
Kini hari yang paling dinantikan oleh Brayan ternyata sudah di depan matanya. Hari dimana dia akan mengambil ijab pernikahan di depan penghulu dan para saksi, termasuk didepan para malaikat yang turut hadir di tempat itu.
Suara SAH begitu keras menggema di pendengaran Brayan. Meskipun sempat dipenuhi dengan rasa gugup dengan jantung yang berdebar, akhirnya Brayan berhasil mengikat Fisya dalam ikatan pernikahan yang sah.
Semua berjalan seperti mimpi Brayan malam itu, dimana Fisya mencium tangannya kemudian dia juga meniup ubun-ubun Fisya sambil menghembuskan sebuah doa.
Tapi kali ini bukanlah mimpi. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.
***
Setelah acara resepsi telah usai, Brayan dan Fisya bisa bernapas dengan lega. Berada diatas pelaminan membuat kakinya terasa sangat pegal meskipun hanya duduk saja. Siapa yang menyangka jika pernikahan akan dibuat mewah oleh Agung.
Semua rekan kerjanya turut menghadiri acara pernikahan Brayan, begitu pula dengan teman teman yang diundang oleh Brayan dan Fisya yang berusaha untuk hadir dalam acara sakral mereka. Namun, dalam acara tadi, keduanya tidak melihat sosok Alqan dan Zulfa. Meskipun begitu, Rayan dan Fisya tidak berkecil hati.
"Abi nitip anak Abi ya, Ray. Jaga dia dengan baik. Terkadang Fisya susah diatur dan keras kepala," kata Abi saat menyerahkan Fisya kepada Brayan.
"Abi tenang saja, Rayan pasti akan menjaga Fisya dengan baik. Kalau dia keras kepala nanti Rayan kasih hukuman biar dia nurut sama Rayan."
Sebelum pulang, Umi memeluk tubuh anaknya dengan erat. Saat ini Umi harus merelakan Fisya yang sudah lepas dari tanggung jawab orang tua. Dengan rasa sedih Umi juga memasrahkan Fisya kepada orang tua Rayan.
"Umi jangan sedih begitu. Fisya enggak kemana-mana kok. Jarak ke rumah juga dekat. Fisya janji akan sering mengunjungi Abi dan Umi. Kalau perlu kita kasih jadwal kapan tidur di rumah Abi dan kapan tidur disini," sambung Fisya untuk menghibur Uminya.
Tidak akan ada orang tua yang begitu saja merelakan anak tunggalnya untuk tinggal bersama dengan suaminya. Namun, apapun ceritanya seorang istri harus tetap mengikuti kemanapun suaminya tinggal.
Perpisahan sementara yang sangat mengharukan dimana Nuri juga ikut larut dalam kesedihan mereka.
Nuri sendiri merasa sangat egois ketika meminta anak dan menantunya untuk tinggal di rumahnya. Karena Nuri ingin rumah besarnya dihuni oleh anak cucunya kelak.
__ADS_1
"Ma, aku juga balik ke studio, ya." Briyan yang belum ada satu hari di rumah sudah gelisah ingin kembali ke Studio.
"Baru aja pulang udah mau pergi lagi. Kamu bisa gak sih Ri, menghargai kakak ipar kamu!" sentak Nuri kesal.
Semenjak kepulangan Brayan, Briyan jarang meluangkan waktu untuk berada di rumah dengan alasan banyak yang harus dikerjakan di studionya.
"Tapi Ma ... "
"Kamu itu jadi anak jangan membantah orang tua kenapa sih, Ri. Mentang-mentang sekarang ada aku yang di rumah kamu semakin bebas berkeluyuran di luar sana. Jangan-jangan di luar sana kamu telah terjerumus pergaulan bebas sehingga kamu tidak betah untuk tinggal di rumah," sahut Brayan dengan kesal.
"Kalian kenapa sih enggak ada yang bisa ngertiin aku? Aku ini hanya sedang mengerjakan proyek yang bulan depan akan launching," balas Briyan di yang tak kalah kesal.
"Sudah cukup! Untuk malam ini kamu tidak boleh kemana-mana!" Kali ini Agung yang bersuara.
