Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 38 | Demam


__ADS_3


"Ra, bangun!"


Briyan masih melihat tubuh Nara berada diatas tempat tidur, meskipun hari sudah hampir magrib.


Hingga lima menit Briyan menunggu tetapi tidak ada tanda-tanda Nara untuk bangkit, membuatnya merasa kesal.


"Dasar, wanita pemalas," umpatnya, tanpa ingin membangunkan Nara lagi, meskipun dia tahu jika tidur magrib itu adalah larangan keras.


Briyan mulai membuka laptopnya untuk memeriksa pekerjaan apakah Husna sudah menyelesaikan tugasnya atau belum.


Perut yang keroncong membuat Briyan segera mencari ponselnya untuk memesan makanan. Namun, dia baru menyadari jika ponselnya tertinggal di kamar saat dia melakukan penyerbuan kepada Nara beberapa jam yang lalu.


Saat mengingat kejadian tadi hati Briyan diliputi rasa sesal yang mengganjal di dalam benaknya. Seharusnya dia tidak berbuat kasar kepada Nara. Namun, karena setan telah menguasai hati dan pikirannya, dia tidak bisa berpikir dengan waras lagi. Tidak seharusnya dia melakukan penyerbuan secara kasar kepada Nara.


"Kenapa juga aku harus merasa bersalah. Toh dia memang sering melakukan penyerbuan seperti itu dengan pria lain. Lalu apa yang harus aku sesalkan?"


Sesampainya di kamar matanya hanya langsung menatap nanar pada tubuh seorang wanita dengan rambut berantakan tanpa hijab. Bahkan setelah melakukan penyerbuan, Nara juga belum membersihkan dirinya. Melihat pakaian Nara yang tergeletak di lantai, membuat hatinya mendadak sedikit teriris, tetapi segera ditepisnya.


"Dimana ponselku ya?"


Briyan mencari-cari benda yang sangat berharga dalam hidupnya. Benda yang tak pernah lepas dari genggaman tangannya.


"Apa di tempat tidur, ya?"


Briyan segera memeriksa kasur yang tadi dia gunakan untuk menyerang Nara. Tangannya mulai mengangkat salah satu bantal, berharap ponselnya terselip dibawah bantal. Namun, tanpa disengaja tangan Briyan menyentuh lengan Nara dan seperti ada yang berbeda.


"Ra!" Kini Briyan memberanikan diri untuk menyentuh bagian dahi yang terasa sangat panas.


"Astaga ...Nara! Panas sekali."


Briyan yang panik tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan satu-satunya cara adalah menghubungi mamanya untuk bertanya. Namun, dia masih belum menemukan ponselnya.


"Kemana sih perginya hp-ku tadi? Perasaan tadi ada di kantong celana deh."


Briyan terus berusaha untuk menemukan ponselnya agar bisa segera menghubungi mamanya. Dengan ragu-ragu Briyan membuka selimut yang menutupi tubuh Nara. Benar saja ponselnya ada di bawah selimut.


Tanpa pikir panjang Briyan segera mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya.


Briyan harus bersabar saat panggilannya belum terjawab oleh sang mama. Mungkin saja saat ini mamanya sedang sibuk.


"Ayo dong Ma, jawab. Riyan butuh bantuan mama."


Mendadak setitik penyesalan itu singgah di relung hatinya. Seolah dia menyesali perbuatan yang baru saja dia lakukan. Namun, saat larut dalam perasaannya, tiba-tiba ponsel Briyan berdering.


Sebuah panggilan dari yang mama.

__ADS_1


"Ma, Mama kemana sih?"


Seperti biasa, sang mama segera memprotes karena tak pernah mengucapkan kata salam.


"Kamu ini kebiasaan ya, Riy! Ucapkan salam atau Mama tutup lagi!"


Briyan hanya bisa mendengkus pelan, lalu mengulangi sapaannya dengan kata salam.


"Assalamualaikum, Mama. Ma Riyan langsung pada intinya aja ya. Apa yang harus Riyan lakukan saat menghadapi orang demam?"


"Siapa yang demam, Riy? Apakah Nara demam?"


"I-iya, Ma. Nara demam. Jadi Riyan harus apa? Dia gak mau bangun."


"Kamu apakah dia, mengapa bisa demam?"


Briyan hanya bisa memijat pangkal hidungnya, karena harus menerima ceramah dari sang mama. Tidak sampai disitu, mamanya juga ingin melihat keadaan Nara dengan sambungan vidio call.


"Astaghfirullahaladzim," pekik Nuri dari balik ponselnya. Bagaimana tidak shock saat melihat Nara yang hanya berbalut dengan selimut serta rambutnya yang terlihat ambur adul.


