
Sepercik harapan harus sirna saat kenyataan tak memihak.
Briyan harus menelan pahitnya kenyataan yang tengah mempermainkan dirinya. Betapa tidak, jauh-jauh dari ibukota hanya untuk menemui Nara, tetapi semua itu sia-sia. Nyatanya saat ini Nara sudah tidak berada di tempat itu lagi.
Lelah yang tak membuahkan hasil, membuat Briyan putus asa dan memilih kembali pulang.
Sepanjang perjalanan perasaannya tidak tenang karena terus memikirkan kemana Nara, mengapa wanita itu menghilang begitu saja tanpa jejak.
"Apakah ini adalah karma yang harus aku tanggung karena telah menyia-nyiakan Nara? Jika itu benar, aku ingin menarik ini setiap kata yang telah terucap dari bibirku. Aku sangat menyesal sangat menyesal telah menyia-nyiakan Nara. Ya Allah hanya Engkau yang bisa menolongku saat ini. Tolong kembalikan Nara untukku. Aku ingin meminta maaf kepadanya dan memperbaiki pernikahan ini. Bukankah Engkau sangat membenci dengan perpisahan? Sungguh Aku sangat menyesal."
Briyan menatap langit yang bertaburan bintang. Dia enggan mencari sebuah penginapan, karena ingin menghabiskan malamnya di dalam mobil.
Di satu sisi lain, Fisya yang sudah membaca surat dari Zulfa merasa sangat panik. Dia takut jika Zulfa akan melakukan hal buruk terhadap dirinya sendiri. Namun, Brayan mencoba untuk tetap menenangkan sang istri dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Brayan juga berjanji akan mencari Zulfa.
Kehebohan Fisya malam ini membuat satu rumah turut bingung, karena beberapa jam yang lalu Zulfa masih terlihat baik-baik saja. Bahkan Nuri saja belum sempat berbincang dengan Zulfa. Namun, siapa yang menyangka jika Zulfa telah meninggalkan rumahnya begitu saja.
"Mey, apakah tadi Zulfa mengatakan sesuatu kepadamu?" tanya Nuri pada adik iparnya.
Mey menggeleng pelan. Namun, dalam hati Mey berpikir keras apakah ucapannya tadi sudah menyingung atau melukai hati Zulfa?
"Mey!" panggil Brayan mengagetkan. "Apakah ada sesuatu yang telah kamu katakan kepada dia? Karena aku yakin kepergian Zulfa bukan tanpa sebuah alasan."
"Aku tidak mengatakan apa-apa Ray! Apakah kamu menuduhku telah mengusirnya?" protes Mey dengan kesal.
"Aku tidak menuduhmu, Mey! Jangan langsung sensi," ketus Brayan.
"Sudah cukup! Kalian baru saja bertemu sudah harus berdebat lagi. Dalam masalah ini Mama dan Papa tidak ingin ikut campur. Lagian Mama juga gak kenal siapa itu Zulfa. Biarkan saja dia pergi."
"Tapi Ma ... Zulfa itu sedang butuh rangkulan dari kita. Dia hancur dan rapuh. Apakah Mama gak kasihan melihatnya?" protes Brayan.
__ADS_1
"Kamu kenapa ngotot gitu sih Ray? Ya wajar dong kalau Mama kamu itu gak peduli sama dia, kenal aja enggak. Jangan-jangan kamu yang nitipin benih di rahimnya Zulfa ya?" celetuk Mey begitu saja.
"Kamu jangan sembarang, Mey!" sentak Brayan. "Meskipun aku pria normal, tetapi aku tidak akan pernah menabung benih sembarangan. Benihku hanya akan aku titipkan pada istriku saja."
"Mas, sudahlah," bisik Fisya sambil mengelus lengan suaminya.
"Sya ... kamu harus hati-hati! Siapa tahu memang benar Rayan yang menitipkan benih ke rahim Zulfa."
"Mey!" Kali ini giliran Agung yang membentak adiknya.
Mey yang merasa tidak terima dibentak memilih meninggalkan ruang keluarga begitu saja. Baru saja mereka berkumpul, sudah harus terpecah belah akibat hal sepele.
"Mas Rayan kenapa sih langsung terpancing emosi seperti itu? Mey itu masih labil. Seharusnya Mas Rayan tidak perlu mengambil hati atas ucapan Mey."
"Tapi dia sudah sangat keterlaluan, Sya! Aku enggak terima atas tuduhan itu, karena aku sama sekali tidak melakukannya!"
"Jika kamu tidak melakukannya, kenapa kamu sewot? Jangan-jangan apa yang dikatakan oleh Mey memang benar. Ray, katakan, itu bukan benih milikmu, kan?" Kini giliran papanya yang seolah sedang mengintimidasinya.
