
Desau angin malam sama sekali tidak berhasil mengusik kedua orang yang sedang duduk bersampingan itu untuk bicara. Mereka duduk di bangku taman kompleks perumahan orang tua London, seperti yang dimau Deana. Padahal beberapa waktu lalu London mengajaknya pergi ke cafe yang baru buka di ujung gang.
Sesekali Deana mengeratkan jaket yang dipakainya, jaket tersebut milik London yang dipinjamkan untuknya karena memakai pakaian yang terbuka. Dia juga melirik London yang tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
Pria berambut ikal itu menatap langit malam, bibirnya terkunci rapat seakan kuncinya sudah disimpan di tempat yang aman.
Deana jenuh, dia sudah tidak betah berlama-lama di tempat terbuka tanpa melakukan apa pun. Tubuhnya menggigil, meski sudah memakai jaket.
"Katanya mau bicara!" Deana akhir menyerah, dia mengawali percakapan mereka.
London melirik Deana sesaat lalu duduk menyandar pada sandaran bangku dengan menaruh kaki kirinya ke kaki kanan. "Lo segitunya penasaran?"
Deana menatap kesal London yang tersenyum mengejek. "Terserah kalau kamu enggak mau bilang." Deana hendak berdiri, bokongnya terangkat sedikit dengan tubuh masih posisi membungkuk, tetapi tangannya ditahan oleh London. Lewat tatapan matanya yang tajam, Deana tahu kalau pria tersebut menyuruhnya duduk, dia mendengkus kesal dan memilih duduk kembali.
London melepaskan tangan Deana, tetapi tatapannya tidak pernah lepas kepada wanita itu. "Semua karena gue merasa kasihan sama lo." Deana menatap tidak suka, dia paling tidak suka jika ada orang yang mengasihaninya. "Ya awalnya gue enggak peduli, tapi saat tahu kalau suami lo sering jelek-jelekin lo di depan semua orang apalagi istri barunya, gue kesal!"
Deana mengerutkan dahinya, dia memperhatikan dengan heran raut wajah London yang mengeras dan memerah. Terdengar juga gemelutuk giginya. "Kenapa kamu kesal? Bukannya selama sekolah dulu kamu suka berbuat buruk sama saya?" Sungguh Deana heran dengan London yang bersikap begitu kepadanya.
"Karena yang boleh hina, ejek, dan buat lo nangis itu cuma gue!" Pria tersebut menyeringai lalu mengacak rambut Deana.
"Gue becanda!"
Deana hanya mengangguk. Dia menghela napas pelan lalu berkata dengan suara lirih, "Apa pun alasan kamu, terima kasih!"
"Lo enggak ada niatan balas dendam?"
"Balas dendam?" tanya Deana memastikan jika yang didengarnya tidak salah.
"Iya! Menurut gue, lo pantas buat mantan lo itu merasakan gimana sakitnya lo!"
Deana menggeleng. Dia memang pernah berpikir untuk membalas rasa sakit hatinya kepada Lanang, tetapi perlahan keinginan itu menghilang. Dia enggan melakukannya. "Kenapa? Jangan bilang karena lo masih sayang sama dia makanya enggak tega?" tuding London yang membuat Deana kesal. Dia memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Gue bantu lo berubah kayak begini, semuanya enggak ada yang gratis. Gue mau lo balas kebaikan gue dengan balas dendam sama mantan lo itu!" Mendengar ucapan yang begitu menggebu dari London membuat Deana curiga. Dia merasa London terlalu berlebihan jika hanya untuk membelanya karena selama ini mereka tidak pernah akur. Sekali pun.
"Kenapa yang saya rasa kamu menggunakan saya. Kamu punya masalah sama Mas Lanang?"
"Enggak!"
"Benarkah?" Deana menatap lekat mata London yang kini terlihat gelisah. Pria itu mencoba menghindari Deana dengan mendorong dahinya menggunakan telunjuk. "Menyebalkan."
Deana memukul lengan London yang terus saja menyentuh tubuhnya. Dia sangat tidak suka. "Jadi, lo mau, kan?"
"Apa?"
"Astaga. Lo lemot banget kayak kura-kura. Ah, enggak. Lo lebih parah dari jalannya heran itu."