"Riy, kamu apakah Nara? Jangan bilang kamu ... Riyan, apa yang sudah kamu lakukan kepada Nara?"


Lagi-lagi Briyan harus kena omelan dari mamanya.


Kini Briyan segera menuruti perintah sang mama untuk mengompres dan memberikan paracetamol agar demamnya berkurang.


"Merepotkan."


Saat ingin meninggalkan Nara untuk membeli paracetamol, Briyan berpikir dua kali lipat. Rasanya dia tidak tega jika harus meninggalkan Nara seorang diri di dalam rumah dalam keadaan seperti ini. Namun, tiba-tiba dia teringat jika dia memiliki tetangga sebelah rumah. Dengan langkah sedikit berlari, Briyan segera menuju rumah tetangganya. Berharap ada salah satu diantara mereka yang mempunyai paracetamol.


Setelah mengetuk pintu, Briyan pun segera mengucapkan salam. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Eh, kamu tetangga sebelah rumah kan? Ada apa?" Sapa seorang wanita.


"Iya, Bu." Sebenarnya Briyan malu saat ingin mengutarakan niatnya, tetapi dia harus membuang rasa malunya demi Nara.


"Ada apa, Mas? Kok kelihatan serius banget?"


"Itu, Bu. Ibu menyimpan semacam obat demam tidak? Jika ada saya pinjam dulu buat istri saya, besok saya kembali. Saya enggak tiga untuk meninggalkan istri saya sendirian," jelas Briyan.


"Oalah ... istrinya sakit ya? Tunggu sepertinya ibu ada menyimpannya."


Wanita itupun segera masuk kedalam untuk mengambil paracetamol yang dia miliki.


"Ini ambil saja enggak usah di pulangkan. Lagian stok punya ibu juga banyak."


Briyan menerima satu tablet paracetamol. Tak lupa dia pun mengucapkan kata terima kasih kepada tetangganya itu.

__ADS_1


"Makasih ya, Bu. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."


"Iya. Sama-sama. Besok-besok jangan dibiarkan istri kerja. Kan kasian lagi hamil muda lagi."


Briyan langsung menautkan kedua alisnya. Namun, saat Briyan ingin memperjelas tentang ucapan tetangganya, suara dari dalam membuat ibu-ibu harus meninggalkan Briyan begitu saja.


"Sejak kapan Nara kerja? Lalu dia kerja apa?"


**


Diseberang sana hati Nuri merasa tidak tenang. Bayangan Nara terus terbayang dalam ingatannya, meskipun hanya melihat melalui layanan ponselnya.


"Riyan benar-benar keterlaluan."


Suara itu terdengar oleh Brayan dan Fisya yang sedang melakukan makan malam bersama.


"Ada apa lagi sama Riyan, Ma?" tanya Brayan ingin tahu.


"Adik kamu itu memang kebangetan, Ray! Masa iya dia membuat istrinya sampai demam."


"Maksud Mama apa? Riyan melakukan KDRT?" Brayan menatap mamanya lalu berganti menatap sang istri.


"Pokoknya itulah. Nara sampai di buat demam."


Saat itu juga Fisya langsung tersedak. Dia tahu kemana arah tujuan ucapan mamanya.


"Minum dulu." Brayan segera memberikan segelas air putih kepada Fisya.


"Jadi tadi itu Riyan telepon Mama dan tanya apa yang harus dilakukan untuk orang demam. Mama udah yakin jika yang demam itu adalah Nara. Saat mama melakukan Video call, Nara ... Nara masih dalam balutan selimut, Ray. Memang adik kamu itu bar-bar. Pantas saja satu kali tanam langsung tumbuh." Nuri mencoba mengeluarkan unek-unek yang mengganjal dalam pikirannya.


"Tapi kamu gak seperti itu kan Ray? Kamu gak sampai demam kan, Sya?"


Fisya hanya bisa menelan kasar ludahnya. Mama mertuanya benar-benar tidak bisa melihat bagaimana wajahnya saat ini. Beruntung saja tidak ada papa mertuanya di meja makan. Jika ada, Fisya tidak tahu mau diletakkan dimana wajahnya.


"Ma, pertanyaan apa itu? Memangnya dulu pertama kali mama melakukan dengan papa sampai demam juga?" Kini pertanyaan itu dikembalikan kepada sang mama.


"Ya enggaklah, Ray. Papa kan mainan pelan-pelan."


"Ya sudah. Rayan pun juga seperti itu, pelan-pelan."


Saat ini Fisya tidak bisa menahan rasa malunya dan memilih meninggalkan suami dan mertuanya yang absurd.


"Mas, Fisya duluan ya. Mau ke kamar mandi," dusta Fisya karena tidak ingin mendengarkan topik keduanya yang hanya akan membuat dirinya semakin malu


...~~~...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2