
Jauh berbeda dengan Fisya yang semua keinginan bisa terpenuhi, berbeda Nara yang hanya bisa memendam keinginan. Terlebih Briyan hanya memberikan uang secukupnya untuk keperluan rumah tangga mereka. Bahkan Briyan juga mengatakan kepada Nara, bahwa uang yang dia berikan harus cukup untuk biaya hidup mereka dalam satu bulan.
Meskipun Briyan mengontrak di rumah kecil, tetapi dia memilih tempat yang strategis dekat dengan pasar dan swalayan, berharap Nara tidak merepotkan dirinya, karena bisa mencari kebutuhan sendiri.
"Riy, kamu enggak sarapan?" tanya Nara saat melihat Briyan melewatinya begitu saja.
"Tidak. Melihatmu saja aku sudah kenyang."
Detik itu juga Nara langsung menghembuskan napas beratnya. Masakan yang sudah bersusah payah dia siapkan, tetapi sama sekali tak dilirik oleh suaminya.
Sambil menahan air mata, Nara berusaha untuk menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Namun, baru dua kali suapan, Nara harus mengeluarkan isi dalam perutnya.
Tubuhnya terasa lemas dan bergemetar pun luruh ke lantai kamar mandi. Bahkan untuk berdiri saja rasanya tidak sanggup lagi.
"Nara kamu harus kuat." Nara menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil mengatur napasnya. Sampai kapan air mata itu akan terbendung, jika keadaan terlalu memilukan.
Masa yang seharusnya dilalui indah bersama dengan suami hanyalah sebuah angan, karena itu tidak akan pernah mungkin terjadi padanya.
Setelah beberapa saat akhirnya Nara bisa mengembalikan kekuatan. Dengan pelan dia bangkit dan berjalan menuju ke dalam kamar.
Matanya tertuju pada satu-satunya benda yang dia miliki, yaitu ponsel. Dengan senyum tipis tangan Nara terulur untuk mengambil benda pipih tersebut.
"Assalamualaikum, Ibu."
Dari seberang sana ibu Nara menanyakan bagaimana keadaan anaknya dan mengingatkan agar tidak lupa untuk minum vitamin dan susunya.
Nara hanya tersenyum tipis mengingat bagaimana kehidupannya saat ini.
"Ibu tidak usah khawatir, Nara tidak akan lupa, karena ada mas Riyan yang menyiapkannya. Ibu juga tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Nara, karena disini Nara baik-baik aja. Mas Riyan sudah menerima Nara sepenuh hatinya. Ibu dan Ayah jaga diri baik-baik ya."
Nara tidak sanggup lagi untuk berbicara lama memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya.
"Ibu, maafkan Nara." Nara meletakkan kembali ponselnya diatas nakas.
Setelah meninggal rumah kontrakannya, Briyan mampir kesebuah kedai siap saji sebelum melanjutkan perjalanannya lagi. Selain mengurus sebuah projects, Briyan juga sedang mencaritahu tentang tragedi malam itu.
Berada di sebuah puncak dengan pandangan alam yang masih asri, Briyan segera mengambil beberapa gambar untuk dimasukkan kedalam channel YouTube miliknya.
"Suasana disini memang dingin, Mas. Jadi saya sarankan Mas Riyan untuk memakai baju tebal saat hendak melakukan pengambilan gambar," ujar Husna, salah seorang partner kerjanya.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengatakan sejak kemarin jika suasana disini sangat dingin? Kamu sudah membuang waktuku."
"Maaf Mas. Aku pikir Mas Riyan sudah tahu."
"Sudahlah, kita cancel aja pengambilan gambar hari ini. Tubuhku juga kurang fit, aku pulang dulu. Jika kalian ingin melanjutkan, silahkan."
Briyan berlalu begitu saja. Entah mengapa bayangan Nara terus muncul didalam ingatan. Tiba-tiba saja Briyan mengkhawatirkan Nara yang dia tinggal seorang diri di rumah kontrakannya.
"Astaga ... mengapa juga aku memikirkan wanita itu, sih!" gerutunya dengan kesal.
Tidak berselang lama, mobil yang dikendarai oleh Briyan telah sampai di kontrakannya. Namun, karena askes jalan tidak bisa dilewati mobil, Briyan memilih menitipkan mobilnya di rumah pemilik kontrakan yang berada di pinggir jalan
Berjalan kurang lebih 400 meter, membuat Briyan sedikit ngos-ngosan, apalagi dibawah terik matahari yang menyengat.
