
"Kenapa lo senyum-senyum?" London sudah menahan diri sejak kemarin saat melihat kelakuan aneh Deana. Wanita itu sering kali melamun sambil tersenyum, bahkan saat kini dia menghidangkan makanannya. "Lo enggak lagi rencain sesuatu, kan?"
Deana hanya menggeleng, tetapi London tetap saja curiga. "Lo enggak kasih racun di makanan gue, kan?"
Kesal karena dicurigai seperti itu, Deana berdecak sebal lalu memilih duduk. "Kamu mau saya racuni?"
"Jadi lo ada niatan mau racuni gue?"
"Awalnya enggak, tapi sekarang kayaknya iya!" Deana melipat bibir ke dalam menahan senyum karena London yang mendorong piringnya menjauh. "Kamu takut kalau di makanan itu ada racunnya?"
"Cicipi dulu biar gue tahu ada racun atau enggak!"
"Kamu itu ... Nyebelin," ungkap Deana. Dia menarik piring berisi nasi goreng itu dan menyantapnya. "Gimana? Enggak ada racun, kan?"
"Oke, sekarang gue percaya!" London mengambil piringnya kembali. Tanpa mengganti sendok, dia menikmati nasi goreng yang sudah menjadi makanan favoritnya karena hampir setiap hari selama bersama Deana membuatkan makanan tersebut.
"Kenapa lo tatap gue begitu?" Deana mendesah pelan dan memilih menggeleng, padahal dia hendak protes karena London tidak mengganti sendok. "Jadi, apa yang buat lo senyum-senyum sendiri? Lo enggak lagi ada hubungan sama mantan lo itu, kan?"
"Mas Lanang?"
"Gue enggak peduli siapa namanya."
"Bukan. Tapi karena kamu!"
London hampir saja tersedak karena jawaban Deana tersebut. "Lo ...." London menunjuk Deana dengan sendok.
"Jangan salah paham." Wanita tersebut menghela napas pelan. Dia melipat tangannya di meja dan menatap lekat London. "Saya enggak sangka, setelah keluarga Mas Lanang enggak pernah menyukai saya, ternyata orang-orang di sekitar kamu berbeda!"
"Maksudnya?" tanya London sembari menyuap kembali makanannya.
Deana memberikan minuman kepada London sebelum menjawabnya. "Iya, coba bayangkan. Saya bertemu dengan Alisa, dia sekarang menjadi sahabat saya. Saat saya merasa khawatir kalau Mia akan membuat hidup saya sulit, ternyata dia memilih untuk tidak peduli dengan alasannya lalu ...." Deana menghentikan ucapannya. "Jangan tatap saya tanpa berkedip begitu!"
__ADS_1
"Astaga, kenapa kamu mempermasalahkannya? Bicara saja sampai selesai!"
"Kemarin ayahmu menemui saya dan dia merestui hubungan kita."
London mengangguk dan memilih untuk kembali menikmati makanannya yang beberapa detik lalu diabaikan. "Apa yang kalian bicarakan?" London memilih tidak peduli. "Kamu benar-benar menyukai saya?"
Kali ini London benar-benar tersedak. Dengan cepat mengambil minum, tetapi karena batuk air minumnya tumpah dan wajahnya memerah.
Merasa bersalah dengan yang terjadi kepada London, Deana lekas membantu London dengan mengusap punggungnya. "Sudah!" London mendorong pelan Deana menjauh dari tubuhnya.
"Kenapa kamu sampai tersedak hanya karena saya bertanya begitu?" Deana menjadi kesal sendiri saat London masih saja terbatuk dan menolak bantuannya.
"Pertanyaan lo yang buat gue sampai begini!"
"Ah, sudahlah. Saya mau ke kamar untuk mengambil tas!" Deana memilih meninggalkan London.
Kepergiannya membuat London terdiam. Dia beberapa kali menghela napas pelan, bahkan dia sudah tidak lagi berselera makan.
Lamunan London buyar saat mendengar getar di meja makan karena ponsel Deana, dia melihat ada pesan masuk. Merasa penasaran, London memilih untuk membaca pesan masuk tersebut dari Lanang.
"Kenapa kamu baca pesannya!" London terkejut. Dia menatap Deana hendak protes karena ponsel tersebut direbut begitu saja. "Mas Lanang?"
"Lo akan datang?" Deana hanya menggeleng dan memasukkan ponselnya ke tas. "Kenapa?"
