Selepas Bercerai

Selepas Bercerai
Kebaikan London yang Mencurigakan


__ADS_3

"Apa lo enggak bosen?" London menghempaskan pantatnya ke sofa empuk berwarna hitam miliknya. Dia mendengkus kesal melihat wanita di sampingnya itu terus saja menangis sepanjang perjalanan dan berlanjut sampai ke apartemennya.


"Dih, jorok banget lo!" London terus saja ngedumel melihat banyaknya tisu yang terbuang setelah digunakan untuk mengelap air mata dan ingus. Dia mengambil tempat tisu dan menaruh di pangkuan wanita tersebut.


"Harusnya laki begitu lo tinggalin aja. Ngapain nangisin laki yang enggak cinta sama lo!" London menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa lalu melirik ke sisi kirinya.


Wanita keras kepala, sama sekali tidak menggubris ucapan yang London sampaikan. "Aish, nyesel gue bawa lo ke sini!" Pria tersebut benar-benar frustasi. Bukannya mereda, tangisan tersebut makin kencang dan membuat kesal.


London memutuskan pergi ke dapur dan membuatkan minuman dingin untuk wanita yang dibawanya pulang itu.


"Nih, lo berhenti nangis dan minum atau enggak lo pergi aja dari sini!" Dengan sedikit kasar London menaruh gelas di meja dan kembali duduk di tempatnya semula.


"Kamu usir saya?"


London mengangguk malas. Dia memejamkan mata dan membukanya sedikit terkejut saat melihat wanita tersebut sudah berdiri. "Mau ke mana lo?" London langsung menegakkan duduknya dan mendongak menatap heran.


"Pergi."


"Malam-malam begini?" Wanita itu mengangguk kesal. Wajahnya memerah karena terlalu lama menangis.


"De, lo yakin mau pergi?"


"Kamu tadi yang usir saya. Lagipula ini di mana?"


London menggelengkan kepalanya, tidak percaya setelah satu jam menangis di apartemennya, wanita tersebut tidak menyadari itu. "Deana, lo benar-benar keterlaluan, ya. Lo sama sekali enggak sadar sudah gue geret ke sini?"


Deana yang sedang memperhatikan seisi ruangan itu menatap London kesal lalu kembali duduk. Gerakan tiba-tiba dan kasarnya itu berhasil membuat London hampir terhempas dari duduknya.


"Lo benar-benar gajah!"


"Kamu bawa saya ke mana ini?" Deana tidak peduli dengan kekesalan London. Saat ini dia merasa waspada dan takut jika London akan melakukan sesuatu yang buruk untuknya.


"Lo kira gue bawa ke mana? Pemakaman?" London menaikkan satu alisnya, menatap Deana kesal.


"Kenapa kamu bawa saya ke sini? Memang saya minta?" London melongo mendengar ucapan wanita di depannya itu. Tangannya sudah siap untuk mencakar wajah penuh jerawat itu, tetapi dia tahan dan tersenyum palsu.

__ADS_1


"Kalau gue tahu di mana rumah lo, sudah gue antar lo ke sana. Lagipula ngapain lo pergi dari rumah suami lo itu?"


Deana terdiam, menatap curiga London sampai-sampai dia membuat pria itu ketakutan dan memundurkan tubuhnya karena dirinya perlahan makin mendekatkan tubuhnya. "Mau ngapain lo? Minggir!"


Deana mendengkus kesal, menyadari posisinya saat ini dia memilih menjauh. "Kamu tahu dari mana kalau saya pergi dari rumah suami saya? Kamu penguntit?"


Mata London membesar karena mendengar tuduhan tidak masuk akal Deana barusan. Dia menyentil dahi Deana kuat, tidak peduli wanita itu meringis dan mengaduh kesakitan.


"Sinting! Lo kira gue enggak punya kerjaan? Gue tahu itu rumah suami lo karena ...." London seketika kehilangan alasannya. Dia kebingungan sendiri dan memutuskan berdiri.


"Sudahlah, Lo mau pulang, kan? Ayo gue antar!" Pria tersebut menarik koper Deana dan meninggalkan pemiliknya yang masih terus saja mengusap dahinya itu.


***


Menangis semalaman membuat Deana bangun kesiangan. Matahari sudah meninggi, sinarnya masuk menyelinap melewati celah-celah dari jendelanya dan membuat silau.


Deana merangkak bangun dan gegas keluar kamar saat mendengar ketukan pintu. Tidak menyangka jika pria yang semalam melihatnya menangis dan mengantar pulang datang lagi.


"Mau apa kamu ke sini?"


"Gue ke sini karena ponsel lo ketinggalan di apartemen!"


Deana menghampiri London dan mengambil ponselnya. Dia mengecek ponselnya, helaan napas lega setelah memastikan tidak ada satu pun foto-fotonya dan Lanang yang menghilang.