Briyan yang takut dengan sang papa langsung mengerut dan memilih berlalu ke kamar. Briyan bukanlah anak yang membangkang, tetapi akhir-akhir ini dia memang telah sedikit berubah.
Di dalam sebuah kamar yang bernuansa abu-abu, Fisya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah tanpa celah. Dia meneliti setiap inci kamar yang sama sekali masih kosong dan hanya ada satu lemari saja.
"Kamar kamu kok sunyi banget sih? Enggak ada aksesorisnya, Ray?" tanya Fisya heran.
"Yah, namanya juga kamar baru Sya. Berhubung sekarang kamu juga pemilik kamar ini, maka tugas kamu yang harus membenahi kamar ini. Kamu tidak keberatan kan?"
"Gampang itu. Tapi jangan protes kalau aku sudah merenovasi isi kamar ini ya! Gimana?"
"Terserah kamu ajalah!"
Tidak ada yang istimewa untuk keduanya. Brayan dan Fisya bernostalgia dimana mereka tidak bisa akur dan selalu membuatku ulah. Bahkan Fisya masih mengingat dengan jelas ketika Brayan hampir setiap hari mengisi absen buku Pak Arif, guru BK semasa duduk di bangku sekolah.
Karena asyik bernostalgia, akhirnya mereka lupa waktu jika hari sudah dini hari.
__ADS_1
"Sya, udah jam 2 malam. Tidur yuk, besok kita harus bangun subuh. Aku gak mau melewatkan subuh pertama bersama denganmu," ucap Brayan.
Fisya hanya mengangguk pelan, sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Namun, ada yang janggal saat Brayan menatap kembali kearah Fisya.
"Sya, kamu yakin mau tidur dengan penutup kepalamu?"
Jantung Fisya berdebar. Bukan tidak mau, tetapi dia masih malu untuk membukanya.
"Kita udah suami istri, lho. Masa iya kamu mau tidur kayak gitu ? Sini aku bantuin buka." Tangan Brayan terulur untuk membuka hijab yang menjadi penutup aurat Fisya.
Fisya memejamkan mata saat hijabnya sudah terlepas. Dadanya terus bergerumuh. Apalagi saat tangan Brayan sengaja melepaskan ikatan rambutnya.
Rambut hitam pekat yang panjang kini terurai, membuat Brayan sangat takjub. Kulit putih Fisya pun terekspos. "Kalau gak pakai hijab kamu mirip Anisa Rahma ya, Sya," bisik Brayan dengan pelan.
Tak ada malam pemecahan rekor, karena keduanya memilih untuk tidur. Bukan tidak ingin melakukan kewajiban sebagai suami istri, tetapi Brayan tidak akan memaksa Fisya untuk melakukannya. Brayan hanya ingin saat mereka melakukan hubungan suami-istri, mereka sama-sama sudah siap dan ikhlas lahir batin. Untuk saat ini Brayan sendiri belum berani untuk menyentuh Fisya, bahkan untuk sekedar mencium keningnya saja dia masih takut. Meskipun dia tahu Fisya tidak akan marah.
Sebelum adzan subuh, Brayan sudah terbangun karena dia sudah terbiasa bangun lebih awal. Saat melihat ke samping dia sedikit terkejut saat melihat seseorang tidur di sampingnya. Dia hampir lupa jika saat ini dia sudah menikah dan yang berada di sampingnya adalah Fisya, istrinya.
"Astaghfirullahaladzim ... kenapa aku bisa sampai lupa kalau sudah punya istri ya," gumam Brayan pelan.
Brayan menatap wajah Fisya yang terlihat sangat damai saat memejamkan mata. Kedua garis bibirnya menarik ke atas. Dengan keberanian yang kuat, Brayan memberanikan diri untuk mengecup kening sang istri dan mengatakan, "Sya, aku akan mencintaimu sampai maut memisahkan kita."
Fisya yang sebenarnya sudah bangun hanya bisa berpura-pura belum bangun. Fisya berharap Brayan tidak mendengarkan detak jantungnya yang sudah berdisco akibat ciuman singkat yang diterapkan oleh Brayan.
...~~~~...
...🌹 Bersambung 🌹...
Cuma mau mengingatkan jangan lupa Like!
__ADS_1