
Jangan tanya apakah aku mencintainya. Tentu aku sangat mencintainya dan itu jauh sebelum kamu mengenalnya.
~Brayan~
Menjadi keluarga Sakinah Mawadah Wa Rahmah adalah impian setiap pasangan yang sudah menikah. Terlebih untuk mereka saling mencintai.
Brayan sangat bersyukur karena saat ini hidupnya terasa lebih sempurna dengan hadirnya sosok Fisya ke dalam hidupnya.
"Ray, pokoknya malam ini kita harus nginep di rumah Abi, atau kamu sama sekali enggak boleh menyemai bibit kecebongmu lagi!" ancam Fisya dengan tegas.
"Sya, pelan-pelan. Kedengaran mama sama papa 'kan malu," bisik Brayan.
"Biarin! Abisnya kamu selalu ingkar terus!" Fisya mencebikkan bibirnya dengan kesal.
Sudah hampir satu bulan, tapi Brayan selalu banyak alasan saat diajak untuk menginap di rumah Abinya. Jurus yang digunakan Brayan tak mampu Fisya tangkal. Akhirnya Fisya pasrah akan buaian suaminya.
"Iya. Tapi ada syaratnya!"
"Ya ampun Ray ... Abi aku itu juga Abi kamu. Masa iya bobok di tempat orang tua pakai syarat," keluh Fisya.
"Soalnya Abi kamu aneh, Sya. Aku sampai sana pasti diajak main catur. Saat aku menang, Abi enggak terima. Saat aku kalah Abi juga gak terima. Jadi serba salah. 'Kan aku maunya langsung bobok sama kamu."
"Apapun alasannya, kita harus nginep tempat Abi! Kalau kamu enggak mau, biar aku sendiri yang nginep disana sendirian!"
Fisya langsung berlalu dari kamar membuat Brayan yang tidak ingin ditinggalkan segera mengejar Fisya.
"Sya, tunggu! Iya aku ikut. Tapi aku ganti baju dulu."
"Terserah!"
Kali ini Fisya harus tegas kepada Brayan. Jika tidak bisa-bisa dirinya akan luluh kembali dengan trik yang dimainkan oleh Brayan.
Setelah melewati serangkaian perdebatan kecil, akhirnya keduanya telah sampai di rumah Abi.
Sebenarnya Fisya sengaja tidak memberitahu kedua orang tuanya jika ingin pulang. Fisya takut jika akan gagal lagi seperti yang telah berlalu.
"Assalamualaikum."
Suara ketukan pintu diiringi salam membuat tuan rumah bergegas untuk membukakan pintu, karena sudah tanda dengan pemilik suara yang mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam."
Umi telah membuka pintu dan langsung memeluk anaknya. Meskipun baru satu setu bulan tak bertemu, tetap saja rasa rindu Umi sangatlah besar, karena Fisya adalah anak tunggal.
Setelah puas memeluk anaknya, Umi juga merangkul Brayan kedalam pelukannya. Meskipun hanya seorang menantu, tetapi Umi juga sangat menyayangi Brayan layaknya anak sendiri.
"Ayo masuk," ucap Umi setelah puas melepaskan rasa rindunya.
Pasangan pengantin baru itupun mengikuti langkah Umi untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Dimana Abi, Mi?" tanya Brayan heran, karena sejak mereka datang tak melihat Abi menyambutnya.
"Abi sedang menjenguk pak Amir."
"Pak Amir kenapa, Umi?" tanya Fisya cepat.
"Yah, mungkin kelelahan dan banyak pikiran jadinya drop. Udah enggak usah dipikirkan. Tapi, kenapa kalian enggak bilang sama Umi kalau mau kesini?"
"Sengaja, Umi. Takut gagal lagi."
"Ya sudah, Umi telepon Abi biar cepat pulang ya."
"Gak udah, Mi. Gak enak nanti kalau sampai ganggu Abi. Kayak kita ini tamu jauh aja." tolak Brayan. Salah satu faktor Brayan tidak menginginkan Abi pulang cepat karena dia tidak ingin menemani Abi untuk bermain catur.
"Ya sudahlah kalau seperti itu. Kalian istirahat saja."
Fisya akhirnya mengajak Brayan untuk masuk kedalam kamarnya. Dimana suasananya sangat berbeda jauh dari kamarnya.
Semua warna yang ada di dalam ruangan serba pink dan bergambar Hello Kitty.
"Sya ... kamar kamu silau," ucap Brayan sambil meneliti ke seluruh penjuru ruangan.
"Iya. Semoga kamu suka ya." Fisya tertawa dalam pelan. Sudah di pastikan bahwa Brayan jelas tidak menyukainya.