"Ra, buka pintunya!" teriak Briyan sambil menggedor pintu dengan keras.
"Ra, denger gak sih!"
Dari dalam, langkah Nara tergopoh untuk membukakan pintu. Dengan balutan mukena Nara segera menyambut kedatangan suaminya.
"Lama banget sih, bukanya!"
"Maaf tadi aku masih sholat."
"Awas, bikin nek aja mukamu yang sok polos," ketus Briyan, sambil mendorong tubuh Nara. Beruntung saja itu hanya dorongan pelan sehingga tidak membuat Nara jatuh.
Baru saja Nara ingin memakai hijabnya kembali, terikat Briyan kembali menggema ditelinganya.
"Nara!"
Nara langsung bergegas untuk menghampiri Briyan.
"Ada apa, Riy?"
"Dimana laptopku?" sentaknya.
"Aku pindahkan ke kamar, karena tadi beresin mejanya."
"Nara! Bukankah sudah aku katakan jangan pernah menyentuh barang milikku. Kamu lancang!"
Lagi-lagi Nara hanya bisa menelan kasar salivanya. Sambil memejamkan matan, Nara mengambil sebuah laptop dan langsung memberikannya kepada Briyan.
__ADS_1
"Riy, ini laptopnya."
"Letakkan saja disitu! Jangan harap aku mau menyentuhmu yang hina ini? Dasar wanita murahan!"
Sudah tak terhitung lagi berapa kali Briyan menyebutnya dengan wanita murahan, lantaran adanya janin sebelum pernikahan.
"Satu lagi, ambilkan semua pakaianku yang ada di lemari. Karena aku sudah membeli lemari khusus untuk pakaianku sendiri dan akan aku letakkan disini."
Tak banyak memprotes, Nara hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh Briyan.
"Tunggu!" Briyan menahan langkah Nara. "Tanda tangani dulu!" perintahnya.
Briyan melemparkan sebuah kertas keatas meja.
"Apa ini?"
"Bukankah kamu bisa membaca."
Sebelum membubuhkan tandatangannya, Nara membaca poin demi poin. Hatinya teriris setelah mengetahui apa arti dari selembar kertas yang membutuhkan tanda tangannya.
"Kamu serius, Riy? Allah paling membenci perceraian. Kita tidak boleh mempermainkan sebuah pernikahan, Riy."
"Bukankah Allah juga membenci seseorang yang telah melakukan zina? Kamu telah berzina dengan orang lain lalu menjebakku untuk bertanggung jawab karena kamu hamil. Lalu, apakah aku ikhlas dengan pernikahan ini? Tentu saja tidak! Jika tidak memikirkan nama baik keluargaku, aku tidak akan pernah mau menikahimu. Sudah syukur aku mau bertanggung jawab hingga anak itu lahir, daripada kamu melahirkan tanpa seorang suami."
Hati Nara semakin teriris. Bukan hanya Briyan saja yang menjadi korban penjebakan, tetapi dirinya juga merasa telah dijebak. Namun, setiap kali keduanya mengingat dan membahas malam itu, Briyan selalu diluapkan emosinya, karena dia tidak bisa mengingat apapun yang terjadi pada malam itu.
Dengan tangan bergemetar, Nara segera membunuh tanda tangannya.
"Aku harap kamu tidak menyesal jika anak ini adalah anak kamu, Riy!"
"Aku tidak akan pernah menyesal, karena aku yakin itu bukan anakku."
Setelah mendapatkan tanda tangan dari Nara, Briyan segera memberikan satu selembar kertas untuk Nara.
"Simpan saja, siapa tahu kamu melupakan isi dari perjanjian ini! Selama kamu belum melahirkan, jangan pernah berpikir untuk bertemu dengan keluargamu. Namun, kamu bisa kembali kepada keluargamu asal kamu gugurkan bayi itu dan kita akan bercerai secepatnya."
"Kamu sudah gila, Riy!"
Nara berlalu meninggalkan Briyan yang masih menyunging smirk. Saat ini hati Briyan dipenuhi dengan rasa benci. Dengan memperlakukan Nara seperti ini, Briyan yakin jika Nara tidak akan sanggup untuk menjadi dan meminta bercerai.
"Kamu pikir hidupmu akan bahagia setelah menikah denganku? Tidak, Ra! Aku akan membuat hidupmu jauh lebih menderita layaknya hidup di neraka!"
__ADS_1
...~~~...
...TBC...