
"Kamu ...."
Wanita yang menjadi tamu Deana malam itu masuk ke apartemen begitu saja sebelum dipersilakan masuk. "Kamu cari London? Tapi dia enggak ada di sini!"
"Aku tahu!" Wanita tersebut menatap Deana lekat. Matanya memindai Deana dan membuat tidak nyaman. "Kamu benar pacarnya London?"
"Kamu enggak percaya?"
"London yang aku kenal dia paling anti sama wanita seperti kamu. Tubuhmu itu ... lihatlah perbedaan kita!" Deana mendengkus kesal karena lagi-lagi permasalahan yang harus dia hadapi tentang bentuk tubuh, seolah tidak pernah ada habisnya.
"Tapi, ya sudahlah. Lagipula London menyukaimu dan aku enggak bisa melarangnya lagi!"
Deana sempat terkejut mendengar ucapan tersebut yang begitu santai. Seolah wanita di hadapannya itu tidak mempermasalahkan tentang hubungan mereka, padahal Deana sudah mewanti-wanti dirinya akan didatangi oleh wanita yang ditolak London dan disuruh untuk meninggalkan pria itu.
Ternyata yang dipikirkannya tidak terjadi.
"Kamu enggak marah saya dan London menjalin hubungan?" tanya Deana memastikan.
Wanita tersebut menghela napas pelan lalu menggeleng. "Percuma juga aku marah atau aku melakukan segala cara untuk memisahkan kalian!"
"Kenapa? Kamu menyuruh orang tua London untuk memisahkan kami, Mia?" Deana masih belum puas juga mendengar ucapan wanita bernama Mia tersebut.
"Apa kamu berpikir aku akan lakukan hal itu? Kalaupun mereka melakukannya, jangan kira aku yang minta." Mia mendekati Deana lalu merapikan anak rambut Deana yang sedikit berantakan. "London tahu kelemahanku dan sebelum kami berpisah dia sudah memberikan apa yang aku mau, jadi ... aku sekarang enggak mau lagi berurusan dengannya!"
"Mau minum apa? Saya akan buatkan!"
Mia terkekeh pelan. Dia merapikan rambutnya dan kembali berkata, "Aku ke sini bukan untuk bicara lama sama kamu. Aku ke sini cuma mau lihat bagaimana kehidupan kamu yang sekarang tinggal di apartemen London. Lumayan!"
Setelah selesai mengatakannya, Mia memutuskan keluar dari apartemen.
"Benarkah yang dikatakannya?" Deana masih saja curiga. Terlalu aneh menurutnya wanita seperti Mia akan mau mengalah dengannya.
Baru saja menutup pintu, seseorang telah mengetuknya. Deana lekas membuka pintunya kembali dan dikejutkan dengan kehadiran Lanang yang terlihat begitu kacau.
Belum juga Deana mengatakan apa pun, Lanang sudah lebih dahulu memeluknya dan menangis.
__ADS_1
"Mas, ada apa?" tanya Deana bingung. Dia mencoba untuk lepas dari Lanang, tetapi pria tersebut memeluknya begitu erat.
Deana akhirnya memilih menyerah, dia membiarkan saja Lanang memeluknya sampai puas, sebelum akhirnya dia dikejutkan dengan kemunculan sosok London yang memperlihatkan mereka.
Melihat tatapan London yang sulit diartikan itu, Deana sadar kalau dirinya harus mengejar London untuk memberi penjelasan. Dia terpaksa melepaskan pelukan Lanang dan mendorongnya.
Deana lantas menghampiri London yang masih bergeming. Dia meraih tangan London dan mengajaknya masuk ke apartemen. "Kenapa kamu malah di sini?"
"Gue enggak mau ganggu kalian yang lagi mesra-mesraan!" cibir London. Pria tersebut memperlihatkan Lanang yang kini menyandarkan tubuhnya pada dinding. "Lo apain dia?"
"Asal tuduh! Saya juga enggak tahu, dia tiba-tiba datang dan begitu," bisik Deana dengan ikut-ikutan memperhatikan Lanang.
"Dia ada masalah apa?" Deana melirik kesal kepada London yang ikut-ikutan berbisik juga. "Lo enggak mau hibur dia?"