Deana menggeleng. Masih keras kepala menolak permintaan London melakukan hal yang tidak ingin dia lakukan. "Jadikan gue sebagai alat lo. Buat dia cemburu dan berharap lo balik lagi ke dia lewat gue!"
"Kenapa kamu?"
Deana memperhatikan tingkah London yang seperti sedang salah tingkah. Dia mendongak memperhatikan London yang memilih berdiri. Tubuhnya seketika menjulang tinggi dan seakan sulit untuk Deana gapai sebelum uluran tangannya dia terima.
"Bagaimana caranya?"
***
Sejak semalam Deana terus saja memikirkan tentang permintaan London. Dia masih tidak mengerti alasan pria itu memaksanya, bahkan meminta menjadikan dirinya alat untuk mempermudah balas dendamnya kepada Lanang.
Tidak fokus dengan sekitar membuat Deana tanpa sadar menabrak punggung tegap yang sedang berdiri di depannya itu.
Dia mengerutkan dahinya, memperhatikan punggung tegap yang sama sekali tidak terusik itu. Punggung yang amat dia kenali. "Maaf!"
"Enggak masalah!" Pemilik punggung itu berbalik dan tersenyum manis kepada Deana, seakan memang sudah menunggunya datang.
__ADS_1
Walau sudah tahu siapa orang yang tidak sengaja dia tabrak saat akan keluar dari gedung, Deana masih saja terkejut. Dia merasa tidak nyaman dengan detak jantung yang bekerja begitu cepat. Membuatnya sesak.
"Mas Lanang," cicit Deana. Dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya lalu kembali menatap Lanang yang menatapnya heran. "Siska?"
"Dia di rumah!" Deana mengangguk. "Aku ke sini sengaja jemput kamu. Aku tahu kamu masih tinggal sama pria itu!"
"Sengaja jemput saya buat apa? Kita enggak ada urusan lagi sampai harus bertemu."
Lanang tersenyum tipis. "Ada hal yang mau aku tanyakan! Kita bicara di mobil saja, aku sekalian antar kamu ke hotel!"
"Tentang apa? Kalau enggak penting, saya rasanya malas untuk satu mobil sama kamu," jawab Deana malas.
"Tentang Siska! De, aku tahu sudah banyak melakukan kesalahan sama kamu, tapi kali ini aku butuh kamu. Saran kamu!"
Deana terdiam sejenak, dia berpikir untuk tetap menolaknya. Namun, saat melihat London keluar dari mobil dan hendak menghampirinya dengan cepat Deana mengangguk. Dia juga meraih tangan Lanang dan menariknya keluar.
"Kita mau pergi bersama!" ucap Deana tanpa ditanya oleh London. Mengetahui ke mana arah tatapan London, Deana lekas melepaskan genggamannya. "Kamu mau ke apartemen dulu?"
"Gue duluan kalau gitu. Siang ini gue jemput lo!" London menatap tidak suka kepada Lanang lalu tersenyum manis kepada Deana sebelum memutuskan untuk pergi duluan.
"Sepertinya hubungan kalian mulai serius!"
"Saya rasa juga begitu, apalagi semalam dia mengatakan kepada orang tuanya kalau saya pacarnya!" Deana tersenyum tipis, dia menghela napas kala melihat mobil London pergi menjauh.
"Benarkah?" tanya Lanang tidak yakin. Tatapan pria itu terlihat sekali meragukan ucapan Deana.
"Kamu enggak percaya? Oh, apa kamu berpikir semua pria sama seperti kamu, Mas? Pria hanya menyukai wanita bertubuh kurus?" Lanang berdeham, tidak nyaman dengan pertanyaan Deana barusan. "Sayangnya masih ada pria yang enggak pandang fisik dan itu dia!"
"Ayo, kita bahas apa yang mau aku bicarakan sama kamu di mobil!" Deana mendesah pelan. Dia merasa tidak punya keahlian untuk membuat orang cemburu dan dia juga sadar kalau Lanang memang tidak pernah mencintainya.
"Percuma!" bisik Deana dengan wajah masam mengikuti Lanang yang berjalan mendahuluinya.
__ADS_1