"Astaghfirullahaladzim, Pa! Jadi juga mau nuduh Rayan gitu? Rayan masih waras, Pa! Jikapun mau melakukannya, Rayan mau menitipkan benih pada Fisya, bukan pada Zulfa."
"Bercanda Sya .... bercanda," seru Brayan seolah tanpa rasa bersalah.
Karena tak ada yang ingin dibahas lagi akhirnya kedua orang tuanya pun memilih meninggalkan Brayan begitu saja. Begitu juga Fisya yang memilih berlalu tanpa mengajak Brayan.
"Kok malah pergi, sih! Sya, tunggu!" Brayan berlari kecil untuk mengejar istrinya
"Sya ... jangan ngambek dong! Aku kan cuma bercanda, Sya. Lagian mana mungkin sih aku akan unboxing kamu sebelum waktunya."
##
Di sudut kota Jogja ...
__ADS_1
Pagi ini Briyan berhasil ikut dalam penerbangan pertama. Dirinya sudah tidak sabar untuk mencecar kedua orang tuanya tentang keberadaan Nara yang sebenarnya. Waktu satu jam lebih terasa sangat lama, karena Briyan benar-benar sudah tidak sabar untuk sampai di rumahnya. Dan ketika sampai di rumah, Briyan sedikit terkejut dengan kehadiran Mey di rumahnya.
"Dimana mama?" tanyanya pada Mey.
"Kamu kenapa dan darimana Riy? Lihat wajah kamu pucat seperti itu? Kamu sakit?" Bukannya menjawab, Mey malah melemparkan pertanyaan saat melihat wajah Briyan di yang terlihat pucat.
Mendengar suara Briyan, Nuri yang ada di dapur langsung bergegas keluar untuk memastikan keadaannya anaknya. Belum juga langkah Nuri mendekat, kini Briyan telah berlari kecil untuk menghampirinya.
"Ma, katakan dengan jujur di mana Mama menyembunyikan Nara? Riyan tahu jika semua ini telah direncanakan oleh Mama dan Papa. Iya kan Ma!"
Nuri sangat terkejut. Bola matanya membela dengan lebar, tetapi dia harus tetap biasa saja agar Briyan tidak mencurigainya lebih by dalam. "Kamu ngomong apa sih, Riy? Mama enggak ngerti."
"Riyan udah tahu jika sebenarnya Nara tidaklah keluar negeri, tapi kalian sembunyikan di pelosok agar Riyan tidak bisa menemukannya. Iya kan, Ma? Jawab jujur!" Mata Briyan merah menyala saat menatap wanita yang ada dihadapannya saat ini.
Hati Nuri terasa teriris saat melihat wajah anaknya yang terlihat sangat frustasi. Namun, Briyan tetap harus diberi hukuman agar dia menyesali apa yang telah dia lakukan kepada Nara.
"Ma, kenapa Mama lakukan ini pada Riyan? Apakah Mama ingin Riyan larut dalam penyesalan yang selalu dihantui dengan rasa bersalah? Mama jahat!"
Tak terasa air mata luruh begitu saja. Ibu mana yang sanggup untuk melihat anaknya menderita. Dengan pelan Nuri berkata, "Maafkan Mama, Riy."
Briyan mengacak kasar rambutnya. Dia tidak habis pikir dengan orang tuanya yang tega menyembunyikan Nara, sementara saat ini dia sedang berjuang untuk meminta maaf dan menyesali semua perbuatannya.
"Mama benar-benar sangat keterlaluan! Bukankah Mama tahu jika saat ini Nara sedang hamil? Jika terjadi sesuatu dengan kehamilannya bagaimana, Ma?"
"Sejak kapan kamu peduli pada Nara? Bukankah pernikahanmu hanya sebatas pernikahan kontrak? Dan lagi pula Papa juga sudah mengurus perceraian kalian. Jadi tidak ada gunanya jika saat ini kamu mencari dia!" sahut Agung yang tiba-tiba muncul dari belakang Briyan.
Briyan menatap sengit kepada sang papa lalu berkata, "Setidaknya aku masih mau bertanggung jawab daripada sama sekali tidak ingin bertanggung jawab dan menjadi seorang pengecut."
Agung sudah menggeretakkan giginya. Jika yang berbicara seperti itu bukanlah darah dagingnya, mungkin saat ini Agung sudah melayangkan bogeman ke bibir Briyan.
"Mas .... sabar." Nuri mencoba untuk menenangkan hati suaminya.
__ADS_1
...~~~...
...TBC...