Deana menggeleng. Jika dulu dengan senang hati dia akan melakukan apa pun untuk bisa menghibur Lanang yang sedang kesusahan, tetapi kali ini dia enggan melakukannya. Lanang sudah bukan lagi prioritasnya setelah apa yang pria tersebut lakukan kepadanya.
London menarik tangan Deana menghampiri Lanang yang langsung memperhatikan mereka. "Sepertinya hubungan kalian sudah serius. Benar?" tanya Lanang saat melihat genggaman tangan mereka.
"Lihatlah, tentu saja hubungan kita sudah serius!" London mengangkat tangan mereka, memamerkan kemesraannya kepada Lanang.
Deana mendengkus kesal. Dia ingin sekali memukul kepala Lanang untuk mengingatkan alasan dirinya bisa tinggal di apartemen London. "Semua ini juga gara-gara kamu, Mas!"
"Apa kamu enggak salah, menuduhku?"
"Apa kamu lupa sudah memberikan rumah ayah kepada Siska? Kamu yang sudah buat saya tinggal di sini!" Deana begitu kesal membuatnya menarik London masuk ke apartemen. Dia tidak membiarkan Lanang untuk ikut masuk.
"Lo harusnya tadi tampar dia. Bukannya malah langsung pergi begitu saja!" Deana mendelik kesal. Dia menarik tangannya yang masih setia di dalam genggaman London.
"Tadi Mia ke sini!"
London yang sedang menertawakan kekesalan Deana lantas berhenti. Dia mengerutkan dahinya menatap Deana lekat. "Dia ke sini cuma untuk melihat bagaimana aku tinggal di sini."
London hanya berdeham. Dia beranjak duduk di sofa diikuti Deana. "Saya mengira dia akan marah karena kejadian malam itu di rumahmu, tapi ternyata dia bilang enggak mau lagi berurusan sama kamu!"
"Itu bagus bukan, jadi hubungan kita akan langgeng. Lagipula orang tua gue juga enggak mempermasalahkannya!"
__ADS_1
"Jang ...!"
London melempar bantal ke wajah Deana. Dia menyunggingkan senyum puas setelah bantal tersebut mengenai wajah Deana. "Itu balasan karena lo enggak pernah bisa sopan sama gue."
Deana tidak menggubris. Dia menaruh bantal tersebut di sampingnya. "Jang, saya masih penasaran alasan kamu mau membantu saya selain rasa kasihan. Apalagi Mia bilang kalau saya bukan kriteria kamu dan ...."
"Lo yakin mau gue jujur?" London memotong ucapan Deana. Dia menatap lekat Deana yang langsung mengangguk.
London berdeham, dia memilih Menyalakan televisi. Mengabaikan Deana begitu saja. "Kamu bantu saya bukan karena suka, kan?"
***
"Mas Lanang apa yang kamu lakukan di sini?"
Lanang menghalangi Deana yang akan keluar dari apartemen. Pria tersebut datang lagi dan terlihat kusut. Dia meraih tangan Deana, tetapi dengan cepat Deana menariknya.
"Apa yang kamu lakukan, Mas?"
"De, aku minta maaf!"
Deana menatap Lanang heran. Pria itu menghela napas pelan, terlihat sekali lelah. "Kita masuk dulu."
Deana mengajak Lanang untuk masuk. "Katakan apa yang terjadi sampai kamu begini?"
Lanang lagi-lagi menghela napas pelan. Dia menunduk. "Mas, kalau kamu enggak mau bicara lebih baik pergilah."
"Deana, tunggu sebentar!" Lanang langsung menahan Deana yang akan bangkit berdiri. "Baiklah, aku akan katakan!"
"Bicara saja."
"De, Siska ... kemarin aku lihat dia sama pria tua!" Lanang mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Pria tersebut terlihat sekali frustrasi. "Aku mengikuti mereka sampai ke hotel tempatmu bekerja. Astaga, aku enggak nyangka saat menarik Siska untuk pulang dia menolaknya!"
Deana memilih diam. "Maafkan aku. Aku sadar mungkin ini karma karena telah menyakiti kamu!"
Deana dibuat terkejut saat Lanang berlutut di depannya. Pria itu mengenggam erat tangannya. "De, aku menyesal. Ternyata Siska dia bukan wanita baik-baik. Sekarang aku juga merasa ragu kalau anak yang dikandungnya itu anakku!"
__ADS_1