"Suka enggak suka, enggak bisa protes, karena ini kamarku!"
Malampun berlalu begitu saja. Tak terasa pagi telah menyapa kembali. Begitu cepat waktu yang berjalan hingga membuat pasangan muda itu harus bangun untuk mengerjakan sholat subuhnya.
Fisya yang baru saja hendak memasang hijabnya mengiyakan permintaan Brayan.
"Iya. Nanti aku buatkan."
Rayan mengikuti langkah Fisya kedalam dapur. Dia juga tak berat untuk membantu Fisya memasak.
"Ray, jangan lupa cuci semua sayuran ya!"
"Siap. Tapi apakah tempe juga harus dicuci juga?"
Fisya langsung mendelik kearah suaminya. "Terserah kami saja."
Pemandangan pagi membuat Umi dan Abi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Awalnya Umi hendak membantu Fisya untuk masak. Namun, saat melihat ada Brayan yang menemaninya, Abi langsung mencegah.
"Jika tahu sejak awal, mungkin Abi tidak akan pernah menjodohkan Fisya dengan Alqan." Tiba-tiba raut wajah Abi berubah murung.
"Jangan menyalakan diri sendiri. Semuanya sudah diatur sama yang maha kuasa, Bi. Mungkin Fisya dan Alqan memang tidak berjodoh."
"Tapi Abi merasa bersalah, Umi. Pak Amir sakit gara-gara perjodohan Alqan batal dan tak lama Fisya menikah dengan Brayan."
Kedua orang tua itu akhirnya memilih ke teras rumah untuk menghilangkan gundah yang sedang meliputi hatinya. Sementara itu Fisya dan Brayan sudah menyiapkan sarapan paginya, meskipun harus memakan waktu lama.
__ADS_1
"Say, nanti jenguk dulu pak Amir, ya. Kasihan dia sudah hampir satu bulan sakit enggak kunjung sembuh," kata Abi setelah sarapan.
"Kamu enggak keberatan 'kan, Ray?" tambah Abi lagi.
"Enggak dong, Bi. Menjenguk orang sakit 'kan memang sudah kewajiban kita."
"Syukurlah kalau kamu tidak merasa keberatan."
**
Tak ada yang perlu diberatkan karena niat yang baik. Brayan membukakan helm yang dikenakan oleh Fisya.
"Makasih Ray."
Pintu memang terbuka, tetapi keduanya tidak melihat sang penghuni rumah.
"Assalamualaikum."
Suara salam yang menggema membuat wanita paruh baya tergopoh untuk menyambutnya.
"Waalaikumsallam, neng Fisya." Wanita itu tak lain adalah seorang ART di rumah itu.
"Bapaknya ada, Mbok?" tanya Fisya langsung.
"Ada, Neng. Bapak ada di kamarnya. Mari saya antarkan."
Brayan hanya mengikuti langkah dua wanita yang ada di depannya. Namun, langkahnya tertahan saat seseorang menghadang jalanya.
"Kamu pasti merasa puas dan akan menertawakan keluargaku 'kan?"
Brayan mengalihkan pandangannya agar tak melihat wajah Alqan yang membuatnya merasa sangat muak.
"Tunggu! Aku masih berbicara denganmu!" sentak Alqan.
"Maaf Alqan. Aku tidak ada urusan denganmu."
Alqan tersenyum sinis menatap punggung Brayan yang berlalu begitu saja.
"Siapa bilang kamu tidak ada urusan denganku! Kamu itu orang ketiga dalam hubunganku dengan Fisya. Jika kamu tidak kembali, aku yakin saat ini yang bersanding bersama Fisya aku, bukan kamu!"
Sebisa mungkin Brayan menahan amarahnya lalu menoleh kebelakang.
"Kenapa? Kamu menyesal dengan pilihanmu? Kamu jangan egois, Alqan! Meskipun kamu dan Fisya menikah, tetapi Fisya tidak akan pernah mencintaimu, karena selamanya dia hanya akan mencintaimu."
Alqan mengatur deru napas yang sudah naik turun. Jelas saja dia tidak terima dengan ucapan Rayan.
"Cih ... memangnya pria sepertimu yang baru mengenalnya bisa langsung jatuh cinta? Bilang saja kamu mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan tempat di hati Fisya 'kan?"
Beayan tersenyum tipis sebelum meninggalkan Alqan dan berkata, "Jangan tanya apakah aku mencintainya. Tentu aku sangat mencintainya dan itu jauh sebelum kamu mengenalnya."
__ADS_1
...~~~...
...🌹 bersambung 🌹...