Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Terjadi Begitu Saja


__ADS_3

Deana dibuat terkejut saat melihat keberadaan Lucas di rumahnya, padahal mereka tidak sedang janjian untuk bertemu. "Mau berangkat kerja?"


Deana memperhatikan Lucas yang tampak berbeda. Dia hanya mengangguk dan membiarkan pria tersebut yang menutup dan mengunci pintu rumahnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Deana menerima kunci dari Lucas. "Makasih!"


"Apa tidak boleh?"


"Bukan begitu. Ini jarang terjadi dan seperti sangat jarang. Ada apa?" Lucas hanya mengangkat bahu tak acuh dan mengajak Deana untuk pergi bersama.


Di saat akan masuk mobil, baik Deana dan Lucas dikejutkan dengan kehadiran London. Pria tersebut keluar dari mobilnya yang diparkirkan di luar halaman.


"Bukankah kamu bilang ada urusan penting tadi? Apa maksudnya menjemput dia?" tanya London kepada Lucas, dia hanya melirik ke arah Deana yang sedang memperhatikan mereka.


"Gue memang ada urusan penting, tapi setelah antar Deana!"


"Kalian benar-benar ada hubungan?" Jawaban Lucas berupa anggukan itu membuat London mengepalkan tangan dan memukul mobil. Dia mengerang kesakitan pada tangannya dan marah setelah mendengarnya. "Yang dia katakan benar?" Kali ini London bertanya kepada Deana.


"Itu ...."


"Ayolah, kamu sudah telat!" Lucas mendorong tubuh London menjauh dari Deana dan menyuruh wanita tersebut masuk mobil. "Lo duluan saja ke hotel!" Lucas menepuk bahu London sebelum meninggalkannya sendirian dengan tatapan nanar pada mobil yang perlahan menjauh.


Deana menghela napas kesal setelah beberapa saat memperhatikan London. Dia benar-benar tidak paham kenapa Lucas harus mengiyakan pertanyaan London tadi. Dia tahu London pasti terluka, tatapan pria itu buktinya.


"Kenapa? Mau tahu alasannya?" Lucas menambah kecepatannya, padahal jalanan sedang tidak sepi. "Saya mau lihat, apa dia masih seperti London yang dulu atau sudah berubah!"


Deana memilih bungkam. "Kamu tahu sendiri bagaimana saya terus membujuknya kembali setelah urusannya selesai, tapi dia menolaknya."


"Lalu kamu sudah dapat jawabannya?"

__ADS_1


Lucas terkekeh pelan. Dia mengangguk. "Apa?" tanya Deana penasaran. Dia berharap jika yang Lucas maksud London memang masih sama seperti dulu.


"Sepertinya dia hanya penasaran denganmu!" Deana menghela napas pelan. "Apa kamu sedih?"


Lucas menoleh saat Deana tidak memberi jawaban. Wanita tersebut malah menoleh ke sisi kirinya dan melamun. "Kamu terluka kalau ternyata dia sudah berubah?"


"Entahlah, saya enggak tahu. Yang jelas, melihatnya lagi semalam dan tadi, setidaknya membuat saya tenang karena dia baik-baik saja!"


Setelah percakapan tersebut, separuh perjalanan menuju ke tempat kerja Deana diisi dengan siaran radio. Mereka fokus dengan pikiran masing-masing.


Deana merasa sedih jika yang disangkakan Lucas benar, bagaimanapun semalam sikap dan tindakan London membuatnya meyakini jika pria tersebut masih sama.


"Apa kamu masih akan di sini?" Deana tersadar dari lamunannya karena ternyata mobil sudah berhenti tepat di depan teras gedung kantor tempatnya bekerja.


"Ah, ya, maaf."


"De, apa kamu terluka kalau ternyata London sudah melupakanmu?" Deana sudah membuka pintu mobil, dia menoleh ke arah Lucas yang sedang memperhatikan dirinya lekat.


Wanita tersebut baru masuki lobi kantor saat mobil Lucas menjauh. Baru saja masuk ke lift, dia dikejutkan dengan kehadiran London yang terlihat ngos-ngosan, pria tersebut menahan pintu lift dan membuat beberapa karyawan yang berada di dalam lift kesal.