"Kamu enggak buka-buka ponsel saya, kan?" tanya Deana dengan tatapan curiga.


"Gue buka dan astaga, lo sebucin itu sama suami lo." London merentangkan kedua tangannya dan meletakkan di atas sandaran sofa. Dia menatap Deana yang masih saja tidak melepaskan dirinya barang sedetik pun. "Gue cuma lihat saja. Enggak gue utak-atik juga!"


"Saya percaya. Makasih sudah kamu kembalikan!"


"De ...." Langkah Deana terhenti saat London memanggilnya. Dia berbalik dan menatap pria tersebut heran. "Sebenarnya gue ke sini juga mau suruh lo lamar kerja di salah satu hotel gue. Ya, itung-itung biar saat lo cerai enggak jadi pengangguran!"


London langsung bangkit berdiri, dia merapikan kemejanya dan tersenyum lembut kepada Deana. Senyum yang tidak pernah Deana lihat selama mereka kenal. "Gue pergi!" ucap London setelah melirik arlojinya. "Oh, ya, jangan lupa cuci muka. Ada kotoran di mata lo!"


Deana terkejut, matanya membesar lalu berbalik dan lari ke arah kamar mandi. Dia mengabaikan saat London tertawa renyah.

__ADS_1


"De, jangan lupa yang tadi, oke." Pria itu meletakkan kartu namanya lagi dan menuliskan alamat hotel yang dia maksud di balik kartu nama miliknya.


Deana keluar dari kamar mandi setelah London pergi dari rumahnya. Dia mengambil kartu nama yang tergeletak di meja dan membaca alamat hotel tersebut.


"Dia suruh saya lamar kerja di sana? kenapa dia jadi baik?" Deana sangsi dengan kebaikan yang London berikan untuknya. Semua tampak aneh baginya karena selama ini dia mengenal London sebagai orang yang suka sekali merundungnya dan enggan berteman dengannya.


***


Deana memutuskan untuk kembali ke rumah Lanang dan melupakan semua yang terjadi. Dia masih yakin jika terus bertahan dan memberikan ketulusan, maka Lanang akan luluh dan mulai mencintainya.


Dengan keyakinan penuh itu, Deana melangkahkan kembali kakinya ke rumah Lanang, dia berharap Lanang senang dengan kepulangannya. Namun, lagi-lagi dia dibuat kecewa melihat pemandangan di depannya.


Di ruang tamu, Siska dan Lisma begitu akrab. Lisma terus saja memuji Siska yang sebentar lagi akan memberinya cucu.


"Saya juga bisa kasih cucu buat Ibu karena saya enggak mandul!" gumam Deana sambil menyeka air matanya.


Dia hendak masuk, tetapi lengannya dengan kasar ditarik menjauh. Tubuhnya terjatuh ke tanah karena dorongan kasar yang dilakukan suaminya sendiri.


"Mas ...."


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Lanang menatap Deana dengan kebencian, tidak ada lagi tatapan hangat dan meneduhkan yang selalu Deana lihat. "Aku akan ceraikan kamu, sekarang pergilah!"


"Kenapa kamu berubah, Mas?" Deana mencoba meraih tangan Lanang, tetapi dengan cepat pria itu mundur dan menyembunyikan tangannya di punggung. "Saya sudah maafkan kebohongan kamu, Mas!"


"De, sadarlah. Aku enggak pernah cinta sama kamu. Selama ini aku bersikap baik sama kamu biar kamu enggak membenci ibu dan kakakku."


Deana menggeleng, tetapi bersikap keras kepala. "Harusnya semalam kamu sadar kalau aku memang enggak cinta sama kamu, De. Kalau aku cinta sama kamu, enggak mungkin aku biarkan kamu tetap perawan sampai tiga tahun lebih pernikahan kita."


"Mas ...." Air mata Deana keluar tanpa permisi. Tatapannya teralih pada Siska dan Lisma yang datang menghampiri mereka.


Lanang tanpa merasa bersalah sama sekali langsung saja memeluk Siska, mencium pelipis wanita itu. "Lihatlah, kalau aku memang mencintai kamu, aku enggak akan menikahi wanita lain. Aku muak sama kamu, penampilan kamu yang kayak gajah begini. Lihatlah perbedaan kalian!"


Deana menyeka air matanya. Harapannya pupus sudah untuk memperbaiki semuanya, dia melihat sendiri bagaimana Lanang begitu romantis kepada Siska. Dia melihat sendiri bagaimana Lisma masih menatapnya penuh kebencian dan menyayangi Siska.


"Lebih baik kamu pergi sebelum hatimu makin sakit karena melihat kebahagiaan kita. Tunggu saja dengan tenang surat cerai kita!" Tanpa peduli dengan luka yang sedang ditanggung oleh Deana. Lanang membawa Siska masuk rumah.

__ADS_1


__ADS_2