"Enggak ada alasan saya harus datang. Lagipula saya enggak mau memasuki rumah yang sudah memberi banyak kenangan menyedihkan!"
London bangkit berdiri menghampiri Deana. Dia menepuk pundak Deana dan membuat wanita tersebut menatapnya. "Lo harus datang. Buktikan ke dia kalau lo bahagia sama gue!" Dahi Deana berkerut mendengarnya. "Lo harus kasih lihat ke mantan mertua lo juga kalau lo bahagia tanpa mereka dan gue yakin lo bakal senang!"
"Kenapa?"
"Karena lo akan dapat kejutan!" London tersenyum. Dia menyelipkan rambut Deana yang terurai ke belakang telinga. "Gue enggak akan kasih tahu lo tentang kejutan itu. Yang jelas kita harus datang dan nikmati kejutannya!" London mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Ah, ya. Mulai malam nanti gue akan tingga di sini lagi. Tinggal di rumah sama orang tua sangat membosankan karena selalu dengar nasihat yang hampir sama!"
London menarik tangan Deana, mengajak untuk pergi bekerja. Namun, dia dibuat heran karena Deana menahannya. "Kenapa?"
"Setelah saya pikirkan, sepertinya saya akan mencari kost saja. Sudah beberapa waktu saya menumpang di sini walau sebenarnya bekerja, tapi sekarang saya memilih untuk pindah!"
"Oke!" London kembali menarik Deana dan kali ini tanpa perlawanan.
***
Deana hendak memarahi London yang menyuruhnya cepat datang ke alamat yang dikirim lewat pesan dua puluh menit lalu. Kekesalannya itu karena London memaksanya datang tidak lebih dari lima belas menit dan dia kewalahan karena kesusahan mencari taksi, setelah pesanan ojek online tidak ada yang merespons.
"Terima kasih, Pak!" Deana keluar dari taksi. Merasa heran karena London mengajaknya bertemu di sebuah bangunan yang dijadikan kost.
Wanita tersebut menghampiri London dan Lucas yang sedang bicara dengan seorang wanita baya. "Dia yang akan tinggal di sini!"
Deana dibuat terkejut saat London menunjuk dirinya. Dia tersenyum canggung saat semua tatapan ke arahnya.
"Oh, jadi Mbak ini yang namanya Deana?" Deana mengangguk. Dia berkenalan dengan pemilik kost yang bernama Yanti itu.
"Maaf, ada apa, ya?" tanya Deana heran. Deana melirik ke arah Lucas yang diam saja dan seolah tidak tahu apa-apa.
"Jadi, pacarnya Mbak bilang kalau Mbak Deana sedang cari kost dan kebetulan di sini ada tiga kamar yang sedang kosong!" Deana lekas menatap London yang hanya tersenyum kepadanya. "Sudah dibayar juga selama setahun, nah karena Mbak sudah datang kita bisa lihat kamarnya!"
"Gue sudah lihat kamarnya dan nyaman buat lo!"
"Ah, iya, Bu." Bu Yanti diikuti Lucas memasuki halaman kost, sedangkan Deana menahan London karena dia ingin bertanya alasan pria tersebut melakukan hal yang tidak diminta. "Kenapa kamu lakukan hal ini tanpa bilang dulu sama saya?"
"Apa lo enggak suka sama tempatnya?" tanya London dengan suara lantang dan berhasil membuat dia orang yang sudah menjauh dari mereka mendengarnya. Namun, Lucas segera mengajak Bu Yanti yang akan menghampiri mereka untuk tetap melanjutkan perjalanan.
Deana yang gemas lantas menggamit lengan London. "Kenapa bicara keras, sih? Saya bukan mempermasalahkan tempatnya, tapi sama tindakan kamu itu!"
__ADS_1
"Gue suka lo bersikap agresif begini!" London menggoda Deana dengan mengedipkan matanya. Dia menahan Deana yang hendak menjauh. "Pertanyaan lo tadi pagi? Akan gue jawab sekarang!" Deana memilih untuk tidak menatap London yang bersikap aneh kali ini. Dia merasa tidak nyaman berdekatan dengan London, tetapi tidak bisa menjauh.
"Gue memang menyukai lo!" Ucapan itu berhasil membuat Deana terkejut, dia bahkan berhasil mendorong tubuh London menjauh darinya sampai terjatuh.