mana banyak sekali kenangan miliknya.

__ADS_1


Saat melewati rumah Yumi, Deana menjadi merasa sesak. Dia tahu sebentar lagi mereka akan melewati rumah peninggalan orang tuanya yang sudah menjadi milik Siska. Namun, bukannya melewatinya, mobil ternyata memasuki halaman rumah tersebut.


"Kita sampai!"


"Eh, tunggu. Kenapa kamu ajak saya ke sini?"


London tidak menjawab. Dia membuat Deana bingung dengan keluar dari mobil dan sekarang membukakan pintu mobil untuknya juga. "Ayo keluar!"


"Tapi ...."


"Mau gue gendong atau lo keluar sendiri?" tanya London kesal. Deana mendengkus, dia melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.


Pria tersebut terlihat begitu santai berjalan mendekati rumah, membiarkan Deana yang masih terpaku di samping mobil.


"Alisa?" Deana kembali dibuat terkejut saat pintu dibuka dari dalam dan Alisa keluar. Wanita itu kembali setelah mengatakan akan menetap sementara waktu di luar negeri.


"Kamu sejak kapan di sini? Dan kenapa kamu bisa ada di rumah ini?" tanya Deana beruntun. Dia benar-benar penasaran bagaimana Alisa bisa berada di rumah yang sekarang menjadi milik Siska.


"Gue yang undang dia. Ayo masuk, gue gerah!" London benar-benar menyebalkan. Di saat Alisa hendak memeluk Deana, dia malah menarik tangan Deana untuk mengikutinya memasuki rumah.


Sudah lama tidak bertemu dengan Yumi, Deana lekas memeluknya erat. Dia hampir menangis jika saja tidak ingat ada Lucas dan London di antara mereka.


"Iya, aku di sini untuk menyambut kamu lagi!"


"Tapi ini bukan rumah Deana lagi, Mbak!" ucap Deana lesu. Dia memperhatikan sekitarnya, foto-foto keluarganya masih terpasang di sana. Beberapa perabotan masih sama seperti dulu, seolah Siska sama sekali tidak pernah menggantinya.


Deana menyadari ada yang tidak beres, dia lekas berbalik dan menatap London dengan curiga. "Jangan bilang ini kejutannya? Rumah ini?"


London hanya mengangguk. "Iya, rumah ini sekarang jadi milikmu lagi, De!"


Deana beralih menatap Yumi, dia masih tidak menyangka sama sekali. Rumah masa kecilnya yang pernah diambil oleh Lanang sekarang kembali menjadi miliknya.


"Mbak merasa sedih waktu tahu kalau kamu bercerai dan Lanang ambil alih rumah ini, tapi sekarang Mbak senang karena kamu bisa kembali ke sini!"

__ADS_1


Deana hanya tersenyum. Dia kembali beralih kepada London yang memilih duduk santai sambil memainkan ponselnya. Dia menghampiri London dan merebut ponsel itu, membuat London terkejut.


"Hei ...!"


"Sekarang bukan waktunya marah, kamu harus jelaskan sama saya apa yang terjadi!"


"Kenapa harus gue yang jelasin. Masih ada mereka!" Deana menggeleng, mengabaikan London yang meminta bantuan ketiga orang di antara mereka.


"Saya yakin semua ini ulahmu!" Deana tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun pada London yang terlihat kesal itu.


"Eem, De, aku sama Lucas mau ke belakang dulu, ya!" pamit Alisa yang hanya diangguki oleh Deana.


"Mbak juga, De, mau pulang dulu mau mandikan Sifa!" Ketiga orang tersebut memilih meninggalkan Deana dan London di ruang tamu. Mereka mengerti jika keduanya harus bicara.


"Oke, tapi lo harus duduk di sini. Leher gue sakit kalau harus lihat lo yang berdiri!"


Deana menurut. Dia memilih duduk di samping London dan memilih menyimpan ponsel pria tersebut daripada mengembalikannya.


"Ponsel gue?"


"Saya simpan dulu. Kamu harus jelaskan semuanya baru akan saya kembalikan!" Deana mengabaikan London yang mendengkus kesal.


"Oke, gue sudah bilang akan lakuin apa pun buat lo, kan?" Deana mengangguk saja. "Dan pastinya gue akan ambil alih lagi rumah ini dari mereka. Bukan perkara sulit!"


"Apa yang kamu lakukan?"


"Untuk itu lo enggak perlu tahu, yang jelas pria itu dengan sukarela mengembalikan lagi rumah ini yang memang hak lo." Bibir Deana terkatup rapat, dia menatap pria tersebut lekat dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lo mau bilang terima kasih?" Deana hanya mengangguk. "Kalau gitu, gue minta lo terima perasaan gue. Gimana?"


Perasaan terharu yang baru saja Deana rasakan seketika berganti menjadi kekesalan. Dia memukul lengan London. "Jadi kamu enggak ikhlas membantu saya? Kalau begitu ambil saja rumah ini!"


"Kenapa sesulit itu buat terima gue, sih, De? Dengan lo sama gue, apa pun yang lo minta bakal gue kabulin. Gue akan meratukan lo, enggak akan gue sia-siakan lo! Gue janji , De!" ucap London dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Deana menghela napas pelan. Dia mengembalikan ponsel pria tersebut. "Setelah apa yang terjadi, rasanya sulit membuka hati untuk menerima pria baru." Deana memeluk London sebentar dan memilih meninggalkan pria tersebut begitu saja di ruang tamu.


__ADS_2