"Kenapa masih di situ?" tanya seorang pria paruh baya yang terlihat terburu-buru. London tidak menggubris pria tersebut dan terus saja menatap Deana yang menghindari tatapannya.


"Apa yang kamu tunggu? Kenapa masih di sana?"


"Biarkan wanita itu keluar dulu, baru pintu akan menutup!" ucap London telak. Dia menatap tajam Deana yang menjadi salah tingkah karena telah menjadi pusat perhatian karyawan yang berada di lift. "Apa kamu akan terus diam?"


"Keluarlah dulu, selesaikan urusan kalian. Aku harus bertemu manajer, De!" Deana mengangguk dan dengan lesu dia keluar.


"Apa mau kamu?" tanya Deana kesal. Dia mendengkus saat London tersenyum puas.

__ADS_1


"Kamu akan tahu setelah kita bicara!"


"Bicara apa, sih? Kamu tahu enggak, kalau kamu kekanakan?" Dengan santainya London menggeleng membuat Deana makin kesal. Dia mengepalkan tangannya bersiap memberi pukulan di wajah tampan London, tetapi urung dilakukan dan menarik pria tersebut menuju ke tangga darurat.


"Sekarang bicaralah. Saya enggak bisa lama, jadi cepat!" Deana menjadi begitu gelisah setelah mengecek arlojinya. "London!"


"Baiklah. Kenapa kamu makin menggemaskan setelah lama kita enggak bertemu?" London hendak menyentuh wajah Deana, dia berniat mencubit pipi wanita yang memiliki tubuh tidak berubah setelah perpisahan mereka. Namun, dengan cepat dia menarik tangannya karena mendapat tatapan tajam.


"Kamu mau mempermasalahkan yang tadi?"


"Wah, kamu cenayang?" Deana mendengkus kesal karena candaan London tersebut. Dia sudah terlambat untuk bekerja dan memilih meninggalkan London. "Baiklah! Mari kita bicara!"


Tangan Deana yang hendak membuka pintu dia turunkan dan berbalik menatap London yang terlihat begitu serius. "Apa kamu benar-benar dengan sepupuku?"


Deana tertegun dengan tatapan London yang datar. Dengan perasaan ragu, dia menggeleng dan membuat pria di hadapannya itu mengerutkan dahinya. "Kami hanya berteman. Dia yang selalu ada di saat saya butuh bantuan dan dia yang ... London!"


Deana terkejut karena London tiba-tiba memeluknya erat. "Aku senang dengar jawabanmu itu, tapi aku kesal karena Lucas berani berbohong begitu!"


Pria tersebut melerai pelukannya. Dia memegangi kedua bahu Deana. "Kamu senang tahu saya dan Lucas hanya berteman?" London mengangguk. "Kalau begitu, kenapa kamu menolak saat Lucas mengajakmu kembali? Kenapa kamu diam saja saat ada pembicaraan tentangmu dan Mia yang akan menyusul Alisa?"


"De, aku hanya butuh waktu. Walau kukatakan akan melakukan apa saja untukmu, selalu mendapat penolakan darimu, itu menyakitkan!" Deana menunduk dan membiarkan London kembali memeluknya. "Aku masih sama, De, masih dengan perasaan yang sama. Hanya saja aku butuh waktu!"


"Masalah semalam, aku hanya kesal saat percakapan kita belum selesai dan aku belum dapat jawabannya. Aku juga ingin tahu apa kamu cemburu atau enggak!"


"Sejak kapan kamu bicara begitu?" Mengerti yang dimaksud Deana, London tertawa.


"Itu terjadi begitu saja. Di sana aku menjadi terbiasa bicara formal!"


Deana memperhatikan London yang menjadi salah tingkah. Dia terkejut saat kembali mengecek arlojinya. Sudah sangat untuknya bekerja. "Ada apa, De?"

__ADS_1


"Saya harus pergi. Kamu juga!" Tidak tahu yang akan dihadapi Deana nantinya, London yang masih belum puas bicara dengan Deana menahan tangan wanita itu. "Apa yang kamu lakukan? Awas!" Kesal dihalangi saat hendak pergi bekerja, Deana mendorong tubuh London sampai terjatuh.


__ADS_2